Desa Berdaya SiNyonya, Saat Energi Bersih Menghidupkan Ekonomi Desa Pandeglang

Arden Gustav
Penulis:Arden Gustav
Culture Storyteller
Saya mengeksplorasi budaya yang membentuk perspektif kita. Dari musik, film, hingga tren lokal, saya menulis dengan pendekatan reflektif dan santai.
3 Menit

Ubah bahasa:

|

Traktir Penulis

Techfin Insight — Desa Berdaya Eco-Wisata SiNyonya menjadi salah satu contoh bagaimana transisi energi dapat diterjemahkan ke dalam program pemberdayaan masyarakat di tingkat desa.

Program TJSL yang dijalankan PLN UID Banten bersama PLN Indonesia Power dan ULP Labuan ini dikembangkan di Desa Bandung, Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang, Banten. Konsepnya bukan sekadar menghadirkan infrastruktur energi bersih, tetapi menghubungkan pariwisata, UMKM, pendidikan vokasi, transportasi listrik, dan ekonomi sirkular dalam satu ekosistem.

Desa Berdaya Eco-Wisata SiNyonya Menggabungkan Energi dan Ekonomi Lokal

General Manager PLN UID Banten Tonny Bellamy mengatakan, program tersebut merupakan bagian dari upaya PLN menghadirkan manfaat transisi energi yang lebih luas bagi masyarakat.

- Advertisement -
Ad image

Menurutnya, transisi energi tidak cukup hanya dilihat dari perubahan sumber energi. Energi bersih juga perlu menciptakan nilai tambah berupa peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan ekonomi lokal, dan pelestarian lingkungan.

“PLN percaya bahwa transisi energi harus berjalan berdampingan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.”

Karena itu, pengembangan Desa Berdaya Eco-Wisata SiNyonya melibatkan pemerintah desa, BUMDes, SMK Jaya Buana, pelaku UMKM, dan masyarakat setempat.

Kolaborasi tersebut menjadi penting karena keberlanjutan kawasan wisata tidak hanya bergantung pada infrastruktur yang dibangun, tetapi juga pada kemampuan masyarakat mengelolanya.

Tiga Pilar Desa Berdaya Eco-Wisata SiNyonya

Pengembangan kawasan ini bertumpu pada tiga pilar utama.

Pertama, rekayasa kendaraan listrik yang dilakukan melalui kolaborasi dengan siswa SMK Jaya Buana. Kedua, penyediaan infrastruktur pengisian kendaraan listrik atau EV Charging. Ketiga, pemanfaatan Fly Ash Bottom Ash (FABA) sebagai material pembangunan infrastruktur kawasan wisata.

- Advertisement -
Jasa Pembuatan Website Murah di BantenJasa Pembuatan Website Murah di Banten

Ketiganya mempertemukan aspek teknologi, pendidikan, dan lingkungan dalam sebuah program pemberdayaan masyarakat.

Wisatawan nantinya dapat menggunakan kendaraan listrik untuk mengikuti wisata edukasi sekaligus mengunjungi berbagai sentra ekonomi lokal. Rutenya menghubungkan UMKM kerajinan anyaman pandan, batik, kopi, hingga kuliner khas Desa Bandung.

Kawasan tersebut juga dilengkapi revitalisasi area parkir, gapura, papan informasi edukatif, serta fasilitas pendukung lainnya.

Dengan demikian, pengalaman wisata tidak hanya berpusat pada tempat yang dikunjungi, tetapi juga pada cerita tentang potensi lokal dan penerapan energi bersih di dalamnya.

Ketika SMK Menjadi Bagian dari Ekosistem Energi Bersih

Salah satu aspek menarik dari program ini adalah keterlibatan dunia pendidikan.

Siswa SMK Jaya Buana tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi dilibatkan dalam pembelajaran berbasis proyek melalui rekayasa kendaraan listrik. PLN juga mendorong peningkatan kompetensi mereka melalui sertifikasi kendaraan listrik.

Pendekatan seperti ini membuat transisi energi memiliki dimensi pendidikan. Teknologi yang digunakan di kawasan wisata sekaligus menjadi ruang belajar bagi calon tenaga kerja yang akan berhadapan dengan kebutuhan industri kendaraan listrik.

Pintu masuk kawasan Desa Berdaya Eco-Wisata SiNyonya di Desa Bandung, Pandeglang. Kawasan ini dikembangkan PLN Group dengan mengintegrasikan potensi wisata lokal, energi bersih, kendaraan listrik, UMKM, pendidikan vokasi, dan ekonomi sirkular.
Sentra UMKM di kawasan Desa Berdaya Eco-Wisata SiNyonya, Desa Bandung, Pandeglang, yang menjadi bagian dari ekosistem wisata berbasis energi bersih dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Di sisi lain, BUMDes didorong memperkuat tata kelola kawasan, mulai dari pengelolaan aset dan operasional wisata hingga pengembangan paket wisata.

Artinya, keberadaan kendaraan listrik dan fasilitas energi tidak berhenti sebagai proyek infrastruktur, tetapi diarahkan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang bisa dikelola masyarakat.

UMKM Mendapat Akses ke Pasar Wisata

Konsep eco-wisata juga membuka peluang agar wisatawan tidak sekadar datang dan pergi.

Dengan menghubungkan rute kendaraan listrik ke berbagai sentra UMKM, aktivitas wisata dapat sekaligus menjadi saluran pemasaran produk lokal.

Kerajinan anyaman pandan, batik, kopi, dan kuliner khas Desa Bandung menjadi bagian dari pengalaman wisata. Pola ini berpotensi menciptakan sumber pendapatan baru bagi pelaku usaha sekaligus membuka peluang pendapatan bagi BUMDes.

Program tersebut juga diharapkan menciptakan kesempatan kerja baru di sektor pariwisata, UMKM, dan layanan pendukung kawasan.

Di titik ini, listrik menjadi lebih dari sekadar kebutuhan dasar. Energi digunakan untuk menggerakkan aktivitas ekonomi produktif di desa.

Dari FABA hingga Kendaraan Listrik

Program SiNyonya juga memperlihatkan pendekatan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan FABA sebagai material pembangunan infrastruktur kawasan.

Sementara itu, penggunaan kendaraan listrik untuk aktivitas wisata membantu mengurangi penggunaan kendaraan berbahan bakar minyak dalam operasional kawasan sekaligus meningkatkan pemanfaatan listrik untuk kegiatan produktif.

Bagi PLN, kombinasi tersebut merupakan bagian dari kontribusi terhadap target Net Zero Emissions (NZE).

Namun, yang lebih penting adalah bagaimana konsep transisi energi diterjemahkan ke dalam aktivitas yang dekat dengan kehidupan masyarakat: belajar teknologi, menjalankan usaha, mengelola wisata, dan menjaga lingkungan.

Desa Wisata sebagai Wajah Transisi Energi

Tonny berharap Desa Berdaya Eco-Wisata SiNyonya dapat menjadi model yang direplikasi di daerah lain.

Harapannya, desa tidak hanya menjadi lokasi penerapan teknologi energi bersih, tetapi mampu mengembangkan ekosistem ekonomi baru dengan memanfaatkan kekuatan yang sudah dimilikinya.

Model seperti ini menunjukkan bahwa transisi energi tidak selalu harus dimulai dari proyek berskala besar. Di tingkat desa, transisi dapat hadir melalui kendaraan listrik, tempat pengisian daya, material konstruksi berbasis ekonomi sirkular, pendidikan vokasi, dan UMKM.

Pada akhirnya, keberhasilan program bukan hanya diukur dari seberapa banyak teknologi bersih yang dipasang, tetapi dari apakah teknologi tersebut membuat masyarakat memiliki lebih banyak kesempatan untuk tumbuh.

Kredit Redaksi:
Penulis: Arden Gustav
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.
© 2026 Techfin Insight. Konten ini boleh dikutip untuk keperluan non-komersial. Cantumkan sumber dan tautkan ke artikel asli di Techfin Insight. Untuk penggunaan ulang secara menyeluruh atau di luar konteks editorial (misalnya komersial), silakan hubungi redaksi.
- Advertisement -
Ad imageAd image
TOPIK:
Share tulisan ini, yuk!

Tentang Penulis

Penulis:Arden Gustav
Culture Storyteller
Follow:
Saya mengeksplorasi budaya yang membentuk perspektif kita. Dari musik, film, hingga tren lokal, saya menulis dengan pendekatan reflektif dan santai.

Traktir Penulis

Setiap tulisan di Techfin Insight lahir dari waktu, riset, dan secangkir kopi. Kalau kamu merasa tulisan-tulisan kami bermanfaat, kamu bisa mentraktir penulis sebagai bentuk apresiasi agar kami terus menghadirkan konten yang jernih, independen, dan berkualitas.