Di Balik Jarak Emosional Anak di Sekolah

9 Menit

Ubah bahasa:

|

Traktir Penulis

Techfin Insight — 2013 lalu, saya menonton sebuah drama dari Korea Selatan berjudul School 2013. Drama bertema kehidupan sekolah yang berhasil melejitkan nama Lee Jong Suk dan Kim Woo Bin ini sangat membekas di ingatan saya. Guru Jung In Jae yang diperankan aktris veteran Jang Na Ra menginspirasi saya untuk menjadi guru, padahal saya bukan dari latar belakang pendidikan keguruan.

Jung In Jae adalah sosok guru yang gigih memperjuangkan nasib anak didiknya. Ia percaya setiap anak—terlepas dari apa pun latar belakang dan perilakunya—berhak dan layak mendapatkan kesempatan berjuang demi masa depannya. Jung In Jae rela jungkir balik, pontang-panting menjaga agar anak didiknya tetap bertahan di ruang kelas.

Agaknya, saat memutuskan menjadi guru, saya terbawa arus idealisme yang dicerminkan Jung In Jae.

Kenyataan tidak seindah dunia di drama. Saya bukan Jung In Jae. Saya tidak memiliki ruang sabar dan tabah tanpa batas seperti Jung In Jae. Tiga tahun pertama mengajar, mental saya babak belur.

- Advertisement -
Jasa Pembuatan Website Murah di BantenJasa Pembuatan Website Murah di Banten

Tidak terhitung berapa kali saya merasakan tubrukan fatal antara idealisme dan realitas yang saya temui di dunia nyata. Banyak kejadian yang memaksa saya harus merevisi kembali prinsip-prinsip yang saya pegang sebagai manusia yang diberi amanah menjadi guru. Bukan idealisme saya yang keliru, hanya saja bagaimana saya membawa dan menerjemahkan idealisme tersebut di lapangan kerap membuat saya kelelahan.

Lebih enak nonton Jung In Jae ketimbang mengalami sendiri. Belum apa-apa sudah ingin angkat koper dan pulang.

Kekeliruan paling fatal yang tumbuh di kepala saya adalah bahwa dengan semua yang saya usahakan dengan tulus bisa membuat murid mengubah perilaku buruknya. Ketika kenyataan tak sesuai harapan, saya merasa terluka. Saya berlaku terlalu keras pada diri sendiri hingga membuat saya kehilangan jarak dari diri sendiri.

Memasuki tahun kelima mengajar, saya mulai berbenah. Saya melakukan hal-hal sesuai kapasitas yang saya miliki. Fokusnya bukan lagi berusaha mengubah manusia menjadi versi terbaik dirinya—saya sadar saya bukan juru selamat. Saya hanyalah bagian dari proses kehidupan panjang anak didik yang saya temani.

Sebagai guru yang setiap hari berinteraksi dengan peserta didik di ruang-ruang kelas, ada momen-momen tertentu yang membuat saya merasa perlu berhenti sejenak, menarik napas lebih dalam, lalu memberi ruang bagi hati dan pikiran agar tidak larut dalam arus emosi yang jika dibiarkan, pada akhirnya nanti akan membuat saya kelelahan—saya belajar dari pengalaman.

Menjadi guru adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya ambil dalam hidup. Saya mencintai profesi ini. Namun, sebesar rasa cinta yang tumbuh, ada pula keresahan yang diam-diam ikut tumbuh. Bukan tentang kesejahteraan guru yang masih terus menjadi bahan perdebatan di ruang publik. Bukan pula tentang berita-berita viral di media sosial yang banyak menyoroti wajah pendidikan di Indonesia.

Ini tentang sesuatu yang jauh lebih mendasar.

Menjadi guru adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya ambil dalam hidup.

Nafilah Nurdin

Tentang anak-anak yang saya temui setiap hari. Anak-anak yang kelak akan tumbuh dan mengambil perannya masing-masing di dunia. Anak-anak yang pada dirinya disematkan banyak sekali harapan,  oleh keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

Setiap hari saya melihat wajah-wajah muda itu datang ke sekolah. Mereka hadir dan duduk di ruang kelas, mengikuti pelajaran, saling berinteraksi, lalu pulang pada waktunya.

Kredit Redaksi:
Penulis: Nafilah Nurdin
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.
© 2026 Techfin Insight. Konten ini boleh dikutip untuk keperluan non-komersial. Cantumkan sumber dan tautkan ke artikel asli di Techfin Insight. Untuk penggunaan ulang secara menyeluruh atau di luar konteks editorial (misalnya komersial), silakan hubungi redaksi.
- Advertisement -
Ad imageAd image
Share tulisan ini, yuk!

Tentang Penulis

Guru Madrasah
Follow:
Ia hidup dengan keyakinan bahwa setiap kata memiliki bunyi dan suara. Karena itu, ia percaya bahwa segala yang tumbuh di kepalanya adalah kumpulan kata-kata yang layak untuk diceritakan.

Traktir Penulis

Setiap tulisan di Techfin Insight lahir dari waktu, riset, dan secangkir kopi. Kalau kamu merasa tulisan-tulisan kami bermanfaat, kamu bisa mentraktir penulis sebagai bentuk apresiasi agar kami terus menghadirkan konten yang jernih, independen, dan berkualitas.