Dari luar, semuanya tampak berjalan sebagaimana mestinya. Namun di balik rutinitas yang tampak biasa itu, ada jarak emosional yang semakin terasa kuat. Tidak semua anak yang datang ke sekolah benar-benar mampu menjalani proses belajar dengan utuh. Ada yang berulang kali melanggar aturan sekolah, ada yang enggan mengerjakan tugas, ada pula yang tampak tidak lagi memiliki minat, bahkan untuk sekadar mencoba.
Lama-kelamaan, label mulai melekat.
Anak malas.
Anak bermasalah.
Anak yang memang seperti itu perilakunya.
Perlahan, semua itu dianggap biasa.
Jika dilihat dari jarak dekat, yang sedang saya hadapi bukan sekadar persoalan disiplin atau motivasi belajar. Ada sesuatu yang telah menjadi pola kebiasaan yang perlahan dianggap biasa dan diwajarkan, yang bahkan tidak disadari oleh peserta didik yang bersangkutan.
Tentu sekolah tidak tinggal diam. Berbagai pendekatan disiplin dan pembinaan terus dilakukan dengan melibatkan guru, wali kelas, guru BK, kepala sekolah, hingga orang tua. Namun hasilnya belum menyentuh akar persoalan.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi?“
Pertanyaan tersebut terus berulang di kepala saya.
Pada setiap kegiatan belajar mengajar, saya menyisihkan sekitar sepuluh hingga lima belas menit di akhir kelas untuk sesi tanya jawab. Saya tidak membatasi topiknya harus berkaitan dengan materi pelajaran. Anak-anak bebas bertanya atau bercerita tentang apa saja. Bagi saya, ruang kecil itu bukan sekadar penutup pembelajaran. Di sanalah saya mencoba membangun koneksi, mengenal mereka lebih dekat, mendengar apa yang sering kali tidak sempat terucap di tengah pelajaran.
Dari ruang obrolan itu, saya memahami bahwa ada sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar masalah belajar yang dihadapi peserta didik. Percayalah, pada momen-momen itu saya benar-benar bisa merasakan ketulusan dan kejujuran mengalir deras dari wajah-wajah belia itu. Saya tidak melihat mereka sebagai anak-anak yang saya ajar. Di mata saya, anak-anak ini adalah suara-suara yang layak dan berhak didengarkan. Bahwa pada ruang bicara itu, kami setara, sebagai manusia.
Suatu hari, saya tergelitik mengajukan pertanyaan sederhana kepada mereka.
Apa yang kalian harapkan dari orang tua kalian?”
Jawaban mereka membuat saya terdiam cukup lama.
Ada anak yang ingin dengar tanpa dihakimi. Ada anak yang berharap tidak terus menerus dibanding-bandingkan dengan saudara atau anak lain. Ada anak yang hanya ingin diajak berbicara tanpa dimarahi terlebih dahulu.
Persoalannya memang tidak sesederhana anak pemalas atau anak yang suka melanggar aturan sekolah.
Dari obrolan-obrolan tersebut semakin menguatkan pemikiran bahwa banyak perilaku anak di sekolah sebenarnya menyimpan sesuatu yang tidak terlihat.
Saya teringat pada satu gagasan dari Philippa Perry dalam The Book You Wish Your Parents Had Read: “all behaviour is communication“, bahwa setiap perilaku, terutama yang terasa sulit dipahami sering kali merupakan bentuk komunikasi.
Saya lalu mencoba menggunakan sudut pandang dan pendekatan yang berbeda. Dan semuanya menjadi masuk akal. Anak yang terus melanggar aturan mungkin sedang mencoba menyampaikan sesuatu yang tidak mampu ia ucapkan. Anak yang enggan mengerjakan tugas barangkali bukan sedang menolak belajar, tetapi sedang memperlihatkan bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang sedang tidak baik-baik saja.
Jika semua perilaku adalah komunikasi, mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi “Mengapa anak ini seperti ini?”, melainkan “Apa yang sedang berusaha ia sampaikan?”
Penulis: Nafilah Nurdin
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.



