Techfin Insight – Di sebuah rumah kontrakan kecil di pinggir kota, Dina (27) sering termenung setiap kali gajinya baru masuk. Rasanya, uang yang ditunggu sebulan penuh langsung lenyap dalam hitungan hari.
Bayar kos, cicilan motor, belanja harian—semuanya berebutan. “Kadang aku mikir, kapan ya bisa bilang uangku cukup?” katanya.
Cerita Dina adalah cerita banyak orang. Di tengah riuh motivator yang gencar bicara financial freedom, realitas sehari-hari justru membuat banyak anak muda sekadar ingin lega finansial: bisa tidur nyenyak tanpa khawatir utang, punya sedikit tabungan, dan menikmati kopi sore tanpa rasa bersalah.
Berikut tujuh langkah sederhana yang bisa membantu siapa saja, termasuk Dina, untuk perlahan-lahan merasakan lega finansial.
1. Beri Nama Uangmu
Ketika Dina menamai tabungannya “Dana Mudik” di aplikasi bank, sesuatu berubah. Ia jadi lebih enggan menyentuhnya untuk jajan.
Memberi nama rekening atau dompet digital menciptakan sense of purpose—uang itu bukan sekadar angka, tapi mimpi kecil yang sedang ditenun.
2. Hati-hati dengan Bocor Halus
Coba hitung: ongkir makanan 15 ribu, langganan streaming 50 ribu, kopi susu 30 ribu. Kalau ditotal sebulan, bisa sama dengan tagihan listrik.
Dina sempat kaget ketika menyadari bocor halus inilah yang membuat gajinya cepat habis.
3. Ikuti Rumus 50/30/20
Separuh untuk kebutuhan, sepertiga untuk keinginan, sisanya untuk tabungan/investasi. Tidak harus kaku, tapi jadi kompas.
Dina mulai coba, walau awalnya sulit, setidaknya ada kerangka yang membuatnya merasa tidak berlayar tanpa arah.
4. Siapkan Dana Darurat
Saat Dina sakit dan harus opname, ia sadar pentingnya punya dana darurat. Minimal 3–6 kali pengeluaran bulanan.
Uang ini bukan untuk diutak-atik, tapi jadi jangkar ketika badai datang.
5. Pisahkan Rekening
Campur aduk rekening membuat Dina sering tergoda. Setelah ia pisahkan rekening “hidup sehari-hari” dan rekening “masa depan”, ia jadi lebih tenang.
Kadang, hal sederhana seperti memisahkan wadah bisa mengubah cara kita memandang uang.
6. Lindungi Data, Lindungi Dompet
Dina hampir saja tertipu tautan palsu yang mengaku dari bank. Untung ia ingat pesan: jangan pernah bagi OTP atau password.
Di era serba digital, menjaga data pribadi sama pentingnya dengan menjaga dompet fisik.
7. Cari Makna, Bukan Sekadar Angka
Pada akhirnya, lega finansial bukan berarti saldo tebal. Itu ketika Dina bisa berkata, “Aku sudah cukup.”
Ketika uang berhenti jadi beban, dan berubah menjadi alat untuk hidup lebih tenang dan bermakna.
Cerita Dina mungkin juga cerita kita semua. Hidup tidak harus perlombaan siapa paling cepat meraih “kebebasan finansial”.
Kadang, yang kita butuhkan hanyalah sedikit ruang bernapas, tidur yang nyenyak, dan hati yang lebih ringan. Itulah makna sejati lega finansial.
Penulis: Aira Safeeya
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




