Sebuah penelitian mengenai hubungan kesehatan mental dan motivasi belajar menunjukkan bahwa kondisi psikologis yang sehat menyumbang kontribusi besar terhadap munculnya motivasi yang bersumber dari dalam diri pada anak. Anak yang merasa aman secara emosional, merasa diterima, dan memiliki ruang untuk mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi, cenderung lebih mampu terhubung dengan proses belajar secara utuh.
Sebaliknya, banyak anak yang hidup dalam lingkungan penuh tekanan datang ke sekolah membawa beban yang tidak terlihat. Ada anak yang harus menghadapi pertengkaran di rumah hampir setiap malam. Ada anak yang tumbuh dalam relasi yang minim percakapan, tetapi penuh tuntutan. Ada pula yang sejak kecil terbiasa mendengar bahwa dirinya tidak cukup baik dibandingkan orang lain.
Ironisnya, hal-hal semacam ini kerap diabaikan dan dinormalisasi oleh lingkungan sosial. Kita lebih mudah melabeli dengan berbagai macam nama untuk setiap perilaku anak yang tidak sesuai standar sosial masyarakat. Akibatnya, bisa fatal. Anak tidak hanya kehilangan rasa percaya terhadap dirinya, ini juga bisa memengaruhi motivasi belajarnya di sekolah.
Saya pikir, tidak semua bentuk pelanggaran aturan sekolah dan kehilangan semangat belajar bisa diselesaikan hanya dengan hukuman, nasihat, atau tambahan tugas. Sebagai guru, saya mestilah memiliki kesadaran utuh, yang sedang dihadapi anak bukan semata persoalan akademik, melainkan persoalan emosional yang diam-diam ikut terbawa masuk ke ruang kelas.
Nel Noddings melalui pendekatan Ethics of care menekankan bahwa pendidikan tidak seharusnya hanya dipahami sebagai proses transfer pengetahuan, melainkan juga sebagai relasi kepedulian antarmanusia yang memungkinkan peserta didik merasa didengar, dipahami, dan dihargai.
Barangkali, sebelum meminta anak untuk lebih giat belajar, kita perlu terlebih dahulu memastikan satu hal sederhana.
Apakah mereka masih memiliki cukup tenaga emosional untuk terus bertahan?
Tentang Rumah, Sekolah, dan Tanggung Jawab yang Terhubung
Pendidikan yang utuh tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah sepenuhnya.
Ada satu ungkapan popular dari budaya Afrika yang berbunyi, it takes a village to raise a child—dibutuhkan satu komunitas untuk membesarkan seorang anak.
Proses belajar anak dimulai pertama kali bukan di sekolah. Ia dibentuk oleh rumah, oleh percakapan-percakapan, oleh lingkungan yang mengelilinginya, oleh orang-orang dewasa yang hadir dalam hidupnya.
Tampaknya, inilah yang sering dilupakan.
Saya pikir, tidak semua bentuk pelanggaran aturan sekolah dan kehilangan semangat belajar bisa diselesaikan hanya dengan hukuman, nasihat, atau tambahan tugas. Sebagai guru, saya mestilah memiliki kesadaran utuh, yang sedang dihadapi anak bukan semata persoalan akademik, melainkan persoalan emosional yang diam-diam ikut terbawa masuk ke ruang kelas.
Nafilah Nurdin
Pendidikan yang utuh tidak pernah benar-benar bisa dipikul oleh satu pihak saja. Rumah, sekolah, dan lingkungan sosial yang saling terhubung berperan membantu membentuk cara anak memandang dirinya dan dunia di sekitarnya.
Karena itu, mungkin yang lebih dibutuhkan bukan mencari siapa yang paling patut disalahkan, melainkan bagaimana kita dapat kembali berjalan bersama dalam mendampingi mereka bertumbuh.
Semoga kita tidak lupa, anak-anak tidak hanya membutuhkan tempat untuk belajar. Mereka juga membutuhkan tempat yang menyediakan ruang dengar, pemahaman, dan penerimaan sebagai manusia.
Penulis: Nafilah Nurdin
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.



