Techfin Insight – Arin (25), seorang freelancer desain grafis di Bandung, sudah kenyang mendengar nasihat soal financial freedom.
Dulu, waktu kuliah, ia rajin ikut webinar dan kelas finansial yang mengajarkan pentingnya pensiun dini, investasi agresif, dan hidup minimalis demi masa depan yang bebas uang.
Tapi setelah 3 tahun kerja, Arin justru memutuskan untuk berhenti mengejar itu semua.
“Gue gak harus kaya. Tapi gue juga gak mau hidup dalam tekanan. Gue cuma pengin cukup, tenang, dan gak kepikiran saldo mulu tiap akhir bulan,” katanya sambil tertawa kecil.
Arin bukan satu-satunya.
Mindset Baru: Cukup dan Waras
Ada pergeseran nilai yang mulai terasa di kalangan Gen Z. Jika generasi sebelumnya terobsesi mengejar kebebasan finansial sebagai simbol sukses, banyak Gen Z justru mulai memilih versi yang lebih realistis dan ramah mental: financial comfortable.
Konsep ini bukan tentang punya rumah 3 lantai atau mobil mewah, tapi lebih ke hal-hal seperti:
- Punya penghasilan yang cukup untuk hidup
- Bisa liburan setahun sekali tanpa utang
- Tidak panik ketika ada pengeluaran tak terduga
- Masih bisa sesekali traktir orang tua dan teman
“Selama kebutuhan gue terpenuhi dan gue masih bisa tidur nyenyak, itu udah cukup. Gue gak pengin kaya banget, cuma pengin gak cemas,” ujar Dio (23), pegawai swasta di Jakarta Selatan.
Dikejar Impian, Ditekan Realita
Tekanan untuk mengejar financial freedom sering kali datang dari media sosial dan budaya hustle.
Video “sukses di usia muda”, kisah investor muda beli rumah cash, sampai influencer yang pensiun umur 30 membuat banyak orang merasa tertinggal.
“Dulu gue sempat bandingin hidup gue sama konten YouTube. Jadi insecure sendiri. Tapi setelah burnout, baru sadar: gak semua harus gue kejar,” kata Gita (26), yang sempat resign dari perusahaan teknologi dan kini memilih kerja hybrid di perusahaan kecil dengan waktu kerja lebih manusiawi.
Hidup Nyaman Itu Berbeda-beda
Yang menarik, definisi “nyaman” tiap orang bisa berbeda. Buat Arin, itu berarti bisa kerja cukup dari rumah, punya waktu masak, dan sesekali ngopi di coffee shop favorit.
Buat Dio, itu berarti gak mikir utang kartu kredit dan masih bisa nabung walau cuma 500 ribu per bulan.
Tidak ada angka pasti, tidak ada standar tinggi. Justru pendekatan ini memberi ruang untuk lebih realistis.
Fleksibel, Tenang, dan Tetap Cukup
Pencarian hidup yang nyaman secara finansial bukan cuma milik Gen Z. Sofik, 30 tahun, yang masuk generasi milenial, juga merasakannya.
Ia pernah bekerja sebagai karyawan tetap di sebuah rumah sakit swasta. Pekerjaannya stabil, gajinya rutin, tapi batinnya terus tertekan.
Ia merasa terus-menerus dikejar deadline, shift, dan aturan birokrasi yang membuatnya kehilangan kendali atas waktu dan hidupnya sendiri.
“Setiap hari rasanya kayak ngejar-ngejar waktu dan energi. Padahal itu bukan bidang yang benar-benar gue suka,” ujarnya.
Akhirnya, Sofik memutuskan untuk resign dan memilih jalur yang benar-benar ia cintai: menjadi MC profesional dan pengajar public speaking.
Sejak saat itu, hidupnya berubah. Bukan karena penghasilannya langsung melonjak drastis, tapi karena ia akhirnya bisa memilih—bukan dipaksa.
“Sekarang gue bisa nolak pekerjaan yang bikin stres, dan cukup ambil yang sesuai minat dan kemampuan gue. Gue juga punya waktu buat olahraga, istirahat cukup, dan kumpul bareng komunitas,” tuturnya.
Bagi Sofik, definisi nyaman secara finansial bukan berarti punya uang tak terbatas. Tapi punya kendali atas waktu dan energi, serta tidak lagi merasa hidup ini hanya tentang bertahan dari Senin ke Jumat.

“Gue sekarang bisa ikut meetup siang hari, bisa ngobrol sama orang-orang dari komunitas yang beda latar belakang. Rasanya lebih hidup. Lebih fleksibel, dan lebih damai.”
Cerita Sofik menunjukkan bahwa financial comfortable bukan tentang angka, tapi tentang kebebasan memilih gaya hidup yang bikin tenang dan bahagia.
Perubahan yang Perlu Dirayakan
Kita terlalu lama dijejali narasi bahwa sukses = kaya. Tapi Gen Z mulai mengganti definisi itu dengan: sukses = waras, cukup, dan bisa menikmati hidup.
Mereka tidak anti kerja keras, tapi mereka lebih ingin kerja yang masuk akal, bukan kerja yang mengorbankan segalanya.
“Gue kerja keras, tapi bukan buat jadi miliarder. Buat bisa makan enak, nonton konser, dan traktir orang tua sesekali aja udah bikin hati gue lega,” tambah Gita.
Menutup dengan Kesadaran Baru
Mungkin kita perlu mulai merayakan orang-orang yang hidup sederhana tapi bahagia.
Yang tidak punya 5 sumber passive income, tapi bisa bantu tetangga. Yang tidak punya rumah mewah, tapi bisa tidur nyenyak. Yang tidak pensiun dini, tapi hidupnya cukup nyaman untuk tertawa.
Karena buat banyak Gen Z hari ini, itu lebih dari cukup.





