Dalam peta sastra Indonesia, tema queer bukan barang baru. Sejak Saman (1998) karya Ayu Utami mengguncang lanskap pasca-Reformasi dengan eksplorasi seksualitas, agama, dan politik dalam satu tarikan napas, pembaca kita melihat bagaimana tubuh perempuan dan tubuh yang menyimpang dari norma heteroseksual dipertaruhkan di antara kuasa gereja, negara, dan pasar.
Awal 2000-an, Garis Tepi Seorang Lesbian karya Herlinatiens menghadirkan suara lesbian dari sudut pandang orang pertama. Novel ini kerap disebut sebagai salah satu karya fiksi Indonesia awal yang secara eksplisit memusatkan tokoh lesbian dan pergulatannya dengan norma keluarga, agama, dan masyarakat. Di ranah lain, Andrei Aksana melalui Lelaki Terindah menulis roman gay yang cenderung melodramatis, dengan benturan keras antara cinta sesama jenis, moralitas keluarga, dan tuntutan sosial.
Gelombang berikutnya muncul lewat penulis seperti Norman Erikson Pasaribu, yang dalam kumpulan cerpen Happy Stories, Mostly mengeksplorasi pengalaman queer Katolik di Indonesia dengan lensa spekulatif dan humor getir. Karya ini bahkan masuk daftar panjang International Booker Prize 2022, menandakan pengakuan global atas cara baru mendekati tema iman dan queer.
Di luar Indonesia, penulis Asia Tenggara seperti Alfian Sa’at (Singapura) melalui Malay Sketches juga menghadirkan fragmen-fragmen kehidupan kelas menengah Melayu, termasuk tokoh-tokoh queer yang hidup di bawah bayang-bayang negara dan norma keluarga.
Duologi Setiawan Chogah: Nada yang Berbeda
Di permukaan, novel Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka dan Laki-laki yang Membawa Pohon di Dalam Dada bisa dibaca sebagai kisah keluarga, migrasi, dan penyembuhan pelan. Tapi kalau kita menyimak lebih dekat, duologi ini juga diam-diam mengajukan salah satu potret queer paling tenang—dan paling rumit—dalam fiksi Indonesia mutakhir.
Dalam lanskap itu, duologi Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka dan Laki-laki yang Membawa Pohon di Dalam Dada hadir sebagai suara yang berbeda nada. Ia tidak membidik skandal atau tragedi, dan tidak memakai kemarahan sebagai mesin utama. Lewat sosok Raif dan Rangga, penulisnya, Setiawan Chogah menawarkan cerita queer yang sengaja ditarik ke ruang domestik dan ruang iman: ruang di mana orientasi tidak sedang dikampanyekan, tidak pula ditenggelamkan, melainkan diakui dan dinegosiasikan agar tidak merampas bangunan cinta orang lain.
Salah satu tokoh dalam duologi ini, Raif, digambarkan sebagai lelaki beriman, intelektual, dan reflektif. Ia menulis, mengajar kelas literasi finansial, membaca sains dan fikih dengan kesungguhan yang sama. Ia tahu hukum, memahami konsekuensi sosial dan teologis dari keintiman yang melibatkan suami orang lain, apalagi seorang aparat negara seperti Rangga. Rangga sendiri bukan aparat bodoh yang tidak tahu akibat; ia tahu persis batas-batas yang resmi, tetapi tubuh dan hatinya telah lama menyimpan jejak orang yang pernah menyelamatkannya dari titik paling gelap hidupnya.
Dua novel ini dengan sengaja menolak asumsi populer yang kerap dilontarkan dalam diskusi sehari-hari: seolah orientasi “menyimpang” lahir karena lingkungan rusak, kurang ilmu, atau minim iman. Raif justru kebalikannya: ia punya ilmu, ia taat, ia mengajar orang lain tentang keuangan dan keadilan; namun rasa yang ia bawa, terutama kepada Rangga, tidak hilang hanya karena ia rajin berdoa.
Di sini, Setiawan Chogah tidak sedang mengampanyekan bahwa “semua pilihan sah”. Yang ia lakukan adalah memindahkan fokus: dari perdebatan “boleh atau tidak boleh” ke pertanyaan yang lebih pelik, “Apa yang kita lakukan dengan rasa yang sudah terlanjur ada, agar tidak menambah lingkar luka?”
Dari Tragedi dan Perlawanan ke Kontemplasi Domestik
Dibandingkan dengan Saman yang eksplosif dan politis, atau Garis Tepi Seorang Lesbian yang frontal mengungkap alienasi tokoh utama dari keluarga dan agama, duologi Setiawan Chogah cenderung kontemplatif. Cinta antara Raif dan Rangga tidak ditempatkan sebagai senjata untuk melawan institusi, melainkan sebagai fakta yang harus diurus dengan tanggung jawab.
Jika banyak novel queer berakhir tragis—kematian, pengucilan total, atau pengkhianatan final—Setiawan Chogah memilih akhir yang lebih tenang, namun tidak dangkal: tidak ada yang mati, tidak ada rumah yang diledakkan, tetapi semua pihak dipaksa menata ulang bentuk kehadiran mereka satu sama lain.
Beberapa bab kunci, seperti “Superposisi Cinta”, meminjam istilah fisika kuantum untuk menggambarkan posisi Raif yang berada dalam dua keadaan sekaligus: ia mencintai Rangga dan keluarganya, tetapi juga membangun hidup bersama Ziraf. Keputusan akhirnya bukan memilih “siapa yang menang”, melainkan memilih bentuk cinta yang paling sedikit merusak.

Cinta kepada Rangga diakui, tetapi tidak lagi dituntut untuk diwujudkan dalam bentuk kepemilikan atau proyek pelarian. Cinta kepada Ziraf menjadi rumah aktual yang ia pilih untuk tinggali, di Singapura, dengan komitmen baru untuk tidak menghilang tanpa kabar. Di titik ini, duologi ini menawarkan cerita queer yang lebih manusiawi: bukan mengampanyekan atau menantang, tetapi mengajukan solusi yang lebih damai—mengakui perasaan itu ada tanpa merusak bangunan cinta orang lain.
Orientasi, Iman, dan Kritik terhadap Asumsi Konvensional
Meski beberapa tokoh dalam duologi ini memiliki orientasi seksual berbeda, novel ini tidak sedang menjual sensasi atau mengemis penerimaan. Novel ini justru membawa cermin bagi pembaca untuk berpikir bahwa orientasi tidak melulu soal gaya hidup yang dipilih lalu dirayakan, atau sebaliknya dikutuk habis-habisan. Duologi ini mematahkan keyakinan konvensional bahwa orientasi bisa “sembuh” hanya dengan niat dan doa.
Lewat tokoh Raif yang intelektual dan taat, pembaca seolah “ditampar” oleh kenyataan bahwa tokoh ini bukan orang bodoh yang menyintas orientasi berbeda karena pengaruh pergaulan. Raif yang mengerti sains dan fikih tentu bukan sosok yang tidak mempertanyakan diri dan asal-usulnya. Begitu juga Rangga bukan aparat lugu yang tidak kenal konsekuensi. Keduanya memilih berhitung, mempertimbangkan, lalu tetap hidup dengan kontradiksi yang tidak sepenuhnya bisa dibereskan.
Di satu sisi, pembaca yang memegang pandangan bahwa homoseksualitas adalah “abnormal” akan sulit menyingkirkan paradoks yang dihadirkan Setiawan: jika kita konsisten, mengapa korupsi, skandal kekerasan, pembunuhan, atau perselingkuhan yang jelas-jelas amoral dan merusak banyak nyawa tidak selalu mendapat hukuman sosial setajam orientasi seksual?
Duologi ini bisa dibaca sebagai satire halus terhadap cara masyarakat menyeleksi dosa: yang menyimpang dari norma seksual hetero dihukum lebih keras ketimbang dosa-dosa lain yang efek nyatanya jauh lebih destruktif. Namun sekali lagi, Setiawan tidak menyelesaikan kritik itu dengan pidato. Ia memilih menempatkan pembaca bersama tokoh-tokohnya: duduk di teras, di ruang tamu, di bangku taman, dan pelan-pelan menyadari bahwa figur yang dianggap suci, terhormat, dan intelektual pun tidak lepas dari cacat.
Apabila kita bersikeras mempertahankan dikotomi “normal/tidak normal”, duologi ini sekaligus mengedukasi bahwa kategori itu rapuh. Tidak ada istilah “normal” dan “tidak normal” yang betul-betul mampu menangkap kompleksitas orientasi. Yang ada adalah manusia dengan sejarah, luka, dan pilihan berbeda—serta konsekuensi yang harus mereka tanggung, apa pun orientasinya.
Tubuh, Hasrat, dan Batasan Etik
Berbeda dengan sebagian karya queer yang mengedepankan tubuh sebagai arena perlawanan eksplisit, Setiawan memilih jalan yang lebih lirih. Ada adegan-adegan homoerotik, tetapi ditulis sangat halus, jauh dari sinematografi vulgar. Tubuh hadir, tetapi lebih sebagai medium metafora: cara seseorang belajar menaruh beban, cara rasa bersalah menemukan bentuk, cara rindu akhirnya diberi satu pelukan yang cukup sebelum dilepas.
Novel ini tetap aman dibaca tanpa kehilangan ritme liris dan kontemplatifnya. Justru karena keberanian menyentuh aspek sensual dengan cara yang tertahan dan puitis, tokoh-tokohnya terasa sepenuhnya manusia, bukan figur ideal yang bersih dari hasrat.
Di tengah iklim sastra yang sering gamang menyentuh isu orientasi, Setiawan memilih jalur yang lirih: tidak mengampanyekan, tidak menghakimi, tetapi juga tidak bersembunyi. Raif diberi ruang penuh sebagai lelaki beriman yang mencintai lelaki lain dan tetap memilih bertanggung jawab atas dampak cintanya pada Dinda dan Keira—istri sahabat dan anak kecil yang memanggilnya “Om”.
Iman sebagai Ruang Rawat, Bukan Palu Penghakim
Dalam banyak narasi modern, pergulatan antara iman dan orientasi sering didorong ke dua kutub ekstrem: meninggalkan iman karena merasa tidak layak, atau memaksa diri “sembuh” agar layak. Duologi Setiawan menawarkan kemungkinan lain.
Raif digambarkan tetap taat: salat, berdoa, mengatur hidupnya dalam ritme ibadah. Namun iman di sini tidak dihadirkan sebagai obat yang “menyembuhkan” orientasi. Ia justru menjadi ruang rawan-aman: tempat Raif meredakan nyeri akibat pandangan dunia terhadap dirinya, dan tempat ia menguji apakah keputusannya mengurangi atau menambah luka bagi orang lain.
Alih-alih menjadikan iman sebagai palu yang mengetuk vonis, Setiawan menempatkannya sebagai meja kecil di mana semua luka diletakkan, diperiksa, dan dirapikan, lalu dibawa pulang masing-masing. Iman tidak dihilangkan, tetapi juga tidak dijadikan alat untuk menutup kompleksitas.
Dalam kerangka sastra queer Indonesia, posisi ini menarik. Ia bergeser dari narasi yang berakar pada perlawanan frontal (melawan keluarga, negara, dogma) ke narasi yang mengupayakan koeksistensi antara iman dan orientasi. Kalau Happy Stories, Mostly memotret ketegangan antara iman Kristiani dan tubuh queer dengan humor getir dan fantasi, duologi Setiawan bergerak di lanskap Islam Banten yang sangat konkret: azan magrib di KP3B, pengajian istri aparat, kelas kebun rezeki, dan perbincangan soal dosa yang berlangsung bukan di mimbar, melainkan di teras dan halaman.
Posisi Duologi dalam Sastra Queer Indonesia
Dengan demikian, duologi Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka dan Laki-laki yang Membawa Pohon di Dalam Dada menempati ruang yang unik dalam kajian sastra queer Indonesia. Ia menawarkan cerita queer yang lebih manusiawi, bukan mengampanyekan atau menantang secara demonstratif. Melalui tokoh Raif dan Rangga, Setiawan memotret bahwa orientasi bukan sesuatu yang dipilih, diadili, atau dirayakan dengan cara merampas hak orang lain.
Kedua novel ini menawarkan solusi yang lebih damai: mengakui perasaan itu ada, tanpa merusak bangunan cinta orang lain. Ia tidak mengemis penerimaan, tidak menjual sensasi, dan tidak melarikan diri ke tragedi besar. Ia hanya menunjukkan bahwa kadang pilihan paling berani bagi manusia queer yang beriman bukanlah menjadi martir atau ikon, melainkan menjadi orang yang pelan-pelan menata hidup, menjaga anak, membagi nasi, dan memastikan tidak ada lagi yang dihukum diam.
Penulis: Keira Zareen
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




