Kreativitas Saja Tidak Cukup, 342 Siswa SMK Attaufiqiyyah Belajar Ubah Ide Jadi Cuan

Ammar Fahri
4 Menit

Ubah bahasa:

|

Traktir Penulis

Techfin Insight — Sebuah kamera bisa menjadi alat untuk menghasilkan foto produk. Kemampuan memperbaiki kendaraan bisa menjadi layanan yang dibutuhkan banyak orang. Keterampilan mengelola dokumen dapat membantu sebuah usaha bekerja lebih tertata. Bahkan, kemampuan memahami jaringan komputer bisa menjadi solusi bagi rumah dan bisnis yang membutuhkan koneksi internet stabil.

Semua itu berawal dari satu hal: keterampilan. Namun, keterampilan baru memiliki nilai ekonomi ketika seseorang mampu menggunakannya untuk menjawab kebutuhan orang lain.

Cara berpikir inilah yang diperkenalkan Setiawan Chogah kepada 342 siswa kelas X SMK Attaufiqiyyah dalam seminar bertajuk Mengubah Kreativitas Menjadi Cuan pada Jumat, 6 November 2026.

Bagi Setiawan, kreativitas bukan sekadar kemampuan membuat sesuatu yang menarik. Lebih dari itu, kreativitas adalah kemampuan melihat persoalan, menemukan kemungkinan, dan mengubahnya menjadi solusi yang bermanfaat.

Perspektif tersebut tidak lahir hanya dari teori. Setiawan memiliki latar belakang pendidikan Teknik Industri dan menjalani perjalanan profesional sebagai pekerja independen di bidang desain grafis dan pengembangan web. Melalui dezainin.com, ia mengembangkan layanan kreatif dan digital untuk berbagai klien, termasuk BNI Remittance Hong Kong dan Dompet Dhuafa Hong Kong.

Pengalamannya berhadapan dengan kebutuhan berbagai klien membuatnya memahami bahwa pekerjaan kreatif bukan sekadar menghasilkan karya visual. Ada persoalan yang perlu dipahami, kebutuhan yang harus diterjemahkan, dan solusi yang harus diberikan.

Dari pengalaman itulah ia mengajak para siswa melihat bahwa peluang ekonomi bisa tumbuh dari kemampuan sederhana yang dikembangkan dengan tepat.

Peluang Sering Kali Bersembunyi di Balik Masalah

Dalam seminar tersebut, Setiawan mengajak para siswa mengubah cara pandang terhadap masalah. Alih-alih hanya melihat masalah sebagai sesuatu yang harus dihindari, mereka diajak melihatnya sebagai kemungkinan untuk menciptakan peluang.

Sederhananya, orang punya masalah, bisnis punya kebutuhan, dan di situlah peluang bisa ditemukan.

- Advertisement -
Jasa Pembuatan Website Murah di BantenJasa Pembuatan Website Murah di Banten

Sebuah UMKM membutuhkan foto produk dan konten promosi. Pemilik kendaraan membutuhkan perawatan. Kantor membutuhkan administrasi yang lebih rapi. Rumah dan usaha membutuhkan jaringan internet yang stabil.

Kebutuhan tersebut bisa menjadi peluang bagi seseorang yang memiliki kemampuan untuk memberikan solusi.

“Kreatif itu bukan cuma bisa membuat sesuatu. Kreativitas juga berarti kemampuan menemukan cara untuk menyelesaikan masalah. Ketika kita bisa membantu orang lain menyelesaikan masalahnya, di situ ada nilai yang bisa kita tawarkan,” jelas Setiawan.

Siswa SMK Attaufiqiyyah mengikuti diskusi interaktif bersama Setiawan Chogah tentang peluang karier dan kreativitas.
Sesi diskusi berlangsung interaktif. Para siswa diajak menghubungkan keterampilan yang mereka pelajari di sekolah dengan kebutuhan dan peluang yang ada di lingkungan sekitar.

Untuk membantu siswa memahami bagaimana sebuah keterampilan dapat menghasilkan nilai ekonomi, ia memperkenalkan rumus sederhana: apa yang bisa kita lakukan dipertemukan dengan apa yang dibutuhkan orang lain, kemudian menghasilkan nilai atau value berupa solusi, manfaat, dan peluang memperoleh penghasilan.

Dengan cara pandang ini, seseorang tidak harus selalu memulai dari ide bisnis yang besar. Ia bisa mulai dengan mengenali kemampuan yang dimiliki, mengamati kebutuhan di sekitarnya, kemudian mencari titik temu di antara keduanya.

Skill, Attitude, dan Trust: Menjadi Orang yang Bisa Diandalkan

Memiliki keterampilan memang penting. Namun, dalam dunia kerja, kemampuan teknis bukan satu-satunya hal yang membuat seseorang dipercaya.

Setiawan memperkenalkan tiga fondasi yang perlu dikembangkan: skill, attitude, dan trust.

Skill berkaitan dengan kemampuan yang bisa dikerjakan. Attitude menggambarkan bagaimana seseorang bersikap dan menjalankan tanggung jawabnya. Sementara trust adalah kepercayaan yang tumbuh ketika orang lain merasa aman dan yakin mengandalkan kita.

Ketiganya saling melengkapi. Seseorang mungkin memiliki kemampuan desain yang baik, tetapi jika sulit berkomunikasi atau tidak bisa memenuhi kesepakatan, kepercayaan klien akan sulit dibangun.

“Jangan hanya menjadi orang yang bisa mengerjakan sesuatu. Jadilah orang yang bisa diandalkan. Karena di dunia kerja, kemampuan membuat orang tertarik, tetapi sikap dan kepercayaanlah yang membuat mereka mau bekerja sama dengan kita,” ujar Setiawan.

Pesan ini menjadi penting bagi siswa yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Kemampuan teknis perlu terus dikembangkan, tetapi cara bekerja dan cara memperlakukan orang lain juga menentukan bagaimana seseorang dinilai.

Tidak Harus Menunggu Punya Usaha untuk Memulai

Salah satu hal yang ingin ditekankan dalam materi tersebut adalah bahwa membangun peluang tidak harus menunggu seseorang memiliki perusahaan, modal besar, atau bahkan menyelesaikan pendidikan terlebih dahulu.

Siswa dapat memulainya dari lingkungan terdekat: mengembangkan satu keterampilan, membuat karya terbaik, mengumpulkan portofolio, membantu orang lain, atau mencoba menawarkan solusi sederhana.

Teknologi juga dapat memperluas kemungkinan tersebut. Internet membuka akses untuk belajar dan menemukan peluang. Media sosial membantu memperlihatkan karya. Kecerdasan buatan dapat mendukung eksplorasi dan produktivitas. Sementara platform digital memungkinkan seseorang menjangkau calon pelanggan tanpa harus selalu bertemu secara langsung.

Namun, teknologi bukan pengganti kemampuan manusia. Teknologi justru menjadi penguat bagi mereka yang mau belajar dan mengembangkan keterampilannya.

Setiawan juga mengingatkan bahwa menghasilkan uang bukan proses yang terjadi dalam satu malam. Ada tahapan yang perlu dilalui: belajar, berlatih, menghasilkan karya, memberikan nilai, membangun kepercayaan, hingga akhirnya memperoleh penghasilan.

“Jangan membayangkan hari ini belajar keterampilan, besok langsung menghasilkan uang. Ada proses yang harus dilalui. Kita belajar, berlatih, menghasilkan karya, memberi nilai, lalu membangun kepercayaan. Uang datang ketika kemampuan kita benar-benar dibutuhkan,” kata Setiawan.

Dengan kata lain, cuan bukan sekadar hasil dari sebuah ide. Ada proses, konsistensi, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri yang membentuknya.

Membuka Cakrawala Baru tentang Dunia Karier

Perspektif mengenai pekerjaan independen menjadi salah satu alasan penyelenggara menghadirkan Setiawan dalam kegiatan tersebut.

Yeni Fajarwati, PIC penyelenggara, melihat pengalaman Setiawan menarik untuk diperkenalkan kepada para siswa. Menurutnya, anak-anak perlu mengenal dunia karier yang lebih luas, tidak hanya berpatokan pada mencari pekerjaan setelah lulus sekolah.

“Materi ini kami rasa pas untuk membuka cakrawala anak-anak tentang dunia karier hari ini. Peluangnya tidak hanya sebatas mencari kerja. Kami juga ingin mereka mengenal pengalaman seorang pekerja independen yang bisa tetap produktif dan menghasilkan secara finansial,” ungkap Yeni.

SMK Attaufiqiyyah memiliki bidang keahlian yang beragam, mulai dari Teknik Otomotif, Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi, Pemasaran, Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis, hingga Broadcasting dan Perfilman.

Keragaman bidang tersebut memperlihatkan bahwa keterampilan yang dipelajari siswa memiliki kemungkinan penerapan yang luas. Kemampuan teknis otomotif, misalnya, dapat dikembangkan menjadi layanan perawatan kendaraan. Keterampilan pemasaran dapat digunakan untuk membantu usaha menjangkau pelanggan. Kemampuan di bidang jaringan komputer, administrasi, maupun produksi konten juga dapat menjadi bekal untuk menawarkan solusi kepada orang lain.

Setiap bidang memiliki peluangnya sendiri. Tantangannya adalah bagaimana siswa mengenali potensi tersebut dan mengembangkannya menjadi kemampuan yang bisa diandalkan.

Satu Janji Kecil untuk Masa Depan

Menjelang akhir sesi, para siswa diajak memikirkan satu janji kecil untuk masa depan mereka. Bukan target besar yang harus segera tercapai, melainkan tindakan sederhana yang bisa mulai dilakukan setelah kegiatan berakhir.

Bisa berupa belajar satu keterampilan baru, membuat karya pertama, mengumpulkan portofolio, atau mulai membantu menyelesaikan persoalan di lingkungan sekitar.

Sebab, masa depan tidak selalu dimulai dari keputusan besar. Terkadang, ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali: belajar, mencoba, memperbaiki, dan terus mengembangkan diri.

Kreativitas mungkin menjadi titik awal. Namun, kemampuan menyelesaikan masalah, memberikan nilai, membangun kepercayaan, dan menjaga konsistensi adalah hal-hal yang membuat kreativitas tersebut dapat berkembang menjadi sesuatu yang bernilai.

Siswa menulis surat untuk dirinya di masa depan sebagai bagian dari seminar Mengubah Kreativitas Menjadi Cuan.
Para siswa menuliskan janji kecil untuk masa depan melalui aktivitas “Surat untuk Diriku di Masa Depan”. Sebuah ajakan untuk tidak berhenti pada inspirasi, tetapi mulai mengambil langkah nyata dalam mengembangkan kemampuan diri.

Dan mungkin, itulah salah satu bekal terpenting yang bisa dibawa pulang para siswa: jangan hanya menjadi orang yang bisa membuat sesuatu. Jadilah orang yang kehadirannya bisa memberikan manfaat dan diandalkannjaga konsistensi adalah hal-hal yang membuat kreativitas tersebut dapat berkembang menjadi sesuatu yang bernilai.

Kredit Redaksi:
Penulis: Ammar Fahri
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.
© 2026 Techfin Insight. Konten ini boleh dikutip untuk keperluan non-komersial. Cantumkan sumber dan tautkan ke artikel asli di Techfin Insight. Untuk penggunaan ulang secara menyeluruh atau di luar konteks editorial (misalnya komersial), silakan hubungi redaksi.
- Advertisement -
Ad imageAd image
Share tulisan ini, yuk!

Tentang Penulis

Ammar Fahri
Penulis:Ammar Fahri
Lifestyle Curator
Follow:
Saya percaya gaya hidup bukan hanya soal tren, tapi keseimbangan. Saya menulis tentang hidup yang mindful, sehat, dan tetap autentik di tengah distraksi digital.

Traktir Penulis

Setiap tulisan di Techfin Insight lahir dari waktu, riset, dan secangkir kopi. Kalau kamu merasa tulisan-tulisan kami bermanfaat, kamu bisa mentraktir penulis sebagai bentuk apresiasi agar kami terus menghadirkan konten yang jernih, independen, dan berkualitas.