Techfin Insight — Akhir pekan kemarin, hidup menghadirkan sebuah hadiah kecil yang tidak saya duga. Seorang teman SD yang sudah menghilang selama 21 tahun tiba-tiba mengirim pesan WhatsApp.
“Share loc. Saya di Cilegon sekarang, ingin sekali duduk di bawah pohon yang setahunan ini saya perhatikan diam-diam di unggahan Instagram-mu.”
Saya tersenyum membaca pesan itu. Ada sesuatu yang lucu sekaligus mengharukan dari cara hidup mempertemukan kembali orang-orang yang pernah begitu dekat, kemudian tiba-tiba menjadi asing karena waktu membawa kami ke arah masing-masing.
Dulu, hampir setiap hari kami bertemu. Kami bersekolah di tempat yang sama, bersaing dalam pelajaran, terutama ketika membahas sejarah, lalu pulang bersama dengan naik bus. Sesekali kami bahkan melompat dari atas bus untuk menghindari cingkariak—kenek bus—agar tidak perlu membayar ongkos. Masa itu terasa begitu dekat ketika dikenang, padahal ternyata sudah 21 tahun berlalu.
Hari itu dia datang ke rumah dengan setelan seorang manajer pabrik. Kami duduk di bawah Ficus virens yang selama ini hanya ia kenal melalui foto-foto yang saya unggah. Kami mengurai cerita yang selama 21 tahun tidak pernah sempat diceritakan: saya dengan hidup yang saya jalani, dia dengan hidup yang telah membawanya sejauh ini. Ada banyak bagian hidup yang ternyata tumbuh diam-diam ketika kami tidak saling tahu.
Di tengah percakapan, ia bertanya tentang sesuatu yang justru membuat saya berhenti sejenak. Bagaimana sebenarnya hidup yang saya jalani sekarang? Bagaimana proses saya menanam dan merawat ketenangan yang katanya ia saksikan diam-diam melalui media sosial?
Saya tidak langsung punya jawaban yang sederhana. Sebab ketenangan yang terlihat dari luar sering kali merupakan hasil dari sesuatu yang tidak terlihat: keputusan-keputusan kecil yang diulang, cara seseorang memperlakukan dirinya sendiri, bagaimana ia memandang kehilangan, bagaimana ia mengelola uang, bagaimana ia memilih apa yang perlu dikejar dan apa yang cukup dilepaskan.
Saya kemudian bercerita kepadanya tentang kebun.
Saya Menyukai Kata “Kebun”
Entah sejak kapan saya mulai menyukai kata ini: kebun.
Mungkin karena kebun terasa lebih hidup daripada sekadar halaman. Di dalam kebun ada sesuatu yang ditanam, dirawat, menunggu, tumbuh, gagal, kemudian tumbuh lagi. Ada tanaman yang cepat dipanen dan ada yang baru akan memberi hasil bertahun-tahun kemudian. Ada bagian yang setiap hari terlihat, tetapi ada pula akar yang bekerja diam-diam di bawah tanah.
Saya juga menyukai kenyataan bahwa sebuah kebun tidak pernah hanya berisi satu jenis tanaman. Ada tanaman yang ditanam untuk memenuhi kebutuhan hari ini, ada yang sengaja ditanam untuk masa depan, dan ada pula yang mungkin tidak menghasilkan apa-apa secara ekonomis tetapi membuat seseorang betah tinggal di dalamnya.
Menariknya, kata jannah yang dalam banyak konteks kita kenal sebagai gambaran tentang surga, juga berkaitan dengan gambaran taman atau kebun yang rimbun. Saya tidak ingin membawa pembahasan ini terlalu jauh ke wilayah tafsir. Saya hanya menyukai kemungkinan maknanya: ketika manusia membayangkan kehidupan yang baik, teduh, dan penuh kecukupan, gambaran tentang sesuatu yang hijau, hidup, dan dialiri air ternyata begitu kuat.
Maka saya membayangkan hidup kita sebagai sebuah kebun.
Dan kalau hidup adalah kebun, uang barangkali lebih tepat kita bayangkan sebagai air.
Uang datang, mengalir, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, lalu perlahan menguap. Kita memang bisa menghitungnya sebagai angka di rekening, tetapi angka itu sendiri tidak pernah menjelaskan ke mana uang tersebut membawa kehidupan kita. Ia baru memiliki makna ketika dialirkan ke sesuatu.
Di sinilah saya mulai melihat hubungan antara uang dan kebun dengan cara yang berbeda. Sebuah kebun membutuhkan air agar sesuatu dapat tumbuh. Tetapi persoalannya bukan sekadar apakah air tersedia. Yang lebih penting adalah ke mana air itu dialirkan, berapa banyak yang diberikan, dan tanaman apa yang ingin kita tumbuhkan.

Tiga Tanaman di Kebun Kehidupan Kita
Kalau saya membayangkan kebun kehidupan yang sehat, setidaknya ada tiga jenis tanaman yang idealnya tumbuh di dalamnya: padi, durian, dan bunga.
Padi adalah tanaman untuk kehidupan hari ini. Ia mewakili kebutuhan yang harus dipenuhi sekarang: makanan, tempat tinggal, listrik, transportasi, pendidikan, kebutuhan keluarga, dan berbagai hal yang membuat kita bisa menjalani kehidupan dengan layak. Padi mungkin tidak selalu tampak menarik, tetapi tanpa padi, kebun kita tidak akan memberi makan kehidupan yang sedang berlangsung.
Durian adalah tanaman masa depan. Ia membutuhkan ruang, waktu, kesabaran, dan perawatan yang konsisten. Kita tidak bisa menanam durian hari ini lalu dua bulan kemudian berdiri di bawah pohonnya sambil bertanya mengapa buahnya belum muncul. Ada proses yang memang tidak bisa dipercepat hanya karena kita sedang membutuhkan hasilnya. Begitu pula dengan tabungan, dana darurat, investasi, atau berbagai bentuk persiapan masa depan. Sebagian hal dalam hidup memang harus ditanam jauh sebelum kita membutuhkannya.
Lalu ada bunga.
Bunga mungkin tidak mengenyangkan perut seperti padi dan tidak menjanjikan hasil sebesar durian. Tetapi kebun tanpa bunga terasa terlalu serius. Bunga membuat kebun menjadi indah, berwarna, dan memiliki aroma. Ia adalah perjalanan, makan enak sesekali, bertemu teman, membeli sesuatu yang kita sukai, menikmati liburan, atau sekadar memberikan ruang bagi diri sendiri untuk merasakan bahwa hidup bukan hanya tentang bertahan dan mempersiapkan hari esok.
Padi untuk hidup hari ini. Durian untuk masa depan. Bunga untuk membuat perjalanan terasa layak dijalani.
Ketika Air Hanya Mengalir ke Satu Tanaman
Masalahnya, manusia sering kali mengalirkan seluruh airnya hanya kepada satu jenis tanaman.
Saya bertemu orang-orang yang seluruh uangnya dialirkan kepada padi. Semua untuk kebutuhan hari ini. Mereka mampu bertahan, tetapi tidak pernah benar-benar memiliki ruang untuk menanam durian atau membiarkan bunga tumbuh. Ketika membayangkan masa depan, yang muncul justru kecemasan. Ketika ingin bepergian atau menikmati sesuatu, mereka merasa bersalah. Hidup berjalan, tetapi kebunnya seperti lahan yang hanya ditanami untuk bertahan hidup.
Saya juga bertemu orang yang terlalu sibuk menanam durian. Semua diarahkan kepada masa depan. Menabung sebanyak-banyaknya, mengejar target, menambah aset, mengejar angka tertentu, sampai lupa bahwa padi juga membutuhkan air. Mereka begitu takut dengan hari esok sehingga hari ini dikorbankan hampir seluruhnya. Ironisnya, masa depan yang ingin mereka amankan itu belum tentu pernah mereka nikmati.
Ada pula yang airnya hampir seluruhnya diberikan kepada bunga. Perjalanan ke sana, makan di sini, membeli ini, menikmati itu. Kebunnya memang terlihat indah, tetapi ketika musim kering datang, tidak ada cadangan air. Bahkan padi pun kadang belum cukup untuk dipanen.
Dan menurut saya, yang paling menyedihkan adalah mereka yang tidak menanam apa-apa.
Air datang, tetapi tidak pernah diarahkan. Uang masuk lalu habis entah ke mana. Tahun berganti, tetapi tidak ada tanaman yang bertambah besar. Ketika suatu hari mereka membutuhkan hasil, mereka baru menyadari bahwa selama ini tanahnya tidak sedang dirawat.
Kalau kita tidak memilih apa yang ingin tumbuh, sesuatu yang lain akan tumbuh dengan sendirinya.
Yang tumbuh kemudian bukan padi, bukan durian, bukan pula bunga. Rumput liar dan semak berduri tumbuh dengan sendirinya.
Tidak Harus 50:30:20
Di kelas Merawat Kebun Rezeki, saya sering menggunakan prinsip sederhana 50:30:20 sebagai salah satu cara membayangkan pembagian air: sekitar 50 persen untuk kebutuhan hidup, 30 persen untuk kesenangan, dan 20 persen untuk cadangan atau masa depan.
Tetapi semakin lama saya menggunakannya, semakin saya merasa bahwa angka itu bukanlah hukum yang harus dipatuhi semua orang.
Kalau kondisi seseorang belum memungkinkan, mungkin kebunnya baru sanggup 80:10:10. Bahkan mungkin 90:5:5. Tidak apa-apa. Sebab kebun yang sehat bukan kebun yang sejak awal memiliki komposisi sempurna. Kebun yang sehat adalah kebun yang dirawat secara konsisten.
Yang penting bukan formulanya, melainkan kebiasaan kita merawat kebun.
Sebab ketika penghasilan bertambah, air yang mengalir ke kebun juga biasanya bertambah. Tetapi kalau kita tidak pernah belajar mengarahkannya, kebun yang lebih besar pun belum tentu menjadi lebih sehat.
Uang Bukan Sekadar Angka
Mungkin itu sebabnya saya semakin tertarik memikirkan uang bukan sebagai angka, melainkan sebagai air.
Pertanyaannya bukan hanya, “Berapa banyak uang yang saya punya?”
Tetapi juga, “Tanaman apa yang sedang saya sirami?”
Karena dari sana kita bisa melihat sesuatu yang sering luput: cara kita menggunakan uang sebenarnya sedang menunjukkan kehidupan seperti apa yang sedang kita bangun.
Di bawah Ficus virens sore itu, saya akhirnya memahami bahwa pertanyaan teman lama saya tentang ketenangan ternyata membawa saya kembali kepada gagasan yang selama ini sedang saya rawat: bahwa hidup bukan hanya tentang berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan tentang apa yang tumbuh dari apa yang kita miliki.
Padi untuk hidup hari ini. Durian untuk masa depan. Bunga untuk membuat perjalanan terasa layak dijalani.
Dan mungkin, pada akhirnya, itulah yang ingin saya pelajari dari uang: bukan bagaimana membuat air sebanyak-banyaknya, melainkan bagaimana merawat kebun yang ingin saya tinggali.
Sebab tujuan sebuah kebun bukan sekadar menghasilkan buah sebanyak-banyaknya. Tujuannya adalah menghadirkan kehidupan.
Dan mungkin, tujuan uang juga bukan sekadar membuat angka di rekening terus bertambah.
Melainkan membuat hidup menjadi cukup subur untuk dijalani.
Penulis: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




