Techfin Insight – Bayangkan sinar cahaya tak kasat mata yang melesat di antara dua kota, menembus udara, membawa koneksi internet berkecepatan tinggi—tanpa kabel, tanpa satelit, tanpa menunggu puluhan tahun pembangunan infrastruktur.
Itulah yang sedang dilakukan Taara, anak teknologi terbaru dari induk raksasa Google, Alphabet.
Ketika Elon Musk sibuk menebar satelit Starlink ke langit, Alphabet meluncurkan sebuah pendekatan berbeda.
Bukan dengan menembak sinyal dari luar angkasa, melainkan dengan membangun jaringan cahaya yang menari dari gedung ke gedung, gunung ke gunung, menembus batas konektivitas dengan cara yang lebih sunyi, namun tak kalah revolusioner.
Kami tidak mengorbitkan teknologi ke langit, kami memantulkannya di antara cermin.
Mahesh Krishnaswamy, CEO Taara
Dari Balon ke Laser: Evolusi Inovasi Alphabet
Masih ingat Project Loon, proyek balon internet yang terbang tinggi di stratosfer? Alphabet sempat menggantung harapan besar di sana, sebelum akhirnya menghentikannya pada 2021.
Tapi dari puing-puing Loon, lahirlah sesuatu yang lebih fokus: Taara.
Kini, Taara resmi dipisahkan dari laboratorium X milik Alphabet, dan berdiri sebagai entitas mandiri. Dengan status ini, Taara lebih leluasa menerima pendanaan eksternal dan memperluas jangkauan bisnisnya secara global.
Salah satu investor awalnya adalah Series X Capital, sementara Alphabet masih menggenggam saham minoritas—cukup untuk mengarahkan visi, tanpa membatasi langkah.
Bagaimana Taara Bekerja?
Berbeda dari Starlink yang menaruh ribuan satelit di orbit rendah, Taara bekerja dengan sistem Free Space Optical Communication (FSOC)—teknologi yang mengirim data melalui sinar laser tak terlihat melintasi udara terbuka.
Terminal pintar milik Taara saling mengarahkan sinar cahaya satu sama lain.
Begitu sinyal ditemukan, sistem langsung menguncinya dengan kecepatan hingga 20 Gbps dalam jarak 20 kilometer.

Yang membuatnya menakjubkan, terminal-terminal ini dilengkapi sensor dan algoritma yang mampu menyesuaikan posisi secara real-time.
Bahkan dalam kondisi cuaca buruk seperti kabut atau hujan ringan, sinyal tetap bisa dijaga tetap stabil.
Bayangkan dua cermin yang saling mencari di tengah angin dan kabut. Begitu mereka saling melihat, tidak ada lagi jarak terlalu jauh.
Taara vs Starlink: Siapa yang Menjangkau Lebih Banyak?
Dua-duanya menjanjikan hal yang sama: internet cepat untuk dunia yang terpinggirkan.
Namun cara mencapainya berbeda.
| Taara | Starlink | |
|---|---|---|
| Teknologi | Laser (FSOC) | Satelit Orbit Rendah |
| Pendekatan | Terestrial, garis pandang langsung | Satelit, spektrum radio |
| Tantangan | Cuaca, halangan visual | Biaya peluncuran, gangguan spektrum |
| Wilayah Uji Coba | India, Afrika, Kinshasa–Brazzaville | 125 negara, termasuk Indonesia |
| Kelebihan | Tanpa infrastruktur kabel mahal | Cakupan sangat luas |
Sementara Starlink sudah mengumpulkan lebih dari 5 juta pelanggan, Taara masih dalam fase ekspansi.
Namun keunggulannya adalah biaya implementasi yang jauh lebih rendah dan skalabilitas yang tinggi—selama ada dua titik yang bisa “saling melihat”.
Menghubungkan Dunia lewat Udara
Salah satu pencapaian menarik Taara terjadi di Afrika: Ia berhasil menghubungkan Kinshasa dan Brazzaville, dua ibu kota negara yang dipisahkan oleh Sungai Kongo.
Biasanya, butuh kabel bawah air yang mahal dan rentan rusak. Taara melakukannya dalam udara terbuka—tanpa menggali tanah atau meluncurkan satelit.
Teknologi yang paling transformatif sering kali datang tanpa suara. Hanya cahaya yang bergerak dalam diam.
Keterbatasan yang Perlu Diakui
Taara memang menjanjikan, tetapi tidak tanpa batas.
Karena berbasis sinar laser, teknologi ini butuh garis pandang langsung antara dua titik. Gedung, pohon, atau bahkan kabut tebal bisa mengganggu.

Maka wilayah dengan medan rumit atau cuaca ekstrem masih jadi tantangan.
Namun, pendekatan Taara tetap menjadi pelengkap penting di tengah dominasi model satelit.
Terutama untuk kawasan urban padat, daerah pegunungan, atau kota-kota yang ingin solusi cepat tanpa menggali jalanan.
Lanskap Baru Internet Global: Makin Padat, Makin Terjangkau?
Kini, peta konektivitas dunia semakin kompleks:
- Starlink mendominasi satelit.
- OneWeb (yang kini bergabung dengan Eutelsat) bergerak cepat di Eropa dan Asia Tengah.
- Taara membangun jaringan darat berbasis cahaya.
- Belum lagi perusahaan seperti Amazon Project Kuiper dan AST SpaceMobile yang bersiap masuk gelanggang.
Persaingan ini bukan hanya soal siapa yang tercepat. Tapi siapa yang paling fleksibel, efisien, dan terjangkau bagi miliaran manusia yang masih menunggu terhubung.
Masa Depan Internet Tidak Satu Arah
Apakah Taara akan mengalahkan Starlink? Belum tentu. Tapi yang pasti, dunia kini punya lebih dari satu cara untuk menjangkau mereka yang selama ini hidup di luar jangkauan.
Dalam lanskap teknologi yang semakin luas, mungkin jawabannya bukan satu solusi mengalahkan yang lain, melainkan semua solusi bekerja bersama.
Cahaya, satelit, kabel, dan gelombang—selama mereka membawa pengetahuan dan koneksi ke tempat yang membutuhkannya, kita sedang menuju dunia yang lebih setara.
Penulis: Liora N. Shasmitha
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.



