Techfin Insight — Di bawah langit Kota Cilegon yang cerah, puluhan orang duduk melingkar sambil memegang canting dan kain putih. Sebagian baru pertama kali mencoba membatik. Sebagian lainnya datang dengan harapan menemukan keterampilan baru yang kelak bisa menjadi sumber penghasilan.
Di ruang sederhana yang dibangun di kawasan Landmark Tugu Kota Cilegon itu, yang sedang berlangsung bukan sekadar pelatihan membatik. Ada sesuatu yang lebih besar: sebuah ruang yang membuka kesempatan bagi siapa saja untuk belajar, berkarya, dan tumbuh bersama.
Melalui program PLN Peduli, PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Banten berkolaborasi dengan Banten Inclusifa Preneur (BIP) menghadirkan pelatihan membatik inklusif yang dapat diakses oleh masyarakat dari berbagai latar belakang.
Ketika Keterampilan Menjadi Modal Masa Depan
Sejak pagi, para peserta belajar mengenal proses membatik secara langsung. Mulai dari menggambar pola, menggunakan canting, hingga memberi warna pada kain yang perlahan berubah menjadi karya bernilai seni.
Bagi sebagian peserta, pengalaman tersebut mungkin hanya terlihat sebagai kegiatan pelatihan. Namun bagi yang lain, itu adalah langkah awal menuju peluang ekonomi yang selama ini terasa jauh dari jangkauan.
Sekretaris Daerah Kota Cilegon, Ahmad Aziz Setia Ade Putra, menilai program seperti ini memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar transfer keterampilan.
“Program seperti ini sejalan dengan semangat Kota Cilegon untuk terus mendorong tumbuhnya masyarakat yang kreatif, mandiri, dan memiliki daya saing,” ujarnya.
Ruang yang Terbuka untuk Semua
Di balik kegiatan tersebut, terdapat gagasan yang sederhana namun penting: setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk berkembang.
Direktur Banten Inclusifa Preneur, Rina Rahmawati, menjelaskan bahwa BIP dibangun sebagai ruang belajar yang inklusif dan terbuka bagi siapa pun yang ingin meningkatkan kapasitas dirinya.
“Kami ingin menghadirkan kesempatan yang setara bagi siapa pun untuk mengembangkan keterampilan, meningkatkan kapasitas diri, dan membuka peluang usaha. Karena kami percaya setiap orang memiliki potensi untuk tumbuh dan berkarya,” katanya.
Ke depan, BIP tidak hanya fokus pada membatik. Berbagai program lain seperti kriya, menjahit, dan melukis juga akan dikembangkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan keterampilan berbasis ekonomi kreatif.
Lebih dari Sekadar Pelatihan
PLH General Manager PLN UID Banten, Bobby Cristya Surya, mengatakan bahwa pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu cara menghadirkan manfaat yang lebih luas di luar layanan kelistrikan.
Menurutnya, keberhasilan sebuah program sosial tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang hadir, tetapi dari peluang baru yang lahir setelah pelatihan berakhir.
Melalui dukungan terhadap Banten Inclusifa Preneur, PLN berharap semakin banyak masyarakat yang memperoleh keterampilan baru, membuka usaha, dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, selembar kain batik yang dihasilkan hari itu mungkin hanya terlihat sebagai sebuah karya. Namun di balik setiap goresan malam dan warna yang menempel, tersimpan sesuatu yang lebih berharga: rasa percaya diri, kesempatan, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Penulis: Arden Gustav
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.



