Techfin Insight — Kolaborasi strategis PLN senilai hingga Rp3,3 triliun resmi disepakati dalam gelaran Electricity Connect 2026 di ICE BSD City, Tangerang, Selasa (22/9/2026). Lima kesepakatan tersebut diarahkan untuk mempercepat transisi energi bersih sekaligus memperkuat fondasi kemandirian energi nasional.
Electricity Connect 2026 menjadi ruang pertemuan antara pemerintah, PLN, pelaku industri, investor, akademisi, dan mitra teknologi untuk menerjemahkan agenda transisi energi ke dalam kerja sama yang lebih konkret. Kementerian ESDM juga menegaskan bahwa forum tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem kelistrikan nasional di tengah meningkatnya kebutuhan energi akibat industrialisasi, hilirisasi, dan digitalisasi.
Lima kolaborasi PLN mencakup dedieselisasi terintegrasi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Battery Energy Storage System (BESS) hibrida untuk wilayah terisolasi, modernisasi Gardu Induk Tegangan Tinggi berbasis Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), penguatan rantai pasok dan alih teknologi komponen kritis kelistrikan, pemeliharaan aset generator dan motor listrik, serta ekspansi global layanan maintenance, repair, and overhaul (MRO) pembangkit di kawasan Asia-Pasifik.
Kolaborasi Strategis PLN untuk Mempercepat Transisi Energi
Arah kolaborasi tersebut sejalan dengan agenda pemerintah untuk meningkatkan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT). Dalam pembukaan Electricity Connect 2026, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan komitmen Indonesia terhadap target Net Zero Emissions (NZE) pada rentang 2050–2060.
Pemerintah mendorong porsi EBT sekitar 70 persen dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), sekaligus menjalankan program PLTS 100 GW. Kementerian ESDM menyebut program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketersediaan energi sekaligus membuka ruang investasi dan kolaborasi di sektor kelistrikan.
Bahlil menyampaikan bahwa pengembangan PLTS 100 GW membutuhkan investasi sekitar Rp1.140 triliun. Dalam proyeksi yang disampaikannya, program tersebut berpotensi menyerap 5,518 juta tenaga kerja, menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 140,16 juta ton CO2, serta menghasilkan potensi nilai pasar karbon hingga Rp6,31 triliun.
Besarnya kebutuhan investasi tersebut sekaligus membuat penguatan ekosistem industri dalam negeri menjadi bagian penting dari agenda transisi energi. Bahlil menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha serta mendorong penggunaan produk dalam negeri sepanjang kapasitas industrinya tersedia.
Dari PLTS dan BESS hingga Industri Komponen Kelistrikan
Lima kolaborasi yang disepakati PLN memperlihatkan bahwa transisi energi tidak hanya berkaitan dengan penambahan pembangkit energi terbarukan.
Dedieselisasi melalui PLTS dan BESS hibrida, misalnya, menyasar wilayah terisolasi dengan pendekatan sistem energi yang menggabungkan pembangkit surya dan penyimpanan energi. Di sisi lain, modernisasi gardu induk berbasis TKDN menempatkan penguatan industri domestik sebagai bagian dari pembangunan infrastruktur kelistrikan.
Kolaborasi pada rantai pasok dan alih teknologi komponen kritis juga memperluas agenda tersebut ke sektor manufaktur. Sementara pemeliharaan aset generator dan motor listrik serta ekspansi layanan MRO ke kawasan Asia-Pasifik menunjukkan peluang pengembangan kompetensi dan layanan ketenagalistrikan Indonesia di luar kebutuhan domestik.
Dengan demikian, nilai kerja sama hingga Rp3,3 triliun tidak hanya mencerminkan besarnya transaksi yang disepakati, tetapi juga menggambarkan luasnya ekosistem yang perlu dibangun untuk menopang transformasi sistem energi.
PLN Dorong Sistem Energi yang Andal dan Semakin Bersih
Direktur Utama PLN sekaligus Ketua Dewan Pengawas Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI), Darmawan Prasodjo, mengatakan kebutuhan listrik Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan hilirisasi, pusat data, digitalisasi, dan elektrifikasi.
Menurut Darmawan, kondisi tersebut membutuhkan sistem kelistrikan yang mencukupi, andal, terjangkau, dan semakin bersih. Ia menyebut percepatan PLTS 100 GW, dukungan BESS, Green Enabling Super Grid, serta digitalisasi end-to-end sebagai bagian dari penguatan sistem tersebut.
“Indonesia memiliki sumber daya dan permintaan. Dunia memiliki teknologi, keahlian, dan modal. Forum ini mempertemukan kekuatan itu agar kerja sama langsung menjadi program yang nyata,” ujar Darmawan.
Ia menambahkan, Electricity Connect 2026 berfungsi sebagai ekosistem kolaboratif yang mempertemukan arah kebijakan pemerintah, strategi PLN, serta teknologi dan investasi dari para mitra.
Lima kesepakatan strategis hingga Rp3,3 triliun yang lahir dalam forum tersebut menjadi salah satu bentuk konkret dari kolaborasi itu. Menurut Darmawan, dampaknya diharapkan tidak berhenti pada investasi, tetapi juga mendorong adopsi teknologi, pertumbuhan industri dalam negeri, penguatan sumber daya manusia, dan penciptaan lapangan kerja.
Electricity Connect 2026 sendiri mengusung tema “Powering Regional Sovereignty, Securing Energy Systems Resilience” dan menjadi bagian dari agenda memperkuat keandalan, keterjangkauan, serta kebersihan sistem kelistrikan Indonesia.
Penulis: Aira Safeeya
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.





