Techfin Insight — Menjadi dewasa sering kali dianggap sebagai sebuah perlombaan. Semakin bertambah usia, semakin banyak hal yang seolah-olah harus dicapai. Harus memiliki pekerjaan, penghasilan, hubungan yang stabil, mampu mengambil keputusan sendiri, dan mengetahui dengan pasti ke mana hidup akan dibawa. Di tengah tuntutan tersebut, ada satu hal yang sering terlupakan: menjadi dewasa seharusnya tidak berarti kehilangan diri sendiri.
Kita tumbuh dengan banyak sekali suara dari luar. Keluarga memiliki harapan, teman mempunyai standar kehidupan masing-masing, masyarakat menentukan apa yang dianggap sukses, sementara media sosial memperlihatkan kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Tanpa sadar, kita mulai mengukur diri berdasarkan pencapaian orang lain. Ketika melihat seseorang seusia kita sudah memiliki pekerjaan impian, menikah, membeli rumah, atau membangun bisnis, kita mulai bertanya, “Mengapa aku belum sampai di sana?”
Menjadi Dewasa Bukan Perlombaan
Pertanyaan tersebut sebenarnya wajar. Namun, jika terlalu sering muncul, ia dapat berubah menjadi tekanan. Kita mulai merasa tertinggal hanya karena perjalanan hidup kita berbeda.
Padahal, kedewasaan bukan perlombaan tentang siapa yang paling cepat sampai. Kedewasaan lebih banyak berbicara tentang kemampuan memahami diri sendiri dan bertanggung jawab atas pilihan yang kita ambil.
Kedewasaan Berarti Belajar Mengambil Keputusan
Menjadi dewasa berarti belajar mengambil keputusan, termasuk menerima bahwa tidak semua keputusan akan disukai orang lain. Ada masa ketika kita harus mengatakan tidak, meskipun sebelumnya terbiasa menyenangkan semua orang. Ada pula saat ketika kita harus meninggalkan sesuatu yang sudah tidak baik bagi diri sendiri, meskipun meninggalkannya terasa sulit.
Namun, kemampuan mengambil keputusan bukan berarti kita harus selalu yakin. Orang dewasa juga bisa bingung, takut, menangis, dan merasa tidak tahu harus melakukan apa. Perbedaannya adalah mereka belajar menghadapi perasaan tersebut tanpa membiarkannya menentukan seluruh hidup.
Tidak Semua Orang Memiliki Definisi Sukses yang Sama
Sayangnya, masyarakat terkadang memiliki gambaran yang terlalu sempit mengenai kedewasaan. Seseorang yang masih menyukai hal-hal sederhana dianggap kekanak-kanakan. Seseorang yang membutuhkan waktu untuk menentukan masa depan dianggap tidak memiliki ambisi. Bahkan, seseorang yang memilih kehidupan tenang daripada kehidupan yang penuh kompetisi dapat dianggap tidak cukup berusaha.
Padahal, setiap orang memiliki definisi kebahagiaannya sendiri.
Ada orang yang ingin membangun karier besar. Ada yang ingin memiliki bisnis. Ada yang ingin menjadi seniman. Ada pula yang hanya ingin mempunyai kehidupan sederhana, pekerjaan yang cukup, rumah yang nyaman, dan waktu untuk melakukan hal-hal yang disukai. Tidak ada satu definisi kesuksesan yang berlaku untuk semua orang.
Tetap Mengenal Diri Sendiri Saat Bertumbuh
Karena itu, salah satu tantangan terbesar dalam proses menjadi dewasa adalah mempertahankan hubungan dengan diri sendiri.
Kita perlu tetap mengetahui apa yang kita sukai, apa yang membuat kita nyaman, apa yang tidak bisa kita toleransi, dan nilai-nilai apa yang ingin kita pertahankan. Hal-hal tersebut mungkin berubah seiring waktu, tetapi perubahan seharusnya terjadi karena kita berkembang, bukan karena kita terpaksa menjadi seseorang yang diinginkan orang lain.
Menikmati Hal Sederhana Bukan Berarti Kekanak-kanakan
Menjadi dewasa juga tidak berarti harus meninggalkan sisi diri yang dianggap kekanak-kanakan. Masih menyukai permainan, membaca novel, menonton anime, menggambar, mengoleksi sesuatu, atau menikmati hal-hal kecil bukan berarti seseorang tidak dewasa. Justru, kemampuan menikmati hal sederhana dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga diri dari kehidupan yang terlalu serius.
Dunia sudah cukup sering meminta kita menjadi kuat. Karena itu, kita juga perlu memberikan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat.
Belajar Beristirahat dan Tidak Selalu Produktif
Kita tidak harus selalu produktif. Tidak setiap hari harus menghasilkan sesuatu. Ada hari ketika kita hanya mampu menyelesaikan hal-hal kecil, dan itu tetap berarti. Nilai diri seseorang tidak seharusnya ditentukan hanya dari seberapa banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam sehari.
Menjaga Batas di Tengah Banyaknya Suara dari Luar
Menjaga diri sendiri juga berarti belajar mengenali batas. Tidak semua orang harus mendapatkan akses terhadap kehidupan pribadi kita. Tidak semua komentar perlu dijawab. Tidak semua pendapat harus dipercaya. Ketika semakin dewasa, kita justru perlu belajar memilih suara mana yang layak didengarkan.
Hal yang sama berlaku terhadap media sosial. Di sana, kita melihat potongan kehidupan orang lain, bukan keseluruhan ceritanya. Kita melihat keberhasilan tanpa melihat kegagalan, melihat pencapaian tanpa mengetahui proses panjang di belakangnya. Jika terus membandingkan kehidupan nyata kita dengan kehidupan yang telah dikurasi orang lain, kita akan selalu merasa kurang.
Jangan Membandingkan Hidup Nyata dengan Media Sosial
Media sosial membuat perbandingan tersebut menjadi semakin mudah. Kita dapat melihat pencapaian orang lain hanya dalam beberapa detik, sementara proses panjang yang mereka lalui sering kali tidak terlihat.
Karena itu, penting untuk mengingat bahwa apa yang muncul di layar hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Kehidupan nyata kita tidak seharusnya diukur dengan potongan-potongan terbaik dari kehidupan orang lain.
Berdamai dengan Diri yang Belum Sempurna
Mungkin, menjadi dewasa bukan tentang menemukan versi diri yang sempurna. Mungkin, kedewasaan justru tentang berdamai dengan kenyataan bahwa kita masih memiliki banyak kekurangan.
Kita boleh berubah pikiran. Boleh memulai kembali. Boleh mengakui bahwa sesuatu yang dulu kita inginkan ternyata bukan lagi tujuan kita. Boleh berjalan lebih lambat. Bahkan, boleh belum mengetahui apa yang kita inginkan.
Yang penting, dalam proses tersebut kita tidak sepenuhnya kehilangan suara sendiri.
Bertumbuh Tanpa Meninggalkan Diri Sendiri
Pada akhirnya, menjadi dewasa adalah perjalanan untuk mengenal diri dengan lebih jujur. Kita belajar bertanggung jawab tanpa harus menyalahkan diri sendiri atas setiap kesalahan. Kita belajar mandiri tanpa menolak bantuan. Kita belajar menjadi kuat tanpa merasa harus menyembunyikan kelemahan.
Dewasa bukan berarti berhenti menjadi diri sendiri. Dewasa adalah ketika kita mampu bertumbuh tanpa membenci versi diri kita yang pernah ada.
Sebab hidup bukan tentang berubah menjadi seseorang yang dianggap sempurna oleh dunia. Hidup adalah tentang bertumbuh menjadi seseorang yang semakin mengenal dirinya sendiri.
Dan mungkin, bentuk kedewasaan yang paling sederhana adalah ketika kita akhirnya bisa berkata kepada diri sendiri: aku memang belum sampai di tempat yang kuinginkan, tetapi aku masih mengenali siapa diriku, dan aku tidak akan meninggalkan diriku sendiri hanya demi memenuhi standar orang lain.
Penulis: Aisyah Rahmawati
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.





