Techfin Insight — Ketika banyak negara masih bergulat dengan keterbatasan lahan untuk energi terbarukan, China justru melompat lebih jauh. Negeri Tirai Bambu itu berhasil menguji pembangkit listrik tenaga angin yang tidak berdiri di darat maupun di laut, melainkan melayang di udara pada ketinggian sekitar 2.000 meter.
Terobosan ini terdengar seperti fiksi ilmiah, tetapi uji cobanya nyata. Teknologi tersebut membuka kemungkinan baru pemanfaatan energi angin, terutama bagi wilayah perkotaan yang selama ini kesulitan menyediakan ruang untuk turbin konvensional.
Pembangkit Angin Udara Pertama yang Tersambung ke Jaringan
Sistem ini diberi nama S2000 Stratosphere Airborne Wind Energy System (SAWES) dan diklaim sebagai pembangkit listrik tenaga angin udara berkapasitas megawatt pertama di dunia yang berhasil terhubung langsung ke jaringan listrik.
Uji coba dilakukan di Provinsi Sichuan, wilayah barat daya China, dan menjadi tonggak penting dalam pengembangan energi bersih berbasis angin berteknologi tinggi. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan angin tidak lagi terbatas pada permukaan bumi.
Cara Kerja Turbin Angin yang “Terbang”
Dilansir dari Euronews (29/1/2026), sistem S2000 bekerja layaknya pembangkit listrik terapung di langit. Struktur mirip pesawat ini menggabungkan platform balon udara (airship) dengan bilah turbin angin.
Alih-alih bergantung pada angin permukaan yang fluktuatif, S2000 memanen angin di lapisan atmosfer atas yang dikenal lebih kuat dan stabil. Prinsip dasarnya tetap sama: angin memutar baling-baling untuk menghasilkan listrik. Bedanya, seluruh proses terjadi di udara.
Listrik yang dihasilkan kemudian disalurkan ke darat melalui kabel khusus bertegangan menengah arus searah (DC). Dalam uji terbang sekitar 30 menit, sistem ini berhasil menghasilkan 385 kilowatt-jam listrik, capaian signifikan untuk teknologi yang masih berada pada tahap pengujian awal.
Rekayasa Besar di Balik Teknologi Langit
S2000 SAWES bukan perangkat kecil. Panjangnya mencapai sekitar 60 meter, dengan lebar dan tinggi masing-masing sekitar 40 meter. Tantangan terbesarnya adalah menciptakan struktur yang ringan namun kuat, sekaligus memastikan transmisi listrik dari udara ke darat tetap efisien.
Tim pengembang menyebut keberhasilan ini ditopang oleh desain aerodinamis baru serta sistem transmisi daya yang mampu membawa listrik berkapasitas tinggi tanpa membebani struktur terbang. Inilah kombinasi rekayasa penerbangan dan ketenagalistrikan yang jarang ditemui dalam satu proyek.
Lebih dari Sekadar Pembangkit Listrik
Menariknya, fungsi S2000 tidak berhenti pada pembangkitan energi. Sistem ini juga dirancang untuk membawa perangkat komunikasi dan alat pemantauan darat.
Potensinya mencakup dukungan jaringan komunikasi darurat, pengawasan wilayah, hingga pengembangan konsep ekonomi udara rendah (low-altitude economy). Dengan kemampuan melayang dalam durasi panjang, teknologi ini dinilai cocok untuk kawasan perkotaan yang membutuhkan solusi multifungsi tanpa membangun infrastruktur besar di permukaan tanah.
Babak Baru Energi Terbarukan
Meski masih berada pada tahap uji coba, keberhasilan turbin angin terbang S2000 menandai babak baru inovasi energi terbarukan. Pemanfaatan angin di ketinggian dianggap lebih konsisten dibandingkan angin permukaan, sehingga berpotensi meningkatkan stabilitas produksi listrik.
Jika pengembangannya berjalan sesuai rencana, teknologi ini bisa menjadi solusi alternatif bagi kota-kota besar yang ingin beralih ke energi bersih, tetapi terhalang keterbatasan ruang. Listrik, dalam skenario ini, tidak lagi hanya datang dari darat atau laut, melainkan dipanen langsung dari langit.
Penulis: Elira Vyanata Kirana
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




