Techfin Insight — Membaca buku biasanya membutuhkan dua hal yang tidak bisa ditawar: waktu dan kemauan untuk menyelesaikan halaman demi halaman. Namun, di tengah budaya media sosial yang membuat berbagai aktivitas mudah dipamerkan, muncul sebuah layanan yang menawarkan jalan berbeda. Seseorang bisa membayar orang lain untuk membaca bukunya, memberikan anotasi, memasang penanda halaman, bahkan menyiapkan dokumentasi agar buku tersebut terlihat telah dibaca.
Layanan yang dikenal sebagai joki baca buku ini menjadi perbincangan pada Oktober 2026. Sejumlah pemberitaan mengungkap penawaran jasa dengan tarif mulai dari Rp700 ribu hingga Rp1,6 juta, bergantung pada paket dan layanan yang ditawarkan. Fenomena ini bukan hanya cerita tentang jasa yang tidak biasa, melainkan juga pintu masuk untuk melihat hubungan antara kebiasaan membaca, peluang usaha, dan kebutuhan membangun citra diri di ruang digital.
Pertanyaannya, ketika membaca dapat diwakilkan kepada orang lain, apa sebenarnya yang ingin diperoleh pelanggan: pengetahuan dari sebuah buku, bantuan untuk menyelesaikan bacaan, atau citra sebagai seseorang yang gemar membaca?
Joki Baca Buku dan Layanan yang Tidak Biasa
Dalam tawaran yang beredar di media sosial, penyedia jasa menawarkan layanan membaca buku fiksi maupun nonfiksi. Buku yang dikirimkan pelanggan dapat dibaca dan diberi highlight, anotasi, serta penanda halaman. Sejumlah perlengkapan seperti sticky notes dan pembatas buku juga menjadi bagian dari paket yang ditawarkan.
Ada pula layanan dokumentasi foto buku untuk kebutuhan konten media sosial. Dengan begitu, pelanggan tidak hanya menerima buku yang telah dikerjakan orang lain, tetapi juga dapat memperoleh materi visual yang bisa dibagikan kepada pengikutnya.
Bagi sebagian orang, layanan ini mungkin terdengar ganjil. Mengapa seseorang perlu membayar orang lain untuk membaca buku yang sudah dibelinya sendiri? Pertanyaan itu menjadi lebih menarik ketika kita melihat bahwa layanan tersebut tidak hanya menawarkan aktivitas membaca, tetapi juga hasil yang dapat ditampilkan: buku penuh anotasi, halaman bertanda, dan dokumentasi yang memberikan kesan bahwa sebuah bacaan telah dituntaskan.
Meski demikian, kita perlu membedakan antara fakta tentang layanan yang ditawarkan dan dugaan mengenai motif pelanggannya. Penawaran dokumentasi untuk media sosial memang membuka kemungkinan bahwa citra sebagai pembaca menjadi salah satu nilai yang dijual. Namun, tanpa keterangan langsung dari pelanggan, kita belum bisa memastikan bahwa semua orang menggunakan jasa tersebut demi terlihat gemar membaca.
Literasi Indonesia: Melek Huruf Belum Tentu Gemar Membaca
Untuk memahami fenomena ini, kita perlu melihat konteks kebiasaan membaca di Indonesia. Data resmi menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk telah memiliki kemampuan membaca dan menulis dasar. BPS mencatat angka melek huruf penduduk berusia 15 tahun ke atas mencapai 97,10% pada 2025.
Angka tersebut sekilas tampak menggembirakan. Namun, melek huruf tidak otomatis berarti seseorang memiliki kebiasaan membaca buku secara rutin, mampu memahami bacaan yang kompleks, atau terbiasa mengevaluasi informasi secara kritis. Kemampuan membaca kalimat sederhana merupakan fondasi penting, tetapi perjalanan menuju kebiasaan membaca yang kuat membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mengenali tulisan.
Gambaran berbeda muncul dalam survei kegemaran membaca. Perpustakaan Nasional mencatat Indeks Tingkat Kegemaran Membaca nasional pada 2025 sebesar 54,8, yang oleh Perpusnas dikategorikan rendah dalam publikasinya pada Maret 2026. Indeks ini merupakan ukuran tersendiri dan tidak boleh dibaca sebagai persentase penduduk yang gemar membaca. Meski begitu, data tersebut memberikan konteks bahwa kemampuan membaca dasar dan kegemaran membaca merupakan dua hal yang perlu dibahas secara terpisah.
Artinya, tantangan membaca tidak berhenti pada kemampuan seseorang mengeja kata dan memahami kalimat. Ada pula persoalan kebiasaan, akses terhadap bahan bacaan, waktu, serta kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih mendalam dengan buku.
Namun, apakah kondisi tersebut berkaitan langsung dengan munculnya jasa joki baca buku? Belum ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat. Data literasi nasional lebih tepat digunakan sebagai latar untuk memahami pentingnya aktivitas membaca, bukan sebagai penjelasan tunggal mengapa layanan tersebut muncul.
Kemampuan Membaca Indonesia dalam Perbandingan Internasional
Tantangan kemampuan membaca juga terlihat dalam hasil Programme for International Student Assessment atau PISA, asesmen internasional yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).
Dalam hasil PISA 2025 yang dirilis pada September 2026, sekitar 27% siswa Indonesia berusia 15 tahun mencapai setidaknya Level 2 dalam kemampuan membaca. Angka tersebut berada di bawah rata-rata OECD sebesar 69%. Pada tingkat ini, siswa setidaknya diharapkan mampu melakukan tugas dasar seperti menemukan gagasan utama dalam teks dengan panjang sedang dan mencari informasi berdasarkan kriteria tertentu.
Hasil tersebut perlu dibaca secara proporsional. PISA mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi persoalan kehidupan nyata. Hasilnya bukan ukuran langsung mengenai jumlah buku yang dibaca masyarakat Indonesia, apalagi ukuran seberapa sering orang mengunggah aktivitas membaca di media sosial.
Meski begitu, data tersebut mengingatkan kita bahwa kemampuan membaca bukan sekadar persoalan menyelesaikan halaman. Membaca juga berkaitan dengan kemampuan menemukan informasi, memahami gagasan, dan menilai isi teks. Seseorang mungkin telah menuntaskan sebuah buku, tetapi proses tersebut belum tentu menghasilkan pemahaman yang mendalam jika ia tidak terlibat aktif dengan gagasan di dalamnya.
Di sinilah kita bisa melihat perbedaan antara membaca sebagai aktivitas fisik dan membaca sebagai proses berpikir. Yang pertama dapat dikenali dari buku yang terbuka atau halaman yang telah diberi tanda. Yang kedua lebih sulit diamati karena berlangsung dalam proses memahami, mempertanyakan, dan menghubungkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki.
Ketika Membaca Menjadi Bagian dari Citra Diri
Dalam psikologi sosial, terdapat konsep impression management, yaitu upaya seseorang untuk memengaruhi bagaimana dirinya dipersepsikan orang lain. Konsep ini membantu menjelaskan mengapa aktivitas tertentu dapat memiliki nilai tambahan ketika ditampilkan di hadapan audiens.
Di media sosial, buku dapat berfungsi sebagai sumber pengetahuan sekaligus bagian dari presentasi diri. Foto buku yang sedang dibaca, kutipan yang dibagikan, ulasan bacaan, hingga catatan di halaman dapat menyampaikan kesan tentang minat dan identitas seseorang. Bagi sebagian orang, aktivitas tersebut menjadi cara untuk menemukan komunitas, berbagi rekomendasi, atau mengajak orang lain berdiskusi.
Tidak ada yang keliru dengan hal itu. Menampilkan aktivitas membaca bukan berarti seseorang sedang berpura-pura menjadi intelektual. Media sosial juga dapat membantu memperluas percakapan tentang buku dan membuat kegiatan membaca terasa lebih sosial.
Penelitian Bronwen Thomas berjudul The #Bookstagram: Distributed Reading in the Social Media Age, yang diterbitkan dalam jurnal Language Sciences, membahas bagaimana praktik berbagi foto buku di Instagram membentuk pengalaman membaca yang terhubung dengan orang lain. Kajian ini memberikan perspektif bahwa praktik membaca yang ditampilkan secara digital tidak seharusnya langsung disederhanakan menjadi pameran atau narsisme. Di dalamnya, ada pula praktik berbagi, membangun afiliasi, dan membentuk komunitas pembaca.
Namun, fenomena joki baca buku memperlihatkan sisi lain yang patut dipertanyakan. Ketika layanan menawarkan buku yang telah dibaca, diberi anotasi, dan didokumentasikan untuk media sosial, penampilan sebagai pembaca dapat menjadi bagian dari nilai komersialnya.
Kita tidak mengetahui seluruh alasan orang menggunakan layanan tersebut. Akan tetapi, fenomena ini membuka pertanyaan tentang batas antara aktivitas yang dilakukan untuk memperoleh pengalaman dan aktivitas yang hasilnya terutama ditujukan untuk membentuk kesan di mata orang lain.
Ketika Simbol Lebih Mudah Ditampilkan daripada Proses
Ada alasan mengapa buku dapat menjadi simbol yang menarik di ruang digital. Sebuah foto dapat memperlihatkan sampul buku, halaman penuh catatan, atau tumpukan bacaan dalam sekejap. Sebaliknya, proses memahami gagasan di dalamnya membutuhkan waktu dan tidak selalu menghasilkan sesuatu yang mudah ditampilkan.
Di sinilah muncul perbedaan antara bukti visual dan pengalaman kognitif. Buku yang dipenuhi highlight tidak otomatis menunjukkan bahwa pembacanya memahami isi buku. Begitu pula, seseorang yang membaca tanpa membuat catatan belum tentu kurang serius dalam menyerap gagasan penulis.
Kita bisa melihat fenomena ini melalui konsep presentasi diri: sesuatu yang mudah dilihat orang lain berpotensi menjadi bagian dari cara seseorang membangun identitas. Akan tetapi, penerapan konsep tersebut pada kasus joki baca buku tetap merupakan analisis, bukan bukti bahwa semua pelanggan memiliki motif yang sama.
Persoalannya bukan pada foto buku atau catatan yang dibagikan. Yang perlu dipertanyakan adalah apakah tanda-tanda yang terlihat mulai dianggap sebagai pengganti pengalaman yang sebenarnya.
Dalam konteks membaca, perbedaan itu cukup mendasar. Foto dapat menunjukkan bahwa sebuah buku berada di tangan seseorang. Anotasi dapat menunjukkan bahwa ada interaksi dengan halaman-halamannya. Namun, pemahaman, perubahan perspektif, dan kemampuan menghubungkan gagasan dengan kehidupan tidak dapat dipastikan hanya melalui tampilan tersebut.
Dari Hobi Membaca Menjadi Peluang Usaha
Fenomena joki baca buku juga memperlihatkan bagaimana aktivitas yang berawal dari kegemaran dapat dikembangkan menjadi layanan berbayar. Bagi penyedia jasa yang memang menyukai kegiatan membaca, layanan ini berpotensi menjadi cara untuk memperoleh penghasilan dari keterampilan dan waktu yang dimiliki.
Dari sisi bisnis, layanan tersebut menawarkan sesuatu yang lebih kompleks daripada sekadar membaca. Waktu pengerjaan, panjang buku, anotasi, perlengkapan tambahan, dan dokumentasi dapat menjadi bagian dari paket yang dijual. Karena itu, tarif sebuah layanan tidak bisa langsung dianggap sebagai harga untuk sekadar membalik halaman.
Meski demikian, angka tarif yang beredar dalam sebuah unggahan belum cukup untuk membuktikan bahwa bisnis tersebut memiliki pasar besar atau menghasilkan keuntungan yang konsisten. Untuk menilai potensinya, masih diperlukan informasi mengenai jumlah pelanggan, frekuensi pesanan, biaya operasional, waktu pengerjaan, dan kesediaan pelanggan menggunakan layanan tersebut secara berulang.
Kita juga perlu membedakan layanan yang membantu seseorang memahami bacaan dari layanan yang mengambil alih seluruh proses membaca. Rangkuman, diskusi, atau bantuan menjelaskan konsep dapat mendukung proses belajar. Namun, jika tujuan seseorang adalah memperoleh pengalaman membaca secara langsung, hasil pekerjaan orang lain tidak sepenuhnya dapat menggantikannya.
Dengan kata lain, fenomena yang viral belum tentu mewakili pasar yang luas. Ia bisa menarik perhatian karena dianggap unik, mengundang perdebatan, atau bertentangan dengan kebiasaan umum. Perhatian semacam itu tidak selalu berujung pada transaksi.
Membaca untuk Memahami atau untuk Terlihat Membaca?
Fenomena joki baca buku pada akhirnya membawa kita kembali kepada pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang sebenarnya ingin kita dapatkan dari sebuah buku?
Jika tujuannya adalah memahami gagasan, menikmati cerita, atau menemukan sudut pandang baru, proses membaca memiliki nilai yang tidak sepenuhnya bisa diwakilkan kepada orang lain. Catatan dan rangkuman mungkin membantu kita mengenali isi buku, tetapi keduanya tidak otomatis menggantikan pengalaman ketika kita berhadapan langsung dengan pemikiran penulis.
Di sisi lain, kita juga perlu menghindari penilaian yang terlalu cepat terhadap orang lain. Membagikan foto buku bukan berarti seseorang hanya mengejar pengakuan. Menggunakan jasa membaca pun tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh alasan seseorang mengambil keputusan tersebut. Kita bisa mengkritisi sebuah fenomena tanpa berpura-pura mengetahui motif setiap orang yang terlibat di dalamnya.
Data literasi Indonesia memberikan konteks mengenai pentingnya membangun kemampuan dan kebiasaan membaca. Psikologi sosial membantu kita memahami bagaimana aktivitas membaca dapat menjadi bagian dari identitas. Sementara itu, fenomena joki baca buku memperlihatkan bahwa ketika sebuah aktivitas memiliki nilai sosial, hasil dan simbolnya juga berpotensi memperoleh nilai ekonomi.
Barangkali, hal paling menarik dari joki baca buku bukanlah tarifnya yang mencapai jutaan rupiah. Fenomena ini justru memperlihatkan bahwa di dunia yang semakin terhubung, aktivitas pribadi dapat berubah menjadi sesuatu yang memiliki nilai sosial dan komersial ketika ditampilkan kepada orang lain.
Buku bisa menjadi simbol bahwa seseorang sedang membaca. Namun, pengalaman memahami isi buku tetap merupakan proses yang berbeda. Sebab, tujuan membaca bukan sekadar menyelesaikan halaman atau terlihat akrab dengan buku, melainkan memberi kesempatan kepada pikiran untuk bertemu dengan gagasan baru.
Penulis: Arden Gustav
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.





