Cilegon, Techfin Insight – Bagi banyak lulusan baru, gaji pertama adalah momen yang paling ditunggu. Ada rasa bangga, ada haru, ada juga bisikan kecil di kepala: “Akhirnya, aku bisa membalas diri sendiri.”
Tapi di sinilah titik rawan itu dimulai — antara keinginan merayakan dan tanggung jawab menata.
Dalam pidatonya di Yudisium Gelombang VI Teknik Industri Untirta (17 Oktober 2025), Setiawan Chogah mengingatkan para wisudawan agar tidak terburu-buru berlari mengejar simbol-simbol sukses finansial.
“Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar di sini. Kalian bisa belajar di mana saja — buku, kelas online, mentor. Tapi pegang nasihat ini sebagai fondasi begitu menerima gaji pertama nanti: sisihkan dulu, baru belanjakan. Lindungi arus kas, dan biarkan waktu bekerja lewat disiplin yang konsisten.”
1. Uang Itu Netral
Uang tidak jahat, tapi juga tidak otomatis baik.
Ia hanya alat — kendaraan untuk membawa kita menuju arah yang kita pilih sendiri.
Dalam dunia yang semakin konsumtif, financial mindfulness adalah cara untuk tetap sadar bahwa setiap pengeluaran adalah keputusan nilai, bukan sekadar angka.
“Kita tidak bisa mengendalikan pasar,” kata Setiawan, “tapi kita bisa mengendalikan kebiasaan.”
2. Belajar dari Ilmu Teknik
Teknik Industri mengajarkan efisiensi dan perencanaan sistem.
Konsep yang sama berlaku di keuangan pribadi:
- Budgeting: bedakan kebutuhan dan keinginan, rancang arus kas seperti aliran produksi.
- Dana darurat: bantalan untuk mencegah sistem keuangan kolaps ketika ada gangguan.
- Forecasting: perkirakan kebutuhan masa depan, bukan hanya konsumsi hari ini.
- Surplus: biasakan punya sisa yang direncanakan, bukan sisa yang kebetulan.
Dengan pola pikir itu, setiap transaksi bisa menjadi bagian dari sistem finansial yang stabil dan sehat.
3. Disiplin Lebih Penting daripada Nominal
Sering kali orang menunda menabung karena merasa penghasilannya belum cukup besar.
Padahal, yang membangun fondasi finansial bukanlah besar kecilnya uang, tapi konsistensi.
Sama seperti sistem produksi yang bergantung pada proses berulang, tabungan dan investasi pun tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.
“Kalau belum bisa, itu hanya belum, bukan tidak bisa. Kalau belum jago, itu hanya belum jago.”
4. K3 untuk Pikiran
Setiawan menutup bagian finansialnya dengan perumpamaan yang khas: “Financial mindfulness adalah bentuk K3 bagi pikiran: selamat, sehat, tenang.”
Keselamatan bukan hanya tentang fisik, tapi juga tentang kestabilan mental dalam menghadapi dunia kerja.
Di tengah volatilitas ekonomi, gaji naik-turun, dan tekanan sosial, mindfulness menjaga agar kita tetap tenang membaca sistem hidup sendiri — seperti seorang engineer menghadapi variabel yang terus berubah.
Menjadi dewasa bukan berarti harus kaya cepat, tapi belajar mengenali arah dan ritme yang sesuai dengan diri sendiri.
Karena pada akhirnya, uang bukan tujuan akhir — ia hanyalah alat untuk hidup lebih sadar, lebih tenang, dan lebih bermakna.
Penulis: Aira Safeeya
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




