• Tentang Kami
  • Iklan & Partnership
  • Syarat & Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Panduan Editorial
  • Brand Guideline
  • Kontak
Techfin Insight
0

Tidak ada produk di keranjang.

Notifikasi
Kirim Tulisan
  • Trending Topics:
  • PLN
  • PLN UID Banten
  • AI
  • Personal Finance
  • Phones/Tablets/Mobile
  • PLN Mobile
  • Apple
  • Investasi
  • Keuangan
  • Karier
  • Teknologi
  • iPhone
  • Books/Movies
  • Indeks
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Keuangan
  • Sains
  • Gaya Hidup
  • Kultur
  • Insight
  • Persona
  • Utilitas
  • ShopNew
  • Personalize
    • Dasbor Penulis
    • Riwayat Bacaan
    • Tulisan Tersimpan
    • My Feed
    • My Interests
Reading: Di Balik Jarak Emosional Anak di Sekolah
Share
Techfin InsightTechfin Insight
0
  • ShopNew
  • Indeks
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Keuangan
  • Sains
  • Gaya Hidup
  • Kultur
  • Persona
  • Insight
  • Utilitas
  • Riwayat Bacaan
  • Tulisan Tersimpan
  • My Feed
  • My Interests
Cari
  • Tentang Kami
  • Iklan & Partnership
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Jadi PenulisNew
  • Panduan Editorial
  • Brand Guideline
  • Kontak
  • History
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Keuangan
  • Sains
  • Kultur
  • Insight
  • Persona
  • Utilitas
  • DPRD Banten

Jelajah Ruang Baca

Jejak Wawasan

  • Riwayat Bacaan
  • Bacaan Tersimpan
  • My Feed
  • My Interests

Terkini

Guru MAN berdialog dengan peserta didik di ruang kelas, mencerminkan pendekatan pendidikan yang menekankan empati, komunikasi, dan kesehatan mental anak dalam proses belajar.

Di Balik Jarak Emosional Anak di Sekolah

3 Jun 2026
Peserta antusias mengikuti pelatihan membatik inklusif yang digelar PLN UID Banten bersama Banten Inclusifa Preneur (BIP)

Batik, Harapan, dan Ruang yang Terbuka untuk Semua

3 Jun 2026
Prosesi peletakan batu pertama pembangunan Sekolah Mathla'ul Anwar dalam Program Kemitraan bersama PLN Peduli di Cihara, Kabupaten Lebak, Banten. Kegiatan ini merupakan wujud nyata program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Banten dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan di wilayah Banten.

Di Balik Plafon Jebol, Mimpi Siswa Tetap Menyala

3 Jun 2026

Saat Dunia Tidak Pasti, Dua Saham Ini Justru Diburu Investor

29 Mei 2026

Call for Writers 🧑🏻‍💻

Tulis gagasanmu dan menginspirasilah bersama Techfin Insight! 💡
Kirim Tulisan
Punya akun di Techfin Insight? Sign In
Stay Connected
© 2026 Techfin.id. Designed with ❤️ by dezainin.com
Insight

Di Balik Jarak Emosional Anak di Sekolah

Oleh: Nafilah Nurdin - Guru Madrasah
Publikasi: Rabu, 3 Juni 2026 - 23.46 WIB
Share
Guru MAN berdialog dengan peserta didik di ruang kelas, mencerminkan pendekatan pendidikan yang menekankan empati, komunikasi, dan kesehatan mental anak dalam proses belajar.
Seorang guru mendengarkan peserta didik dalam suasana diskusi yang hangat. Hubungan yang sehat antara guru dan siswa menjadi bagian penting dalam membangun motivasi belajar dan kesehatan emosional anak.
Navigasi Konten
  • Di Balik Pelanggaran yang Berulang
  • Bukan Malas, Mungkin Mereka Sedang Kehilangan Arah
  • Pengaruh Kondisi Mental Anak terhadap Motivasi Belajar

Di Balik Pelanggaran yang Berulang

Ketika saya masih menjadi peserta didik, teguran dari guru, sekecil apa pun, cukup untuk membuat saya merasa sangat malu. Ada semacam kesadaran moral yang langsung muncul saat saya melakukan kesalahan atau pelanggaran.

Hari ini, saya tidak selalu melihat respon yang sama pada banyak peserta didik.

Teguran demi teguran seperti berlalu begitu saja. Aturan yang sama dilanggar berulang kali. Hukuman tidak lagi selalu menghadirkan efek jera. Upaya-upaya tersebut seolah membentur dinding tebal.

Apakah anak-anak sekarang tidak lagi memiliki rasa bersalah? Apakah mereka sungguh tidak peduli?

Perilaku anak di sekolah sering kali membawa jejak dari pengalaman dan kebiasaan hidup sehari-hari yang mereka bangun di rumah. Anak yang terbiasa melanggar aturan mungkin tidak semata-mata karena sedang ingin menunjukkan ketidakpatuhan. Bisa jadi, anak tumbuh dalam lingkungan yang belum menegakkan batas-batas secara konsisten, atau anak belum sepenuhnya memahami bahwa aturan merupakan bagian dari relasi yang dilandasi rasa saling menghormati.

Ada pula kemungkinan lain bahwa di balik pelanggaran yang berulang, tersimpan kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Kebutuhan untuk merasa dekat, didengar, dan dibimbing dengan utuh.

Saya tidak sedang menyalahkan orang tua. Sebaliknya, ini adalah ajakan kepada kita semua untuk melihat bahwa apa yang terjadi di sekolah sering kali berakar pada pengalaman-pengalaman kecil yang terbentuk jauh sebelum anak melangkah ke ruang kelas.

Jangan Lewatkan:

Prosesi peletakan batu pertama pembangunan Sekolah Mathla'ul Anwar dalam Program Kemitraan bersama PLN Peduli di Cihara, Kabupaten Lebak, Banten. Kegiatan ini merupakan wujud nyata program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Banten dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan di wilayah Banten.
Di Balik Plafon Jebol, Mimpi Siswa Tetap Menyala
3 Jun 2026
Pemerintah Luncurkan Sekolah Garuda untuk Perkuat Pendidikan Unggul Nasional
10 Okt 2025
Kids Corner PLN
Kids Corner PLN: Ruang Tumbuh dan Harapan untuk Anak Bangsa
3 Jul 2025

Bukan Malas, Mungkin Mereka Sedang Kehilangan Arah

Selain pelanggaran aturan sekolah yang berulang, ada bentuk lain dari kegelisahan yang saya temui setiap hari di ruang kelas. Ini bentuk yang lebih sunyi, tetapi tidak kalah mengkhawatirkan.

Anak-anak yang tampak kehilangan semangat untuk belajar.

Mereka datang ke sekolah, duduk di kelas, mendengarkan pelajaran, tetapi seperti hadir tanpa benar-benar terlibat. Mereka enggan mengerjakan tugas. Tidak tertarik berkompetisi. Tidak tampak antusias.

Di awal tatap muka di kelas, saya selalu melakukan refleksi singkat mengenai materi yang dipelajari pada pertemuan sebelumnya. Tujuannya sederhana, agar mereka kembali terhubung dengan pelajaran hari itu. Pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan tidak mendapatkan jawaban. Saya hanya mendapati wajah-wajah bingung di hadapan saya.

Saya bertanya kapan terakhir mereka membuka buku pelajaran mata pelajaran yang saya ajarkan. Tidak ada satu pun yang mengangkat tangan.

Kecewa? Tentu saja.

Respons paling mudah yang bisa saya berikan adalah memberi label malas kepada anak-anak itu. Kemudian saya menyadari bahwasanya kata itu terlalu sederhana untuk menjelaskan sesuatu yang jauh lebih kompleks.

Boleh jadi, mereka bukan sedang kehilangan kemampuan. Mereka juga bukan sekadar malas.

Mungkin, yang sedang terjadi adalah anak-anak itu sedang kehilangan arah.

Kita tidak bisa memungkiri fakta, banyak anak bersekolah karena semua anak seumuran mereka melakukan itu, karena memang itulah yang orang tua harapkan dari mereka. Mereka datang setiap pagi karena orang tua meminta mereka melakukannya. Mereka belajar karena nilai dianggap penting. Mereka mengikuti alur pendidikan sebagaimana mestinya.

Kita sering mendengar lontaran kalimat seperti, “Sekolah ya, biar bisa jadi orang.”

Bersekolah untuk bekal masa depan, dan masa depan yang dimaksud adalah pekerjaan yang layak, stabil dan memiliki gaji yang lumayan. Seolah-olah nilai pendidikan hanya terletak pada apa yang akan anak capai di masa depan, bukan pada siapa ia sedang bertumbuh hari ini.

Tidak semua anak sungguh memahami untuk apa mereka menjalani semua itu.

Pertanyaan mendasar yang belum pernah benar-benar mereka jawab, “Mengapa saya harus belajar?” dan “Untuk apa saya sekolah dan belajar?”

Dalam psikologi motivasi, seorang anak cenderung bertumbuh dengan semangat ketika ia mampu merasakan tiga hal ini, yakni merasa terhubung, merasa mampu, dan merasa bahwa apa yang dilakukannya memiliki makna bagi dirinya.

Ketiga hal ini tidak lahir pertama kali di sekolah, melainkan di rumah. Tidak jarang, kebingungan anak terhadap arah hidupnya berakar pada fondasi emosional rapuh. Anak yang tumbuh dalam relasi yang hangat biasanya lebih mudah merasa aman untuk mencoba. Mereka tahu bahwa kegagalan tidak serta-merta membuat mereka kehilangan kasih sayang. Mereka belajar bahwa usaha memiliki nilai, dan bahwa suara mereka layak didengar. Sebaliknya, anak yang tumbuh dalam tekanan tanpa cukup ruang dialog, bisa mulai melihat sekolah hanya sebagai kewajiban. Mereka hadir, tetapi tanpa keterhubungan. Mereka belajar, tetapi tanpa arah.

Apabila pendidikan di rumah lebih banyak berisi tuntutan daripada percakapan tentang makna, anak belajar untuk patuh, tetapi tidak selalu belajar untuk memahami tujuan dari langkah-langkah yang sedang ia tempuh.

Dan bila anak tidak tahu untuk apa ia berusaha, motivasi perlahan bisa berubah menjadi kelelahan dan kebingungan yang akut.

Barangkali, yang kita lihat sebagai kemalasan bukanlah penolakan terhadap belajar. Bisa jadi, itu adalah tanda bahwa seorang anak belum menemukan alasan pribadi untuk bertumbuh.

Pengaruh Kondisi Mental Anak terhadap Motivasi Belajar

Seberapa besar pengaruh mental seorang anak terhadap motivasi belajarnya?

Banyak penelitian dalam bidang psikologi pendidikan yang menunjukkan hubungan erat antara kondisi emosional anak dengan kemampuan belajar, mempertahankan motivasi, dan membangun keterlibatan dalam proses pendidikan. Anak yang tumbuh dalam tekanan emosional berkepanjangan cenderung mengalami kelelahan mental yang kemudian berpengaruh pada fokus, semangat, bahkan keyakinan terhadap dirinya sendiri.

Kredit Redaksi:
Penulis: Nafilah Nurdin
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.
© 2026 Techfin Insight. Konten ini boleh dikutip untuk keperluan non-komersial. Cantumkan sumber dan tautkan ke artikel asli di Techfin Insight. Untuk penggunaan ulang secara menyeluruh atau di luar konteks editorial (misalnya komersial), silakan hubungi redaksi.
Kembali1234Lanjut
- Advertisement -
Ad imageAd image
TOPIK:kesehatan mental anakmotivasi belajarpendidikanperan gurupola asuh

Kirim Tulisan

Ingin cerita, gagasan, atau opinimu dibaca lebih banyak orang?
✨ Tulis gagasanmu dan mulailah menginspirasi. Baca Panduan Editorial Techfin Insight. Lihat Syarat & Ketentuan Tulisan.
Share tulisan ini, yuk!
Facebook Whatsapp Whatsapp LinkedIn Threads Copy link
Author:Nafilah Nurdin
Guru Madrasah
Follow:
Ia hidup dengan keyakinan bahwa setiap kata memiliki bunyi dan suara. Karena itu, ia percaya bahwa segala yang tumbuh di kepalanya adalah kumpulan kata-kata yang layak untuk diceritakan.
Tulisan Sebelumnya 👈 Peserta antusias mengikuti pelatihan membatik inklusif yang digelar PLN UID Banten bersama Banten Inclusifa Preneur (BIP) Batik, Harapan, dan Ruang yang Terbuka untuk Semua
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Terkini

Peserta antusias mengikuti pelatihan membatik inklusif yang digelar PLN UID Banten bersama Banten Inclusifa Preneur (BIP)
Kultur

Batik, Harapan, dan Ruang yang Terbuka untuk Semua

3 Jun 2026
Bisnis

Saat Dunia Tidak Pasti, Dua Saham Ini Justru Diburu Investor

29 Mei 2026
Sains

Saat Bulan Tak Lagi Terlihat Sama dari Luar Angkasa

29 Mei 2026
Teknologi

Generative AI Masuk Kurikulum Computer Science

29 Mei 2026
Manager PLN UP3 Serpong, Bapak Beny Indra Praja, melakukan pemeriksaan langsung terhadap kesiapan peralatan kerja dalam kegiatan Gelar Peralatan Jasa Konstruksi Paket 1 dan 2 di lingkungan PLN UP3 Serpong.
Utilitas

Listrik Andal Dimulai dari Keselamatan Petugas PLN

29 Mei 2026
- Advertisement -
Ad imageAd image

Ruang Baca

Techfin Insight
Facebook X-twitter Instagram Threads Whatsapp

Techfin Insight hadir sebagai media alternatif yang fokus mengabarkan inovasi dan perkembangan terkini di bidang teknologi, bisnis, keuangan, serta tantangan yang kita hadapi setiap hari. Kami menganalisis bagaimana bisnis dan teknologi saling bersinggungan, mempengaruhi, dan memberikan dampak pada berbagai lini kehidupan untuk mewujudkan transformasi budaya di dunia yang semakin saling terhubung ini.

Ad image
  • Tentang Kami
  • Iklan & Partnership
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Jadi PenulisNew
  • Panduan Editorial
  • Brand Guideline
  • Kontak
  • History
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Keuangan
  • Sains
  • Kultur
  • Insight
  • Persona
  • Utilitas
  • DPRD Banten
  • About Us
  • Advertising & Partnership
  • Terms & Conditions
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Guest Post
  • Contact

© 2026 Techfin.id. Designed with ❤️ by dezainin.com