Techfin Insight — Saya baru menyadari betapa mahalnya harga yang harus dibayar manusia untuk sebuah kejujuran berpikir. Kita hidup di tengah masyarakat yang gemar mengetuk pintu langit, tetapi sering kali lupa merawat tanah di bawah kaki sendiri.
Kesadaran itu datang bukan dari perdebatan panjang di mimbar-mimbar yang riuh, melainkan dari sebuah senyuman kecil yang saya simpan sendiri tempo hari. Seseorang, dengan ringannya, menunjuk hidup saya lalu berbisik, “Chog, gue aneh sama hidup lu. Kayaknya lu kena istidraj. Gak saleh, tapi rezekinya bagus. Nanti di akhirat lu pasti disiksa. Hahaha.”
Saya tidak mendebatnya. Saya hanya tersenyum. Di dalam senyuman itu, saya melihat sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar penghakiman agama: saya melihat sebuah sistem pertahanan diri yang sedang bekerja mati-matian menyelamatkan sebuah ego yang terluka.
Dua Sisi Jalan yang Terang Benderang
Selama ini, kita sering dipaksa untuk menelan mentah-mentah kalimat, “Terima saja penderitaan ini, Allah lebih tahu.” Kalimat itu mulia, tetapi di tangan orang yang keliru, ia berubah menjadi alat pembungkam nalar. Kita disuruh mati rasa, berhenti bertanya, dan pasrah secara buta pada keadaan buruk—bahkan ketika keburukan itu lahir dari kecerobohan kita sendiri.
Padahal, jika kita berani membuka lembaran teks suci dengan kepala dingin, Sang Pencipta sudah meletakkan dua jalur hukum yang sangat adil dan presisi:
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”
— (QS. Al-Qamar: 49)
Ini adalah wilayah Hakikat. Sisi makro semesta. Hukum alam, ruang waktu, dan seluruh ukuran presisi yang mewujud di bumi bergerak di bawah kendali-Nya yang mutlak. Langit menentukan kapan hujan harus turun dan dengan volume seberapa banyak.
Namun, aturan main untuk manusia diperjelas di ayat lain tanpa ada yang disembunyikan:
Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”
— (QS. Asy-Syura: 30)
Ini adalah wilayah Syariat dan Pilihan. Sisi mikro. Manusia dibekali kehendak bebas dan akal budi. Ketika kita menderita diabetes karena setiap hari menjejalkan segelas boba dengan kadar gula ugal-ugalan ke dalam tubuh, jangan sebut sakit itu sebagai “ujian kesalehan untuk menggugur dosa”. Tidak. Itu murni kezaliman kita pada tubuh sendiri. Allah hanya menjalankan ketetapan biologi-Nya: tubuh yang dijejali racun, pada waktunya akan mogok kerja. Sesederhana itu.
Ketika dua hal ini dicampuradukkan untuk melegitimasi kelalaian, di situlah dogma menjadi sangat manipulatif.
Saat Satpam Mengambil Alih Kursi CEO
Desain awal dari Sang Pencipta untuk kepala kita sebenarnya adalah Premium Ultimate Bundle. Tubuh, jiwa, dan akal diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna (ahsani taqwim).
Di bagian belakang, ada Amigdala—si satpam darurat yang bertugas mendeteksi ancaman. Di bagian depan, ada Prefrontal Cortex—si CEO yang bertugas berpikir logis, menimbang sebab-akibat, dan mengambil keputusan bijak. Keduanya dirancang untuk sinkron.
Masalahnya, perangkat lunak di kepala kebanyakan orang hari ini sudah lama kena hack oleh virus yang bernama kemalasan berpikir.

Ketika kebun rezeki seseorang kering karena ia enggan belajar, malas beradaptasi dengan zaman, atau keliru mengambil keputusan finansial, Amigdalanya mendeteksi kegagalan itu sebagai ancaman berat bagi egonya. Otak manusia benci disalahkan. Mengakui kesalahan sendiri itu butuh kalori besar dan melelahkan secara mental.
Maka, untuk menghemat energi, otak mencari jalan pintas melalui sebuah sistem bawaan bernama bias konfirmasi. Otak menyerap narasi apa saja yang bisa menyelamatkan harga dirinya. Ditulislah sebuah cerita baru: “Saya miskin bukan karena saya malas, tapi karena Allah sedang menguji saya. Dia sukses bukan karena dia cerdas, tapi karena dia sedang dijebak Istidraj.”
Klop sudah. Egoknya aman, amigdalanya kembali tenang, dan mereka bisa melanjutkan tidur dengan perasaan sebagai “korban takdir yang saleh”. Istidraj, dalam konteks ini, bukan lagi konsep teologi yang murni, melainkan sekadar coping mechanism (mekanisme pertahanan diri) murah agar seseorang tidak perlu capek-capek mengevaluasi diri.
Menyalakan Fitur Premium
Doa pun akhirnya ikut bergeser maknanya. Di tangan amigdala yang panik, doa diperlakukan seperti mantra sihir instan. Muncul konten-konten doa racikan yang menjanjikan rezeki mengalir tanpa perlu memeras keringat. Orang-orang membagikannya demi mendapatkan dopamin murah di ujung jari, lalu berharap kebun mereka berbuah keesokan harinya tanpa pernah menanam benih.
Padahal, doa versi fitur premium adalah alat manajemen stres tertinggi. Doa dibaca untuk menenangkan sirkuit amigdala yang riuh, menurunkan hormon kortisol, sehingga Kursi CEO di kepala kita bisa kembali menyala tegak. Orang yang berdoanya benar akan mendapatkan kepala yang dingin. Dan dari kepala yang dingin itulah lahir keputusan bisnis yang presisi, strategi yang adaptif, dan daya tahan untuk kembali mencangkul tanah yang keras.
Tuhan tidak pernah memelihara robot yang mati rasa. Dia memelihara manusia yang berpikir.
Menjadi manusia yang merdeka di kepala memang sering kali harus dibayar dengan label “asing” atau “sesat” oleh lingkungan sekitar yang terbiasa hidup dalam mode otomatis gratisan. Tapi bagi saya, itu harga yang murah untuk sepotong kedamaian batin.
Biarkan saja mereka sibuk meramal akhiratmu atau meracik doa instan dari balik selimut. Bagian kita hanyalah terus menunduk, memeriksa apakah ada selang yang bocor, menyalakan nalar, dan memastikan benih hari ini dirawat dengan disiplin yang tidak berisik.
Sebab bumi, dengan segala kejujurannya, hanya akan mengembalikan apa yang kita rawat—tanpa drama, tanpa perlu mendengarkan riuhnya penghakiman di luar.

Penulis: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




