Techfin Insight – Banyak orang berpikir lega finansial datang ketika uangnya banyak. Padahal, menurut Setiawan Chogah, Editor-in-Chief Techfin Insight sekaligus Growth & Finance Storyteller, lega finansial lahir dari kebiasaan sederhana yang dikerjakan konsisten.
Dalam sesi pelatihan “Menanam Kebun Rezeki” di Institut Kemandirian, Chogah menekankan ada tiga langkah realistis yang bisa dipraktikkan siapa pun untuk mulai bernafas lega secara finansial.
1. Earning Power: Fondasi Rezeki
Langkah pertama adalah earning power, alias kemampuan menghasilkan uang. Setiawan menjelaskan, uang hanya bisa disisihkan kalau ada yang dihasilkan lebih dulu.
“Jangan alergi bicara soal uang. Uang itu penting, tapi caranya tetap harus sehat dan bermartabat,” ujarnya.
Ia merujuk pada konsep empat kuadran cara menghasilkan uang: menjadi karyawan, berprofesi (dokter, pengacara, desainer), berbisnis, atau berinvestasi.
“Mana pun jalurnya, kuncinya tetap satu: stay foolish, stay hungry. Kutipan Steve Jobs ini berlaku juga di keuangan. Jangan pernah berhenti belajar. Ilmu gratis bertebaran di zaman AI, akses pengetahuan tak terbatas. Yang sulit bukan belajar, tapi mendapat kesempatan. Dan kesempatan itu datang ketika kita siap,” tegas Chogah.
Analogi sederhananya: earning power itu ladang. Tanpa ladang, tak ada yang bisa ditanam, tak ada hasil panen. Maka, jagalah kesehatan, terus tambah skill, dan pastikan ladangmu cukup luas untuk menghasilkan.
2. Habit Surplus: Sisihkan, Jangan Sisakan
Setelah ada ladang, langkah berikutnya adalah memastikan panen tidak habis dimakan. “Sisihkan, jangan sisakan. Itu prinsip utama,” kata Chogah tegas.
Banyak orang gagal lega finansial karena menunggu ada sisa. Padahal, sisa hampir selalu tak pernah ada.
Ia menganalogikan surplus seperti menyimpan sebagian benih sebelum semua dimasak. Kalau semua dimakan hari ini, besok tak ada lagi yang bisa ditanam.
Habit surplus artinya membangun kebiasaan mendahulukan tabungan atau investasi, meski jumlahnya kecil, ketimbang memanjakan konsumsi.
“Bukan soal nominalnya, tapi kebiasaannya. Seribu rupiah yang disisihkan lebih berharga daripada sejuta rupiah yang diniatkan tapi tak pernah jadi,” ujarnya.
Surplus kecil tapi konsisten akan menumbuhkan ruang lega di hati—karena ada cadangan untuk esok.
3. Budgeting: Cermin dan Kompas Finansial
Langkah terakhir adalah budgeting. Inilah sistem kontrol yang menjaga arah. Tanpa pencatatan, uang menguap tanpa jejak.
Budgeting ibarat buku harian rezeki: apa yang masuk, ke mana ia pergi, apa yang bisa dipangkas, dan apa yang layak ditambah.
Dengan disiplin mencatat, seseorang bisa tahu kapan ia harus menahan diri dan kapan ia bisa memberi lebih.
Chogah menekankan, budgeting bukan sekadar soal angka, tapi soal kesadaran. “Kalau kita bisa mencatat pengeluaran, artinya kita peduli. Kalau kita peduli, berarti kita sedang menata hidup untuk lebih lega.”
Budgeting adalah cermin dan kompas finansial. Tanpa pencatatan, uang menguap tanpa jejak. Setiawan menegaskan, “Laporan paling berharga adalah yang tidak dikirim ke siapa pun, tapi tetap dicatat.”
Yang unik, Chogah merekomendasikan empat kolom budgeting yang sedikit berbeda dari kebanyakan penasihat keuangan:
- Kebutuhan – segala biaya hidup pokok, dari makan hingga bayar listrik.
- Tabungan – untuk masa depan, darurat, atau investasi kecil yang konsisten.
- Sedekah – mengingatkan diri bahwa rezeki bukan milik sendiri, ada hak orang lain di dalamnya.
- Keleluasaan – bukan sekadar hiburan. Chogah memilih istilah ini karena batas yang terlalu ketat sering membuat manusia mencari pelarian. Sedangkan keleluasaan membuat manusia tetap pulang.
Setiap angka punya rumahnya. “Tidak banyak, tidak heroik. Tapi setiap rupiah yang dicatat dan diberi alamat, akan tahu jalan pulang,” tulisnya dalam refleksi finansial.
Dengan pendekatan ini, budgeting bukan sekadar pembatasan, tapi sebuah seni menata keseimbangan: cukup untuk hari ini, ada cadangan untuk esok, ada berbagi, dan ada ruang untuk bernapas.
Menanam Kebun Rezeki
Tiga langkah ini bukan teori rumit, tapi praktik yang bisa langsung dicoba. Mulai dari memperkuat earning power, biasakan surplus, lalu disiplin mencatat.
Analogi kebun rezeki yang dibawakan Setiawan Chogah pun sederhana: tanam ladangmu, sisihkan benihnya, catat panennya.
Hasilnya bukan hanya saldo bertambah, tapi hati lebih tenang. Karena lega finansial bukan soal kaya raya, melainkan bisa tidur nyenyak tanpa dihantui rasa takut esok tak punya apa-apa.
Penulis: Keira Zareen
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




