• Tentang Kami
  • Iklan & Partnership
  • Syarat & Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Panduan Editorial
  • Brand Guideline
  • Kontak
Techfin Insight
0

Tidak ada produk di keranjang.

Notifikasi
Kirim Tulisan
  • Trending Topics:
  • PLN
  • PLN UID Banten
  • AI
  • Phones/Tablets/Mobile
  • Personal Finance
  • PLN Mobile
  • Apple
  • Investasi
  • Keuangan
  • Karier
  • Teknologi
  • iPhone
  • Books/Movies
  • Indeks
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Keuangan
  • Sains
  • Gaya Hidup
  • Kultur
  • Insight
  • Persona
  • Utilitas
  • ShopNew
  • Personalize
    • Dasbor Penulis
    • Riwayat Bacaan
    • Tulisan Tersimpan
    • My Feed
    • My Interests
Reading: Ketika Financial Freedom Tidak Lagi tentang Pensiun
Share
Techfin InsightTechfin Insight
0
  • ShopNew
  • Indeks
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Keuangan
  • Sains
  • Gaya Hidup
  • Kultur
  • Persona
  • Insight
  • Utilitas
  • Riwayat Bacaan
  • Tulisan Tersimpan
  • My Feed
  • My Interests
Cari
  • Tentang Kami
  • Iklan & Partnership
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Jadi PenulisNew
  • Panduan Editorial
  • Brand Guideline
  • Kontak
  • History
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Keuangan
  • Sains
  • Kultur
  • Insight
  • Persona
  • Utilitas
  • DPRD Banten

Jelajah Ruang Baca

Jejak Wawasan

  • Riwayat Bacaan
  • Bacaan Tersimpan
  • My Feed
  • My Interests

Terkini

Kode Referral ShopeePay untuk Pengguna Baru dan Cara Claim Bonus Saldo Gratisnya

23 Jun 2026
Ilustrasi suasana tenang yang terinspirasi dari film Perfect Days sebagai refleksi tentang financial freedom, dana pensiun, dan Lega Finansial.

Ketika Financial Freedom Tidak Lagi tentang Pensiun

23 Jun 2026
Ilustrasi PLTU Pelabuhan Ratu Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, salah satu pembangkit yang berperan penting dalam menjaga pasokan listrik di sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali.

PLN Percepat Pemulihan Pembangkit, Kapan Listrik Jawa Kembali Optimal?

21 Jun 2026
Mesin digital printing mencetak berbagai produk percetakan kertas sebagai ilustrasi bisnis percetakan kertas dan ragam produk cetak.

Mendalami Keuntungan Bisnis Percetakan Kertas dan Ragam Produknya

19 Jun 2026

Call for Writers 🧑🏻‍💻

Tulis gagasanmu dan menginspirasilah bersama Techfin Insight! 💡
Kirim Tulisan
Punya akun di Techfin Insight? Sign In
Stay Connected
© 2026 Techfin.id. Designed with ❤️ by dezainin.com
Keuangan

Ketika Financial Freedom Tidak Lagi tentang Pensiun

Penulis: Setiawan Chogah - Finance & Insight Writer
Publikasi: Selasa, 23 Juni 2026 - 03.02 WIB
Share
6 Menit
Ilustrasi suasana tenang yang terinspirasi dari film Perfect Days sebagai refleksi tentang financial freedom, dana pensiun, dan Lega Finansial.
Cuplikan suasana dari film Perfect Days yang menginspirasi refleksi tentang makna bekerja, kebebasan finansial, dan kehidupan yang dijalani dengan tenang. Artikel ini tidak mengulas film, melainkan menggunakan kisah Hirayama sebagai pintu masuk untuk memahami tujuan mengelola uang.
Navigasi Konten
  • Apakah Tujuan Financial Freedom Benar-benar Berhenti Bekerja?
  • Tidak Semua Orang Ingin Berhenti Bekerja
  • Mengenal 4% Rule, Rumus yang Membantu Merencanakan Dana Pensiun
  • Sebelum Mengejar Financial Freedom, Bangunlah Lega Finansial
  • Merawat Kebun Rezeki Hingga Usia Senja

Techfin Insight — Beberapa malam lalu saya kembali menonton Perfect Days, film karya Wim Wenders yang memenangkan penghargaan di Festival Film Cannes 2023. Entah sudah berapa kali saya mengulang film itu. Mungkin empat kali, mungkin lima. Anehnya, setiap kali layar berubah menjadi hitam dan kredit penutup mulai bergulir, ada satu pertanyaan yang selalu ikut pulang bersama saya.

Mengapa Hirayama tampak begitu tenang?

Hirayama bukan seorang pengusaha sukses. Ia juga bukan investor yang hidup dari dividen atau seseorang yang dikelilingi simbol-simbol kemewahan. Setiap pagi ia bangun sebelum matahari terbit, menyiram tanaman kecil di apartemennya, memutar kaset musik lawas, lalu berangkat membersihkan toilet umum di berbagai sudut Tokyo. Siang hari ia makan bekal sederhana di taman yang sama, memotret cahaya matahari yang menembus sela-sela daun, kemudian kembali bekerja hingga sore sebelum pulang membaca buku dan beristirahat.

Rutinitas itu terus berulang. Hampir tidak ada kejutan. Namun, anehnya, saya tidak pernah melihat Hirayama sebagai seseorang yang gagal. Sebaliknya, saya justru melihat seorang manusia yang tampak berdamai dengan hidupnya. Ia bekerja, tetapi pekerjaannya tidak terlihat sedang menghabiskan dirinya.

- Advertisement -
Jasa Pembuatan Website Murah di BantenJasa Pembuatan Website Murah di Banten

Beberapa hari setelah menonton film itu, saya membaca tentang 4% Rule, sebuah konsep yang cukup populer dalam dunia perencanaan dana pensiun. Sekilas, keduanya tampak seperti dua dunia yang sama sekali berbeda. Yang satu berbicara tentang seorang petugas kebersihan di Tokyo, sementara yang lain membahas rumus matematika agar dana pensiun tidak habis selama puluhan tahun.

Namun, semakin lama saya memikirkannya, semakin saya merasa bahwa keduanya sedang mencoba menjawab pertanyaan yang sama.

Apa sebenarnya tujuan kita mengelola uang?

Jangan Lewatkan:

Instruktur Setiawan Chogah memberikan materi literasi finansial Merawat Kebun Rezeki kepada peserta pelatihan Barber, Menjahit, dan Bright Migrant Worker di ruang kelas Institut Kemandirian, Karawaci, Tangerang, dengan presentasi ilustrasi kebun rezeki ditampilkan di layar.
Ketika Keterampilan dan Literasi Finansial Bertemu
10 Jun 2026
Di Balik Selimut Mantra: Membedah Anatomi Doa Lewat Kacamata Neurosains
19 Mei 2026
Seorang pria berdiri di bawah langit mendung sambil menyiram tunas kecil yang tumbuh dari tanah, sementara hujan turun lembut dari awan di atasnya.
Bukan Salah Langit: Mengurai Batas Antara Takdir Tuhan dan Pilihan Manusia
19 Mei 2026
Ilustrasi aliran uang sebagai “air” yang menyuburkan kebun impian—menekankan pentingnya mengarahkan dan mengelola keuangan secara sadar agar pertumbuhan berlangsung berkelanjutan.
Ketika Uang Datang Tapi Hidup Tetap Terasa Kurang
22 Jan 2026

Apakah Tujuan Financial Freedom Benar-benar Berhenti Bekerja?

Selama beberapa tahun terakhir, istilah financial freedom semakin akrab di telinga kita. Media sosial dipenuhi cerita tentang pensiun dini, penghasilan pasif, dan target memiliki aset miliaran rupiah sebelum usia empat puluh tahun. Tidak sedikit orang yang kemudian menjadikan kebebasan finansial sebagai garis akhir perjalanan hidupnya.

Tidak ada yang salah dengan impian itu. Memiliki dana pensiun yang cukup, bebas dari utang, dan tidak lagi bergantung pada gaji bulanan tentu merupakan tujuan yang baik. Justru setiap orang seharusnya mulai mempersiapkan masa pensiunnya sedini mungkin.

Namun, ada satu hal yang belakangan ini membuat saya berpikir.

Mengapa hampir semua pembahasan tentang kebebasan finansial selalu berakhir pada satu kalimat yang sama: berhenti bekerja?

Kalau suatu hari nanti semua kebutuhan hidup kita sudah tercukupi, apakah kita benar-benar ingin berhenti berkarya? Ataukah yang sebenarnya ingin kita tinggalkan adalah rasa takut yang selama ini melekat pada pekerjaan itu sendiri?

Pertanyaan itulah yang membuat saya kembali mengingat Hirayama. Ia tetap bekerja setiap hari. Namun, tidak sekali pun saya melihat wajah seseorang yang sedang diperbudak oleh pekerjaannya. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan, seolah-olah ia telah menemukan alasan yang lebih besar daripada sekadar mencari nafkah.

Baca Juga:  Kode Referral ShopeePay untuk Pengguna Baru dan Cara Claim Bonus Saldo Gratisnya

Tidak Semua Orang Ingin Berhenti Bekerja

Saya membayangkan seorang petani yang sudah berusia tujuh puluh tahun. Tenaganya mungkin tidak lagi sekuat ketika masih muda. Ia tidak lagi mencangkul sepanjang hari. Ia tidak lagi mengangkat karung pupuk seberat dulu. Namun, apakah ia benar-benar meninggalkan kebunnya?

Saya rasa tidak.

Ia tetap datang setiap pagi. Kadang hanya menyiram tanaman. Kadang memangkas ranting yang mulai kering. Sesekali duduk di bangku bambu sambil memperhatikan buah yang mulai matang. Ada kebahagiaan yang tidak bisa diukur dari berapa kilogram hasil panen yang dibawa pulang.

Yang berubah bukan hubungannya dengan kebun.

Yang berubah adalah alasan mengapa ia datang ke sana.

Semakin saya memikirkan gambaran itu, semakin saya merasa bahwa hidup kita mungkin tidak jauh berbeda. Kita bekerja bertahun-tahun untuk membangun sesuatu. Ada yang membangun usaha, ada yang membangun karier, ada yang membangun karya. Lalu, ketika semuanya mulai tumbuh, mengapa tujuan akhirnya justru meninggalkan semuanya?

Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri.

Jangan Lewatkan:

Ketika Amigdala Mengambil Alih: Kita Selalu Hidup dalam Ketakutan
11 Nov 2025
Otak memilih nyaman daripada benar
Neurosains: Mengapa Otak Lebih Memilih Nyaman daripada Benar?
11 Nov 2025
Benarkah Doa Bisa Mengubah Realitas di Dunia Nyata?
24 Okt 2025
Menuju Lega Finansial: 3 Langkah Realistis ala Setiawan Chogah
12 Okt 2025

Kalau suatu hari semua kebutuhan hidup saya sudah tercukupi, apakah saya benar-benar ingin berhenti menulis?

Jawabannya tidak.

Saya masih ingin menulis. Saya masih ingin mengajar. Saya masih ingin merawat kebun kecil di rumah, membaca buku, berdiskusi, lalu pulang membawa satu gagasan baru. Bahkan saya merasa akan lebih sering melakukannya dibanding hari ini.

Bedanya hanya satu.

Saya tidak lagi melakukannya karena takut tagihan datang di akhir bulan.

Mengenal 4% Rule, Rumus yang Membantu Merencanakan Dana Pensiun

Di tengah menjawab pertanyaan itu, saya menemukan kembali konsep 4% Rule. Aturan ini pertama kali diperkenalkan oleh William P. Bengen pada tahun 1994 melalui penelitian tentang tingkat pencairan dana pensiun yang dianggap aman berdasarkan data historis pasar modal Amerika Serikat.

Sederhananya, seseorang yang telah mengumpulkan dana pensiun dapat mencairkan sekitar empat persen dari total asetnya pada tahun pertama pensiun. Pada tahun-tahun berikutnya, jumlah pencairan tersebut disesuaikan dengan tingkat inflasi agar daya belinya tetap terjaga. Dengan pendekatan itu, dana pensiun diperkirakan mampu bertahan selama sekitar tiga puluh tahun atau bahkan lebih.

Konsep ini kemudian melahirkan berbagai pendekatan lain, termasuk Rule of 25, yang sering digunakan untuk memperkirakan target dana pensiun berdasarkan kebutuhan hidup tahunan seseorang.

Meskipun demikian, 4% Rule bukanlah rumus yang bebas kritik. Banyak ahli berpendapat bahwa penelitian tersebut menggunakan data ekonomi Amerika Serikat sehingga tidak bisa diterapkan begitu saja di negara lain. Selain itu, semakin banyak orang yang memilih pensiun dini melalui gerakan Financial Independence, Retire Early (FIRE), sehingga masa pensiun yang harus dibiayai bisa berlangsung jauh lebih panjang daripada asumsi awal penelitian tersebut.

Semua kritik itu penting untuk dipahami. Namun, menurut saya, memperdebatkan apakah angka empat persen masih relevan atau tidak justru bukan bagian yang paling menarik.

Yang jauh lebih menarik adalah kenyataan bahwa orang yang mempelajari 4% Rule setidaknya sudah memiliki satu hal yang sering kali terlupakan oleh banyak orang: mereka memiliki rencana.

Infografik 4% Rule yang menjelaskan konsep financial freedom, target dana pensiun, pencairan dana sebesar 4 persen per tahun, dan pengaruh inflasi dalam perencanaan keuangan.
Ilustrasi sederhana tentang 4% Rule sebagai salah satu pendekatan dalam merencanakan dana pensiun dan mencapai financial freedom. Konsep ini membantu memahami target dana pensiun, tingkat pencairan tahunan, serta pentingnya menyesuaikan dana dengan inflasi. Sumber: Presentasi “Merawat Kebun Rezeki” – Setiawan Chogah.

Sebelum Mengejar Financial Freedom, Bangunlah Lega Finansial

Selama mengajar literasi keuangan, saya justru lebih sering bertemu orang-orang yang belum memiliki tujuan keuangan sama sekali. Gaji datang setiap bulan, tetapi langsung habis tanpa arah. Investasi dilakukan karena mengikuti tren. Menabung baru dilakukan kalau masih ada sisa, padahal hampir selalu tidak pernah ada sisa.

Baca Juga:  Ketika Keterampilan dan Literasi Finansial Bertemu

Semakin lama saya memikirkan hal ini, semakin saya yakin bahwa kebanyakan orang sebenarnya tidak ingin pensiun dari pekerjaannya. Mereka ingin pensiun dari rasa cemas.

Kita ingin berhenti takut ketika telepon berbunyi karena khawatir itu penagih utang.

Kita ingin berhenti menerima pekerjaan yang menguras kesehatan hanya karena tidak punya pilihan.

Kita ingin berhenti merasa panik setiap kali kendaraan rusak atau anak sakit.

Kalau dipikir-pikir, yang ingin kita pensiunkan bukan pekerjaan kita. Yang ingin kita pensiunkan adalah rasa takut yang selama ini ikut bekerja bersama kita.

Karena itulah, belakangan ini saya lebih sering menggunakan istilah Lega Finansial dibanding langsung berbicara tentang financial freedom.

Financial freedom adalah tujuan yang indah. Namun, bagi sebagian besar orang, ia terasa sangat jauh. Sementara Lega Finansial terasa lebih dekat. Lebih manusiawi. Lebih mungkin dicapai dalam tiga bulan, enam bulan, atau beberapa tahun ke depan.

Lega finansial adalah ketika kita mulai memiliki ruang bernapas. Kita tidak lagi hidup dari tanggal gajian ke tanggal gajian berikutnya. Kita memiliki dana darurat, mampu menciptakan surplus, dan mulai berani berkata “tidak” pada keputusan-keputusan yang hanya memuaskan sesaat.

Menurut saya, perjalanan menuju kebebasan finansial seharusnya memang dimulai dari sana.

Infografik Kompas Lega Finansial yang menjelaskan prinsip mengelola keuangan pribadi, dana darurat, investasi, dan kebiasaan membangun kehidupan finansial yang lebih tenang.
Kompas Lega Finansial merangkum prinsip-prinsip dasar membangun kehidupan yang lebih tenang melalui pengelolaan uang, mulai dari menjaga pengeluaran tetap terkendali, menyiapkan dana darurat, hingga membangun kebiasaan berinvestasi dan berbagi. Sumber: Presentasi “Merawat Kebun Rezeki” – Setiawan Chogah.

Merawat Kebun Rezeki Hingga Usia Senja

Dalam kelas-kelas literasi keuangan, saya sering mengibaratkan uang sebagai air yang menghidupi sebuah kebun. Impian adalah pohonnya. Diri kita adalah tanahnya. Sementara uang hanyalah air yang perlu diarahkan agar setiap pohon dapat tumbuh dengan baik.

Kalau analogi itu kita bawa sampai masa pensiun, saya mulai menyadari bahwa tujuan berkebun ternyata bukan berhenti menyiram. Tujuan berkebun adalah menikmati hari ketika kita bisa menyiram tanpa lagi dihantui kekhawatiran apakah pohon-pohon itu akan cukup memberi makan keluarga kita besok.

Semakin lama saya memikirkan Hirayama, semakin saya merasa bahwa hidup pun bekerja dengan cara yang sama. Barangkali tujuan mengelola uang bukan agar suatu hari nanti kita bisa berhenti bekerja. Bukan berhenti berkarya. Bukan meninggalkan pekerjaan yang kita cintai. Melainkan memiliki kebebasan untuk memilih bagaimana kita ingin menghabiskan waktu, tenaga, dan perhatian kita. Tujuannya adalah agar kita dapat datang ke kebun setiap pagi tanpa lagi dihantui kekhawatiran apakah hasil panennya cukup untuk menyambung hidup.

Bagi saya, di situlah makna financial freedom berubah. Sebab pada akhirnya, pekerjaan yang paling membahagiakan bukanlah pekerjaan yang menghasilkan uang paling banyak, melainkan pekerjaan yang masih ingin kita lakukan bahkan ketika uang tidak lagi menjadi alasan utama.

Mungkin, itulah pelajaran paling berharga yang saya bawa pulang dari Perfect Days. Hirayama tidak mengajari saya cara menghitung dana pensiun. Ia justru mengingatkan bahwa uang hanyalah alat. Sementara tujuan akhirnya adalah hidup yang lebih tenang, lebih bermakna, dan lebih merdeka dalam menentukan bagaimana kita ingin menjalani setiap hari.

Kredit Redaksi:
Penulis: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.
© 2026 Techfin Insight. Konten ini boleh dikutip untuk keperluan non-komersial. Cantumkan sumber dan tautkan ke artikel asli di Techfin Insight. Untuk penggunaan ulang secara menyeluruh atau di luar konteks editorial (misalnya komersial), silakan hubungi redaksi.
- Advertisement -
Ad imageAd image
TOPIK:4% RuleDana PensiunFinancial FreedomLega FinansialPerencanaan KeuanganRuang Dalam

Kirim Tulisan

Ingin cerita, gagasan, atau opinimu dibaca lebih banyak orang?
✨ Tulis gagasanmu dan mulailah menginspirasi. Baca Panduan Editorial Techfin Insight. Lihat Syarat & Ketentuan Tulisan.
Share tulisan ini, yuk!
Facebook Whatsapp Whatsapp LinkedIn Threads Copy link
Penulis:Setiawan Chogah
Finance & Insight Writer
Follow:
Menulis bagiku adalah perjalanan di lorong sunyi antara diri dan dunia. Tentang keuangan, tentang hidup yang bergegas, tentang jiwa yang terkadang ingin berhenti sejenak. Lewat tulisan, aku berharap kau menemukan jeda, ruang bernapas, dan makna yang kerap luput dari genggaman.
Tulisan Sebelumnya 👈 Ilustrasi PLTU Pelabuhan Ratu Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, salah satu pembangkit yang berperan penting dalam menjaga pasokan listrik di sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali. PLN Percepat Pemulihan Pembangkit, Kapan Listrik Jawa Kembali Optimal?
👉 Tulisan Selanjutnya Kode Referral ShopeePay untuk Pengguna Baru dan Cara Claim Bonus Saldo Gratisnya
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Terkini

Keuangan

Kode Referral ShopeePay untuk Pengguna Baru dan Cara Claim Bonus Saldo Gratisnya

23 Jun 2026
Ilustrasi PLTU Pelabuhan Ratu Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, salah satu pembangkit yang berperan penting dalam menjaga pasokan listrik di sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali.
Bisnis

PLN Percepat Pemulihan Pembangkit, Kapan Listrik Jawa Kembali Optimal?

21 Jun 2026
Mesin digital printing mencetak berbagai produk percetakan kertas sebagai ilustrasi bisnis percetakan kertas dan ragam produk cetak.
Bisnis

Mendalami Keuntungan Bisnis Percetakan Kertas dan Ragam Produknya

19 Jun 2026
Pengguna menggambar ilustrasi digital menggunakan HUAWEI MatePad Mini dan HUAWEI M-Pencil di area luar ruangan dengan layar Flexible OLED PaperMatte anti-glare.
Teknologi

HUAWEI MatePad Mini, Tablet Tipis untuk Produktivitas dan Hiburan

19 Jun 2026
Tampak udara Gedung PLN Kantor Pusat di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Bisnis

PLN Resmi Punya Wakil Dirut, Ini Susunan Direksi Terbaru 2026

19 Jun 2026
- Advertisement -
Ad imageAd image

Ruang Baca

Pilihan Editor untukmu

Gaya Hidup

Motor Listrik Tempuh 1.200 Km, PLN Buktikan Ekosistem EV Indonesia Siap

Ammar Fahri
17 Jun 2026
Insight

PLN Tanamkan Budaya Hemat Energi Sejak Dini Lewat Program Adiwiyata

Keira Zareen
15 Jun 2026
Seorang perempuan menggunakan HUAWEI MatePad Mini untuk membaca dokumen digital di dalam kereta, sementara penumpang lain berada di sekelilingnya. Tablet mini berlayar besar tersebut digunakan dalam situasi mobilitas sehari-hari di transportasi publik.
Teknologi

HUAWEI MatePad Mini Siap Masuk Indonesia, Tipis dan Ringan

Liora N. Shasmitha
12 Jun 2026
Insight

Anak Pulau Kini Punya Jembatan Menuju Masa Depan

Keira Zareen
9 Jun 2026
Kultur

Indonesia Ternyata Negara Paling Rajin Berdoa di Dunia

Arden Gustav
9 Jun 2026
Run for Vision 2026
Gaya Hidup

Jangan Tunggu Kuota Habis, Run for Vision 2026 Masih Buka

Ammar Fahri
8 Jun 2026
Ilustrasi pelanggan saat memasukkan kode token listrik ke kWh meter.
Utilitas

Isi Token, Dapat Bonus: Promo PLN Mobile Kembali Hadir

Aira Safeeya
5 Jun 2026
nutrisi untuk diet
Gaya Hidup

Nutrisi Apa yang Dibutuhkan saat Diet? Berikut Daftar Lengkapnya

Ananta
5 Jun 2026
Tampilkan Lagi

Jangan Lewatkan

Jadi yang pertama tahu. Baca sekarang atau simpan untuk nanti.

Kode Referral ShopeePay untuk Pengguna Baru dan Cara Claim Bonus Saldo Gratisnya

Keuangan
Ilustrasi suasana tenang yang terinspirasi dari film Perfect Days sebagai refleksi tentang financial freedom, dana pensiun, dan Lega Finansial.

Ketika Financial Freedom Tidak Lagi tentang Pensiun

Keuangan
Pengguna menggambar ilustrasi digital menggunakan HUAWEI MatePad Mini dan HUAWEI M-Pencil di area luar ruangan dengan layar Flexible OLED PaperMatte anti-glare.

HUAWEI MatePad Mini, Tablet Tipis untuk Produktivitas dan Hiburan

Teknologi

Motor Listrik Tempuh 1.200 Km, PLN Buktikan Ekosistem EV Indonesia Siap

Gaya Hidup

PLN Tanamkan Budaya Hemat Energi Sejak Dini Lewat Program Adiwiyata

Insight
Seorang perempuan menggunakan HUAWEI MatePad Mini untuk membaca dokumen digital di dalam kereta, sementara penumpang lain berada di sekelilingnya. Tablet mini berlayar besar tersebut digunakan dalam situasi mobilitas sehari-hari di transportasi publik.

HUAWEI MatePad Mini Siap Masuk Indonesia, Tipis dan Ringan

Teknologi
Instruktur Setiawan Chogah memberikan materi literasi finansial Merawat Kebun Rezeki kepada peserta pelatihan Barber, Menjahit, dan Bright Migrant Worker di ruang kelas Institut Kemandirian, Karawaci, Tangerang, dengan presentasi ilustrasi kebun rezeki ditampilkan di layar.

Ketika Keterampilan dan Literasi Finansial Bertemu

Keuangan

Anak Pulau Kini Punya Jembatan Menuju Masa Depan

Insight
Tampilkan Lagi
Techfin Insight
Facebook X-twitter Instagram Threads Whatsapp

Techfin Insight hadir sebagai media alternatif yang fokus mengabarkan inovasi dan perkembangan terkini di bidang teknologi, bisnis, keuangan, serta tantangan yang kita hadapi setiap hari. Kami menganalisis bagaimana bisnis dan teknologi saling bersinggungan, mempengaruhi, dan memberikan dampak pada berbagai lini kehidupan untuk mewujudkan transformasi budaya di dunia yang semakin saling terhubung ini.

Ad image
  • Tentang Kami
  • Iklan & Partnership
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Jadi PenulisNew
  • Panduan Editorial
  • Brand Guideline
  • Kontak
  • History
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Keuangan
  • Sains
  • Kultur
  • Insight
  • Persona
  • Utilitas
  • DPRD Banten
  • About Us
  • Advertising & Partnership
  • Terms & Conditions
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Guest Post
  • Contact

© 2026 Techfin.id. Designed with ❤️ by dezainin.com