Techfin Insight – Kurang lebih dua tahun kita pernah hidup dalam situasi yang terasa seperti eksperimen sosial besar-besaran. Pandemi Covid-19 memaksa ruang kelas berpindah dari gedung sekolah dan kampus ke layar komputer. Guru mengajar dari kamar, ruang kerja, bahkan sudut rumah yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan akan menjadi “ruang kelas”. Mahasiswa dan siswa mengikuti pelajaran dari rumah masing-masing.
Papan tulis berubah menjadi fitur share screen, percakapan di kelas digantikan oleh mikrofon yang harus dinyalakan dan dimatikan, sementara ekspresi wajah teman-teman muncul dalam kotak-kotak kecil di layar. Namun, ada satu hal yang mungkin lebih menarik dari semua perubahan itu: kita tidak hanya melihat orang lain, tetapi juga melihat diri sendiri.
Pada awalnya, melihat wajah sendiri ketika mengikuti kelas daring mungkin terasa biasa saja. Lama-kelamaan, kebiasaan itu bisa menjadi sesuatu yang sulit diabaikan. Ketika sedang berbicara, kita dapat melihat apakah wajah kita tampak lelah, apakah rambut terlihat berantakan, atau apakah ekspresi kita tampak cukup meyakinkan. Ketika sedang mendengarkan, perhatian kita bisa tiba-tiba bergeser dari materi yang disampaikan ke wajah sendiri di layar.
“Apakah saya terlihat mengantuk?” “Apakah ekspresi saya aneh?” “Kenapa wajah saya terlihat seperti itu?” Pertanyaan-pertanyaan kecil semacam ini mungkin terdengar sepele, tetapi jika muncul berulang kali selama berjam-jam setiap minggu, saya rasa wajar jika kita bertanya apakah kebiasaan tersebut ikut memengaruhi proses belajar.
Saya sendiri melihat persoalan ini bukan sekadar sebagai masalah teknis dalam pembelajaran daring, melainkan sebagai persoalan perhatian. Belajar pada dasarnya membutuhkan kemampuan untuk mengarahkan perhatian kepada sesuatu dalam jangka waktu tertentu. Ketika seseorang membaca buku, misalnya, perhatian diarahkan pada kata-kata dan gagasan yang ada di halaman.
Ketika mengikuti kuliah tatap muka, perhatian biasanya tertuju pada dosen, papan tulis, materi presentasi, atau diskusi dengan teman. Namun dalam kelas virtual, layar yang sama menampilkan banyak hal sekaligus. Ada dosen, teman sekelas, presentasi, kolom chat, notifikasi, dan terkadang wajah kita sendiri. Akibatnya, batas antara “objek yang sedang dipelajari” dan “diri sendiri sebagai objek yang diamati” menjadi semakin tipis.
Karena itu, ketika saya menemukan penelitian tahun 2021 oleh Austin, Fogler, dan Daniel dari Universitas James Madison, saya cukup tertarik. Penelitian tersebut secara khusus menguji apakah melihat diri sendiri dan orang lain di layar benar-benar berdampak negatif terhadap hasil belajar. Sebanyak 155 mahasiswa sarjana dilibatkan dalam penelitian dan ditempatkan dalam beberapa kondisi tampilan video.
Ada kelompok yang tidak melihat video sama sekali, kelompok yang hanya melihat orang lain, serta kelompok yang dapat melihat diri sendiri sekaligus orang lain. Setelah mengikuti kuliah yang direkam, para peserta kemudian mengerjakan kuis untuk mengukur hasil pembelajaran mereka.
Yang menarik, hasil penelitian tersebut justru tidak mendukung kekhawatiran yang mungkin selama ini kita miliki. Melihat diri sendiri maupun orang lain di layar tidak terbukti memberikan dampak negatif terhadap hasil belajar. Bagi saya, temuan ini cukup mengejutkan karena pengalaman pribadi ketika menggunakan Zoom sering kali memberikan kesan sebaliknya.
Rasanya mudah sekali terganggu oleh wajah sendiri, terutama ketika kita sadar bahwa selama berjam-jam kita sedang “dipajang” di layar. Akan tetapi, perasaan terganggu belum tentu sama dengan penurunan kemampuan belajar yang dapat diukur. Di sinilah saya merasa penting untuk membedakan antara rasa tidak nyaman dan benar-benar terganggunya proses kognitif.
Kita bisa saja merasa tidak nyaman melihat wajah sendiri tanpa berarti informasi yang disampaikan dosen menjadi lebih sulit dipahami. Sama halnya dengan seseorang yang belajar sambil duduk di kursi yang kurang nyaman. Ia mungkin menyadari ketidaknyamanan tersebut, tetapi bukan berarti otomatis gagal memahami materi. Otak manusia ternyata memiliki kemampuan beradaptasi yang jauh lebih besar daripada yang sering kita bayangkan.
Saya juga tidak merasa penelitian tersebut harus dibaca sebagai bukti bahwa tampilan wajah sendiri sama sekali tidak penting. Penelitian menunjukkan bahwa kondisi tersebut tidak memberikan dampak negatif terhadap hasil belajar dalam konteks eksperimen yang dilakukan. Itu tidak berarti setiap orang akan mengalami pengalaman yang sama dalam kehidupan sehari-hari.
Ada orang yang mungkin sama sekali tidak peduli terhadap penampilannya di layar. Ada pula orang yang menjadi sangat sadar terhadap wajah, ekspresi, atau penampilan dirinya ketika harus terus-menerus melihat pantulan sendiri. Perbedaan individu semacam ini menurut saya tetap penting.
Bahkan, persoalan sebenarnya mungkin bukan sekadar apakah melihat diri sendiri menurunkan nilai kuis, tetapi bagaimana pengalaman tersebut memengaruhi kenyamanan dan energi mental selama proses belajar. Seseorang mungkin tetap memperoleh nilai yang baik, tetapi harus mengeluarkan usaha lebih besar untuk mempertahankan konsentrasi. Ia tetap memahami materi, tetapi merasa lebih cepat lelah setelah mengikuti kelas daring.
Dalam jangka pendek, perbedaan semacam itu mungkin tidak terlihat dalam hasil tes. Namun dalam pengalaman belajar sehari-hari, perasaan lelah dan terbebani tetap memiliki arti. Saya juga melihat temuan penelitian tersebut sebagai pengingat agar kita tidak terlalu cepat menyalahkan teknologi atas semua persoalan pembelajaran daring. Selama pandemi, banyak kritik diarahkan kepada Zoom dan berbagai platform konferensi video.
Kita sering mendengar bahwa layar membuat siswa tidak fokus, komunikasi menjadi kaku, dan pembelajaran kehilangan interaksi manusiawi. Sebagian kritik tersebut tentu masuk akal. Akan tetapi, penelitian tentang tampilan wajah sendiri menunjukkan bahwa tidak semua hal yang terasa mengganggu ternyata benar-benar mengganggu hasil belajar.
Menurut saya, justru di sinilah kita perlu lebih kritis dalam memahami pengalaman selama pandemi. Kita tidak bisa hanya mengandalkan perasaan atau kesan pribadi untuk menyimpulkan bahwa suatu teknologi merusak proses belajar. Apa yang terasa melelahkan belum tentu membuat kita belajar lebih buruk. Sebaliknya, sesuatu yang tampak sederhana belum tentu tidak memiliki pengaruh. Kita membutuhkan penelitian untuk membedakan keduanya.
Pengalaman melihat wajah sendiri di layar mungkin lebih kompleks daripada sekadar “mengganggu” atau “tidak mengganggu”. Kita adalah manusia yang secara alami memperhatikan diri sendiri, sekaligus memperhatikan orang lain. Ketika teknologi membuat keduanya hadir dalam satu layar, perhatian kita memang dapat bergerak di antara berbagai objek. Tetapi ternyata, kemampuan tersebut tidak otomatis membuat kita kehilangan kemampuan untuk belajar.
Penelitian Austin, Fogler, dan Daniel memberi saya kesan bahwa manusia ternyata cukup adaptif terhadap lingkungan belajar yang baru. Bagi saya, pelajaran yang lebih besar dari penelitian tersebut bukanlah bahwa kita harus berhenti mengkhawatirkan dampak teknologi, melainkan bahwa kita perlu lebih hati-hati dalam menilai dampaknya.
Zoom mungkin membuat kita lebih sadar terhadap wajah sendiri, tetapi kesadaran itu tidak dengan sendirinya membuat kita menjadi pembelajar yang lebih buruk. Pada akhirnya, yang paling menentukan mungkin bukan apakah wajah kita terlihat di sudut layar, melainkan bagaimana kita menggunakan perhatian, membangun keterlibatan, dan menciptakan kondisi yang memungkinkan kita benar-benar memahami apa yang sedang dipelajari. Pandemi telah mengubah cara kita belajar, tetapi penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan tersebut tidak selalu menghasilkan dampak seburuk yang kita bayangkan.
Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




