Cilegon, Techfin Insight – Ada satu kalimat yang tertinggal lama di kepala kami setelah sesi Yudisium Teknik Industri Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Jumat (17/10/2025): “Dunia ini dinamis, dan hidup tidak menanyakan kurikulum. Jadilah insinyur yang lentur.”
Kalimat itu diucapkan oleh Setiawan Chogah (Dedi Setiawan, S.T.), alumni yang sore itu kembali ke rumah akademiknya lewat layar Zoom — pulang bukan membawa gelar baru, tapi membawa cara pandang baru tentang dunia kerja, kehidupan, dan makna menjadi engineer.
Dunia yang Tak Lagi Linear
Dulu, dunia kerja dipahami sebagai garis lurus: kuliah → kerja → karier → pensiun. Tapi kini, garis itu berubah menjadi peta bercabang — penuh simpang dan persimpangan baru.
Lulusan teknik bisa jadi penulis, analis data, pebisnis kreatif, atau bahkan pendidik. Yang dulu dianggap “belok jalur”, sekarang justru menjadi definisi baru dari adaptif.
“Yang penting bukan garisnya lurus, tapi arahnya jelas,” ucap Setiawan dalam pidatonya.
Di tengah perubahan yang begitu cepat — ketika teknologi meniadakan batas, dan dunia kerja menuntut fleksibilitas — kemampuan beradaptasi bukan lagi pelengkap, tapi inti dari keahlian seorang insinyur.
Teknik Industri di Luar Pabrik
Teknik Industri selalu dikenal dengan keunggulannya membaca sistem: memahami interaksi antara manusia, mesin, waktu, dan biaya.
Namun di luar pabrik, prinsip itu ternyata tetap relevan — hanya berubah bentuk. Sistem kerja kini bergeser menjadi sistem kehidupan.
Proses produksi menjadi proses pengembangan diri. Dan optimasi sumber daya berganti menjadi optimasi waktu dan makna.
Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, engineer yang lentur tahu kapan harus bertahan, kapan harus berubah arah, dan kapan harus memperbaiki sistem dari dalam — tanpa kehilangan identitasnya.
Soft Skill Adalah Fondasi Baru
Di antara semua hal yang disinggung dalam Yudisium kali ini, ada satu pesan penting yang terasa sangat relevan: bahwa soft skill kini sama pentingnya dengan hard skill.
Kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, berempati, dan beradaptasi menjadi faktor penentu kesuksesan yang sesungguhnya.
Seorang engineer yang lentur bukan hanya mampu menghitung, tapi juga mampu memahami manusia di balik angka.
Ia tidak hanya memecahkan masalah, tapi juga menenangkan tim di tengah krisis.
“Soft skill adalah alat kalibrasi antara kecerdasan dan kemanusiaan,” ujar Setiawan, “Tanpanya, sistem secanggih apa pun akan kehilangan arah.”
Pelajaran dari Kampus dan Kehidupan
Yudisium Gelombang VI Teknik Industri Untirta bukan sekadar seremoni kelulusan.
Ia menjadi ruang refleksi kolektif tentang bagaimana pendidikan teknik melahirkan manusia yang utuh: yang berpikir sistematis, tapi juga mampu merasa dengan hati terbuka.
Di penghujung acara, Ketua Jurusan Teknik Industri Untirta, Achmad Bahauddin, S.T., M.T., Ph.D., menyampaikan tanggapan singkat, “Very inspiring and very insightful. Semoga nanti Mas Setiawan bisa kembali ke kampus dan berbagi secara langsung dengan adik-adik.”
Kalimat sederhana itu menjadi penutup yang sempurna untuk sebuah pertemuan lintas generasi — antara kampus yang membentuk dan alumnus yang tumbuh.
Teknologi akan terus berubah, industri akan terus bergeser, tapi nilai-nilai seorang insinyur yang sejati akan tetap sama: berpikir sistemik, bertindak efektif, dan hidup dengan kesadaran.
Karena menjadi engineer, pada akhirnya, bukan soal gelar atau posisi. Ia soal bagaimana kita merancang kehidupan yang efisien, selamat, dan bermakna.
Penulis: Keira Zareen
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




