• Tentang Kami
  • Iklan & Partnership
  • Syarat & Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Panduan Editorial
  • Brand Guideline
  • Kontak
Techfin Insight
0

Tidak ada produk di keranjang.

Notifikasi
Kirim Tulisan
  • Trending Topics:
  • PLN
  • PLN UID Banten
  • AI
  • Phones/Tablets/Mobile
  • Personal Finance
  • PLN Mobile
  • Apple
  • Investasi
  • Keuangan
  • Karier
  • Teknologi
  • iPhone
  • Books/Movies
  • Indeks
  • ShopNew
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Keuangan
  • Sains
  • Gaya Hidup
  • Kultur
  • Insight
  • Persona
  • Utilitas
  • Personalize
    • Dasbor Penulis
    • Riwayat Bacaan
    • Tulisan Tersimpan
    • My Feed
    • My Interests
Reading: Mengapa Rasa Lega Sering Hanya Bertahan Sebentar?
Share
Techfin InsightTechfin Insight
0
  • ShopNew
  • Indeks
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Keuangan
  • Sains
  • Gaya Hidup
  • Kultur
  • Persona
  • Insight
  • Utilitas
  • Riwayat Bacaan
  • Tulisan Tersimpan
  • My Feed
  • My Interests
Cari
  • Tentang Kami
  • Iklan & Partnership
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Jadi PenulisNew
  • Panduan Editorial
  • Brand Guideline
  • Kontak
  • History
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Keuangan
  • Sains
  • Kultur
  • Insight
  • Persona
  • Utilitas
  • DPRD Banten

Jelajah Ruang Baca

Jejak Wawasan

  • Riwayat Bacaan
  • Bacaan Tersimpan
  • My Feed
  • My Interests

Terkini

IndoSec Awards & Gala Dinner 2026 dengan latar panorama Jakarta

IndoSec 2026 Hadirkan 2.000+ Pemimpin Keamanan Siber di Jakarta

20 Agu 2026
Lega Finansial

Mengapa Rasa Lega Sering Hanya Bertahan Sebentar?

19 Agu 2026

Listrik Flores Pulih Total Pascagempa M7,7, 1.144 Personel Dikerahkan

18 Agu 2026

PLN Kawal Listrik Upacara HUT ke-81 RI dengan Pengamanan 5 Lapis

17 Agu 2026

Call for Writers 🧑🏻‍💻

Tulis gagasanmu dan menginspirasilah bersama Techfin Insight! 💡
Kirim Tulisan
Punya akun di Techfin Insight? Sign In
Stay Connected
© 2026 Techfin.id. Designed with ❤️ by dezainin.com
Insight

Mengapa Rasa Lega Sering Hanya Bertahan Sebentar?

Penulis: Setiawan Chogah - Finance & Insight Writer
Publikasi: Rabu, 19 Agustus 2026 - 20.52 WIB
Share
5 Menit
Lega Finansial
Persoalan keuangan sering kali tidak berawal dari jumlah uang yang kita miliki, melainkan dari cara kita memaknai uang itu sendiri. Di sanalah psikologi dan keuangan mulai bertemu.
Navigasi Konten
  • Ketika Harapan Menjadi Kenyataan
  • Uang Hanyalah Pintu Masuk
  • Mengapa Saya Mulai Belajar Psikologi

Techfin Insight — Banyak orang percaya bahwa ketenangan akan datang setelah mencapai satu tujuan. Lulus seleksi kerja, memperoleh kenaikan gaji, membeli rumah, atau melunasi utang. Kita membayangkan hidup akan terasa jauh lebih ringan ketika semua itu berhasil diraih. Namun mengapa rasa lega itu sering kali hanya singgah sebentar? Pertanyaan itulah yang suatu sore mulai mengubah cara saya memandang uang.

Suatu sore, seorang teman datang ke rumah.

Ia memarkir motornya di depan rumah tanpa biasanya menyapa lebih dulu. Helmnya diletakkan begitu saja di atas meja teras. Saya menuangkan kopi ke dua cangkir, lalu kami duduk berhadapan seperti puluhan kali sebelumnya.

Wajahnya tampak lelah. Bukan lelah karena perjalanan, melainkan lelah karena harapan yang baru saja runtuh.

- Advertisement -
Jasa Pembuatan Website Murah di BantenJasa Pembuatan Website Murah di Banten

“Hasil PPPPK keluar hari ini,” katanya pelan.

Saya mengangguk.

“Nama saya nggak ada.”

Jangan Lewatkan:

Uang Tumbuh di Tanah yang Tenang, Bukan di Rekening yang Penuh
8 Agu 2026
Lega Finansial
Apa Itu Lega Finansial? Mengapa Tujuan Mengelola Uang Bukan Sekadar Menjadi Kaya
8 Agu 2026
Ilustrasi seseorang menabung sebagai cara membangun ketenangan dan dana darurat di masa depan.
Menabung: Sebuah Seni Menunda Kepanikan
27 Jul 2026
Ilustrasi suasana tenang yang terinspirasi dari film Perfect Days sebagai refleksi tentang financial freedom, dana pensiun, dan Lega Finansial.
Ketika Financial Freedom Tidak Lagi tentang Pensiun
23 Jun 2026

Setelah itu ia berbicara cukup lama. Saya membiarkannya mengeluarkan semua yang ingin ia ceritakan. Tentang malam-malam yang dihabiskan untuk belajar setelah pulang bekerja. Tentang keluarga yang ikut menunggu kabar baik. Tentang teman-temannya yang satu per satu mulai mengucapkan selamat kepada orang lain, sementara ia masih berusaha menerima kenyataan bahwa namanya tidak ada dalam daftar itu.

Sesekali ia tertawa kecil. Namun saya tahu, tidak semua tawa lahir karena bahagia. Ada tawa yang hanya dipakai agar seseorang tidak terlihat sedang hancur.

Menjelang ia pulang, saya hanya mengatakan satu kalimat.

“Coba lagi tahun depan.”

Kalimat itu terdengar sangat sederhana. Terlalu sederhana, mungkin. Bahkan saya sempat merasa bersalah karena tidak mampu memberikan sesuatu yang lebih menguatkan. Saya tidak bisa mengubah hasil pengumuman. Saya juga tidak bisa menghapus rasa kecewanya. Yang bisa saya lakukan hanya mendengarkan, lalu berharap waktu akan mengerjakan sisanya.

Ketika Harapan Menjadi Kenyataan

Setahun kemudian, ia kembali datang.

Rumahnya masih sama. Motor yang dikendarainya masih sama. Meja bundar tempat kami duduk juga masih sama. Bahkan Ficus virens di atas kepala kami hanya bertambah sedikit lebih rindang.

Namun kali ini wajahnya sama sekali berbeda.

Saya belum sempat bertanya apa pun ketika ia mengeluarkan telepon genggamnya dan menunjukkan layar yang dipenuhi ucapan selamat dari teman-temannya.

“Alhamdulillah… lolos.”

Ia mengucapkannya sambil tersenyum lebar. Senyum yang setahun lalu tidak sempat saya lihat.

Sore itu, pembicaraan kami mengalir sangat cepat. Ia mulai bercerita tentang banyak rencana yang selama ini disimpan rapat-rapat. Rumah yang ingin direnovasi. Kendaraan yang ingin dibeli. Pinjaman bank yang bisa diajukan dengan jaminan SK. Perabot baru. Beberapa impian yang selama ini ditunda karena merasa penghasilannya belum cukup.

Saya ikut bahagia mendengarnya. Bukankah memang begitu seharusnya? Setelah sekian lama berusaha, akhirnya ia memperoleh apa yang diinginkan.

Jangan Lewatkan:

Instruktur Setiawan Chogah memberikan materi literasi finansial Merawat Kebun Rezeki kepada peserta pelatihan Barber, Menjahit, dan Bright Migrant Worker di ruang kelas Institut Kemandirian, Karawaci, Tangerang, dengan presentasi ilustrasi kebun rezeki ditampilkan di layar.
Ketika Keterampilan dan Literasi Finansial Bertemu
10 Jun 2026
Seorang pria berdiri di bawah langit mendung sambil menyiram tunas kecil yang tumbuh dari tanah, sementara hujan turun lembut dari awan di atasnya.
Bukan Salah Langit: Mengurai Batas Antara Takdir Tuhan dan Pilihan Manusia
19 Mei 2026
Setiawan Chogah, Editor-in-Chief Techfin.id, memaparkan konsep literasi keuangan 'Merawat Kebun Rezeki' kepada peserta pelatihan Cleaning Service di Kampus Institut Kemandirian (IK) Karawaci, Tangerang, Banten, pada Jumat 10 April 2026.
Merawat Kebun Rezeki: Menanam Kesadaran Finansial di Institut Kemandirian Karawaci
13 Apr 2026
Ilustrasi aliran uang sebagai “air” yang menyuburkan kebun impian—menekankan pentingnya mengarahkan dan mengelola keuangan secara sadar agar pertumbuhan berlangsung berkelanjutan.
Ketika Uang Datang Tapi Hidup Tetap Terasa Kurang
22 Jan 2026

Namun di tengah percakapan itu, ada satu hal yang diam-diam membuat saya berpikir.

Sebenarnya, tidak banyak yang berubah hari itu.

Ia memang dinyatakan lulus. Namun gaji pertamanya belum cair. Rumahnya belum direnovasi. Kendaraan yang dibicarakannya belum dibeli. Saldo rekeningnya hampir pasti belum berubah.

Kalau begitu, mengapa wajahnya berubah begitu drastis?

Apa yang sebenarnya sedang berubah?

Pertanyaan itu terus tinggal di kepala saya, bahkan setelah ia pulang.

Saya duduk cukup lama di bawah Ficus virens sambil memandangi daun-daun mudanya yang kemerahan. Angin bergerak pelan. Ketel di dapur kembali mendidihkan air. Di belakang rumah, daun-daun singkong bergesekan satu sama lain. Semuanya tampak biasa saja.

Yang tidak biasa adalah pikiran saya.

Saya mulai bertanya, mungkinkah selama ini kita terlalu sering menghubungkan ketenangan dengan sesuatu yang bahkan belum benar-benar kita miliki?

Beberapa bulan kemudian, pertanyaan itu menemukan jawabannya, atau setidaknya petunjuk pertama.

Teman saya datang lagi.

Kali ini ia tidak tampak secerah kunjungan sebelumnya. Kami kembali duduk di tempat yang sama. Setelah berbincang beberapa saat, ia mulai bercerita tentang cicilan yang sedang dipertimbangkan, kebutuhan-kebutuhan baru yang bermunculan, biaya yang ternyata lebih besar daripada perkiraannya, serta rasa khawatir yang perlahan datang menggantikan euforia beberapa bulan lalu.

Saya hanya mendengarkan.

Di dalam hati, saya kembali mengulang pertanyaan yang sama.

Mengapa rasa lega itu hanya bertahan sebentar?

Mengapa ketika satu tujuan tercapai, kita begitu cepat menemukan alasan baru untuk kembali cemas?

Saat itu saya belum memiliki jawabannya. Namun sore itulah saya mulai mencari. Bukan mencari cara agar uang bertambah lebih cepat, melainkan mencari mengapa manusia begitu mudah percaya bahwa ketenangan selalu berada di tujuan berikutnya.

Uang Hanyalah Pintu Masuk

Semakin sering saya mendengar cerita-cerita seperti itu, semakin saya percaya bahwa persoalan keuangan jarang benar-benar dimulai dari uang.

Kalau saja uang adalah akar dari semua persoalan, seharusnya orang yang penghasilannya tinggi akan hidup jauh lebih tenang daripada mereka yang berpenghasilan biasa. Kenyataannya tidak demikian. Saya pernah bertemu orang yang setiap bulan memperoleh penghasilan berkali-kali lipat lebih besar daripada guru, perawat, atau pegawai negeri. Namun setiap malam ia sulit tidur karena terus memikirkan kemungkinan usahanya menurun. Sebaliknya, saya juga mengenal orang-orang yang hidup jauh lebih sederhana, tetapi mampu menikmati makan malam bersama keluarganya tanpa dihantui ketakutan tentang hari esok.

Awalnya saya mengira itu hanya kebetulan. Namun semakin banyak cerita yang datang, semakin pola itu terlihat jelas.

Masalahnya bukan pada jumlah uang. Masalahnya ada pada hubungan manusia dengan uang.

Saya sengaja menggunakan kata hubungan, bukan kepemilikan. Sebab memiliki uang dan memiliki hubungan yang sehat dengan uang adalah dua hal yang berbeda. Sama seperti memiliki kebun tidak otomatis membuat seseorang menjadi petani yang baik.

Hubungan yang sehat membuat seseorang mampu menggunakan uang tanpa diperbudak olehnya. Sebaliknya, hubungan yang tidak sehat membuat seseorang terus merasa kurang, bahkan ketika angka di rekeningnya bertambah.

Mengapa Saya Mulai Belajar Psikologi

Di sinilah saya mulai menyadari bahwa uang sebenarnya lebih dekat dengan psikologi daripada matematika.

Dua tambah dua memang selalu menjadi empat. Namun seratus juta rupiah bisa terasa sangat berbeda bagi dua orang yang berbeda. Bagi seseorang, seratus juta adalah modal untuk memulai usaha. Bagi orang lain, seratus juta adalah alasan untuk semakin takut kehilangan.

Angkanya sama. Maknanya berbeda. Dan manusia hampir selalu mengambil keputusan berdasarkan makna, bukan berdasarkan angka.

Saya baru benar-benar memahami hal itu setelah bertahun-tahun membaca berbagai penelitian tentang perilaku manusia. Para psikolog menyebutnya dengan banyak istilah. Para ekonom perilaku menjelaskannya dengan model-model yang berbeda. Para ilmuwan neurosains bahkan dapat menunjukkan bagian otak yang aktif ketika seseorang menghadapi risiko, ketidakpastian, atau imbalan.

Bahasanya berbeda-beda. Namun mereka sedang menceritakan hal yang sama. Bahwa manusia bukanlah makhluk yang selalu rasional.

Kita jauh lebih sering menjadi makhluk yang rasional setelah mengambil keputusan.

Kita membeli sesuatu karena emosi, lalu mencari alasan logis untuk membenarkannya. Kita mengambil pinjaman karena merasa hidup akan lebih mudah, lalu menyebutnya sebagai keputusan yang masuk akal. Kita menunda investasi bukan semata-mata karena belum memahami caranya, tetapi sering kali karena otak kita lebih takut kehilangan daripada memperoleh keuntungan.

Semakin saya mempelajari semua itu, semakin saya berhenti bertanya, “Bagaimana cara orang mengelola uang?”

Saya mulai bertanya dengan cara yang berbeda.

“Mengapa orang mengelola uang seperti itu?”

Perubahan satu kata itu mengubah hampir semua cara pandang saya. Karena setiap kali seseorang datang membawa persoalan keuangan, saya tidak lagi buru-buru mencari solusinya.

Saya lebih tertarik mencari pola yang sedang bekerja di balik ceritanya.

Dan tanpa saya sadari, teman yang datang karena gagal dalam seleksi PPPPK beberapa tahun lalu telah memperlihatkan pola itu kepada saya, bahkan sebelum saya mengetahui nama ilmiahnya.

note icon

Catatan dari Kebun

Tulisan ini merupakan bagian dari proses penulisan buku Merawat Kebun Rezeki. Melalui seri Lega Finansial, saya membagikan gagasan-gagasan yang sedang saya rawat tentang uang, ketenangan, dan hubungan manusia dengan rezeki.

Kredit Redaksi:
Penulis: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.
© 2026 Techfin Insight. Konten ini boleh dikutip untuk keperluan non-komersial. Cantumkan sumber dan tautkan ke artikel asli di Techfin Insight. Untuk penggunaan ulang secara menyeluruh atau di luar konteks editorial (misalnya komersial), silakan hubungi redaksi.
- Advertisement -
Ad imageAd image
TOPIK:Behavioral Financekeuangan pribadiLega FinansialLiterasi KeuanganMerawat Kebun RezekiPsikologi Uang

Kirim Tulisan

Ingin cerita, gagasan, atau opinimu dibaca lebih banyak orang?
✨ Tulis gagasanmu dan mulailah menginspirasi. Baca Panduan Editorial Techfin Insight. Lihat Syarat & Ketentuan Tulisan.
Share tulisan ini, yuk!
Facebook Whatsapp Whatsapp LinkedIn Threads Copy link
Penulis:Setiawan Chogah
Finance & Insight Writer
Follow:
Menulis bagiku adalah perjalanan di lorong sunyi antara diri dan dunia. Tentang keuangan, tentang hidup yang bergegas, tentang jiwa yang terkadang ingin berhenti sejenak. Lewat tulisan, aku berharap kau menemukan jeda, ruang bernapas, dan makna yang kerap luput dari genggaman.
Tulisan Sebelumnya 👈 Listrik Flores Pulih Total Pascagempa M7,7, 1.144 Personel Dikerahkan
👉 Tulisan Selanjutnya IndoSec Awards & Gala Dinner 2026 dengan latar panorama Jakarta IndoSec 2026 Hadirkan 2.000+ Pemimpin Keamanan Siber di Jakarta

Traktir Penulis ☕

🏆 Top Supporters

  • Setiawan Ribbon
    Rp 60.000,00
  • Subana Ribbon
    Rp 30.000,00
- Advertisement -
Ad imageAd image

Terkini

IndoSec Awards & Gala Dinner 2026 dengan latar panorama Jakarta
Teknologi

IndoSec 2026 Hadirkan 2.000+ Pemimpin Keamanan Siber di Jakarta

20 Agu 2026
Utilitas

Listrik Flores Pulih Total Pascagempa M7,7, 1.144 Personel Dikerahkan

18 Agu 2026
Teknologi

PLN Kawal Listrik Upacara HUT ke-81 RI dengan Pengamanan 5 Lapis

17 Agu 2026
Bisnis

Gempa Flores M7,7, PLN Pulihkan 11 Gardu Induk dalam 12 Jam

16 Agu 2026
Utilitas

PLN Siaga HUT ke-81 RI, 45 Ribu Personel Kawal Kelistrikan Nasional

16 Agu 2026
- Advertisement -
Ad imageAd image

Ruang Baca

Pilihan Editor untukmu

Kultur

Dari Kepiting Soka hingga Pelatihan Kerja, Cara PLN Mengubah Kehidupan Warga

Arden Gustav
14 Agu 2026
Ilustrasi petugas PLN saat melakukan pemasangan charger di rumah pelanggan untuk memudahkan pengisian kendaraan listrik di rumah melalui layanan Home Charging Services.
Teknologi

Pelanggan Home Charging PLN Tembus 92 Ribu, Adopsi Mobil Listrik Kian Melaju

Liora N. Shasmitha
7 Agu 2026
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo (kedua dari kanan) saat berada di booth PLN di GIIAS 2026. Darmawan mengatakan bahwa pertumbuhan kendaraan listrik perlu diiringi dengan pengembangan ekosistem yang semakin andal agar masyarakat semakin mudah beralih ke mobilitas rendah emisi.
Bisnis

PLN Hadirkan Promo Tambah Daya 50% di GIIAS 2026 untuk Pengguna Kendaraan Listrik

Aira Safeeya
6 Agu 2026
PLN memberikan bantuan unit PLTS sebagai sarana pembelajaran siswa.
Sains

PLN dan IT PLN Latih Siswa SMA Kuasai Energi Terbarukan Sejak Dini

Elira V. Kirana
5 Agu 2026
Gaya Hidup

Komunitas Motor Listrik Tempuh Tangerang-Lampung, SPKLU PLN Jadi Andalan

Ammar Fahri
31 Jul 2026
Bisnis

GIIAS 2026 Dibuka, PLN Jaga Pasokan Listrik Tetap Andal Sejak Hari Pertama

Aira Safeeya
31 Jul 2026
Bisnis

PLN Banten Raih Dua Platinum La Tofi 2026 Berkat Program Desa Berdaya

Aira Safeeya
30 Jul 2026
Bisnis

Banten Punya Surplus Listrik 3.725 MW, Siap Tarik Investasi Baru

Aira Safeeya
30 Jul 2026
Tampilkan Lagi

Jangan Lewatkan

Jadi yang pertama tahu. Baca sekarang atau simpan untuk nanti.
IndoSec Awards & Gala Dinner 2026 dengan latar panorama Jakarta

IndoSec 2026 Hadirkan 2.000+ Pemimpin Keamanan Siber di Jakarta

Teknologi
Lega Finansial

Mengapa Rasa Lega Sering Hanya Bertahan Sebentar?

Insight Keuangan

Listrik Flores Pulih Total Pascagempa M7,7, 1.144 Personel Dikerahkan

Utilitas

PLN Kawal Listrik Upacara HUT ke-81 RI dengan Pengamanan 5 Lapis

Teknologi

PLN Siaga HUT ke-81 RI, 45 Ribu Personel Kawal Kelistrikan Nasional

Utilitas

Dari Kepiting Soka hingga Pelatihan Kerja, Cara PLN Mengubah Kehidupan Warga

Kultur

Uang Tumbuh di Tanah yang Tenang, Bukan di Rekening yang Penuh

Insight Keuangan
Lega Finansial

Apa Itu Lega Finansial? Mengapa Tujuan Mengelola Uang Bukan Sekadar Menjadi Kaya

Keuangan
Tampilkan Lagi
Techfin Insight
Facebook X-twitter Instagram Threads Whatsapp

Techfin Insight hadir sebagai media alternatif yang fokus mengabarkan inovasi dan perkembangan terkini di bidang teknologi, bisnis, keuangan, serta tantangan yang kita hadapi setiap hari. Kami menganalisis bagaimana bisnis dan teknologi saling bersinggungan, mempengaruhi, dan memberikan dampak pada berbagai lini kehidupan untuk mewujudkan transformasi budaya di dunia yang semakin saling terhubung ini.

Ad image
  • Tentang Kami
  • Iklan & Partnership
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Jadi PenulisNew
  • Panduan Editorial
  • Brand Guideline
  • Kontak
  • History
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Keuangan
  • Sains
  • Kultur
  • Insight
  • Persona
  • Utilitas
  • DPRD Banten
  • About Us
  • Advertising & Partnership
  • Terms & Conditions
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Guest Post
  • Contact

© 2026 Techfin.id. Designed with ❤️ by dezainin.com