Dalam beberapa tahun terakhir, fiksi Indonesia kerap bermain di wilayah luka batin, keluarga yang timpang, dan tokoh-tokoh yang mencoba healing dengan cara masing-masing.
Namun sedikit yang berani melacak proses itu hingga ke konsekuensi paling sunyi: apa yang terjadi setelah luka itu tidak lagi jadi pusat cerita, melainkan bagian dari keseharian yang harus diurus berdampingan dengan listrik, cicilan, dan biaya sekolah anak.
Duologi Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka dan Laki-laki yang Membawa Pohon di Dalam Dada bergerak tepat di wilayah itu.
Jika buku pertama dapat dibaca sebagai kisah seorang lelaki bernama Raif yang belajar menamai luka dan menanam “pohon-pohon” kecil dalam dadanya, buku kedua membuka babak yang lebih pelik: bagaimana pohon-pohon itu bertahan ketika ia pergi jauh, dan bagaimana orang-orang yang pernah ia selamatkan memilih hidup tanpa terus-menerus berutang pada masa lalu.
Dari Halaman Rumah di Serang ke Kelas-kelas Kecil di Hong Kong
Buku pertama memperkenalkan pembaca pada Raif, rumah putih di Serang dengan pancuran bambu dan Ficus virens di halaman, serta keluarga Rangga-Dinda-Keira yang nyaris runtuh oleh kebohongan, kelelahan, dan rasa bersalah. Di sana, pohon-pohon menjadi metafora yang konsisten: luka tidak dikubur, melainkan ditanam; diberi nama, diberi air, dan dibiarkan tumbuh pelan-pelan.
Laki-laki yang Membawa Pohon di Dalam Dada melanjutkan cerita tepat di titik ketika Raif memilih pergi ke Hong Kong. Di kota yang dipenuhi trem dan gedung tinggi itu, ia mengajar kelas-kelas literasi finansial bagi pekerja migran, menuliskan kata TENANG di papan tulis, mengajarkan konsep “kebun rezeki”, dan berulang kali mengingatkan peserta agar tidak terlalu keras pada diri sendiri. Yang menarik, kalimat-kalimat “bijak” yang keluar dari mulutnya justru memantul balik: menjadi cermin yang menampar lembut pipinya sendiri.
Penulis menjahit dunia finansial, migrasi, dan spiritualitas sehari-hari tanpa terasa tempelan. Skema dana darurat, pos pendidikan anak, deposito untuk uang muka rumah, hingga royalti buku yang ditolak penulisnya sendiri, semuanya hadir sebagai bagian wajar dari kehidupan tokoh; bukan brosur terselubung, bukan jargon motivasi. Tenang finansial dihadirkan sebagai salah satu syarat penting bagi tenang batin—tanpa menggurui.
Diam: Dari Hormat Menjadi Hukuman
Salah satu bab kunci di buku kedua, “Refraksi Kabar”, memusat pada satu momen sederhana namun menghantam: Raif akhirnya membuka locked chat yang selama empat tahun ia biarkan penuh pesan abu-abu dari Rangga. Dua centang abu-abu yang tak pernah berubah biru tiba-tiba bukan lagi sekadar ikon di layar, melainkan bukti konkret bahwa ada seseorang yang ia biarkan berbicara sendirian di balik pintu yang sengaja ia tutup atas nama “hormat”.
Di sini, penulis mengajukan pertanyaan moral yang tajam: sampai titik mana diam dapat disebut hormat—dan kapan ia berubah menjadi bentuk halus dari hukuman? Raif, yang di kelas mengajarkan bahwa menunda kabar ke orang tua dan anak adalah bentuk kekerasan kecil, dipaksa mengakui bahwa ia sendiri melakukan kekerasan serupa, hanya dengan cara yang lebih rapi.
Adegan ketika Raif membaca satu per satu pesan Rangga—dari Papua, dari barak, dari rumah yang kembali ia tempati—merupakan salah satu bagian emosional paling kuat di buku ini. Rasa bersalah, cinta yang ditahan, dan rindu yang sengaja dipelintir menjadi “pengorbanan mulia” dipreteli pelan-pelan hingga tak menyisakan pembelaan manis. Namun penulis tidak menjatuhkan vonis; ia hanya menyediakan cermin, membiarkan pembaca berhadapan dengan pertanyaan: berapa banyak orang yang diam-diam pernah kita hukum dengan diam?
Cinta yang Tidak Dipaksa Memilih “Pemenang”
Keberanian lain dari duologi ini terletak pada cara ia menangani relasi yang rumit tanpa menjadikannya sensasi murahan. Rangga jelas mencintai istrinya, Dinda, sebagai rumah: perempuan yang menemani, mengasuh Keira, mengelola uang, dan membuka pintu setiap hari. Namun ia juga mencintai Raif, dengan cara yang tidak mudah dikotakkan oleh istilah-istilah baku.
Alih-alih mengubah ini menjadi melodrama “siapa yang dipilih”, penulis justru menggiring pembaca ke wilayah yang lebih sulit: bagaimana orang dewasa mengakui keberadaan rasa itu tanpa menghancurkan rumah yang telah susah payah dibangun, dan tanpa memalsukan agama maupun nurani?
Dinda mungkin adalah salah satu tokoh perempuan paling menarik dalam fiksi Indonesia mutakhir. Ia taat pada nilai-nilainya, tidak naif, dan tidak mau lagi disembunyikan. Dalam satu percakapan penting, ia berkata kepada Rangga bahwa ia mencintai suaminya “dengan penuh, dengan Raif yang tetap tinggal di hatimu”. Ia mengakui: sebagian dari diri suaminya akan selalu mengingat lelaki lain itu, dan itu bukan dosa, melainkan cara tubuh mengingat orang yang pernah menyelamatkannya. Permintaannya “sederhana”: jika Rangga memilih tinggal, tinggallah dengan jujur.
Di tangan penulis yang lain, adegan-adegan seperti pelukan Dinda kepada Raif di bawah Ficus atau pelukan bertiga di bawah flamboyan (Rangga–Raif–Keira) bisa tergelincir menjadi perayaan sensasional. Di sini, semuanya diatur dengan disiplin etik yang ketat. Syariat diakui, rasa pun tidak disangkal. Konflik dihadirkan tanpa kameraisasi; klimaks terjadi dalam bisik-bisik, jeda, dan tangan yang saling menggenggam seperlunya—seolah penulis sadar bahwa kadang yang paling sakral justru yang tidak disorot terang-benderang.
Dari Rumah Lama ke Rumah Baru: Redistribusi Pulang
Bab “Spektrum Pulang” menjadi semacam jantung dari buku kedua. Raif akhirnya kembali menjejakkan kaki di Serang setelah lima tahun, berdiri lagi di bawah Ficus virens yang kini meneduhkan hampir seluruh halaman, menyentuh batangnya, dan menyapa kucing tua Mocha yang masih mengingat bau tangannya. Di taman KP3B, flamboyan menjadi saksi pertemuan ulang antara dua lelaki yang pernah saling menyelamatkan. Pelukan mereka tak lagi meminta “kembali”, hanya memastikan bahwa keduanya benar-benar hidup.
Penulis menolak memberikan “akhir bahagia” versi kembang api. Rangga tidak meninggalkan istrinya. Raif tidak menetap di kota yang dulu hampir menghancurkannya. Sebaliknya, mereka berdamai dengan kenyataan: Rangga tetap di rumah barunya bersama DInda dan Keira; Raif pulang ke hidupnya sendiri, kali ini bersama Ziraf, dan memilih basis baru di Singapura agar jarak dengan Serang tidak lagi menjadi hukuman enam jam penerbangan.
Rumah lama di Serang—yang di buku pertama menjadi locus trauma—tidak dijadikan museum luka. Dalam epilog, rumah itu berfungsi sebagai ruang belajar, tempat kelas literasi finansial dan kelas menulis digelar, tempat para istri anggota dan pekerja migran datang untuk belajar menata uang dan napas. Langkah ini mengikat kembali tema buku pertama: pohon-pohon yang dulu ditanam setelah luka kini memberi teduh bagi lebih banyak orang.
Epilog sebagai Ruang Bernapas, Bukan Sekadar Bonus
Epilog Laki-laki Menanam Pohon di Dalam Dada yang juga menjadi judul buku kedua ditulis dari sudut pandang penulis-di-dalam-cerita yang diundang menghadiri syukuran rumah baru Rangga. Di sana, semua tokoh utama hadir: Rangga, Dinda, Keira, Raif, Ziraf, Amar, juga Ayra. Mereka makan malam, bercanda, mengatur rencana basecamp di rumah lama, hingga memikirkan siapa yang akan mengurus kelas-kelas PMI dan kurikulum literasi ke depan.
Keputusan untuk menghadirkan epilog yang panjang dan tenang ini patut diapresiasi. Banyak novel selesai di titik ketika tokoh saling memeluk dan mengucapkan maaf; duologi ini justru menolak berhenti di sana. Ia ingin memastikan pembaca melihat bahwa “sesudah menanam pohon di dalam dada”, orang-orang ini tetap harus menata anggaran, memutuskan kota mana yang akan ditinggali, menitip anak ke siapa, dan memikirkan masa depan orang-orang yang lebih muda.
Epilog ini menegaskan bahwa penyembuhan bukan garis akhir, melainkan cara baru berjalan. Dan di meja makan rumah baru Rangga—dengan nasi hangat, tumis kangkung, sambal, dan gelas-gelas teh—pembaca akhirnya melihat akhir yang paling wajar: tidak ada yang diumumkan menang, tidak ada yang dipermalukan kalah. Semua orang sekadar sepakat cara hidup berikutnya.
Bahasa yang Tenang, Metafora yang Tumbuh Konsisten
Secara gaya, penulis konsisten menjaga jarak yang pas antara liris dan jernih. Metafora pohon, air, dan rumah hadir berulang namun tidak terasa dipaksakan: Ficus virens, pancuran bambu, flamboyan, bahkan rencana “Kolam Raif” dengan ikan-ikan yang kelak akan diberi nama, menjadi jalinan simbol yang menyatukan kedua buku. Epigraf di setiap bab—“Catatan di Buku Kraft Raif”—menjadi kompas tematik yang halus, bukan sekadar pajangan quote.
Jika di buku pertama metafora berpusat pada akar, tanah, dan tubuh-tubuh pohon—wangi kelopak cempaka di teras, daun ara bunut yang jatuh, suara gesek batang bambu di halaman—maka di buku kedua penulis sengaja menggeser lensa ke wilayah yang lebih “dingin”: bahasa sains.
Judul-judul bab yang mengandung kata seperti inersia, intropi, fotosintesis, kapilaritas, superposisi, interferensi, hingga spektrum bukan sekadar hiasan terminologi. Ia bekerja sebagai kerangka berpikir: cara lain untuk membaca luka, bukan cuma sebagai “perasaan yang datang dan pergi”, tetapi sebagai gejala yang tunduk pada pola, hukum, dan kecenderungan.
Pendekatan “dari akar ke kuantum” ini membuat pengalaman batin tokoh-tokohnya tidak berhenti di wilayah metafisika dan doa. Rasa bersalah, rindu, dan kebutuhan untuk pulang diterangkan seperti gejala fisika: inersia yang membuat seseorang tetap bertahan di orbit yang sama, entropi yang pelan-pelan merapuhkan rumah lama, superposisi yang memungkinkan cinta hadir di dua posisi sekaligus, dan spektrum yang menunjukkan bahwa pulang selalu punya banyak panjang gelombang.
Alih-alih menjadikan sains sebagai aksesori agar tampak intelek, penulis justru memakainya sebagai jembatan: mengajak pembaca—yang hidup di era algoritma, laporan keuangan, dan data—untuk melihat luka dengan mata yang lebih logis, tanpa mengurangi ruang bagi getir dan doa yang diam-diam tetap bekerja di bawah semua itu.
Kerapatan kalimat-kalimat puitis mungkin akan terasa intens bagi sebagian pembaca yang terbiasa dengan prosa yang lebih ringkas. Namun intensitas itu terbayar oleh kedalaman emosi dan keberanian penulis menggali area moral yang jarang disentuh fiksi populer: bagaimana berdamai dengan cinta yang tidak bisa dikembalikan ke definisi tunggal tanpa memalsukan siapa pun.
Pada akhirnya, duologi ini bekerja justru karena menolak menutup rapat masa lalu. Ia tidak menawarkan lupa, melainkan ingatan yang ditata ulang. Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka mengajukan pertanyaan: apa yang kita lakukan setelah terluka? Laki-laki yang Membawa Pohon di Dalam Dada menjawab: setelah pohon tumbuh, kita harus memutuskan kepada siapa ia memberi teduh, dan bagaimana kita hidup di bawahnya tanpa saling menyingkirkan.
Dan di epilog, ketika tokoh-tokoh ini duduk di meja makan dan tawa terdengar seperti doa yang menutup pelan, pembaca diajak percaya bahwa mungkin itulah bentuk “akhir yang bahagia” paling dewasa: bukan adegan orang berpisah dramatis di bandara, melainkan pemandangan orang-orang yang pernah saling melukai, kini saling menambah nasi tanpa merasa perlu lagi saling menyembunyikan apa pun.
Penulis: Keira Zareen
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




