• Tentang Kami
  • Iklan & Partnership
  • Syarat & Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Panduan Editorial
  • Brand Guideline
  • Kontak
Techfin Insight
0

Tidak ada produk di keranjang.

Notifikasi
Kirim Tulisan
  • Trending Topics:
  • PLN
  • PLN UID Banten
  • AI
  • Personal Finance
  • Phones/Tablets/Mobile
  • Investasi
  • Apple
  • Keuangan
  • PLN Mobile
  • Karier
  • Teknologi
  • Books/Movies
  • iPhone
  • Indeks
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Keuangan
  • Sains
  • Gaya Hidup
  • Kultur
  • Insight
  • Persona
  • Utilitas
  • ShopNew
  • Personalize
    • Dasbor Penulis
    • Riwayat Bacaan
    • Tulisan Tersimpan
    • My Feed
    • My Interests
Reading: Iman dan Orientasi: Membedah Duologi Setiawan Chogah dalam Kajian Sastra Queer
Share
Techfin InsightTechfin Insight
0
  • Indeks
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Keuangan
  • Sains
  • Gaya Hidup
  • Kultur
  • Persona
  • Insight
  • Utilitas
  • DPRD Banten
  • Riwayat Bacaan
  • Tulisan Tersimpan
  • My Feed
  • My Interests
Cari
  • Tentang Kami
  • Iklan & Partnership
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Jadi PenulisNew
  • Panduan Editorial
  • Brand Guideline
  • Kontak
  • History
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Keuangan
  • Sains
  • Kultur
  • Insight
  • Persona
  • Utilitas
  • DPRD Banten

Jelajah Ruang Baca

Jejak Wawasan

  • Riwayat Bacaan
  • Bacaan Tersimpan
  • My Feed
  • My Interests

Terkini

Internet Ngebut Saat Mudik, Indosat Buktikan Jaringan Tetap Stabil

26 Mar 2026

OpenAI Tutup Sora, Tanda Pergeseran Besar AI

25 Mar 2026

Listrik Nyaris Tanpa Cela Saat Lebaran, PLN Buktikan Kesiapan Nasional

24 Mar 2026

Listrik Tanpa Gangguan, Salat Id di Al Amjad Berjalan Khidmat

21 Mar 2026

Call for Writers 🧑🏻‍💻

Tulis gagasanmu dan menginspirasilah bersama Techfin Insight! 💡
Kirim Tulisan
Punya akun di Techfin Insight? Sign In
Stay Connected
© 2026 Techfin.id. Designed with ❤️ by dezainin.com
Kultur

Iman dan Orientasi: Membedah Duologi Setiawan Chogah dalam Kajian Sastra Queer

Bagaimana duologi Setiawan Chogah memadukan iman, orientasi, dan kehidupan domestik dalam lanskap sastra queer Indonesia?

Oleh: Keira Zareen - Insight Thinker
Publikasi: Selasa, 25 November 2025 - 19.03 WIB
Share
Iman dan orientasi dalam sastra queer Indonesia
Duologi Setiawan Chogah: Pohon-pohon yang Ditanam setelah luka dan Laki-laki yang Membawa Pohon di Dalam Dada.
Navigasi Konten
  • Duologi Setiawan Chogah: Nada yang Berbeda
  • Dari Tragedi dan Perlawanan ke Kontemplasi Domestik
  • Orientasi, Iman, dan Kritik terhadap Asumsi Konvensional
  • Tubuh, Hasrat, dan Batasan Etik
  • Iman sebagai Ruang Rawat, Bukan Palu Penghakim
  • Posisi Duologi dalam Sastra Queer Indonesia

Dalam peta sastra Indonesia, tema queer bukan barang baru. Sejak Saman (1998) karya Ayu Utami mengguncang lanskap pasca-Reformasi dengan eksplorasi seksualitas, agama, dan politik dalam satu tarikan napas, pembaca kita melihat bagaimana tubuh perempuan dan tubuh yang menyimpang dari norma heteroseksual dipertaruhkan di antara kuasa gereja, negara, dan pasar.

Awal 2000-an, Garis Tepi Seorang Lesbian karya Herlinatiens menghadirkan suara lesbian dari sudut pandang orang pertama. Novel ini kerap disebut sebagai salah satu karya fiksi Indonesia awal yang secara eksplisit memusatkan tokoh lesbian dan pergulatannya dengan norma keluarga, agama, dan masyarakat. Di ranah lain, Andrei Aksana melalui Lelaki Terindah menulis roman gay yang cenderung melodramatis, dengan benturan keras antara cinta sesama jenis, moralitas keluarga, dan tuntutan sosial.

Gelombang berikutnya muncul lewat penulis seperti Norman Erikson Pasaribu, yang dalam kumpulan cerpen Happy Stories, Mostly mengeksplorasi pengalaman queer Katolik di Indonesia dengan lensa spekulatif dan humor getir. Karya ini bahkan masuk daftar panjang International Booker Prize 2022, menandakan pengakuan global atas cara baru mendekati tema iman dan queer.

Di luar Indonesia, penulis Asia Tenggara seperti Alfian Sa’at (Singapura) melalui Malay Sketches juga menghadirkan fragmen-fragmen kehidupan kelas menengah Melayu, termasuk tokoh-tokoh queer yang hidup di bawah bayang-bayang negara dan norma keluarga.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Duologi Setiawan Chogah: Nada yang Berbeda

Di permukaan, novel Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka dan Laki-laki yang Membawa Pohon di Dalam Dada bisa dibaca sebagai kisah keluarga, migrasi, dan penyembuhan pelan. Tapi kalau kita menyimak lebih dekat, duologi ini juga diam-diam mengajukan salah satu potret queer paling tenang—dan paling rumit—dalam fiksi Indonesia mutakhir.

Dalam lanskap itu, duologi Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka dan Laki-laki yang Membawa Pohon di Dalam Dada hadir sebagai suara yang berbeda nada. Ia tidak membidik skandal atau tragedi, dan tidak memakai kemarahan sebagai mesin utama. Lewat sosok Raif dan Rangga, penulisnya, Setiawan Chogah menawarkan cerita queer yang sengaja ditarik ke ruang domestik dan ruang iman: ruang di mana orientasi tidak sedang dikampanyekan, tidak pula ditenggelamkan, melainkan diakui dan dinegosiasikan agar tidak merampas bangunan cinta orang lain.

Salah satu tokoh dalam duologi ini, Raif, digambarkan sebagai lelaki beriman, intelektual, dan reflektif. Ia menulis, mengajar kelas literasi finansial, membaca sains dan fikih dengan kesungguhan yang sama. Ia tahu hukum, memahami konsekuensi sosial dan teologis dari keintiman yang melibatkan suami orang lain, apalagi seorang aparat negara seperti Rangga. Rangga sendiri bukan aparat bodoh yang tidak tahu akibat; ia tahu persis batas-batas yang resmi, tetapi tubuh dan hatinya telah lama menyimpan jejak orang yang pernah menyelamatkannya dari titik paling gelap hidupnya.

Jangan Lewatkan:

Novel Luka dan Pemulihan Dibahas di Ngabuburead ‘Aku Temanmu’
16 Mar 2026
Dari Akar ke Kuantum: Peta Pergeseran Luka Manusia Modern dalam Fiksi Setiawan Chogah
20 Jan 2026
Novel Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka Cover Terbaru
Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka: Novel tentang Pulang
24 Nov 2025
Novel Laki-laki yang Membawa Pohon di Dalam Dada karya Setiawan Chogah
Laki-laki yang Membawa Pohon di Dalam Dada: Babak Baru dari Semesta Raif
8 Nov 2025

Dua novel ini dengan sengaja menolak asumsi populer yang kerap dilontarkan dalam diskusi sehari-hari: seolah orientasi “menyimpang” lahir karena lingkungan rusak, kurang ilmu, atau minim iman. Raif justru kebalikannya: ia punya ilmu, ia taat, ia mengajar orang lain tentang keuangan dan keadilan; namun rasa yang ia bawa, terutama kepada Rangga, tidak hilang hanya karena ia rajin berdoa.

Di sini, Setiawan Chogah tidak sedang mengampanyekan bahwa “semua pilihan sah”. Yang ia lakukan adalah memindahkan fokus: dari perdebatan “boleh atau tidak boleh” ke pertanyaan yang lebih pelik, “Apa yang kita lakukan dengan rasa yang sudah terlanjur ada, agar tidak menambah lingkar luka?”

Dari Tragedi dan Perlawanan ke Kontemplasi Domestik

Dibandingkan dengan Saman yang eksplosif dan politis, atau Garis Tepi Seorang Lesbian yang frontal mengungkap alienasi tokoh utama dari keluarga dan agama, duologi Setiawan Chogah cenderung kontemplatif. Cinta antara Raif dan Rangga tidak ditempatkan sebagai senjata untuk melawan institusi, melainkan sebagai fakta yang harus diurus dengan tanggung jawab.

Jika banyak novel queer berakhir tragis—kematian, pengucilan total, atau pengkhianatan final—Setiawan Chogah memilih akhir yang lebih tenang, namun tidak dangkal: tidak ada yang mati, tidak ada rumah yang diledakkan, tetapi semua pihak dipaksa menata ulang bentuk kehadiran mereka satu sama lain.

Beberapa bab kunci, seperti “Superposisi Cinta”, meminjam istilah fisika kuantum untuk menggambarkan posisi Raif yang berada dalam dua keadaan sekaligus: ia mencintai Rangga dan keluarganya, tetapi juga membangun hidup bersama Ziraf. Keputusan akhirnya bukan memilih “siapa yang menang”, melainkan memilih bentuk cinta yang paling sedikit merusak.

Duologi Setiawan Chogah: Pohon-pohon yang Ditanam setelah luka dan Laki-laki yang Membawa Pohon di Dalam Dada.
Duologi Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka dan Laki-laki yang Membawa Pohon di Dalam Dada karya Setiawan Chogah, dua novel yang merunut perjalanan luka, pulang, dan keberanian bertahan di dunia modern.

Cinta kepada Rangga diakui, tetapi tidak lagi dituntut untuk diwujudkan dalam bentuk kepemilikan atau proyek pelarian. Cinta kepada Ziraf menjadi rumah aktual yang ia pilih untuk tinggali, di Singapura, dengan komitmen baru untuk tidak menghilang tanpa kabar. Di titik ini, duologi ini menawarkan cerita queer yang lebih manusiawi: bukan mengampanyekan atau menantang, tetapi mengajukan solusi yang lebih damai—mengakui perasaan itu ada tanpa merusak bangunan cinta orang lain.

Orientasi, Iman, dan Kritik terhadap Asumsi Konvensional

Meski beberapa tokoh dalam duologi ini memiliki orientasi seksual berbeda, novel ini tidak sedang menjual sensasi atau mengemis penerimaan. Novel ini justru membawa cermin bagi pembaca untuk berpikir bahwa orientasi tidak melulu soal gaya hidup yang dipilih lalu dirayakan, atau sebaliknya dikutuk habis-habisan. Duologi ini mematahkan keyakinan konvensional bahwa orientasi bisa “sembuh” hanya dengan niat dan doa.

Lewat tokoh Raif yang intelektual dan taat, pembaca seolah “ditampar” oleh kenyataan bahwa tokoh ini bukan orang bodoh yang menyintas orientasi berbeda karena pengaruh pergaulan. Raif yang mengerti sains dan fikih tentu bukan sosok yang tidak mempertanyakan diri dan asal-usulnya. Begitu juga Rangga bukan aparat lugu yang tidak kenal konsekuensi. Keduanya memilih berhitung, mempertimbangkan, lalu tetap hidup dengan kontradiksi yang tidak sepenuhnya bisa dibereskan.

Di satu sisi, pembaca yang memegang pandangan bahwa homoseksualitas adalah “abnormal” akan sulit menyingkirkan paradoks yang dihadirkan Setiawan: jika kita konsisten, mengapa korupsi, skandal kekerasan, pembunuhan, atau perselingkuhan yang jelas-jelas amoral dan merusak banyak nyawa tidak selalu mendapat hukuman sosial setajam orientasi seksual?

Duologi ini bisa dibaca sebagai satire halus terhadap cara masyarakat menyeleksi dosa: yang menyimpang dari norma seksual hetero dihukum lebih keras ketimbang dosa-dosa lain yang efek nyatanya jauh lebih destruktif. Namun sekali lagi, Setiawan tidak menyelesaikan kritik itu dengan pidato. Ia memilih menempatkan pembaca bersama tokoh-tokohnya: duduk di teras, di ruang tamu, di bangku taman, dan pelan-pelan menyadari bahwa figur yang dianggap suci, terhormat, dan intelektual pun tidak lepas dari cacat.

Apabila kita bersikeras mempertahankan dikotomi “normal/tidak normal”, duologi ini sekaligus mengedukasi bahwa kategori itu rapuh. Tidak ada istilah “normal” dan “tidak normal” yang betul-betul mampu menangkap kompleksitas orientasi. Yang ada adalah manusia dengan sejarah, luka, dan pilihan berbeda—serta konsekuensi yang harus mereka tanggung, apa pun orientasinya.

Tubuh, Hasrat, dan Batasan Etik

Berbeda dengan sebagian karya queer yang mengedepankan tubuh sebagai arena perlawanan eksplisit, Setiawan memilih jalan yang lebih lirih. Ada adegan-adegan homoerotik, tetapi ditulis sangat halus, jauh dari sinematografi vulgar. Tubuh hadir, tetapi lebih sebagai medium metafora: cara seseorang belajar menaruh beban, cara rasa bersalah menemukan bentuk, cara rindu akhirnya diberi satu pelukan yang cukup sebelum dilepas.

Novel ini tetap aman dibaca tanpa kehilangan ritme liris dan kontemplatifnya. Justru karena keberanian menyentuh aspek sensual dengan cara yang tertahan dan puitis, tokoh-tokohnya terasa sepenuhnya manusia, bukan figur ideal yang bersih dari hasrat.

Jangan Lewatkan:

Pohon-pohon yang Ditanam Setelah Luka adalah buku yang mengingatkan kita bahwa tidak semua perjalanan harus diselesaikan dengan cepat.
Pohon-pohon yang Ditanam Setelah Luka: Sebuah Ruang untuk Pulih Pelan-pelan
10 Okt 2025
Novel reflektif karya Setiawan Chogah, kini bisa dinikmati dalam format cetak dan e-book eksklusif di Techfin Insight. Sebuah kisah tentang rumah, pulang, dan luka yang tumbuh menjadi harapan baru.
Eksklusif, e-Book Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka
15 Nov 2025
Di tengah riuh dunia, Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka mengajak kita untuk menanam hening.
Setiawan Chogah dan Pohon-pohon yang Menyimpan Luka dengan Teduh
23 Agu 2025
Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka
Menemukan Hening di Novel ‘Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka’ Karya Setiawan Chogah
23 Agu 2025

Di tengah iklim sastra yang sering gamang menyentuh isu orientasi, Setiawan memilih jalur yang lirih: tidak mengampanyekan, tidak menghakimi, tetapi juga tidak bersembunyi. Raif diberi ruang penuh sebagai lelaki beriman yang mencintai lelaki lain dan tetap memilih bertanggung jawab atas dampak cintanya pada Dinda dan Keira—istri sahabat dan anak kecil yang memanggilnya “Om”.

Iman sebagai Ruang Rawat, Bukan Palu Penghakim

Dalam banyak narasi modern, pergulatan antara iman dan orientasi sering didorong ke dua kutub ekstrem: meninggalkan iman karena merasa tidak layak, atau memaksa diri “sembuh” agar layak. Duologi Setiawan menawarkan kemungkinan lain.

Raif digambarkan tetap taat: salat, berdoa, mengatur hidupnya dalam ritme ibadah. Namun iman di sini tidak dihadirkan sebagai obat yang “menyembuhkan” orientasi. Ia justru menjadi ruang rawan-aman: tempat Raif meredakan nyeri akibat pandangan dunia terhadap dirinya, dan tempat ia menguji apakah keputusannya mengurangi atau menambah luka bagi orang lain.

Alih-alih menjadikan iman sebagai palu yang mengetuk vonis, Setiawan menempatkannya sebagai meja kecil di mana semua luka diletakkan, diperiksa, dan dirapikan, lalu dibawa pulang masing-masing. Iman tidak dihilangkan, tetapi juga tidak dijadikan alat untuk menutup kompleksitas.

Dalam kerangka sastra queer Indonesia, posisi ini menarik. Ia bergeser dari narasi yang berakar pada perlawanan frontal (melawan keluarga, negara, dogma) ke narasi yang mengupayakan koeksistensi antara iman dan orientasi. Kalau Happy Stories, Mostly memotret ketegangan antara iman Kristiani dan tubuh queer dengan humor getir dan fantasi, duologi Setiawan bergerak di lanskap Islam Banten yang sangat konkret: azan magrib di KP3B, pengajian istri aparat, kelas kebun rezeki, dan perbincangan soal dosa yang berlangsung bukan di mimbar, melainkan di teras dan halaman.

Posisi Duologi dalam Sastra Queer Indonesia

Dengan demikian, duologi Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka dan Laki-laki yang Membawa Pohon di Dalam Dada menempati ruang yang unik dalam kajian sastra queer Indonesia. Ia menawarkan cerita queer yang lebih manusiawi, bukan mengampanyekan atau menantang secara demonstratif. Melalui tokoh Raif dan Rangga, Setiawan memotret bahwa orientasi bukan sesuatu yang dipilih, diadili, atau dirayakan dengan cara merampas hak orang lain.

Kedua novel ini menawarkan solusi yang lebih damai: mengakui perasaan itu ada, tanpa merusak bangunan cinta orang lain. Ia tidak mengemis penerimaan, tidak menjual sensasi, dan tidak melarikan diri ke tragedi besar. Ia hanya menunjukkan bahwa kadang pilihan paling berani bagi manusia queer yang beriman bukanlah menjadi martir atau ikon, melainkan menjadi orang yang pelan-pelan menata hidup, menjaga anak, membagi nasi, dan memastikan tidak ada lagi yang dihukum diam.

Kredit Redaksi:
Penulis: Keira Zareen
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.
© 2026 Techfin Insight. Konten ini boleh dikutip untuk keperluan non-komersial. Cantumkan sumber dan tautkan ke artikel asli di Techfin Insight. Untuk penggunaan ulang secara menyeluruh atau di luar konteks editorial (misalnya komersial), silakan hubungi redaksi.
- Advertisement -
duologi setiawan chogahduologi setiawan chogah
TOPIK:NovelNovel IndonesiaNovel ReflektifSastra

Kirim Tulisan

Ingin cerita, gagasan, atau opinimu dibaca lebih banyak orang?
✨ Tulis gagasanmu dan mulailah menginspirasi. Baca Panduan Editorial Techfin Insight. Lihat Syarat & Ketentuan Tulisan.
Share tulisan ini, yuk!
Facebook Whatsapp Whatsapp LinkedIn Threads Copy link
Author:Keira Zareen
Insight Thinker
Follow:
Aku mengeksplorasi isu sosial dan refleksi personal. Tulisanku berangkat dari keresahan kecil, mengajak kamu berpikir dan melihat dunia dari sudut yang berbeda.
Tulisan Sebelumnya 👈 PDKB PLN UID Banten PLN UID Banten Perkuat Keandalan Listrik Lewat 165 Titik Pemeliharaan Tanpa Padam
👉 Tulisan Selanjutnya Black Friday Black Friday 2025: Sejarah, Makna, dan Strategi Belanja Cerdas
Tidak ada komentar Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Terkini

Teknologi

Internet Ngebut Saat Mudik, Indosat Buktikan Jaringan Tetap Stabil

26 Mar 2026
Teknologi

OpenAI Tutup Sora, Tanda Pergeseran Besar AI

25 Mar 2026
Teknologi

Listrik Nyaris Tanpa Cela Saat Lebaran, PLN Buktikan Kesiapan Nasional

24 Mar 2026
Teknologi

Listrik Tanpa Gangguan, Salat Id di Al Amjad Berjalan Khidmat

21 Mar 2026
Bisnis

Listrik Tetap Nyala Saat Idulfitri, PLN Banten Pastikan Ibadah Aman

21 Mar 2026
- Advertisement -
Ad imageAd image

Ruang Baca

Pilihan Editor untukmu

Kultur

Dari Sembako ke Listrik: Ramadan PLN Hadirkan Dampak Nyata

Keira Zareen
20 Mar 2026
Bisnis

Mudik Gratis BUMN 2026 Tembus 116 Ribu Peserta, PLN Dorong Nol Emisi

Aira Safeeya
20 Mar 2026
Ilustrasi petugas PLN siaga 24 jam melayani pelanggan dengan sepenuh hati, memastikan pasokan listrik tetap andal agar masyarakat dapat merayakan Idulfitri dengan aman dan nyaman.
Utilitas

Jangan Lupa! Ini Tips Aman Tinggalkan Listrik Rumah Saat Mudik

Aira Safeeya
17 Mar 2026
Bisnis

PLN Pastikan Cadangan Daya Nasional Lebih dari Cukup

Aira Safeeya
17 Mar 2026
Teknologi

Cek Langsung! PLN Pastikan Listrik dan SPKLU Banten Siap Mudik

Liora N. Shasmitha
16 Mar 2026
Utilitas

Mudik Tenang, PLN Ingatkan Cek Listrik Rumah Sebelum Berangkat

Ammar Fahri
16 Mar 2026
Kultur

From Pain to Peace: Ngabuburead Aku Temanmu Ajak Berdamai dengan Luka

Arden Gustav
15 Mar 2026
Salah satu pengguna EV tengah melakukan scan barcode pada aplikasi PLN Mobile untuk transaksi pengisian daya di SPKLU standard charging.
Teknologi

Jangan Salah Colok! Ini 4 Jenis Charger Mobil Listrik

Liora N. Shasmitha
15 Mar 2026
Tampilkan Lagi

Jangan Lewatkan

Jadi yang pertama tahu. Baca sekarang atau simpan untuk nanti.

Internet Ngebut Saat Mudik, Indosat Buktikan Jaringan Tetap Stabil

Teknologi

OpenAI Tutup Sora, Tanda Pergeseran Besar AI

Teknologi

Listrik Nyaris Tanpa Cela Saat Lebaran, PLN Buktikan Kesiapan Nasional

Teknologi

Listrik Tanpa Gangguan, Salat Id di Al Amjad Berjalan Khidmat

Teknologi

Dari Sembako ke Listrik: Ramadan PLN Hadirkan Dampak Nyata

Kultur
Ilustrasi petugas PLN siaga 24 jam melayani pelanggan dengan sepenuh hati, memastikan pasokan listrik tetap andal agar masyarakat dapat merayakan Idulfitri dengan aman dan nyaman.

Jangan Lupa! Ini Tips Aman Tinggalkan Listrik Rumah Saat Mudik

Utilitas

Cek Langsung! PLN Pastikan Listrik dan SPKLU Banten Siap Mudik

Teknologi

Novel Luka dan Pemulihan Dibahas di Ngabuburead ‘Aku Temanmu’

Kultur
Tampilkan Lagi
Techfin Insight
Facebook X-twitter Instagram Threads Whatsapp

Techfin Insight hadir sebagai media alternatif yang fokus mengabarkan inovasi dan perkembangan terkini di bidang teknologi, bisnis, keuangan, serta tantangan yang kita hadapi setiap hari. Kami menganalisis bagaimana bisnis dan teknologi saling bersinggungan, mempengaruhi, dan memberikan dampak pada berbagai lini kehidupan untuk mewujudkan transformasi budaya di dunia yang semakin saling terhubung ini.

Ad image
  • Tentang Kami
  • Iklan & Partnership
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Jadi PenulisNew
  • Panduan Editorial
  • Brand Guideline
  • Kontak
  • History
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Keuangan
  • Sains
  • Kultur
  • Insight
  • Persona
  • Utilitas
  • DPRD Banten
  • About Us
  • Advertising & Partnership
  • Terms & Conditions
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Guest Post
  • Contact

© 2026 Techfin.id. Designed with ❤️ by dezainin.com