Techfin Insight – Dalam lanskap energi global yang terus bergerak menuju masa depan hijau, Indonesia kini berdiri tegak di panggung dunia.
Pada forum Conference of the Parties ke-30 (COP30) di Belem, Brazil, PT PLN (Persero) menegaskan langkah konkret menuju transisi energi yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Direktur Teknologi, Engineering dan Keberlanjutan PLN, Evy Haryadi, dalam sesi CEO Talk bertajuk “Corporate Climate Leadership for Indonesia’s Net Zero Action through High Integrity Carbon”, mengungkapkan arah baru PLN: transformasi hijau yang bukan hanya retorika, melainkan rencana yang terukur.
RUPTL 2025–2034: Lebih Hijau, Lebih Ambisius
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 menunjukkan pergeseran besar dalam strategi energi nasional.
Jika dalam RUPTL sebelumnya PLN menargetkan pembangunan 21 gigawatt (GW) energi terbarukan, kini angkanya melonjak menjadi 52,9 GW, termasuk kapasitas energy storage.
“Kapasitas ini menjadi lompatan signifikan bagi sistem kelistrikan nasional. Kami ingin memastikan bahwa transisi energi tidak hanya berorientasi pada pembangunan pembangkit baru, tapi juga pada keandalan dan keberlanjutan,” jelas Evy Haryadi.
Selain membangun pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT), PLN juga aktif menurunkan emisi dari pembangkit eksisting melalui perdagangan emisi dan mekanisme pembiayaan karbon.
Pendekatan ini tidak hanya mengurangi jejak karbon, tapi juga membuka peluang investasi hijau baru yang mempercepat dekarbonisasi sektor energi nasional.
Smart Grid dan Strategi Complementing Renewable Expansion
PLN menempatkan Smart Grid sebagai tulang punggung integrasi energi terbarukan. Teknologi ini memungkinkan sistem listrik nasional menyerap energi hijau secara dinamis tanpa mengorbankan keandalan.
Pendekatan ini dikenal sebagai Complementing Renewable Expansion — strategi yang memastikan pertumbuhan energi terbarukan berjalan seiring dengan kesiapan infrastruktur pendukung seperti penyimpanan energi (energy storage), pembangkit fleksibel berbasis gas dan hidro, serta jaringan transmisi hijau antarwilayah.
“Kami tidak ingin transisi energi hanya berhenti pada pembangunan kapasitas, tetapi juga memastikan sistemnya mampu menyalurkan dan menyeimbangkan pasokan listrik hijau dengan stabil,” tegas Evy.
Dengan strategi ini, PLN menargetkan porsi energi hijau dalam sistem nasional dapat meningkat hingga 75 persen dalam satu dekade ke depan — tanpa mengorbankan keterjangkauan harga listrik bagi masyarakat.
250 Juta Ton Peluang Ekonomi Hijau
PLN memperkirakan potensi ekspansi energi terbarukan dapat menghasilkan hingga 250 juta ton sertifikat pengurangan emisi (carbon credits). Potensi ini tidak hanya berdampak pada pengurangan emisi global, tapi juga membuka peluang ekonomi hijau yang nyata.
“Setiap ton emisi yang berhasil dikurangi harus memberi nilai tambah bagi negara, investor, dan masyarakat,” ujar Evy. “Itulah cara kami membangun ekosistem ekonomi hijau yang berkelanjutan.”
Melalui pendekatan ini, PLN tidak sekadar memenuhi regulasi, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru dari dekarbonisasi — dari sekadar pengurangan emisi menjadi peluang finansial yang memperkuat daya saing nasional.
Kolaborasi Global untuk Transisi Berkeadilan
Percepatan transisi energi tidak bisa berdiri sendiri. PLN menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor, pendanaan inovatif, dan mekanisme pasar karbon berintegritas tinggi.
“Dukungan lembaga pembiayaan internasional, transfer teknologi, serta pasar karbon berintegritas menjadi kunci agar transisi energi tidak meninggalkan siapa pun di belakang,” tutup Evy.
Dengan visi ini, PLN bukan hanya penyedia listrik nasional, tapi katalis transformasi menuju masa depan energi yang inklusif, tangguh, dan berkeadilan.
Penulis: Aira Safeeya
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




