Techfin Insight — Ada satu pertanyaan yang tampaknya hampir selalu mengikuti perempuan yang telah memasuki usia tiga puluhan dan belum menikah.
Kapan menikah?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana dan diucapkan tanpa niat buruk. Kadang sebagai bentuk perhatian atau hanya sekadar basa-basi pembuka percakapan.
Bagaimana menjawab pertanyaan yang bahkan kita sendiri tidak punya jawaban pastinya?
Yang luput disadari, bagi sebagian perempuan, pertanyaan itu tidak berhenti sebagai kalimat, tetapi berubah menjadi suara di kepala yang perlahan mengubah cara mereka memandang diri sendiri.
Kenapa ya saya belum menikah?
Apakah ada yang salah dengan saya?
Apakah saya tertinggal?
Tanpa disadari, pertanyaan-pertanyaan itu tumbuh menjadi keresahan yang pelan-pelan menggerogoti rasa percaya diri hingga membuat mereka meragukan diri sendiri.
2019 lalu, tepatnya dua bulan sebelum genap berusia usia 30, saya menulis sebuah catatan di blog pribadi. Saat itu, banyak sekali pertanyaan memenuhi kepala saya. Apakah saya akan baik-baik saja menjalani usia tiga puluhan? Apakah saya mampu berdamai dengan luka-luka yang saya bawa?
Di akhir tulisan tersebut, saya menulis, “Saya tidak tahu apakah saya akan baik-baik saja ketika memasuki usia tiga puluh saya. Saya ingin baik-baik saja, senantiasa sehat dan bahagia. Saya ingin menikmati hidup saya.”
Kini, setelah enam tahun berlalu, dan usia 30-an itu telah saya jalani separuhnya, saya menyadari tidak pernah ada yang namanya benar-benar baik-baik saja—usia berapa pun itu. Akan selalu ada situasi yang membuat kita mempertanyakan kembali keputusan-keputusan hidup yang kita pilih. Bukan karena keputusan itu salah, melainkan karena hidup memang terus bergerak dan menghadirkan pertanyaan-pertanyaan baru.
Saya tidak tahu apakah saya akan baik-baik saja ketika memasuki usia tiga puluh saya. Saya ingin baik-baik saja, senantiasa sehat dan bahagia. Saya ingin menikmati hidup saya.
Nafilah Nurdin
Sebagai seorang perempuan dewasa yang sebentar lagi melewati usia 30-annya masih dengan status single-nya, sudah barang tentu saya menjadi terbiasa diberi pertanyaan “Kapan menikah?” itu. Namun alih-alih membiarkan pikiran saya disita pertanyaan kapan ini, kapan itu, saya memilih tidak menjalani hidup hanya untuk berusaha sekeras-kerasnya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Saya memilih menikmati setiap proses tumbuh yang saya jalani. Dan dari proses itu, saya belajar banyak hal.
Tumbuh Ternyata Tidak Selalu Nyaman
Di usia 26, teman-teman sebaya sudah mulai menemukan ritme hidupnya. Ada yang melanjutkan sekolah, ada yang membangun karier, ada pula yang sudah menikah. Sementara saya yang saat itu belum lama menyelesaikan kuliah, masih sibuk bertanya kepada diri sendiri, “Sebenarnya hidup ini mau saya bawa ke mana?”
Saya masih berjuang menemukan tenang yang senantiasa saya doakan, saya masih dibuat babak belur dengan kondisi mental yang masih jauh dari kata ideal. Manalah sempat saya memikirkan target hidup berikutnya jika setiap malam yang berbicara di kepala saya adalah sosok seorang perempuan muda yang berharap bisa terbangun keesokan harinya tanpa rasa lelah luar biasa, yang berharap labirin gelap di kepalanya bisa seketika lenyap.
Sebenarnya, situasi seperti apa yang sedang saya jalani?
Hanya setelah memasuki awal tiga puluhan, barulah kesadaran itu mengumpul utuh di kepala.
Saya sedang bertumbuh.
Itulah yang sedang terjadi.
Bahwa tumbuh ternyata tidak selalu nyaman.
Bertumbuh bukan soal pencapaian besar apa saja yang sudah kita capai pada usia tertentu. Bagi saya, bertumbuh adalah sebuah perjalanan panjang yang mesti dijalani untuk bisa mengenali dan memeluk diri sendiri, untuk mampu menerima bahwa semua yang terjadi di hidup ini memang sudah sesuai porsinya. Dulu, saya mengira hidup saya hanya diisi luka dan kesedihan mendalam. Saya begitu lama memandang hidup dari sudut pandang luka yang saya alami. Kini saya memahami, segala hal yang datang ke hidup saya—baik dan buruknya, adalah bagian yang harus saya jalani.
Tugas saya bukan mempertanyakan mengapa semuanya terjadi, melainkan menjalaninya dengan sebaik-baiknya sembari menaruh percaya, Tuhan Yang Mahabaik tidak pernah salah menulis cerita hidup hamba-Nya.
Sesungguhnya, tidak ada proses tumbuh yang mudah. Bertumbuh butuh keberanian besar untuk menjalaninya, sebab dalam perjalanannya kita harus sukarela melepaskan banyak hal.
Melepaskan cara lama kita memandang diri sendiri. Melepaskan harapan yang tidak lagi sesuai kenyataan. Bahkan melepaskan versi diri sendiri yang selama ini diyakini sebagai diri yang paling sejati.
Dan itu semua bisa terjadi hanya jika kita berhenti menyalahkan apa dan siapa pun. Sesuatu yang tidak mudah, memang.
Menjadi Perempuan Ternyata Bukan Hanya tentang “Kapan Menikah”
Entah siapa yang pertama kali membuat kita percaya bahwa seorang perempuan hidup berdasarkan garis waktu. Sekolah, lulus kuliah, bekerja, menikah, punya anak. Jika ada satu tahap yang belum terpenuhi, pertanyaan berdatangan seolah ada yang salah dengan hidupnya. Seolah nilai seorang perempuan ikut ditentukan oleh seberapa banyak “tahapan hidup” yang berhasil dilewati tepat waktu.
Ketika pertanyaan kapan menikah mulai rajin ditanyakan kepada saya, daripada marah, pertanyaan itu justru menerbitkan pertanyaan-pertanyaan baru di kepala saya.
Apakah setelah menikah, hidup saya yang berantakan ini akan menjadi baik-baik saja?
Mengapa saya harus menikah?
Apakah saya sudah siap menerima kehadiran orang baru di kehidupan saya?
Apakah saya ingin menikah karena memang sudah siap, atau hanya karena takut dianggap tertinggal?
Jawabannya tidak datang begitu saja.
Jawabannya ternyata bukan hanya tentang menikah.
Saya harus menghabiskan awal tiga puluhan saya untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.
Ada satu quote dari film Sabtu Bersama Bapak yang membekas di ingatan saya.
Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.”
Saya seketika bisa melihat refleksi diri saya. Saya bukan orang yang kuat. Saya menyadari, masih banyak bagian dalam diri yang perlu dipulihkan.
Saya akhirnya memahami bahwa menikah bukanlah solusi bagi luka-luka yang belum selesai saya hadapi. Saya belajar bahwa tidak ada hubungan yang bisa menyembuhkan luka yang bahkan belum saya kenali.
Saya harus menemui diri saya terlebih dahulu.
Bagaimana mungkin saya meminta seseorang menerima seluruh diri saya, jika saya sendiri belum selesai belajar menerimanya?
Sebagai seorang perempuan lajang di pertengahan usia tiga puluhan, saya tidak ingin lagi melihat diri saya hanya melalui pertanyaan, “Kapan menikah”.
Menikah bukanlah akhir yang harus segera saya capai, melainkan sebuah perjalanan yang ingin saya masuki di saat saya benar-benar siap menjalaninya.
Dan untuk menjadi siap, yang saya lakukan bukan menunggu.
Saya memilih menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Melakukan hal-hal yang mendatangkan kebaikan kepada diri, menemukan penyelesaian atas luka-luka yang tumbuh pada ingatan, mengubah cara saya melihat hidup dan dunia.
Usia Tiga Puluhan Bukan Sebuah Ruang Tunggu
Saat berusia 26 tahun, saya pernah menulis pada secarik kertas harapan-harapan yang saya bayangkan terwujud di usia saya yang ketiga puluh tahun.
Satu, menjadi backpacker.
Dua, menikah.
Tiga, saya telah menjadi seseorang yang mapan secara emosional, jasmani, dan materi. Keluarga saya berkecukupan.
Saya pikir hidup akan berjalan sesuai harapan saya. Lima tahun adalah waktu yang cukup untuk tumbuh. Saya tidak pernah menyangka, harapan-harapan itu akan membawa konsekuensi yang sangat besar di masa depan.
Bertumbuh tidak pernah mudah.
Di usia 35, akhirnya saya menemukan jawaban yang selama ini saya cari. Bukan jawaban tentang kapan semuanya akan terjadi, tetapi tentang mengapa harus saya yang menjalani semua ini.
Setiap orang memiliki cara berbeda untuk pulih.
Setiap orang bebas memilih jalan untuk bahagia.
Namun, tidak ada seorang pun tahu dengan pasti, cara dan jalan yang dipilihnya adalah sesuatu yang tepat.
Kita mencoba dan gagal, lalu mencoba lagi.
Setiap hari adalah perihal menemukan jawaban apa dan mengapa, bukan kapan.
Tidak ada harapan yang pernah saya tulis di usia dua puluh enam menjadi kenyataan tepat waktu. Saya tidak ingin lagi mengukur hidup dari daftar yang belum selesai. Saya juga tidak ingin menjalani usia tiga puluhan ini seolah-olah hanyalah ruang tunggu yang dipenuhi kecemasan-kecemasan tanpa wajah. Hidup saya bukan sesuatu yang sedang menunggu untuk dimulai, dan nilainya tidak pernah ditentukan oleh seberapa cepat saya memenuhi ekspektasi orang lain.
Definisi hidup yang saya jalani tidak pernah ditentukan oleh pandangan orang lain.
Sebab ini adalah kehidupan pertama kali saya di dunia. Saya tidak ingin menyia-nyiakan hidup dengan mengejar jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bahkan tidak pernah lahir dari dalam diri saya.
Sebab di penghujung hari yang tenang, hanya ada satu pertanyaan penting yang ingin saya jawab.
Apakah saya bahagia dengan hidup yang sedang saya jalani?”
Pada akhirnya saya memahami, kebahagiaan tidak lahir saat saya berhasil memenuhi ekspektasi orang lain. Kebahagiaan bukan hadiah yang menunggu di ujung pencapaian. Kebahagiaan lahir ketika saya sudah mulai merasa utuh dengan diri sendiri. Kebahagiaan tumbuh ketika saya berhenti meninggalkan diri sendiri.
Dan kini, saya tidak lagi terburu-buru menjalani hidup saya.
Mungkin pertanyaan “Kapan menikah?” itu akan tetap datang setelah tulisan ini selesai saya tulis. Dan mungkin saya pun masih belum memiliki jawaban yang bisa memuaskan semua orang. Namun kini saya tahu satu hal. Hidup saya tidak lagi saya jalani untuk menjawab pertanyaan itu. Saya menjalaninya untuk menjawab pertanyaan yang jauh lebih penting.
Apakah saya sedang hidup dengan baik, dengan jujur, dan dengan bahagia sebagai diri saya sendiri?
Penulis: Nafilah Nurdin
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.





