Di Balik Pelanggaran yang Berulang
Ketika saya masih menjadi peserta didik, teguran dari guru, sekecil apa pun, cukup untuk membuat saya merasa sangat malu. Ada semacam kesadaran moral yang langsung muncul saat saya melakukan kesalahan atau pelanggaran.
Hari ini, saya tidak selalu melihat respon yang sama pada banyak peserta didik.
Teguran demi teguran seperti berlalu begitu saja. Aturan yang sama dilanggar berulang kali. Hukuman tidak lagi selalu menghadirkan efek jera. Upaya-upaya tersebut seolah membentur dinding tebal.
Apakah anak-anak sekarang tidak lagi memiliki rasa bersalah? Apakah mereka sungguh tidak peduli?
Perilaku anak di sekolah sering kali membawa jejak dari pengalaman dan kebiasaan hidup sehari-hari yang mereka bangun di rumah. Anak yang terbiasa melanggar aturan mungkin tidak semata-mata karena sedang ingin menunjukkan ketidakpatuhan. Bisa jadi, anak tumbuh dalam lingkungan yang belum menegakkan batas-batas secara konsisten, atau anak belum sepenuhnya memahami bahwa aturan merupakan bagian dari relasi yang dilandasi rasa saling menghormati.
Ada pula kemungkinan lain bahwa di balik pelanggaran yang berulang, tersimpan kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Kebutuhan untuk merasa dekat, didengar, dan dibimbing dengan utuh.
Saya tidak sedang menyalahkan orang tua. Sebaliknya, ini adalah ajakan kepada kita semua untuk melihat bahwa apa yang terjadi di sekolah sering kali berakar pada pengalaman-pengalaman kecil yang terbentuk jauh sebelum anak melangkah ke ruang kelas.
Bukan Malas, Mungkin Mereka Sedang Kehilangan Arah
Selain pelanggaran aturan sekolah yang berulang, ada bentuk lain dari kegelisahan yang saya temui setiap hari di ruang kelas. Ini bentuk yang lebih sunyi, tetapi tidak kalah mengkhawatirkan.
Anak-anak yang tampak kehilangan semangat untuk belajar.
Mereka datang ke sekolah, duduk di kelas, mendengarkan pelajaran, tetapi seperti hadir tanpa benar-benar terlibat. Mereka enggan mengerjakan tugas. Tidak tertarik berkompetisi. Tidak tampak antusias.
Di awal tatap muka di kelas, saya selalu melakukan refleksi singkat mengenai materi yang dipelajari pada pertemuan sebelumnya. Tujuannya sederhana, agar mereka kembali terhubung dengan pelajaran hari itu. Pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan tidak mendapatkan jawaban. Saya hanya mendapati wajah-wajah bingung di hadapan saya.
Saya bertanya kapan terakhir mereka membuka buku pelajaran mata pelajaran yang saya ajarkan. Tidak ada satu pun yang mengangkat tangan.
Kecewa? Tentu saja.
Respons paling mudah yang bisa saya berikan adalah memberi label malas kepada anak-anak itu. Kemudian saya menyadari bahwasanya kata itu terlalu sederhana untuk menjelaskan sesuatu yang jauh lebih kompleks.
Boleh jadi, mereka bukan sedang kehilangan kemampuan. Mereka juga bukan sekadar malas.
Mungkin, yang sedang terjadi adalah anak-anak itu sedang kehilangan arah.
Kita tidak bisa memungkiri fakta, banyak anak bersekolah karena semua anak seumuran mereka melakukan itu, karena memang itulah yang orang tua harapkan dari mereka. Mereka datang setiap pagi karena orang tua meminta mereka melakukannya. Mereka belajar karena nilai dianggap penting. Mereka mengikuti alur pendidikan sebagaimana mestinya.
Kita sering mendengar lontaran kalimat seperti, “Sekolah ya, biar bisa jadi orang.”
Bersekolah untuk bekal masa depan, dan masa depan yang dimaksud adalah pekerjaan yang layak, stabil dan memiliki gaji yang lumayan. Seolah-olah nilai pendidikan hanya terletak pada apa yang akan anak capai di masa depan, bukan pada siapa ia sedang bertumbuh hari ini.
Tidak semua anak sungguh memahami untuk apa mereka menjalani semua itu.
Pertanyaan mendasar yang belum pernah benar-benar mereka jawab, “Mengapa saya harus belajar?” dan “Untuk apa saya sekolah dan belajar?”
Dalam psikologi motivasi, seorang anak cenderung bertumbuh dengan semangat ketika ia mampu merasakan tiga hal ini, yakni merasa terhubung, merasa mampu, dan merasa bahwa apa yang dilakukannya memiliki makna bagi dirinya.
Ketiga hal ini tidak lahir pertama kali di sekolah, melainkan di rumah. Tidak jarang, kebingungan anak terhadap arah hidupnya berakar pada fondasi emosional rapuh. Anak yang tumbuh dalam relasi yang hangat biasanya lebih mudah merasa aman untuk mencoba. Mereka tahu bahwa kegagalan tidak serta-merta membuat mereka kehilangan kasih sayang. Mereka belajar bahwa usaha memiliki nilai, dan bahwa suara mereka layak didengar. Sebaliknya, anak yang tumbuh dalam tekanan tanpa cukup ruang dialog, bisa mulai melihat sekolah hanya sebagai kewajiban. Mereka hadir, tetapi tanpa keterhubungan. Mereka belajar, tetapi tanpa arah.
Apabila pendidikan di rumah lebih banyak berisi tuntutan daripada percakapan tentang makna, anak belajar untuk patuh, tetapi tidak selalu belajar untuk memahami tujuan dari langkah-langkah yang sedang ia tempuh.
Dan bila anak tidak tahu untuk apa ia berusaha, motivasi perlahan bisa berubah menjadi kelelahan dan kebingungan yang akut.
Barangkali, yang kita lihat sebagai kemalasan bukanlah penolakan terhadap belajar. Bisa jadi, itu adalah tanda bahwa seorang anak belum menemukan alasan pribadi untuk bertumbuh.
Pengaruh Kondisi Mental Anak terhadap Motivasi Belajar
Seberapa besar pengaruh mental seorang anak terhadap motivasi belajarnya?
Banyak penelitian dalam bidang psikologi pendidikan yang menunjukkan hubungan erat antara kondisi emosional anak dengan kemampuan belajar, mempertahankan motivasi, dan membangun keterlibatan dalam proses pendidikan. Anak yang tumbuh dalam tekanan emosional berkepanjangan cenderung mengalami kelelahan mental yang kemudian berpengaruh pada fokus, semangat, bahkan keyakinan terhadap dirinya sendiri.
Penulis: Nafilah Nurdin
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.



