Techfin Insight — Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah berita yang membuat dada terasa sesak. Sepasang suami istri yang baru menikah ditemukan tak sadarkan diri di sebuah vila glamping di Sumatra Barat. Sang istri dinyatakan meninggal dunia, sementara sang suami masih lemah dan harus dilarikan ke rumah sakit.
Dugan awal penyebabnya adalah karena gas karbon monoksida (CO) dari pemanas air (water heater) bertenaga gas. Tabung gas diletakkan di dalam kamar mandi tanpa ventilasi yang memadai. Ruangan tertutup rapat, dan lebih memprihatinkan lagi, di informasikan juga jika penginapan tersebut belum memiliki izin operasional resmi.
Saya terdiam lama membaca berita itu. Bayangkan, pasangan yang datang untuk menikmati bulan madu, justru kehilangan segalanya karena kelalaian dalam aspek keselamatan. Dan saya yakin, jika pengelola sudah memahami dasar-dasar keselamatan dan mengurus izin sesuai aturan, peristiwa ini bisa dihindari.
Bisnis Perhotelan Lebih dari Sekadar Estetika
Beberapa tahun terakhir, tren glamping, vila, dan homestay memang berkembang pesat di berbagai daerah. Banyak pengusaha muda yang penuh semangat ingin menghadirkan pengalaman “liburan alami dan mewah” bagi tamu. Namun, sering kali saya melihat satu hal penting terabaikan: keselamatan.
Kita sering terpaku pada desain yang indah, pemandangan yang “instagramable”, atau fasilitas yang nyaman. Padahal, semua itu akan kehilangan maknanya jika tamu tidak merasa aman. Keselamatan bukan sekadar formalitas administrasi saat mengurus izin. Ia adalah bagian dari nilai bisnis itu sendiri, karena tamu tidak hanya membeli tempat tidur—mereka membeli rasa tenang.
Aspek-aspek Keselamatan yang Wajib Diperhatikan
Sebagai seseorang yang lama berkecimpung di bidang keselamatan kerja dan menyukai traveling dan menginap di hotel, saya sering menemukan pengelola penginapan yang belum memahami apa saja aspek dasar yang seharusnya dipenuhi. Berikut beberapa hal yang perlu menjadi perhatian setiap pemilik usaha penginapan, baik kecil maupun besar:
- Keselamatan Listrik (Electrical Safety)
Pastikan instalasi listrik dilakukan oleh tenaga ahli bersertifikat. Kabel harus tertanam rapi, tidak berserakan atau menggantung di area tamu. Hindari penggunaan colokan bertumpuk yang berisiko panas dan korsleting. Satu percikan kecil bisa berujung kebakaran besar. - Keselamatan Kebakaran (Fire Safety)
Sediakan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) di titik strategis, detektor asap (smoke detector), dan jika memungkinkan sistem sprinkler. Yang tak kalah penting: latih staf mengetahui cara menggunakan APAR dan prosedur evakuasi dasar. Karena saat darurat, setiap detik sangat berharga. - Keselamatan pada Tangga dan Ketinggian
Banyak penginapan memiliki tangga artistik tanpa pegangan tangan, atau balkon tanpa pagar pengaman. Risiko jatuh tinggi, terutama bagi anak-anak. Tangga harus memiliki handrail, pijakan anti-slip, dan pembatas cukup tinggi agar tamu tidak terjatuh. - Keselamatan Gas dan Bahan Kimia (Chemical & Gas Safety)
Hindari penempatan tabung gas di dalam ruangan tertutup. Pastikan ventilasi cukup dan tabung berada jauh dari sumber panas. Bahan pembersih berbasis kimia juga perlu disimpan di area tersendiri, bukan di kamar tamu atau dapur terbuka. - Kebersihan dan Sanitasi (Hygiene & Sanitation Safety)
Keselamatan juga berarti melindungi tamu dari penyakit. Pastikan air bersih, sistem pembuangan limbah tertutup, dan area dapur higienis. Gunakan disinfektan sesuai standar dan jaga kebersihan kamar mandi, linen, serta kolam renang. Sanitasi yang buruk bisa menimbulkan risiko infeksi kulit, gangguan pernapasan, bahkan keracunan makanan. Ingat, tamu tidak akan merasa aman jika kebersihan tidak terjaga. - Pelatihan Karyawan dan Kesiapsiagaan (Safety Training & Emergency Preparedness)
Karyawan adalah garda depan keselamatan. Mereka perlu dibekali pelatihan pencegahan kecelakaan, cara evakuasi, hingga pertolongan pertama (P3K). Pengetahuan sederhana seperti menutup gas dengan benar, mengenali bau kebocoran, atau membantu tamu saat terjadi kebakaran dapat menyelamatkan nyawa. Jangan hanya melatih keramahan dalam pelayanan—latih juga kesiapsiagaan dalam keadaan darurat.
Peran Pemerintah dan Edukasi bagi Pengusaha
Saya percaya bahwa pemerintah daerah juga memegang peran penting dalam menciptakan ekosistem pariwisata yang aman. Proses perizinan usaha seharusnya tidak hanya menilai aspek administrasi, tapi juga aspek keselamatan, kebersihan, dan kesiapan operasional.
Edukasi nyata bagi masyarakat dan pelaku usaha perlu diperkuat—melalui seminar, workshop, atau modul panduan sederhana. Bagi banyak pengusaha baru, istilah seperti “APAR”, “smoke detector”, “sanitasi”, atau “ventilasi aman” mungkin masih terdengar asing. Karena itu, pembinaan yang praktis dan mudah dipahami akan jauh lebih efektif daripada sekadar pemberian sanksi.
Namun demikian, ketika ditemukan pelanggaran berat, tindakan tegas tetap diperlukan. Inspeksi lapangan (walk-through inspection) wajib dilakukan sebelum izin operasi diterbitkan. Jika pengusaha tetap beroperasi tanpa izin dan tanpa memenuhi aspek keselamatan, penutupan sementara atau pencabutan izin harus diberlakukan. Ini bukan untuk mempersulit, tapi untuk melindungi nyawa manusia.
Dasar Hukum dan Standar yang Mengatur Keselamatan Hotel
Bagi para pelaku usaha, penting untuk mengetahui bahwa aspek keselamatan dan kesehatan hotel bukan sekadar rekomendasi moral—tetapi diatur secara resmi oleh pemerintah. Beberapa regulasi utama yang perlu diperhatikan antara lain:
- Permenkes No. 80/Menkes/Per/II/1990 tentang Persyaratan Kesehatan Hotel
Diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan, aturan ini menekankan pentingnya sanitasi, kebersihan air, pembuangan limbah, dan kesehatan lingkungan hotel. - Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif No. 13 Tahun 2020
Mengatur tentang Standar dan Sertifikasi Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian (CHSE) bagi akomodasi wisata, termasuk hotel dan glamping. CHSE menjadi tolok ukur penting untuk menjamin keamanan dan kenyamanan wisatawan. - Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif No. 4 Tahun 2021
Mengatur standar usaha hotel, termasuk aspek keselamatan, kesehatan, dan pelayanan minimum yang wajib dipenuhi pengelola.
Dengan adanya peraturan-peraturan ini, pemerintah sebagai regulator dan pengawas seharusnya juga berperan aktif memberikan penyuluhan dan pendampingan berkelanjutan kepada para pelaku usaha. Regulasi hanya akan efektif jika diikuti dengan edukasi dan pengawasan yang konsisten.
Keselamatan adalah Tanggung Jawab Moral
Saya tahu, membangun usaha perhotelan tidak mudah. Butuh modal, kreativitas, dan semangat besar. Namun di atas semua itu, ada satu hal yang tidak boleh diabaikan: nyawa tamu adalah tanggung jawab kita.
Bisnis bisa dibangun kembali, bangunan bisa direnovasi, tetapi kehilangan nyawa tidak bisa ditebus dengan apa pun. Jangan sampai kita hanya fokus pada kata “nyaman”, tapi lupa bahwa kenyamanan sejati dimulai dari rasa aman.
Sebagai seseorang yang lama bekerja di bidang keselamatan, saya menulis ini bukan untuk menyalahkan siapa pun, tapi untuk mengajak kita semua—terutama para pemilik usaha penginapan—untuk lebih peduli. Karena keselamatan bukan hanya soal aturan, tetapi tentang empati, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap kehidupan orang lain.
SafetyWithChevy — Karena Kenyamanan Sejati Dimulai dari Keselamatan.
Penulis: Chevy Piliang
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




