Techfin Insight — Setiap pagi, para siswa Madrasah Aliyah (MA) Citepuseun tetap datang ke sekolah seperti biasa. Mereka duduk di ruang kelas yang sebagian plafonnya telah jebol, belajar di bangunan yang mulai dimakan usia, dan menjalani hari-hari sekolah di tengah berbagai keterbatasan.
Namun ada satu hal yang tidak ikut runtuh bersama bangunan itu: semangat mereka untuk belajar.
Di Desa Citepuseun, Kabupaten Lebak, sekolah ini telah lama menjadi tempat tumbuhnya mimpi-mimpi anak muda. Para guru tetap mengajar, para siswa tetap hadir, dan proses belajar terus berjalan meski kondisi fasilitas jauh dari ideal.
Kini, harapan baru mulai hadir.
PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Banten melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Peduli melakukan peletakan batu pertama revitalisasi MA Citepuseun sebagai langkah awal menghadirkan lingkungan belajar yang lebih aman dan layak.
Lebih dari Sekadar Bangunan
Bagi masyarakat setempat, revitalisasi ini bukan hanya tentang memperbaiki dinding atau mengganti atap yang rusak.
Di balik pembangunan fisik tersebut, tersimpan harapan agar anak-anak di wilayah tersebut memiliki kesempatan belajar yang lebih baik dan lebih nyaman.
Suasana haru terasa saat kegiatan peletakan batu pertama berlangsung. Di hadapan para guru, siswa, tokoh masyarakat, dan warga sekitar, revitalisasi sekolah dipandang sebagai simbol bahwa pendidikan tetap menjadi prioritas yang harus dijaga bersama.
PLH General Manager PLN UID Banten, Bobby Cristya Surya, mengatakan bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang menentukan kualitas generasi masa depan.
“Ketika kami melihat kondisi sekolah ini, kami tidak hanya melihat bangunan yang membutuhkan perbaikan. Kami melihat anak-anak yang setiap hari datang membawa cita-cita dan mimpi mereka. Karena itu, kami ingin memastikan mereka memiliki tempat belajar yang aman dan layak untuk menggapai masa depan,” ujarnya.
Menjaga Harapan Tetap Tumbuh
Selama bertahun-tahun, para siswa dan guru MA Citepuseun telah menunjukkan bahwa keterbatasan fasilitas bukan alasan untuk berhenti belajar.
Di ruang-ruang sederhana itulah berbagai cita-cita lahir. Ada yang bercita-cita menjadi guru, tenaga kesehatan, pegawai pemerintahan, hingga wirausahawan yang ingin membangun daerahnya sendiri.
Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar, Dr. KH Jazuli Jawaini, MA, menilai revitalisasi ini akan memberikan dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar pembangunan gedung.
“Kami mengucapkan terima kasih atas perhatian dan kepedulian yang diberikan. Bantuan ini bukan hanya membangun sekolah, tetapi juga membangun optimisme dan semangat anak-anak untuk terus belajar,” katanya.
Menurutnya, lingkungan belajar yang lebih layak akan membantu siswa berkembang secara lebih optimal dan meningkatkan rasa percaya diri mereka dalam menatap masa depan.
Tempat Baru untuk Mimpi-Mimpi Lama
Peletakan batu pertama menjadi awal dari babak baru bagi MA Citepuseun.
Di atas lahan yang selama ini menjadi saksi perjuangan para guru dan siswa menghadapi keterbatasan, akan berdiri ruang belajar yang lebih aman dan nyaman. Sebuah tempat yang diharapkan mampu mendukung lahirnya generasi muda yang lebih siap menghadapi masa depan.
Bagi PLN UID Banten, revitalisasi ini bukan semata proyek pembangunan fisik. Lebih dari itu, ini adalah upaya menjaga agar mimpi-mimpi anak-anak tetap memiliki ruang untuk tumbuh.
Karena terkadang, perubahan besar tidak selalu dimulai dari kota-kota besar. Ia bisa berawal dari sebuah sekolah sederhana di pelosok daerah, tempat harapan masih terus menyala meski bangunannya mulai rapuh.
Penulis: Arden Gustav
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.



