Techfin Insight — Di saat banyak negara mengalami penurunan praktik keagamaan akibat arus sekularisasi dan modernitas, Indonesia justru menunjukkan arah yang berbeda. Sebuah laporan yang mengutip hasil survei Pew Research Center mengungkapkan bahwa sekitar 95 persen warga dewasa Indonesia mengaku berdoa setiap hari, menjadikannya salah satu tingkat religiositas tertinggi di dunia.
Temuan tersebut menarik karena muncul di tengah era digital yang sering dianggap menjauhkan manusia dari nilai-nilai spiritual. Namun, bagi masyarakat Indonesia, doa tampaknya masih menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar ritual keagamaan.
Ketika Dunia Semakin Sekuler
Dalam beberapa dekade terakhir, banyak negara maju mengalami penurunan partisipasi dalam aktivitas keagamaan. Praktik seperti berdoa, menghadiri tempat ibadah, hingga membaca kitab suci semakin jarang dilakukan oleh sebagian masyarakat di negara-negara Barat.
Indonesia justru memperlihatkan tren yang berlawanan. Agama masih hadir dalam berbagai aspek kehidupan sosial, mulai dari lingkungan keluarga, pendidikan, hingga aktivitas kemasyarakatan.
Fenomena ini sejalan dengan kondisi di sejumlah negara Afrika seperti Nigeria dan Kenya yang juga memiliki tingkat kebiasaan berdoa harian yang tinggi. Sebaliknya, beberapa negara Eropa menunjukkan angka yang jauh lebih rendah.
Doa Bukan Sekadar Ritual
Di Indonesia, agama tidak hanya dipahami sebagai urusan pribadi. Praktik keagamaan telah menjadi bagian dari identitas sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Tradisi seperti kenduri, tahlilan, peringatan hari besar keagamaan, hingga gotong royong memperlihatkan bagaimana nilai spiritual menyatu dengan kehidupan sosial masyarakat. Aktivitas tersebut tidak hanya memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mempererat hubungan antarwarga.
Pendidikan agama sejak usia dini juga menjadi faktor penting yang menjaga kesinambungan nilai-nilai tersebut. Sekolah, keluarga, dan tokoh agama memiliki peran besar dalam membentuk budaya religius yang tetap bertahan hingga sekarang.
Era Digital Justru Memperkuat Spiritualitas
Menariknya, perkembangan teknologi tidak selalu menjadi ancaman bagi religiositas. Di Indonesia, media sosial justru berkembang menjadi ruang baru bagi ekspresi spiritual.
Konten berisi doa, kajian agama, refleksi kehidupan, hingga komunitas digital berbasis keagamaan semakin mudah ditemukan di berbagai platform. Aplikasi pengingat salat, tadarus daring, dan komunitas virtual menjadi contoh bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk memperkuat praktik keagamaan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa modernitas dan spiritualitas tidak selalu berada di sisi yang berlawanan. Keduanya dapat berjalan beriringan ketika teknologi digunakan untuk memperkuat nilai-nilai yang diyakini masyarakat.
Jangkar di Tengah Ketidakpastian
Di tengah dunia yang semakin cepat berubah, doa masih menjadi ruang refleksi sekaligus sumber harapan bagi banyak orang Indonesia. Ketika berbagai negara menghadapi tantangan menjaga hubungan masyarakat dengan nilai-nilai spiritual, Indonesia menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi, teknologi, dan religiositas dapat tumbuh bersama.
Tantangan berikutnya bukan lagi soal mempertahankan praktik berdoa, melainkan memastikan nilai-nilai keberagamaan tetap hadir secara ramah, inklusif, dan relevan di tengah perubahan zaman yang terus berlangsung.
Penulis: Arden Gustav
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




