Techfin Insight – Di tengah dunia yang sibuk merayakan kesembuhan sebagai perlombaan, Setiawan Chogah justru memilih jalan lain: ia menanam luka.
Melalui novel debutnya, Pohon-pohon yang Ditanam Setelah Luka, penulis yang dikenal lewat tulisan-tulisan reflektif di Techfin Insight ini menghadirkan kisah yang lembut namun dalam—tentang bagaimana manusia belajar berdamai dengan diri, dengan cinta, dan dengan Tuhan, tanpa kehilangan kesadaran akan keindahan kecil yang sering terlewat.
Novel ini berawal dari Wattpad, hanya beberapa bulan lalu. Namun dalam waktu singkat, kisahnya naik ke jajaran populer di kategori sastra, psikologis, dan self-acceptance.
Banyak pembaca yang mengaku “tidak bisa membacanya cepat” karena setiap bab terasa seperti ruang hening yang meminta waktu untuk duduk.
Kini, novel tersebut hadir dalam versi cetak—setebal 246 halaman, tersedia dalam dua pilihan: softcover dan hardcover—dan bisa didapatkan melalui Tokopedia Setiawan Chogah.
Dari Keheningan Menjadi Bahasa
Chogah menulis seperti seseorang yang berbicara pelan kepada dirinya sendiri. Tokoh utama, Raif, adalah penulis sekaligus perenung yang memilih tinggal sedikit lebih jauh dari dunia—di rumah kecil dengan halaman yang penuh tanaman.
Dari Ficus virens hingga Nepenthes mirabilis, setiap flora di halaman rumahnya menjadi metafora: tentang tumbuh tanpa tergesa, tentang kehilangan yang tidak berarti akhir, tentang kasih yang tidak selalu harus memiliki.
Tidak ada adegan besar dalam buku ini, tidak ada amarah yang berteriak. Justru dari kesunyianlah, Chogah mengajak pembaca untuk melihat kembali apa yang penting.
Ia menulis luka bukan sebagai penderitaan, melainkan sebagai sesuatu yang bisa disirami, dijaga, dan dibiarkan hidup berdampingan dengan bahagia.
Bahasa Raifian: Antara Jeda dan Keberanian untuk Tenang
Dalam dunia literasi Techfin Insight, tulisan Chogah dikenal dengan napas “Raifian”—gaya tutur yang lembut, penuh jeda, dan memelihara kesadaran.
Bahasanya tidak berteriak, tetapi meninggalkan gema panjang. Kata-katanya terasa seperti affirmation yang tidak dibuat-buat—“pelan, tapi menembus.”
Setiap paragraf mengandung semacam keberanian yang tenang: untuk jujur, untuk mengakui letih, untuk menulis doa tanpa menjanjikan keajaiban.
Dalam Pohon-pohon yang Ditanam Setelah Luka, Raif menjadi simbol dari manusia yang belajar menenangkan badai dalam dirinya sendiri.

Membaca sebagai Cara Pulih
Buku ini bukan hanya fiksi, melainkan juga ruang. Ia mengajarkan bahwa pulih tidak selalu berarti kembali seperti semula. Terkadang, pulih berarti menerima bahwa kita tidak akan pernah sama lagi—dan tetap baik-baik saja dengan itu.
Di tengah budaya produktivitas yang terus menuntut “cepat sembuh”, novel ini justru memberi izin bagi pembacanya untuk berhenti sebentar.
Untuk menatap halaman, mendengar suara bambu bergesek di angin, atau sekadar diam sambil memahami kalimat sederhana: “Tidak semua yang jatuh perlu disembunyikan.”
Taman Kata: Kumpulan Quotes dari Pohon-pohon yang Ditanam Setelah Luka
Salah satu kekuatan novel ini adalah kepiawaiannya menaburkan kalimat-kalimat yang bisa tumbuh di hati pembaca.
Tidak berlebihan bila buku ini disebut “taman kata”—setiap kutipannya adalah benih kecil yang bisa meneduhkan hari siapa pun yang membacanya.
“Aku percaya, luka bukan untuk dihapus. … luka adalah benih. Ia bisa membusuk dan mengundang lalat kesedihan. Ia bisa juga, dengan cara entah bagaimana, bertahan—berubah menjadi sesuatu yang berakar.”
“Benih yang tumbuh di tanah yang sabar akan memberi batang… Dan pohon—betapa pun lahir dari perih—bisa menjadi tempat orang menaruh kepala ketika dunia terlalu keras.”
“Aku memilih menanam. Tidak semua benih tumbuh. Tidak semua yang tumbuh indah. Namun aku lebih tenang memiliki pekerjaan kecil setiap pagi.”
“Takut adalah lampu yang menyala ketika seseorang harus menata jalan, bukan tanda untuk memutar balik.”
“Sabar adalah suara yang paling panjang umurnya.”
“Tidak ada keberanian yang lebih besar dari mengakui. Dan tidak ada pengakuan yang ramah kalau diucapkan terlalu cepat.”
“Pernikahan bukan upacara, melainkan keputusan yang diperbarui setiap hari.”
“Kalau ada cinta di sini, biarlah ia bekerja dalam diam—seperti akar flamboyan yang tidak menuntut terlihat, tapi menahan tanah agar tidak retak.”
“Tuhan, jangan kurangi keberanianku untuk hidup tanpa tipu, dan jangan tambahi kebutuhanku untuk dimengerti.”Kalimat-kalimat seperti ini berserakan di seluruh halaman, meneguhkan bahwa sastra tidak harus tinggi untuk menjadi dalam. Ia cukup jujur dan manusiawi.
Lebih dari Buku, Sebuah Ekosistem Makna
Dalam wawancara singkat dengan Techfin Insight, Chogah menyebut bahwa buku ini bukan sekadar karya sastra, tetapi bagian dari ekosistem makna yang ia bangun: menulis, menggambar, mendesain, dan berbagi ruang tumbuh bagi pembaca dan komunitas pekerja migran di Hong Kong, tempat ia banyak berkarya.
Proses penulisan dan penerbitan Pohon-pohon yang Ditanam Setelah Luka menjadi refleksi personal sekaligus publik: bahwa literasi tidak harus besar untuk menjadi berguna. Ia cukup jujur, pelan, dan berakar.
Sama seperti Raif yang menanam ficus di halaman rumahnya, Chogah menanam kata-kata untuk siapa saja yang sedang belajar memaafkan dirinya sendiri.
Pohon-pohon yang Ditanam Setelah Luka adalah buku yang mengingatkan kita bahwa tidak semua perjalanan harus diselesaikan dengan cepat.
Ada perjalanan yang perlu dinikmati dalam diam. Ada luka yang tidak harus ditutup rapat—cukup ditanam, agar suatu hari tumbuh menjadi teduh.
Novel ini, sebagaimana karya Chogah lainnya, bukan sekadar bacaan. Ia adalah teman bicara di pagi tenang, ketika dunia belum meminta kita tergesa.
Dan mungkin, setelah membacanya, kita akan sadar: beberapa hal tidak perlu dimenangkan, cukup dijaga agar tetap tumbuh.
Penulis: Keira Zareen
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




