Techfin Insight – Bayangkan kamu punya kesempatan kuliah ulang di tahun 2025. Jurusan apa yang kamu pilih?
Nah, pertanyaan ini juga dilontarkan kepada Jensen Huang, CEO Nvidia dan salah satu manusia terkaya di dunia dengan kekayaan senilai Rp2.400 triliun.
Saat berada di Beijing pekan lalu, seorang jurnalis bertanya:
“Jika kamu adalah versi Jensen berusia 22 tahun yang baru saja lulus kuliah di 2025, dengan ambisi yang sama, apa yang akan kamu fokuskan?”
Jawabannya mengejutkan. Bukan coding. Bukan AI. Tapi ilmu fisika sains.
“Untuk Jensen muda yang berusia 20 tahun, yang telah lulus sekarang, dia mungkin akan memilih … lebih banyak ilmu fisika sains daripada ilmu perangkat lunak,” ujar Huang, dikutip dari CNBC International.
Dari Insinyur ke Raja Chip AI
Perjalanan Jensen Huang bukan dimulai dari perusahaan besar atau dana jutaan dolar.
Ia memulai kariernya sebagai mahasiswa teknik elektro di Oregon State University, lulus pada usia 20 tahun, dan melanjutkan ke Stanford untuk meraih gelar master.
Pada 1993, saat masih berusia 30-an tahun, ia bersama dua rekannya—Chris Malachowsky dan Curtis Priem—mendirikan Nvidia, bukan di gedung pencakar langit, melainkan di restoran Denny’s di San Jose, California.

Selama tiga dekade memimpin Nvidia, Huang berhasil mengubah perusahaan itu dari produsen kartu grafis menjadi pemimpin dunia dalam teknologi AI dan komputasi paralel.
Bahkan, Nvidia kini menjadi perusahaan paling berharga di dunia dengan kapitalisasi pasar menembus US$4 triliun pada 2025.
Menyambut Era Physical AI
Huang menyebut dunia saat ini sudah melalui dua gelombang besar AI:
- Perception AI, ketika komputer mulai bisa “melihat” dan mengenali gambar lewat pembelajaran mendalam. Era ini dimulai saat munculnya model AlexNet pada 2012.
- Generative AI, seperti ChatGPT atau Sora—AI yang bisa menciptakan teks, gambar, musik, bahkan video dari input manusia.
Yang berikutnya?
Gelombang ketiga adalah Physical AI,” kata Huang.
Ini adalah fase ketika AI tak hanya berpikir atau menciptakan, tapi juga berinteraksi dengan dunia nyata.
Bayangkan AI dalam robot cerdas, kendaraan otonom, atau alat-alat medis yang bisa membuat keputusan sendiri berdasarkan fisika dan lingkungan.
Mengapa Ilmu Fisika Jadi Penting?
Di era Physical AI, perangkat lunak saja tidak cukup. Kamu harus paham bagaimana dunia nyata bekerja: energi, material, gerakan, suhu, tekanan, dan interaksi antar benda.
Semua itu adalah ranah ilmu fisika dan sains alam.
Huang tidak sekadar melihat tren sesaat. Ia membaca arah jangka panjang.
Maka, jika hari ini kamu adalah mahasiswa baru, atau bahkan pekerja yang ingin belajar ulang, ilmu fisika dan sains bisa jadi pilihan yang lebih relevan untuk masa depan teknologi 10–20 tahun ke depan.
Jurusan yang Layak Dipertimbangkan
Kalau kamu terinspirasi mengikuti saran Jensen Huang, berikut beberapa bidang studi yang masuk dalam kategori “ilmu fisika sains”:
- Fisika (Physics)
- Astronomi dan Astrofisika
- Kimia
- Ilmu Material dan Nanoteknologi
- Ilmu Bumi dan Atmosfer
- Rekayasa Mekanika dan Termal
- Teknik Robotik dan Mekatronika (gabungan fisika, elektro, dan coding)
Semua ini akan sangat dibutuhkan saat AI tak hanya hidup di layar, tapi bergerak dan berinteraksi di dunia nyata.
Inspirasi Bukan dari Masa Lalu, Tapi Masa Depan
Yang menarik, Huang tidak mengatakan “pelajari apa yang saya pelajari dulu,” tapi justru mendorong generasi muda untuk melihat ke depan.
Ia sudah melalui fase membangun software dan perusahaan. Tapi kini, ia percaya bahwa sains dasar adalah pondasi untuk membangun dunia baru.
Kalau kamu sedang memilih jurusan kuliah, atau berpikir untuk pindah haluan karier, bisa jadi ini waktunya melirik kembali ilmu alam dan fisika sains.
Bukan hanya demi kerjaan sekarang, tapi untuk jadi bagian dari revolusi besar teknologi berikutnya.




