Techfin Insight — Indonesia kembali menegaskan arah besarnya di sektor energi. Upaya membangun industri baterai nasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir kini resmi memasuki babak baru, ditandai dengan kolaborasi strategis antara Indonesia Battery Corporation (IBC), PT Aneka Tambang Tbk., dan konsorsium investor global.
Sebagai salah satu pemegang saham IBC, PT PLN (Persero) menyatakan dukungan penuh terhadap langkah ini. Bagi PLN, penguatan industri baterai dalam negeri bukan sekadar proyek investasi, melainkan fondasi penting bagi masa depan sistem kelistrikan nasional dan transisi energi bersih.
Kesepakatan Awal Industri Baterai Terintegrasi
Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan framework agreement antara Indonesia Battery Corporation, PT Aneka Tambang Tbk., dan Konsorsium HYD Investment Limited di Jakarta, akhir Januari 2026.
Kesepakatan ini menjadi pijakan awal pengembangan industri baterai nasional terintegrasi, mulai dari pertambangan bahan baku, pengolahan, hingga produksi baterai siap pakai. Total nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai USD 6 miliar atau setara sekitar Rp96 triliun, dengan rencana kapasitas produksi hingga 20 GWh.
Pemerintah Tekankan Kepentingan Nasional
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa proyek ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto terkait pengelolaan sumber daya alam yang berpihak pada kepentingan negara.
Ia menekankan pentingnya keterlibatan industri dan tenaga kerja dalam negeri, baik di kawasan industri baterai dan katoda di Jawa Barat, maupun di sektor tambang, smelter, dan pabrik hilirisasi di Halmahera Timur, Maluku Utara.
Proyek ini juga diproyeksikan membuka sekitar 10 ribu lapangan kerja baru, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri baterai.
Tak Hanya untuk Kendaraan Listrik
Menariknya, pengembangan baterai ini tidak hanya diarahkan untuk kebutuhan kendaraan listrik. Pemerintah juga menyiapkan proyek ini untuk mendukung pengembangan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan.
Baterai hasil produksi dalam negeri akan menopang program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas hingga 100 GW. Artinya, industri baterai ini diposisikan sebagai tulang punggung sistem kelistrikan hijau di masa depan.
Transfer Teknologi Jadi Kunci
Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, menjelaskan bahwa framework agreement ini baru tahap awal. Selanjutnya, para pihak akan masuk ke fase joint feasibility study sebelum menandatangani definitive agreement.
Fokus utama kemitraan ini bukan hanya investasi, tetapi juga penguasaan teknologi dan penguatan kapasitas industri nasional melalui transfer pengetahuan dari mitra global.
PLN: Baterai adalah Masa Depan Kelistrikan
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menilai industri baterai terintegrasi sebagai elemen kunci dalam membangun sistem kelistrikan yang adaptif dan berkelanjutan.
Bagi PLN, keberadaan baterai dalam negeri akan memperkuat pemanfaatan energi terbarukan, mempercepat ekosistem kendaraan listrik, serta meningkatkan ketahanan pasokan energi nasional tanpa bergantung penuh pada produk impor.
Langkah ini menegaskan bahwa transisi energi tidak hanya soal mengganti sumber listrik, tetapi juga membangun industri strategis yang menopang kemandirian energi Indonesia dalam jangka panjang.
Penulis: Aira Safeeya
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




