Techfin Insight — Ada kalanya saya melihat konten tentang financial freedom di media sosial, lalu bertanya-tanya: sebenarnya, berapa banyak uang yang kita butuhkan untuk mencapai kebebasan finansial?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Namun, di tengah banyaknya cerita tentang kekayaan, investasi, dan pensiun dini yang beredar di Instagram dan TikTok, saya merasa ada satu hal yang sering kita lewatkan. Kita sibuk melihat pencapaian orang lain, tetapi belum tentu pernah menghitung kebutuhan kita sendiri.
Saya bisa memahami mengapa topik ini menarik. Siapa yang tidak ingin hidup tanpa terus-menerus khawatir tentang uang? Siapa yang tidak ingin memiliki kebebasan untuk memilih pekerjaan, menghabiskan waktu bersama keluarga, atau melakukan sesuatu yang disukai tanpa terlalu memikirkan tagihan bulan depan?
Namun, saya juga membayangkan seseorang yang setiap bulan menerima gaji pas-pasan. Sebagian besar penghasilannya habis untuk makan, membayar kontrakan, ongkos kerja, cicilan, dan kebutuhan keluarga. Ketika membuka media sosial, ia melihat orang lain bercerita tentang aset miliaran rupiah dan kemampuan untuk pensiun muda.
Barangkali muncul pertanyaan dalam pikirannya, “Gue kapan, ya, bisa financial freedom kayak Raditya Dika?”
Pertanyaan itu tidak salah. Yang melelahkan adalah ketika kita terus mengulanginya, membandingkan keadaan sendiri dengan pencapaian orang lain, lalu merasa hidup kita tertinggal jauh.
Saya teringat masa ketika mengumpulkan tabungan Rp10 juta untuk mengambil KPR subsidi saja terasa begitu berat. Angka itu mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Namun, bagi saya saat itu, mengumpulkannya membutuhkan perjuangan yang tidak kecil.
Pengalaman itu membuat saya semakin memahami bahwa angka selalu memiliki konteks. Rp10 juta bisa menjadi jumlah yang biasa saja bagi seseorang, tetapi menjadi hasil dari perjuangan berbulan-bulan bagi orang lain.
Seiring perjalanan hidup, saya juga mulai mereset cara berpikir. Saya belajar melihat kembali bagaimana saya memandang uang, mengambil keputusan, dan merespons keadaan. Saya menyadari bahwa perubahan tidak cukup hanya dengan berharap keadaan menjadi lebih baik. Ada cara berpikir dan kebiasaan yang perlu diperiksa, kemudian diubah jika memang tidak lagi membantu.
Tentu saja, mengubah pola pikir tidak otomatis membuat uang bertambah. Penghasilan, kesempatan, tanggungan keluarga, dan kondisi ekonomi tetap memiliki pengaruh besar. Namun, cara kita memahami keadaan dapat memengaruhi keputusan yang kita ambil dan langkah yang berani kita coba.
Mungkin itulah salah satu alasan mengapa saya tertarik pada pertanyaan tentang angka kebebasan finansial. Sebelum merasa terlalu jauh dari tujuan tersebut, bukankah kita perlu mengetahui berapa sebenarnya angka yang sedang kita kejar?
Menghitung Angka Financial Freedom
Selama ini, kita sering mendengar bahwa seseorang membutuhkan miliaran rupiah untuk mencapai kebebasan finansial. Angka itu bisa membuat kita bersemangat, tetapi juga bisa membuat tujuan tersebut terasa begitu jauh.
Padahal, kebutuhan setiap orang berbeda.
Seseorang yang menghabiskan Rp5 juta per bulan tentu memiliki kebutuhan berbeda dari seseorang yang menghabiskan Rp20 juta per bulan. Keduanya mungkin ingin hidup tanpa bergantung pada gaji, tetapi dana yang diperlukan untuk membiayai kehidupan mereka tidak sama.
Lalu, bagaimana cara memperkirakannya?
Salah satu pendekatan yang cukup dikenal dalam perencanaan pensiun adalah 4% Rule. Aturan ini membantu kita memperkirakan besarnya portofolio investasi berdasarkan pengeluaran hidup.
Rumusnya sederhana:
Target dana = pengeluaran tahunan × 25
Mengapa dikalikan 25? Karena 4% dari 25 adalah 1. Dengan demikian, dana sebesar 25 kali pengeluaran tahunan setara dengan satu tahun pengeluaran jika kita menarik 4% dari dana tersebut.
Mari kita gunakan contoh sederhana.
Misalnya, pengeluaran hidup kita Rp5 juta per bulan. Dalam setahun, kita membutuhkan Rp60 juta.
Jika menggunakan 4% Rule, perhitungannya menjadi:
Rp60 juta × 25 = Rp1,5 miliar.
Artinya, kita membutuhkan portofolio investasi sekitar Rp1,5 miliar untuk membiayai penarikan awal sebesar Rp60 juta per tahun berdasarkan pendekatan tersebut.
Bagaimana jika kebutuhan hidup kita berbeda?
- Pengeluaran Rp3 juta per bulan: target sekitar Rp900 juta.
- Pengeluaran Rp5 juta per bulan: target sekitar Rp1,5 miliar.
- Pengeluaran Rp8 juta per bulan: target sekitar Rp2,4 miliar.
- Pengeluaran Rp10 juta per bulan: target sekitar Rp3 miliar.
Dari sini, kita bisa melihat bahwa angka kebebasan finansial tidak selalu sama bagi setiap orang. Semuanya bergantung pada berapa banyak uang yang dibutuhkan untuk membiayai kehidupan yang ingin kita jalani.
Namun, setelah mengetahui angka tersebut, ada pertanyaan lain yang menurut saya tidak kalah penting: kalau targetnya sudah tercapai, lalu apa?
Apakah kita bisa langsung berhenti bekerja, bangun siang, menikmati hidup, dan membiarkan uang membiayai semuanya?
Tidak sesederhana itu.
Pertama, angka yang kita hitung tadi bukan sekadar uang yang dikumpulkan di rekening tabungan. Dalam penerapan 4% Rule, angka tersebut merujuk pada portofolio investasi yang diharapkan dapat menopang pengeluaran hidup selama bertahun-tahun. Artinya, kita perlu memahami bagaimana aset tersebut ditempatkan, bagaimana risikonya dikelola, dan bagaimana nilainya dapat berubah seiring waktu.
Kedua, 4% Rule bukan berarti setiap tahun kita bisa mengambil 4% dari saldo terakhir portofolio dan menganggap sisanya pasti aman. Dalam penerapan klasiknya, kita menarik sekitar 4% dari nilai portofolio pada awal masa pensiun, kemudian menyesuaikan nominal penarikan tersebut dengan inflasi pada tahun-tahun berikutnya. Pendekatan ini berasal dari penelitian historis di Amerika Serikat dan tidak menjamin hasil yang sama untuk setiap orang.
Ketiga, memiliki portofolio investasi tidak berarti kita bisa melupakan uang begitu saja. Kita tetap perlu memahami instrumen investasi, mengenali risiko, memperhatikan biaya, dan mengevaluasi apakah strategi yang digunakan masih sesuai dengan kebutuhan. Kita juga perlu bersiap menghadapi kemungkinan pasar turun ketika kita justru sedang membutuhkan uang untuk hidup.
Bukan berarti kita harus memantau pergerakan pasar setiap hari atau menjadi ahli yang mampu meramalkan harga saham. Namun, kita perlu memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengambil keputusan dengan sadar, termasuk ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.
Jadi, jika suatu hari kita mencapai angka yang dihitung melalui 4% Rule, bukan berarti seluruh urusan keuangan selesai. Kita mungkin memperoleh keleluasaan yang lebih besar untuk memilih apakah akan terus bekerja, mengurangi jam kerja, menjalankan usaha, atau melakukan hal lain yang bermakna bagi kehidupan kita.
Kebebasan finansial bukan berarti bebas dari semua keputusan tentang uang. Kita justru perlu memastikan bahwa keputusan-keputusan tersebut tidak membuat aset yang telah dikumpulkan habis sebelum waktunya.
Setidaknya, 4% Rule memberi kita titik awal untuk memahami besarnya dana yang mungkin dibutuhkan. Namun, menghitung target hanyalah satu bagian dari perjalanan. Memahami cara mengelola aset dan menggunakannya secara berkelanjutan merupakan bagian lain yang sama pentingnya.
Tidak Semua Orang Harus Memulai dari Financial Freedom
Meskipun kebebasan finansial merupakan tujuan yang baik, saya merasa tidak semua orang harus menjadikannya prioritas utama pada tahap kehidupannya sekarang.
Bukan karena financial freedom tidak penting. Namun, jarak antara keadaan kita hari ini dan tujuan tersebut bisa sangat berbeda.
Bagi seseorang yang penghasilannya masih pas-pasan, mengumpulkan dana darurat mungkin merupakan perjuangan tersendiri. Ia masih harus memastikan bahwa uang yang tersedia cukup untuk memenuhi kebutuhan sampai akhir bulan. Jika ada pengeluaran mendadak, tabungan yang baru terkumpul bisa kembali habis.
Dalam keadaan seperti itu, target memiliki portofolio investasi miliaran rupiah mungkin terasa terlalu jauh untuk dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Padahal, ada kemajuan yang bisa diperjuangkan sekarang. Mulai memiliki dana darurat, mengurangi utang, mengatur pengeluaran dengan lebih sadar, atau meningkatkan penghasilan sedikit demi sedikit.
Langkah-langkah tersebut mungkin belum membuat seseorang bebas secara finansial. Namun, semuanya bisa menjadi bagian dari perjalanan menuju kehidupan yang lebih stabil.
Dalam kelas Merawat Kebun Rezeki, saya menggunakan gagasan Lega Finansial untuk mengajak kita melihat hubungan dengan uang dari sudut pandang yang sedikit berbeda.
Bagi saya, kita tidak harus menunggu sampai memiliki kekayaan yang sangat besar untuk mulai merasa lebih lega. Ada ketenangan yang bisa dibangun sejak sekarang, seiring dengan kemampuan kita mengelola penghasilan, memenuhi kebutuhan, dan mempersiapkan diri menghadapi ketidakpastian.
Lega Finansial bukan berarti berhenti bermimpi atau menerima keadaan tanpa berusaha memperbaikinya. Ini tentang memiliki pijakan yang realistis untuk keadaan kita hari ini, sambil tetap membuka ruang bagi pertumbuhan di masa depan.
Seseorang yang baru mulai membangun dana darurat sedang membuat kemajuan. Seseorang yang perlahan mengurangi utang juga sedang memperbaiki keadaan keuangannya. Dan seseorang yang mulai memahami kebutuhan hidupnya sendiri sedang membangun fondasi untuk mengambil keputusan yang lebih baik.
Kita tidak harus menunggu sampai bisa hidup dari hasil investasi untuk mengakui kemajuan-kemajuan itu.
Berhenti Mengukur Hidup dengan Angka Milik Orang Lain
Saya tidak tahu apakah setiap orang benar-benar membutuhkan financial freedom dalam pengertian yang sama.
Ada orang yang ingin pensiun dini. Ada yang ingin tetap bekerja karena menikmati pekerjaannya. Ada pula yang ingin membangun bisnis tanpa terus-menerus khawatir tentang uang.
Masing-masing memiliki kehidupan, tanggung jawab, dan prioritas yang berbeda.
Bagi sebagian orang, mengumpulkan aset miliaran rupiah mungkin merupakan tujuan yang tepat. Bagi yang lain, prioritas saat ini mungkin lebih sederhana: memiliki penghasilan yang cukup, melunasi utang, menyiapkan dana darurat, dan memenuhi kebutuhan keluarga tanpa terus dihantui kecemasan.
Keduanya bukan perjalanan yang harus dipertentangkan.
Jika kita ingin mencapai kebebasan finansial, 4% Rule bisa menjadi salah satu alat untuk memperkirakan targetnya. Kita bisa mulai dengan menghitung pengeluaran tahunan, mempertimbangkan kebutuhan masa depan, lalu menyusun strategi untuk membangun aset secara bertahap.
Namun, jika angka itu masih terasa sangat jauh, kita tidak perlu menjadikannya alasan untuk terus menghukum diri sendiri.
Mungkin, sebelum bertanya kapan kita bisa menjadi seperti seseorang yang sudah mencapai kebebasan finansial, ada pertanyaan lain yang lebih dekat dengan kehidupan kita.
Berapa sebenarnya uang yang kita butuhkan untuk menjalani hidup dengan tenang? Apa yang bisa kita perbaiki dari keadaan keuangan sekarang? Dan langkah apa yang bisa mulai kita lakukan tanpa membuat diri sendiri semakin tertekan?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak membuat cita-cita kita menjadi lebih rendah. Justru, pertanyaan tersebut membantu kita menemukan jalan yang lebih nyata untuk mencapainya.
Sebab, perjalanan keuangan bukan perlombaan untuk mengumpulkan angka yang sama. Kita memiliki kebutuhan, tanggung jawab, kesempatan, dan titik awal yang berbeda.
Barangkali, kebebasan finansial tetap menjadi pohon yang ingin kita tanam untuk masa depan. Namun, kita tidak harus menunggu sampai pohon itu tumbuh besar untuk mulai merawat tanah tempatnya bertumbuh.
Ada hal-hal yang bisa kita benahi hari ini. Ada ketenangan yang bisa kita bangun sedikit demi sedikit. Dan ada kemajuan yang layak kita hargai, bahkan ketika angka di rekening kita belum sebesar yang kita impikan.
Setidaknya, kita bisa berhenti mengukur seluruh perjalanan hidup dengan pencapaian orang lain.
Lalu, mulai menghitung dengan lebih jujur: bukan hanya berapa banyak uang yang ingin kita miliki, tetapi kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin kita jalani.
Penulis: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




