Yogyakarta, Techfin Insight — Meika Kurnia Puji Rahayu duduk di ruang kerjanya yang dipenuhi buku manajemen dan jurnal psikologi organisasi.
Sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMY, sekaligus dosen Manajemen SDM, ia kerap menjadi tempat curhat mahasiswanya yang baru memasuki dunia kerja.
Beberapa bulan terakhir, Meika mengamati fenomena yang kian ramai dibicarakan — terutama setelah munculnya istilah “quiet quitting” di media sosial.
Istilah yang merujuk pada perilaku karyawan yang hanya bekerja sesuai deskripsi pekerjaan, tanpa inisiatif lebih, seolah menjadi simbol diam-diam dari kelelahan emosional.
“Quiet quitting itu bukan soal malas. Ini gejala sistemik,” ujar Meika, membuka percakapan kami, Rabu pagi di Kampus Terpadu UMY, 16 Juli 2025.
Bekerja Sesuai Jobdesk, Lantas Apa Salahnya?
Menurut Meika, banyak orang salah memahami quiet quitting sebagai bentuk ketidakloyalan. Padahal, generasi Z — generasi yang lahir dan tumbuh dalam era digital — memiliki pandangan berbeda soal dunia kerja.
“Yang dilakukan Gen Z itu menjalankan kewajiban. Titik. Tidak lebih, tidak kurang,” jelasnya.
Namun, dalam organisasi yang menuntut inisiatif dan partisipasi aktif, sikap ini bisa jadi tantangan tersendiri.
Mereka cenderung mengutamakan kesehatan mental, menghargai waktu pribadi, dan tidak selalu memandang karier sebagai pusat kehidupan.
Tidak jarang, manajer atau pimpinan yang berasal dari generasi X merasa kecewa atau bingung menghadapi staf muda yang tampak ‘dingin’ atau tidak antusias.
Di sinilah, menurut Meika, benturan nilai antar generasi kerap terjadi tanpa disadari.
Celah Antargenerasi yang Tak Terlihat
Meika menggambarkan situasi organisasi saat ini seperti rumah besar yang dihuni oleh dua generasi dengan bahasa emosional berbeda.
Generasi X banyak dibentuk oleh budaya loyalitas dan kerja keras penuh pengorbanan. Sementara Gen Z lahir di tengah budaya transparansi, teknologi, dan fleksibilitas.

“Yang satu hidup untuk kerja, yang satu kerja untuk hidup. Perbedaan itu bukan soal siapa yang lebih benar. Tapi bagaimana kita menjembataninya,” ujar Meika.
Ia menegaskan, quiet quitting adalah alarm sosial yang mengingatkan kita bahwa ada yang perlu diperbaiki dalam sistem kerja — baik secara struktural maupun emosional.
Budaya Organisasi yang Emosional dan Manusiawi
Solusi dari quiet quitting, menurut Meika, bukan sekadar menaikkan gaji atau menambah bonus.
Yang jauh lebih penting adalah membangun budaya organisasi yang mendukung keterlibatan emosional, bukan hanya produktivitas.
“Kalau karyawan merasa dihargai, didengar, dan punya ruang untuk bertumbuh, mereka akan dengan sukarela memberi lebih. Inilah yang disebut Organizational Citizenship Behavior (OCB),” jelasnya.
OCB adalah kontribusi ekstra yang tidak tertulis dalam kontrak kerja. Ini terjadi ketika seorang karyawan mau membantu rekan kerja, memberikan ide, atau menjaga reputasi perusahaan — bukan karena diminta, tapi karena ia peduli.
Budaya kerja yang suportif tidak bisa dibentuk lewat pendekatan otoriter. Justru sebaliknya, dibutuhkan kepemimpinan yang memahami kebutuhan psikologis dan sosial karyawan.
Pemimpin Harus Mau Belajar Bahasa Baru
Meika mengajak para pemimpin untuk belajar bahasa baru, yaitu bahasa generasi Z. Bahasa yang menghargai makna, koneksi personal, serta kebutuhan akan fleksibilitas dan keterbukaan.
“Kita nggak bisa terus-terusan pakai pendekatan reward-punishment. Gen Z butuh pemimpin yang bisa jadi fasilitator, bukan hanya atasan,” ujarnya.
Ia menambahkan, membangun komunikasi yang sehat antar generasi sangat penting agar tidak terjadi miskomunikasi atau kesenjangan psikologis dalam tim kerja.
Soft Skills adalah Kunci Adaptasi
Di sisi lain, Meika juga tidak menutup mata bahwa Gen Z pun perlu mengembangkan keterampilan lunak agar mampu beradaptasi. Kecerdasan akademik atau digital saja tidak cukup di dunia kerja yang kompleks.
“Mereka ini cerdas-cerdas, tapi kalau nggak bisa komunikasi, nggak bisa empati, ya tetap akan sulit bekerja dalam tim,” katanya.
Soft skills seperti komunikasi lintas generasi, kemampuan mendengarkan, dan menyampaikan ide secara konstruktif menjadi bekal penting bagi generasi muda agar tidak terjebak dalam sikap apatis atau withdrawal diam-diam.
Quiet Quitting adalah Ajak Bicara, Bukan Penolakan
Fenomena quiet quitting, jika dilihat lebih jernih, bukanlah bentuk penolakan terhadap kerja keras. Ia justru adalah ajakan untuk duduk bersama, berbicara lebih terbuka, dan membangun tempat kerja yang manusiawi.
Meika menutup perbincangan dengan satu kalimat penuh makna:
“Quiet quitting bukan soal diam. Tapi mungkin karena suara mereka belum pernah didengar dengan sungguh-sungguh.”



