Techfin Insight — Ada sore-sore tertentu yang saya sukai di rumah kecil saya. Biasanya setelah matahari mulai condong ke barat, bayangan Ficus virens perlahan memanjang hingga menyentuh meja bundar kecil di teras.
Dari dapur terdengar suara ketel leher angsa yang baru saja selesai mendidihkan air. Angin membawa aroma tanah yang masih lembap karena hujan semalam, bercampur wangi Plumeria alba yang sedang berbunga di depan pagar. Sesekali Amole—ayam milik Rangga—berkokok dari seberang jalan, seolah ingin ikut menyela keheningan yang sedang saya nikmati.
Rumah ini tidak besar. Luas bangunannya hanya tiga puluh enam meter persegi, berdiri di atas tanah enam puluh meter dengan sedikit tambahan lahan di sisi barat dan belakang. Dindingnya dicat putih dengan kusen hitam dof. Perabotannya sederhana, sebagian besar dari kayu. Tidak banyak yang bisa disebut mewah di sini. Hanya ada dua kamar, sebuah ruang kerja yang menyatu dengan kamar tidur, rak buku yang semakin penuh setiap tahun, meja kerja dengan monitor yang menemani saya menulis, dan sebuah dapur kecil yang jendelanya menghadap kebun tetangga.
Namun justru halaman rumah inilah yang paling sering saya syukuri.
Di sisi belakang, singkong tumbuh berdampingan dengan kelor, cabai, terung, rimbang, pisang, dan beberapa tanaman lain yang kadang berakhir di dapur, kadang justru dibawa pulang oleh saudara atau tetangga yang mampir. Di sisi barat berdiri rumpun bambu kuning yang bergoyang setiap kali angin datang dari arah kantor gubernur. Di depan rumah, mawar, kembang sepatu, pepaya, dan nusa indah bergantian berbunga sesuai musimnya.
Sementara di teras, Ficus virens menjadi pohon yang paling sering menemani saya berpikir. Orang kampung kami menyebutnya botie-botie. Daun mudanya yang berwarna merah sering dimasak gulai oleh Mak bersama teri. Banyak tamu yang baru tahu kalau pohon peneduh itu ternyata juga bisa dimakan.
Sebagian besar orang yang datang ke rumah ini mungkin tidak akan melihat sesuatu yang istimewa. Mereka melihat rumah kecil di pinggir Kota Serang, sekitar sepuluh kilometer dari pusat kota. Mereka melihat sepeda listrik yang terparkir di teras, bukan mobil. Mereka melihat kebun kecil, bukan halaman yang dipenuhi tanaman hias mahal. Mereka mungkin juga melihat seseorang yang bekerja dari rumah dengan secangkir kopi di samping laptopnya.
Saya melihatnya sedikit berbeda.
Rumah ini mengajarkan saya hampir semua hal yang saya pahami tentang uang.
Ketika Kebun Menjadi Guru
Pelajaran itu tidak datang dari layar komputer, meskipun saya menghabiskan banyak waktu membaca buku tentang ekonomi perilaku, neurosains, psikologi, dan keuangan. Pelajaran itu juga tidak datang dari grafik investasi atau laporan ekonomi yang sesekali saya baca.
Sebagian besar justru lahir dari hal-hal yang tampak biasa: menunggu cabai berbuah, melihat daun singkong tumbuh kembali setelah dipetik, menyaksikan bambu bergerak mengikuti arah angin, atau duduk diam di bawah Ficus virens sambil mendengarkan cerita orang-orang yang datang silih berganti.
Di bawah pohon itulah saya mulai menyadari bahwa uang memiliki sifat yang lebih mirip tanaman daripada angka. Ia bisa tumbuh. Ia bisa layu. Ia bisa dirawat. Ia juga bisa mati, bukan karena tidak pernah hidup, melainkan karena kita keliru memperlakukannya.
Kesadaran itu tidak muncul dalam satu sore. Ia tumbuh perlahan, sama seperti pohon-pohon di halaman rumah ini. Sedikit demi sedikit, melalui percakapan dengan para pekerja migran yang saya temui di Hong Kong, peserta kelas Merawat Kebun Rezeki di Institut Kemandirian, teman-teman yang datang membawa kegelisahan tentang pekerjaan, pasangan yang sedang menyusun ulang kehidupan setelah perceraian, seorang polisi yang bercerita tentang tekanan ekonomi keluarganya, hingga seseorang yang secara finansial telah memiliki jauh lebih banyak daripada yang pernah ia bayangkan, tetapi masih sulit tidur setiap malam.
Ketika Masalahnya Bukan Lagi Uang
Mereka datang dengan masalah yang berbeda-beda. Namun lama-kelamaan saya melihat pola yang sama. Hampir tidak ada dari mereka yang benar-benar datang karena uang.
Mereka datang karena rasa takut.
Takut tidak cukup. Takut gagal. Takut kehilangan. Takut mengecewakan keluarga. Takut masa depan tidak seaman yang dibayangkan.
Menariknya, rasa takut itu tidak selalu mengecil ketika penghasilan bertambah. Pada beberapa orang, ia justru ikut tumbuh. Semakin besar penghasilan, semakin besar pula yang ingin dipertahankan. Semakin banyak yang dimiliki, semakin banyak pula yang dikhawatirkan akan hilang.
Di situlah saya mulai bertanya kepada diri sendiri.
Mungkinkah selama ini kita terlalu sibuk merawat buah, tetapi lupa memperhatikan tanah tempat pohon itu tumbuh?
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun jawaban yang saya temukan perlahan mengubah cara saya memandang uang, pekerjaan, bahkan kehidupan itu sendiri.
Karena mungkin, persoalan terbesar kita bukan terletak pada seberapa banyak uang yang dimiliki. Melainkan pada bagaimana hubungan kita dengan uang bertumbuh sejak awal.
Itulah tanah yang akan menentukan apakah uang menjadi sumber ketenangan, atau justru sumber kecemasan.
Catatan dari Kebun
Tulisan ini merupakan bagian dari proses penulisan buku Merawat Kebun Rezeki. Melalui seri Lega Finansial, saya membagikan gagasan-gagasan yang sedang saya rawat tentang uang, ketenangan, dan hubungan manusia dengan rezeki.
Penulis: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.





