Cilegon, Techfin Insight – Di penghujung Oktober yang hangat, layar Zoom menjadi saksi kepulangan seorang alumni ke rumah intelektualnya — bukan secara fisik, melainkan lewat kata.
Setiawan Chogah, penulis dan konsultan komunikasi digital yang dikenal lewat karya reflektifnya, hadir sebagai pembicara tamu dalam Yudisium Gelombang VI Program Studi Teknik Industri Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Jumat (17/10).
Kegiatan yang digelar secara virtual ini dihadiri oleh Ketua Jurusan Teknik Industri Untirta, Achmad Bahauddin, S.T., M.T., Ph.D., para dosen, pengurus HMTI, serta para calon wisudawan dan wisudawati. Meski berlangsung lewat ruang daring, suasana haru tetap terasa — terutama ketika pidato Setiawan memasuki bagian refleksi masa kuliah dan perjalanan hidupnya setelah lulus.
“Kampus ini pernah menyaksikan saya jatuh, dan hari ini saya ingin ia juga menyaksikan saya pulang — dengan rasa syukur, dan juga kebanggaan,” ucapnya lirih di tengah senyum para dosen yang menyimak.
Dalam pidatonya, lulusan Teknik Industri angkatan 2008 itu mengajak para wisudawan untuk memahami bahwa ilmu teknik sejatinya bukan sekadar rumus atau sistem produksi, melainkan cara berpikir dalam menghadapi hidup.
“Anak teknik itu tidak hilang,” ujarnya. “Dia tetap hidup di diri saya — dalam cara saya berpikir, mengatur, dan memecahkan masalah. Saya hanya memindahkan sistemnya dari mesin menjadi manusia.”
Pidato berdurasi 45 menit itu menjelma menjadi perjalanan emosional — dari kisah tentang Masjid Al Muta’allimin, tempatnya menahan lapar semasa kuliah, hingga nasihat dosen yang kini terbukti benar di medan kerja.
“Dek, dunia kerja nanti jauh lebih keras, lho, Dek,” kenang Setiawan menirukan pesan salah satu dosennya, Putiri Khatili Buana, yang disambut senyum hangat para peserta.
Ketua Jurusan Teknik Industri Untirta, Achmad Bahauddin, S.T., M.T., Ph.D., memberikan apresiasi atas kehadiran dan pesan yang disampaikan.
“Very inspiring and very insightful. Semoga nanti Mas Setiawan bisa kembali pulang ke kampus dan berbagi secara langsung dengan adik-adik,” ujarnya menutup sesi dengan senyum bangga.
Di akhir pidato, Setiawan menegaskan pesan yang menjadi inti seluruh perjalanannya:
“Teruslah jadi engineer. Rancang sesuatu yang efektif dan efisien — termasuk jalan hidup kalian sendiri.”
Tentang Pembicara
Setiawan Chogah (Dedi Setiawan, S.T.)
Lulusan Teknik Industri Untirta angkatan 2008. Kini aktif sebagai konsultan komunikasi digital independen, kreator konten growth & finance storytelling, dan penulis di platform Techfin Insight. Ia dikenal lewat karya reflektif seperti Pohon-pohon yang Ditanam Setelah Luka dan SMS Terakhir, serta berbagai esai finansial dan human interest yang menekankan pentingnya hidup yang efektif, efisien, dan manusiawi.
Penulis: Keira Zareen
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




