Techfin Insight — Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai solusi pengelolaan sampah perkotaan. Bagi investor, proyek ini mulai dilihat sebagai peluang investasi hijau yang menawarkan kepastian bisnis jangka panjang, sementara bagi pemerintah, PSEL menjadi bagian dari strategi mempercepat transisi energi sekaligus mengurangi timbunan sampah dan emisi karbon.
Ketertarikan tersebut terlihat dari tingginya minat investor domestik maupun internasional terhadap proyek PSEL yang didukung skema Power Purchase Agreement (PPA) bersama PT PLN (Persero) dengan masa kontrak hingga 30 tahun.
Kontrak Jangka Panjang Menjadi Daya Tarik Investor
Dalam bisnis infrastruktur, kepastian pasar menjadi salah satu faktor utama yang dipertimbangkan investor.
Pada proyek PSEL, kepastian tersebut hadir melalui skema Power Purchase Agreement (PPA), di mana PLN bertindak sebagai offtaker yang membeli listrik yang dihasilkan pembangkit.
Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN, Suroso Isnandar, menegaskan bahwa PLN memiliki komitmen jangka panjang dalam menyerap listrik yang diproduksi para mitra.
“Kami memberikan jaminan kepada para mitra bahwa listrik yang dihasilkan akan diambil oleh PLN sebagai offtaker. Para mitra tidak perlu khawatir, komitmen jangka panjang PLN sudah teruji di berbagai sektor pembangkit lainnya yang bahkan memiliki Power Purchase Agreement (PPA) lebih dari 30 tahun. Jaminan ini akan terjaga dengan sangat baik,” tegas Suroso.
Kepastian kontrak tersebut memberikan dasar yang kuat bagi investor untuk menghitung kelayakan bisnis proyek dalam jangka panjang.
Pemerintah Pangkas Regulasi untuk Percepat PSEL
Selain kepastian pasar, pemerintah juga melakukan penyederhanaan regulasi guna mempercepat pembangunan proyek PSEL.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengatakan berbagai aturan yang sebelumnya dinilai menghambat investasi telah disederhanakan agar proses pengembangan proyek menjadi lebih cepat.
“Tugas saya cuma satu, regulasi diperbaiki. Dari ratusan tinggal tiga aturan. Kalau ada hambatan, saya tinggal undang. Kalau masih tidak bisa saya atasi, saya lapor. Presiden yang memimpin,” ujar Zulkifli dalam acara Waste to Energy Talks 2026.
Langkah tersebut diharapkan mampu memberikan kepastian hukum sekaligus menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif bagi pengembangan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi.
Sampah Tidak Lagi Sekadar Limbah
Selain menghasilkan listrik, proyek PSEL juga membuka peluang ekonomi melalui perdagangan karbon.
Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, menjelaskan bahwa pengurangan emisi dari pengelolaan sampah dapat dikonversi menjadi Sertifikat Pengurangan Emisi Indonesia yang memiliki nilai ekonomi di pasar karbon nasional.
“Begitu Bapak mengurangi emisi 20 juta ton, ya mungkin Rp100 miliar–Rp150 miliar bisa dapat karena dijual di pasar karbon,” ujar Jumhur.
Dengan demikian, proyek PSEL tidak hanya menghasilkan energi listrik, tetapi juga menciptakan potensi pendapatan baru dari penurunan emisi gas rumah kaca.
Investor Global Mulai Melirik PSEL Indonesia
Besarnya peluang tersebut membuat proyek PSEL menarik perhatian berbagai institusi pembiayaan dan investor internasional.
Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Sjahrir, menyebut antusiasme investor terhadap proyek ini sangat tinggi.
“Alhamdulillah banyak sekali interest baik dari luar negeri dan juga dari dalam negeri. Artinya semua partisipan semangat masuk ke proyek ini. Secara akumulatif memang proyek waste to energy terbesar di dunia,” kata Pandu.
Tingginya minat tersebut menunjukkan bahwa proyek pengelolaan sampah kini mulai dipandang sebagai bagian dari investasi berkelanjutan yang memiliki prospek bisnis sekaligus dampak lingkungan.
Mendukung Transisi Energi dan Mengatasi Darurat Sampah
Bagi PLN, pengembangan PSEL menjadi bagian dari strategi memperluas portofolio energi baru terbarukan sekaligus mendukung target Net Zero Emissions (NZE) 2060.
Di sisi lain, pembangunan fasilitas PSEL juga diharapkan membantu pemerintah daerah mengatasi persoalan sampah yang semakin kompleks di kawasan perkotaan.
Menurut Suroso, kedua tujuan tersebut dapat berjalan secara bersamaan.
“Dalam konteks transisi energi dari berbasis termal ke energi baru terbarukan, PSEL menambah portofolio sumber energi kami sekaligus mengatasi darurat sampah. Karena itu, jika perlu program ini diterapkan di semua kota di Indonesia, PLN sangat siap,” pungkasnya.
Jika mampu direalisasikan secara luas, proyek PSEL berpotensi menghadirkan manfaat ganda: mengurangi timbunan sampah, menghasilkan listrik dari sumber energi alternatif, membuka peluang investasi hijau, sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru melalui perdagangan karbon.
Penulis: Aira Safeeya
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.





