• Tentang Kami
  • Iklan & Partnership
  • Syarat & Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Panduan Editorial
  • Brand Guideline
  • Kontak
Techfin Insight
0

Tidak ada produk di keranjang.

Notifikasi
Kirim Tulisan
  • Trending Topics:
  • PLN
  • PLN UID Banten
  • AI
  • Phones/Tablets/Mobile
  • Personal Finance
  • PLN Mobile
  • Apple
  • Investasi
  • Keuangan
  • Karier
  • Teknologi
  • iPhone
  • Books/Movies
  • Indeks
  • ShopNew
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Keuangan
  • Sains
  • Gaya Hidup
  • Kultur
  • Insight
  • Persona
  • Utilitas
  • Personalize
    • Dasbor Penulis
    • Riwayat Bacaan
    • Tulisan Tersimpan
    • My Feed
    • My Interests
Reading: Arrival Fallacy: Mengapa Kita Selalu Menunggu Bahagia di Tujuan Berikutnya
Share
Techfin InsightTechfin Insight
0
  • ShopNew
  • Indeks
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Keuangan
  • Sains
  • Gaya Hidup
  • Kultur
  • Persona
  • Insight
  • Utilitas
  • Riwayat Bacaan
  • Tulisan Tersimpan
  • My Feed
  • My Interests
Cari
  • Tentang Kami
  • Iklan & Partnership
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Jadi PenulisNew
  • Panduan Editorial
  • Brand Guideline
  • Kontak
  • History
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Keuangan
  • Sains
  • Kultur
  • Insight
  • Persona
  • Utilitas
  • DPRD Banten

Jelajah Ruang Baca

Jejak Wawasan

  • Riwayat Bacaan
  • Bacaan Tersimpan
  • My Feed
  • My Interests

Terkini

Pinjol di Era Digital: Solusi Keuangan atau Jebakan Utang?

26 Agu 2026

ABANGADEKGANTENG: Eksperimen Membangun Berbagai Proyek Web dengan Teknologi Modern

26 Agu 2026
Seseorang berjalan menyusuri jalan setapak di tengah kebun menuju cahaya sore dan sebuah gerbang di kejauhan.

Arrival Fallacy: Mengapa Kita Selalu Menunggu Bahagia di Tujuan Berikutnya

26 Agu 2026

PLTS 100 GWp Diluncurkan, Indonesia Bidik Swasembada Energi dan Investasi Rp1.140 Triliun

26 Agu 2026

Call for Writers 🧑🏻‍💻

Tulis gagasanmu dan menginspirasilah bersama Techfin Insight! 💡
Kirim Tulisan
Punya akun di Techfin Insight? Sign In
Stay Connected
© 2026 Techfin.id. Designed with ❤️ by dezainin.com
Insight

Arrival Fallacy: Mengapa Kita Selalu Menunggu Bahagia di Tujuan Berikutnya

Penulis: Setiawan Chogah - Finance & Insight Writer
Publikasi: Rabu, 26 Agustus 2026 - 19.34 WIB
Share
11 Menit
Seseorang berjalan menyusuri jalan setapak di tengah kebun menuju cahaya sore dan sebuah gerbang di kejauhan.
Kita sering mengira ketenangan menunggu di ujung perjalanan. Padahal, ketika garis finis terus kita pindahkan ke tujuan berikutnya, kita bisa lupa bahwa hidup juga sedang berlangsung di sepanjang jalan.
Navigasi Konten
  • Ketika Harapan Menjadi Kenyataan
  • Uang Hanyalah Pintu Masuk
  • Ketika Otak Membawa Kita ke Masa Depan
  • Ketika Sesuatu yang Diimpikan Menjadi Biasa

Techfin Insight — Setelah bertahun-tahun mendengarkan cerita tentang uang, pekerjaan, dan harapan, saya mulai menyadari satu pola yang terus berulang. Hampir semua orang memiliki kalimat yang mirip, meskipun tujuan mereka berbeda-beda. Kalau sudah punya pekerjaan tetap, saya akan tenang. Kalau penghasilan saya naik, saya akan lebih bahagia. Kalau rumah ini lunas, hidup saya pasti jauh lebih ringan. Saya juga pernah mempercayai kalimat-kalimat seperti itu. Namun setelah mengamati begitu banyak cerita, saya mulai bertanya: benarkah ketenangan memang menunggu di tujuan berikutnya?

Suatu sore, seorang teman datang ke rumah. Ia memarkir motornya di depan rumah tanpa biasanya menyapa lebih dulu. Helmnya diletakkan begitu saja di atas meja teras. Saya menuangkan kopi ke dua cangkir, lalu kami duduk berhadapan seperti puluhan kali sebelumnya.

Wajahnya tampak lelah. Bukan lelah karena perjalanan, melainkan lelah karena harapan yang baru saja runtuh.

“Hasil PPPPK keluar hari ini,” katanya pelan.

- Advertisement -
Jasa Pembuatan Website Murah di BantenJasa Pembuatan Website Murah di Banten

Saya mengangguk.

“Nama saya nggak ada.”

Setelah itu ia berbicara cukup lama. Saya membiarkannya mengeluarkan semua yang ingin ia ceritakan. Tentang malam-malam yang dihabiskan untuk belajar setelah pulang bekerja. Tentang keluarga yang ikut menunggu kabar baik. Tentang teman-temannya yang satu per satu mulai mengucapkan selamat kepada orang lain, sementara ia masih berusaha menerima kenyataan bahwa namanya tidak ada dalam daftar itu.

Jangan Lewatkan:

Lega Finansial
Mengapa Rasa Lega Sering Hanya Bertahan Sebentar?
19 Agu 2026
Uang Tumbuh di Tanah yang Tenang, Bukan di Rekening yang Penuh
8 Agu 2026
Lega Finansial
Apa Itu Lega Finansial? Mengapa Tujuan Mengelola Uang Bukan Sekadar Menjadi Kaya
8 Agu 2026
Ilustrasi seseorang menabung sebagai cara membangun ketenangan dan dana darurat di masa depan.
Menabung: Sebuah Seni Menunda Kepanikan
27 Jul 2026

Sesekali ia tertawa kecil. Namun saya tahu, tidak semua tawa lahir karena bahagia. Ada tawa yang hanya dipakai agar seseorang tidak terlihat sedang hancur.

Menjelang ia pulang, saya hanya mengatakan satu kalimat.

“Coba lagi tahun depan.”

Kalimat itu terdengar sangat sederhana. Terlalu sederhana, mungkin. Bahkan saya sempat merasa bersalah karena tidak mampu memberikan sesuatu yang lebih menguatkan. Saya tidak bisa mengubah hasil pengumuman. Saya juga tidak bisa menghapus rasa kecewanya. Yang bisa saya lakukan hanya mendengarkan, lalu berharap waktu akan mengerjakan sisanya.

Ketika Harapan Menjadi Kenyataan

Setahun kemudian, ia kembali datang. Rumahnya masih sama. Motor yang dikendarainya masih sama. Meja bundar tempat kami duduk juga masih sama. Bahkan Ficus virens di atas kepala kami hanya bertambah sedikit lebih rindang.

Namun kali ini wajahnya sama sekali berbeda.

Saya belum sempat bertanya apa pun ketika ia mengeluarkan telepon genggamnya dan menunjukkan layar yang dipenuhi ucapan selamat dari teman-temannya.

“Alhamdulillah… lolos.”

Ia mengucapkannya sambil tersenyum lebar. Senyum yang setahun lalu tidak sempat saya lihat.

Sore itu, pembicaraan kami mengalir sangat cepat. Ia mulai bercerita tentang banyak rencana yang selama ini disimpan rapat-rapat. Rumah yang ingin direnovasi. Kendaraan yang ingin dibeli. Pinjaman bank yang bisa diajukan dengan jaminan SK. Perabot baru. Beberapa impian yang selama ini ditunda karena merasa penghasilannya belum cukup.

Saya ikut bahagia mendengarnya. Bukankah memang begitu seharusnya? Setelah sekian lama berusaha, akhirnya ia memperoleh apa yang diinginkan.

Namun di tengah percakapan itu, ada satu hal yang diam-diam membuat saya berpikir.

Sebenarnya, tidak banyak yang berubah hari itu. Ia memang dinyatakan lulus. Namun gaji pertamanya belum cair. Rumahnya belum direnovasi. Kendaraan yang dibicarakannya belum dibeli. Saldo rekeningnya hampir pasti belum berubah.

Jangan Lewatkan:

Ilustrasi suasana tenang yang terinspirasi dari film Perfect Days sebagai refleksi tentang financial freedom, dana pensiun, dan Lega Finansial.
Ketika Financial Freedom Tidak Lagi tentang Pensiun
23 Jun 2026
Instruktur Setiawan Chogah memberikan materi literasi finansial Merawat Kebun Rezeki kepada peserta pelatihan Barber, Menjahit, dan Bright Migrant Worker di ruang kelas Institut Kemandirian, Karawaci, Tangerang, dengan presentasi ilustrasi kebun rezeki ditampilkan di layar.
Ketika Keterampilan dan Literasi Finansial Bertemu
10 Jun 2026
Di Balik Selimut Mantra: Membedah Anatomi Doa Lewat Kacamata Neurosains
19 Mei 2026
Seorang pria berdiri di bawah langit mendung sambil menyiram tunas kecil yang tumbuh dari tanah, sementara hujan turun lembut dari awan di atasnya.
Bukan Salah Langit: Mengurai Batas Antara Takdir Tuhan dan Pilihan Manusia
19 Mei 2026

Kalau begitu, mengapa wajahnya berubah begitu drastis?

Apa yang sebenarnya sedang berubah?

Pertanyaan itu terus tinggal di kepala saya, bahkan setelah ia pulang. Saya duduk cukup lama di bawah Ficus virens sambil memandangi daun-daun mudanya yang kemerahan. Angin bergerak pelan. Ketel di dapur kembali mendidihkan air. Di belakang rumah, daun-daun singkong bergesekan satu sama lain. Semuanya tampak biasa saja.

Yang tidak biasa adalah pikiran saya.

Saya mulai bertanya, mungkinkah selama ini kita terlalu sering menghubungkan ketenangan dengan sesuatu yang bahkan belum benar-benar kita miliki?

Beberapa bulan kemudian, pertanyaan itu menemukan jawabannya, atau setidaknya petunjuk pertama.

Teman saya datang lagi. Kali ini ia tidak tampak secerah kunjungan sebelumnya. Kami kembali duduk di tempat yang sama. Setelah berbincang beberapa saat, ia mulai bercerita tentang cicilan yang sedang dipertimbangkan, kebutuhan-kebutuhan baru yang bermunculan, biaya yang ternyata lebih besar daripada perkiraannya, serta rasa khawatir yang perlahan datang menggantikan euforia beberapa bulan lalu.

Saya hanya mendengarkan.

Di dalam hati, saya kembali mengulang pertanyaan yang sama. Mengapa rasa lega itu hanya bertahan sebentar? Mengapa ketika satu tujuan tercapai, kita begitu cepat menemukan alasan baru untuk kembali cemas?

Saat itu saya belum memiliki jawabannya. Namun sore itulah saya mulai mencari. Bukan mencari cara agar uang bertambah lebih cepat, melainkan mencari mengapa manusia begitu mudah percaya bahwa ketenangan selalu berada di tujuan berikutnya.

Uang Hanyalah Pintu Masuk

Semakin sering saya mendengar cerita-cerita seperti itu, semakin saya percaya bahwa persoalan keuangan jarang benar-benar dimulai dari uang. Kalau saja uang adalah akar dari semua persoalan, seharusnya orang yang penghasilannya tinggi akan hidup jauh lebih tenang daripada mereka yang berpenghasilan biasa. Kenyataannya tidak demikian. Saya pernah bertemu orang yang setiap bulan memperoleh penghasilan berkali-kali lipat lebih besar daripada guru, perawat, atau pegawai negeri. Namun setiap malam ia sulit tidur karena terus memikirkan kemungkinan usahanya menurun. Sebaliknya, saya juga mengenal orang-orang yang hidup jauh lebih sederhana, tetapi mampu menikmati makan malam bersama keluarganya tanpa dihantui ketakutan tentang hari esok.

Awalnya saya mengira itu hanya kebetulan. Namun semakin banyak cerita yang datang, semakin pola itu terlihat jelas.

Masalahnya bukan pada jumlah uang.

Masalahnya ada pada hubungan manusia dengan uang.

Saya sengaja menggunakan kata hubungan, bukan kepemilikan. Sebab memiliki uang dan memiliki hubungan yang sehat dengan uang adalah dua hal yang berbeda. Sama seperti memiliki kebun tidak otomatis membuat seseorang menjadi petani yang baik.

Hubungan yang sehat membuat seseorang mampu menggunakan uang tanpa diperbudak olehnya. Sebaliknya, hubungan yang tidak sehat membuat seseorang terus merasa kurang, bahkan ketika angka di rekeningnya bertambah.

Di sinilah saya mulai menyadari bahwa uang sebenarnya lebih dekat dengan psikologi daripada matematika. Dua tambah dua memang selalu menjadi empat. Namun seratus juta rupiah bisa terasa sangat berbeda bagi dua orang yang berbeda. Bagi seseorang, seratus juta adalah modal untuk memulai usaha. Bagi orang lain, seratus juta adalah alasan untuk semakin takut kehilangan.

Angkanya sama. Maknanya berbeda.

Dan manusia hampir selalu mengambil keputusan berdasarkan makna, bukan berdasarkan angka.

Ketika Otak Membawa Kita ke Masa Depan

Ketika pertama kali membaca berbagai penelitian tentang perilaku manusia, saya merasa seperti sedang membaca penjelasan ilmiah atas percakapan-percakapan yang selama ini terjadi di bawah Ficus virens. Ternyata, otak kita memang memiliki kebiasaan yang menarik. Ia jauh lebih sibuk membayangkan masa depan daripada menikmati masa kini.

Mungkin itulah yang membuat manusia mampu membangun peradaban. Kita berani menanam padi hari ini karena percaya beberapa bulan lagi akan ada panen. Kita menempuh pendidikan bertahun-tahun karena membayangkan kehidupan yang lebih baik. Kita menabung karena berharap suatu hari nanti dapat membeli rumah, menyekolahkan anak, atau menikmati hari tua dengan lebih tenang.

Kemampuan membayangkan masa depan adalah anugerah. Namun seperti banyak anugerah lainnya, ia juga memiliki sisi yang perlu kita pahami. Otak tidak hanya pandai membayangkan kemungkinan yang indah, tetapi juga sangat pandai membayangkan kemungkinan yang buruk.

Ketika seseorang gagal memperoleh pekerjaan yang diimpikannya, misalnya, otak tidak berhenti pada fakta bahwa ia belum diterima. Dalam hitungan detik, pikiran dapat melompat jauh ke depan dan mulai menyusun cerita: Bagaimana kalau saya tidak pernah mendapat pekerjaan yang lebih baik? Bagaimana kalau keluarga kecewa? Bagaimana kalau hidup saya memang akan begini terus? Padahal, tidak satu pun dari semua itu benar-benar terjadi. Yang terjadi hanyalah sebuah pengumuman. Sisanya adalah cerita yang sedang ditulis oleh pikiran.

Sebaliknya, ketika seseorang berhasil mencapai sesuatu yang sudah lama diimpikan, otak juga melakukan hal yang sama. Kalau sudah lolos, hidup saya akan tenang. Kalau sudah punya rumah sendiri, saya akan bahagia. Kalau penghasilan saya naik dua kali lipat, saya tidak akan khawatir lagi. Sekali lagi, itu bukan kenyataan. Itu adalah cerita tentang masa depan.

Saya menduga, inilah yang terjadi pada teman saya yang akhirnya lolos seleksi PPPPK. Yang membuat wajahnya berubah bukanlah uang yang tiba-tiba datang ke rekeningnya; bahkan uang itu belum datang. Yang berubah adalah cerita di dalam kepalanya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia melihat masa depan yang tampak lebih terang daripada hari kemarin, dan siapa pun yang melihat masa depan dengan lebih terang hampir pasti akan berjalan dengan langkah yang lebih ringan.

Beberapa waktu setelah memahami cara kerja otak yang gemar membangun cerita tentang masa depan, saya menemukan sebuah istilah yang membuat saya berhenti membaca cukup lama. Bukan karena istilah itu sulit dipahami, melainkan karena rasanya terlalu akrab. Seolah-olah saya sedang membaca ringkasan dari begitu banyak percakapan yang pernah terjadi di teras rumah ini.

Para psikolog menyebutnya arrival fallacy. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kecenderungan manusia yang percaya bahwa kebahagiaan atau ketenangan akan benar-benar datang ketika ia berhasil mencapai tujuan tertentu. Kalimatnya mungkin berbeda-beda pada setiap orang, tetapi polanya hampir selalu sama: kalau saya sampai di sana, hidup saya akan lebih baik.

Kita mungkin pernah mengucapkannya, atau setidaknya memikirkannya dalam hati. Kalau sudah lulus kuliah, saya akan tenang. Kalau sudah mendapat pekerjaan tetap, saya akan tenang. Kalau sudah menikah, saya akan tenang. Kalau sudah punya rumah sendiri, saya akan tenang. Kalau penghasilan saya naik dua kali lipat, saya akan tenang.

Kalimatnya terus berubah mengikuti musim kehidupan. Yang tidak berubah hanyalah keyakinan bahwa ketenangan selalu berada di tujuan berikutnya.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa memiliki tujuan adalah sesuatu yang keliru. Justru sebaliknya. Manusia membutuhkan tujuan agar hidupnya memiliki arah. Kita menanam pohon karena berharap suatu hari nanti dapat menikmati buahnya. Kita belajar, bekerja, dan membangun usaha karena percaya bahwa masa depan bisa menjadi lebih baik. Tanpa harapan, mungkin tidak akan ada pertumbuhan.

Masalahnya muncul ketika kita mulai menggantungkan seluruh rasa aman pada satu pencapaian. Saat itulah tujuan perlahan berubah menjadi syarat untuk merasa baik-baik saja. Kita tidak lagi berkata, “Saya ingin memiliki rumah.” Kita mulai berkata, “Saya baru bisa tenang kalau sudah memiliki rumah.” Perbedaannya tampak tipis, tetapi dampaknya sangat besar. Pada kalimat pertama, rumah adalah impian. Pada kalimat kedua, rumah telah berubah menjadi penopang seluruh ketenangan hidup.

Saya rasa, inilah yang terjadi pada teman saya. Ketika ia belum lulus, pikirannya membangun cerita bahwa kelulusan akan mengakhiri kegelisahan yang selama ini dirasakan. Setelah benar-benar lulus, cerita itu memang menjadi kenyataan—tetapi hanya untuk sementara. Beberapa bulan kemudian, otaknya mulai menulis bab baru. Kali ini bukan lagi tentang kelulusan, melainkan tentang cicilan, rumah, kendaraan, dan berbagai kebutuhan lain yang terasa sama pentingnya.

Tujuannya berganti, tetapi cara berpikirnya tetap sama.

Di situlah saya mulai memahami sesuatu yang selama ini luput saya lihat. Yang membuat kita lelah sering kali bukan banyaknya tujuan yang ingin dicapai, melainkan keyakinan bahwa hidup baru boleh terasa damai setelah tujuan itu tercapai.

Kalau keyakinan itu terus kita bawa, mungkin tidak akan pernah ada garis akhir. Sebab setiap kali satu tujuan berhasil dicapai, pikiran kita akan dengan sangat kreatif menciptakan tujuan berikutnya. Ia bekerja seperti pelari yang terus memindahkan garis finis beberapa meter ke depan setiap kali kita hampir menyentuhnya.

Namun ternyata, persoalannya tidak berhenti ketika kita akhirnya sampai.

Ketika Sesuatu yang Diimpikan Menjadi Biasa

Sore itu saya menutup buku yang sedang saya baca, lalu berjalan ke belakang rumah. Hujan semalam masih menyisakan tanah yang lembap. Beberapa daun cabai tampak lebih segar daripada biasanya. Di sudut kebun, singkong yang saya tanam beberapa bulan sebelumnya berdiri tanpa banyak perubahan. Kalau hanya melihatnya sepintas, mungkin orang akan mengira pohon itu tidak sedang bertumbuh.

Padahal saya tahu, sebagian besar pekerjaannya justru berlangsung di tempat yang tidak terlihat.

Umbinya berkembang di dalam tanah. Akar-akar kecil terus mencari air. Batangnya menguat sedikit demi sedikit. Tidak ada satu pun proses itu yang terdengar gaduh.

Saya tiba-tiba teringat pada cara kita memandang hidup. Barangkali kita terlalu sering menilai pertumbuhan dari apa yang tampak di permukaan. Kita menganggap hidup sedang berjalan baik ketika gaji naik, rumah bertambah besar, jabatan meningkat, atau rekening mulai terisi. Sebaliknya, kita merasa tidak berkembang ketika semua itu belum terjadi.

Padahal, seperti singkong yang sedang membentuk umbinya, ada pertumbuhan yang memang tidak bisa dilihat dari luar. Cara kita berpikir bisa berubah tanpa diketahui siapa pun. Hubungan kita dengan uang bisa menjadi lebih sehat jauh sebelum jumlah uangnya bertambah.

Kita bisa belajar menunda kesenangan, berhenti membeli sesuatu hanya karena gengsi, atau mulai berdamai dengan kata cukup. Tidak ada yang bertepuk tangan ketika itu terjadi. Tidak ada pula yang memberi ucapan selamat. Namun justru perubahan-perubahan kecil itulah yang kelak menentukan bagaimana kita menyikapi uang ketika ia datang dalam jumlah yang lebih besar.

Mungkin inilah yang selama ini membuat banyak orang kecewa. Kita terlalu sibuk menunggu buah, sementara akar sebenarnya sedang bekerja. Kita ingin segera melihat hasil, padahal alam tidak pernah bertumbuh dengan cara seperti itu. Tidak ada pohon mangga yang berbuah seminggu setelah ditanam. Tidak ada bambu yang meninggi hanya karena kita berdiri di sampingnya setiap hari. Alam selalu lebih sabar daripada manusia.

Semakin lama saya merawat kebun kecil di rumah, semakin saya merasa bahwa ketenangan juga tumbuh dengan cara yang sama. Ia tidak muncul pada hari ketika rekening mencapai angka tertentu. Ia dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali: mencatat pengeluaran tanpa berbohong kepada diri sendiri, menolak membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan, menyisihkan sedikit uang meskipun jumlahnya belum besar, atau belajar menerima bahwa hidup tidak harus selalu lebih cepat daripada orang lain.

Barangkali, selama ini kita terlalu sering bertanya, “Kapan saya akan panen?”

Padahal mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apakah tanah saya sudah cukup sehat untuk menerima panen itu?”

Sebab tidak ada gunanya memiliki pohon yang berbuah lebat jika akarnya rapuh.

Begitu pula dengan uang.

Saya masih ingat ketika monitor 27 inci itu akhirnya sampai di rumah. Kardusnya hampir memenuhi ruang kerja saya yang memang tidak besar. Selama bertahun-tahun saya menulis di layar yang jauh lebih kecil. Hari itu saya merasa seperti mendapatkan meja kerja baru, padahal yang berubah hanya satu benda.

Saya menyalakan MacBook, menyambungkannya ke monitor, lalu duduk beberapa menit tanpa melakukan apa-apa. Rasanya menyenangkan. Saya bahkan sempat berpikir, “Beginilah seharusnya saya bekerja dari dulu.” Selama beberapa minggu berikutnya, saya selalu menikmati duduk di depan meja kerja. Menulis terasa lebih lega. Mengedit foto menjadi lebih nyaman. Secangkir kopi sore di samping keyboard pun seolah ikut terasa lebih nikmat.

Saya tidak sedang membeli kemewahan. Saya hanya membeli sebuah alat kerja. Namun alat itu benar-benar membuat hari-hari saya terasa lebih menyenangkan.

Lalu waktu melakukan apa yang memang selalu ia lakukan.

Enam bulan kemudian, saya baru sadar bahwa sudah lama saya tidak lagi memperhatikan monitor itu. Layarnya masih sama jernih. Ukurannya tidak berubah. Saya masih menggunakannya hampir setiap hari untuk menulis artikel, menyiapkan materi kelas, atau menyunting naskah. Tidak ada yang salah dengan monitor itu. Justru monitor itu bekerja dengan sangat baik.

Yang berubah adalah saya.

Atau, lebih tepatnya, otak saya.

Ia mulai menganggap semua itu sebagai sesuatu yang biasa.

Semakin saya memikirkan pengalaman kecil itu, semakin saya sadar bahwa monitor bukan satu-satunya hal yang mengalami pola seperti ini. Rumah yang dulu terasa seperti mimpi, beberapa tahun kemudian berubah menjadi tempat yang kita lewati setiap hari tanpa banyak disadari. Kendaraan baru yang pada minggu pertama selalu kita bersihkan dengan penuh semangat, perlahan menjadi kendaraan biasa yang hanya membawa kita dari satu tempat ke tempat lain. Bahkan kenaikan penghasilan yang dahulu terasa begitu melegakan, beberapa bulan kemudian berubah menjadi angka yang dianggap wajar.

Bukan karena kita tidak bersyukur, melainkan karena otak kita memang memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru.

Dalam psikologi, kecenderungan ini dikenal sebagai hedonic adaptation. Istilah ini menjelaskan kemampuan manusia untuk kembali menganggap sesuatu sebagai keadaan normal, bahkan setelah mengalami perubahan yang sebelumnya begitu diinginkan. Kemampuan itu sebenarnya sangat berguna. Tanpanya, manusia mungkin akan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru, pekerjaan baru, atau berbagai perubahan dalam hidup.

Namun kemampuan yang sama juga membuat kita cepat terbiasa dengan hal-hal baik yang pernah kita perjuangkan dengan susah payah.

Saya kemudian teringat kembali pada teman yang akhirnya lolos sebagai PPPPK. Hari ketika ia datang membawa kabar kelulusan, saya bisa melihat sendiri bagaimana harapan mengubah wajahnya. Masa depan yang sebelumnya tampak gelap mendadak terlihat begitu terang. Namun beberapa bulan kemudian, ketika pekerjaan itu telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, rasa lega yang dulu begitu besar perlahan memudar.

Bukan karena pekerjaannya mengecewakan. Bukan pula karena ia berubah menjadi pribadi yang tidak tahu bersyukur. Otaknya hanya sedang melakukan apa yang memang dirancang untuk dilakukan: beradaptasi. Apa yang dahulu terasa sebagai hadiah, perlahan berubah menjadi sesuatu yang biasa.

Di situlah dua hal yang selama ini saya pikir berbeda ternyata bertemu.

Arrival fallacy membuat kita percaya bahwa kebahagiaan akan datang ketika kita sampai. Hedonic adaptation membuat kita cepat terbiasa setelah kita benar-benar sampai.

Yang satu membuat kita terus mengejar tujuan berikutnya. Yang lain membuat tujuan yang sudah tercapai kehilangan sebagian besar rasa istimewanya.

Kalau kita tidak menyadari keduanya, hidup bisa berubah menjadi perjalanan yang aneh: kita terus berlari menuju sesuatu yang kita percaya akan membuat kita tenang, lalu ketika akhirnya mendapatkannya, otak perlahan menganggapnya sebagai keadaan biasa dan mulai mencari sesuatu yang baru.

Sore itu, setelah selesai bekerja, saya keluar menuju kebun kecil di belakang rumah. Daun-daun singkong bergerak pelan tertiup angin. Cabai mulai bermunculan. Pohon kelor yang beberapa bulan lalu tampak kurus kini mulai rimbun. Saya memperhatikan semuanya cukup lama, lalu menyadari sesuatu yang mungkin selama ini luput dari perhatian saya.

Selama merawat tanaman, saya belum pernah melihat satu pohon pun mempercepat pertumbuhannya karena gelisah. Ia tidak menjadi lebih tinggi karena terus membandingkan dirinya dengan pohon lain. Ia juga tidak berhenti bertumbuh hanya karena musim berbunga telah lewat. Ketika hujan turun, ia menyerap air. Ketika kemarau datang, ia menghemat tenaga. Ketika waktunya berbuah, ia berbuah. Setelah itu, ia kembali menumbuhkan daun, memperkuat akar, lalu menunggu musim berikutnya tanpa merasa kehilangan makna hidupnya hanya karena buahnya telah dipetik.

Barangkali hanya manusia yang begitu sering memindahkan rasa leganya ke musim berikutnya.

Saya tidak melihat ada yang salah dengan keinginan untuk terus bertumbuh. Justru keinginan itulah yang membuat kita belajar, bekerja, dan membangun kehidupan yang lebih baik. Yang perlu kita waspadai adalah ketika seluruh rasa lega ikut berpindah ke tujuan berikutnya. Sebab jika ketenangan selalu kita titipkan pada sesuatu yang belum kita miliki, kita mungkin akan menghabiskan seumur hidup dengan terus mengejar perasaan yang sebenarnya hanya singgah sebentar.

Mungkin karena itulah, sebelum belajar bagaimana memperbanyak penghasilan, memilih investasi, atau menyusun anggaran, saya merasa kita perlu menyiapkan sesuatu yang lebih mendasar. Bukan dompet. Bukan rekening. Melainkan tanah tempat semua keputusan finansial itu akan bertumbuh.

Mari kita mulai dari sana.

Catatan dari Kebun

Tulisan ini merupakan bagian dari proses penulisan buku Merawat Kebun Rezeki. Melalui seri Lega Finansial, saya membagikan gagasan-gagasan yang sedang saya rawat tentang uang, ketenangan, dan hubungan manusia dengan rezeki.

Kredit Redaksi:
Penulis: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.
© 2026 Techfin Insight. Konten ini boleh dikutip untuk keperluan non-komersial. Cantumkan sumber dan tautkan ke artikel asli di Techfin Insight. Untuk penggunaan ulang secara menyeluruh atau di luar konteks editorial (misalnya komersial), silakan hubungi redaksi.
- Advertisement -
Ad imageAd image
TOPIK:Arrival FallacyBehavioral FinanceLega FinansialMerawat Kebun RezekineurosainsPsikologi Uang

Kirim Tulisan

Ingin cerita, gagasan, atau opinimu dibaca lebih banyak orang?
✨ Tulis gagasanmu dan mulailah menginspirasi. Baca Panduan Editorial Techfin Insight. Lihat Syarat & Ketentuan Tulisan.
Share tulisan ini, yuk!
Facebook Whatsapp Whatsapp LinkedIn Threads Copy link
Penulis:Setiawan Chogah
Finance & Insight Writer
Follow:
Menulis bagiku adalah perjalanan di lorong sunyi antara diri dan dunia. Tentang keuangan, tentang hidup yang bergegas, tentang jiwa yang terkadang ingin berhenti sejenak. Lewat tulisan, aku berharap kau menemukan jeda, ruang bernapas, dan makna yang kerap luput dari genggaman.
Tulisan Sebelumnya 👈 PLTS 100 GWp Diluncurkan, Indonesia Bidik Swasembada Energi dan Investasi Rp1.140 Triliun
👉 Tulisan Selanjutnya ABANGADEKGANTENG: Eksperimen Membangun Berbagai Proyek Web dengan Teknologi Modern

Traktir Penulis ☕

🏆 Top Supporters

  • Setiawan Ribbon
    Rp 60.000,00
  • Subana Ribbon
    Rp 30.000,00
- Advertisement -
Ad imageAd image

Terkini

Gaya Hidup

Pinjol di Era Digital: Solusi Keuangan atau Jebakan Utang?

26 Agu 2026
Teknologi

ABANGADEKGANTENG: Eksperimen Membangun Berbagai Proyek Web dengan Teknologi Modern

26 Agu 2026
Utilitas

PLTS 100 GWp Diluncurkan, Indonesia Bidik Swasembada Energi dan Investasi Rp1.140 Triliun

26 Agu 2026
Utilitas

PLN Kejar 7,9 GW Panas Bumi pada 2033, Indonesia Bidik Posisi Teratas Dunia

21 Agu 2026
Bisnis

Gudang PLN Banten Selatan Direvitalisasi, Apa Dampaknya?

20 Agu 2026
- Advertisement -
Ad imageAd image

Ruang Baca

Pilihan Editor untukmu

IndoSec Awards & Gala Dinner 2026 dengan latar panorama Jakarta
Teknologi

IndoSec 2026 Hadirkan 2.000+ Pemimpin Keamanan Siber di Jakarta

Liora N. Shasmitha
20 Agu 2026
Utilitas

PLN dan Polda Banten Perkuat Keamanan Infrastruktur Kelistrikan

Aira Safeeya
19 Agu 2026
Utilitas

Listrik Flores Pulih Total Pascagempa M7,7, 1.144 Personel Dikerahkan

Arden Gustav
18 Agu 2026
Teknologi

PLN Kawal Listrik Upacara HUT ke-81 RI dengan Pengamanan 5 Lapis

Elira V. Kirana
17 Agu 2026
Bisnis

Gempa Flores M7,7, PLN Pulihkan 11 Gardu Induk dalam 12 Jam

Aira Safeeya
16 Agu 2026
Utilitas

PLN Siaga HUT ke-81 RI, 45 Ribu Personel Kawal Kelistrikan Nasional

Ammar Fahri
16 Agu 2026
Kultur

Dari Kepiting Soka hingga Pelatihan Kerja, Cara PLN Mengubah Kehidupan Warga

Arden Gustav
14 Agu 2026
Ilustrasi petugas PLN saat melakukan pemasangan charger di rumah pelanggan untuk memudahkan pengisian kendaraan listrik di rumah melalui layanan Home Charging Services.
Teknologi

Pelanggan Home Charging PLN Tembus 92 Ribu, Adopsi Mobil Listrik Kian Melaju

Liora N. Shasmitha
7 Agu 2026
Tampilkan Lagi

Jangan Lewatkan

Jadi yang pertama tahu. Baca sekarang atau simpan untuk nanti.

Pinjol di Era Digital: Solusi Keuangan atau Jebakan Utang?

Gaya Hidup Keuangan Teknologi

ABANGADEKGANTENG: Eksperimen Membangun Berbagai Proyek Web dengan Teknologi Modern

Teknologi
Seseorang berjalan menyusuri jalan setapak di tengah kebun menuju cahaya sore dan sebuah gerbang di kejauhan.

Arrival Fallacy: Mengapa Kita Selalu Menunggu Bahagia di Tujuan Berikutnya

Insight Keuangan Sains

PLTS 100 GWp Diluncurkan, Indonesia Bidik Swasembada Energi dan Investasi Rp1.140 Triliun

Utilitas

PLN Kejar 7,9 GW Panas Bumi pada 2033, Indonesia Bidik Posisi Teratas Dunia

Utilitas
IndoSec Awards & Gala Dinner 2026 dengan latar panorama Jakarta

IndoSec 2026 Hadirkan 2.000+ Pemimpin Keamanan Siber di Jakarta

Teknologi
Lega Finansial

Mengapa Rasa Lega Sering Hanya Bertahan Sebentar?

Insight Keuangan

PLN dan Polda Banten Perkuat Keamanan Infrastruktur Kelistrikan

Utilitas
Tampilkan Lagi
Techfin Insight
Facebook X-twitter Instagram Threads Whatsapp

Techfin Insight hadir sebagai media alternatif yang fokus mengabarkan inovasi dan perkembangan terkini di bidang teknologi, bisnis, keuangan, serta tantangan yang kita hadapi setiap hari. Kami menganalisis bagaimana bisnis dan teknologi saling bersinggungan, mempengaruhi, dan memberikan dampak pada berbagai lini kehidupan untuk mewujudkan transformasi budaya di dunia yang semakin saling terhubung ini.

Ad image
  • Tentang Kami
  • Iklan & Partnership
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Jadi PenulisNew
  • Panduan Editorial
  • Brand Guideline
  • Kontak
  • History
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Keuangan
  • Sains
  • Kultur
  • Insight
  • Persona
  • Utilitas
  • DPRD Banten
  • About Us
  • Advertising & Partnership
  • Terms & Conditions
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Guest Post
  • Contact

© 2026 Techfin.id. Designed with ❤️ by dezainin.com