Techfin Insight – Pernahkah kamu berbalik arah hanya karena mendengar peringatan: “Jangan lewat jalan itu, ada penunggunya”?
Padahal di siang hari, jalan itu tampak biasa saja. Tak ada tanda-tanda aneh. Tapi tubuhmu menolak sebelum logikamu sempat bertanya. Itu bukan karena kamu penakut.
tu karena otakmu bekerja sebagaimana mestinya—melindungimu, bukan mencari kebenaran.
Selama ribuan tahun, otak manusia berevolusi bukan untuk menjadi bijak, tapi untuk bertahan hidup. Ia diprogram untuk menghindari bahaya lebih cepat daripada mencari bukti.
Bagian otak yang bertanggung jawab terhadap rasa takut—amigdala—bereaksi 80 milidetik lebih cepat daripada bagian otak rasional (prefrontal cortex).
Artinya, sebelum kamu sempat berpikir, tubuhmu sudah memutuskan: “berbahaya, jangan dekati.”
Masalahnya, sistem perlindungan kuno ini kini sering ikut campur dalam keputusan modern. Ia tak lagi membedakan antara harimau di semak dengan rasa takut menghadapi kebenaran.
Otak, Rasa Aman, dan Ilusi Kebenaran
Daniel Kahneman dalam Thinking, Fast and Slow menjelaskan: otak bekerja dengan dua sistem—satu cepat, instingtif, dan emosional (System 1); satu lagi lambat, analitis, dan logis (System 2).
Sebagian besar waktu, kita hidup di bawah kendali sistem cepat yang menyukai kebiasaan dan menolak kebingungan.
Ketika keyakinan kita diguncang fakta, otak meresponsnya sebagai ancaman—inilah yang disebut disonansi kognitif.
Karena itulah, manusia lebih suka percaya pada hal yang membuat mereka merasa aman (comfort bias).
Lisa Feldman Barrett, profesor neuroscience di Northeastern University, menulis bahwa otak manusia bersifat predictive: ia menafsirkan dunia berdasarkan pengalaman masa lalu.
Jadi, saat kamu takut pada sesuatu yang tak terbukti, sebenarnya otak sedang berusaha menjaga konsistensi dunia yang ia kenal—bukan mencari dunia yang benar.
Eksperimen Kecil di Bawah Pohon Ficus virens
Sejak pohon Ficus virens—orang sini menyebutnya ara bunut—tumbuh subur di halaman rumah, saya sering mendapat komentar yang sama dari tamu: “Ih, pohonnya seram. Tebang aja, nanti ada kuntilanaknya.”
Awalnya saya hanya tersenyum. Tapi lama-lama saya penasaran. Seberapa dalam keyakinan itu tertanam? Maka saya lakukan eksperimen kecil—tidak ilmiah dalam arti laboratorium, tapi jujur secara pengalaman.
Saya biarkan pohon itu tumbuh, saya duduk di bawahnya menjelang magrib, bahkan menyalakan lampu kecil di dekat batangnya.
Hasilnya: tidak ada apa-apa. Tak ada suara, tak ada bayangan aneh, tak ada energi ganjil. Hanya jangkrik dan dedaunan yang bergerak pelan di bawah angin sore.
Dari situ saya belajar sesuatu tentang manusia, khususnya manusia Indonesia: semakin sulit sesuatu dijelaskan, semakin ia dianggap punya kekuatan.
Dan karena otak kita lebih ingin aman daripada tahu, maka cara paling mudah bertahan adalah menghindar.
Rasa takut itu lalu diwariskan sebagai nasihat, dan nasihat itu diterima sebagai kebenaran. Lama-kelamaan, kita lupa memeriksa ulang apa yang sebenarnya kita percayai.
Antara Iman dan Rasionalitas
Saya tidak sedang menolak hal-hal gaib. Sebagai seorang Muslim, saya mengimani keberadaan alam yang tak kasat mata. Tapi saya tidak ingin menjadi Muslim yang bodoh—yang tunduk pada rasa takut, bukan pada pengetahuan.
Keyakinan yang saya anut berdiri di atas fondasi realistis: yang bisa dijelaskan, dipahami, dan diuji. Di luar itu, saya berhenti di garis iman—bukan menambahkan ritual baru yang tidak pernah saya temukan dalam fikih manapun.
Agama memberi ruang bagi akal, bukan menggantinya. Maka ketika seseorang menyuruh saya menebang pohon karena “ada penunggunya”, saya justru menganggapnya sebagai kesempatan menguji: apakah yang saya takutkan benar-benar berbahaya, atau hanya bayangan yang diwariskan tanpa pernah diperiksa.
Ketika Takut Menjadi Ekonomi: Biaya dari Keyakinan yang Tak Diuji
Kecenderungan untuk percaya tanpa memeriksa bukan hanya soal spiritual, tapi juga finansial. Banyak orang hidup dalam kesulitan ekonomi karena menelan mentah-mentah nasihat kuno tanpa menakar kebenarannya.
Berapa banyak orang enggan pindah rumah karena “katanya tanahnya panas”? Berapa banyak yang menghabiskan tabungan untuk ritual penolak bala, bukan memperbaiki saluran air yang bocor?
Otak yang mencari aman akan menolak perubahan—termasuk perubahan ekonomi. Ia lebih suka membeli ketenangan daripada mencari solusi rasional.
Padahal dalam banyak kasus, kemiskinan bukan semata soal pendapatan, melainkan soal pola pikir.
Efeknya sistemik: ekonomi keluarga berhenti berkembang, keputusan finansial diambil dengan rasa takut, dan peluang perbaikan hidup terlewat begitu saja.
Sampai akhirnya kita menyalahkan takdir, padahal yang gagal kita ubah adalah cara berpikir.
Melawan ketakutan irasional, pada akhirnya, bukan hanya upaya spiritual. Ia juga bentuk kemandirian finansial.
Kebenaran Tak Selalu Nyaman, tapi Selalu Membebaskan
Otak kita diciptakan untuk mencari aman, tapi kesadaran memberi kita pilihan untuk melampauinya. Nyaman memang menenangkan, tapi kebenaran menyembuhkan.
Mungkin keberanian paling sejati bukan melawan hantu di bawah pohon, tapi melawan ketakutan yang kita pelihara dalam kepala sendiri.
“Terkadang, yang kita sebut keyakinan hanyalah cara otak melindungi diri dari kemungkinan bahwa kita bisa saja salah.”
Penulis: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.





