Tangerang, Techfin Insight – Di sebuah ruangan yang hangat, di aula Institut Kemandirian Dompet Dhuafa (IKDD), puluhan pasang mata menatap tajam ke depan.
Mereka bukan sekadar audiens, melainkan calon wirausahawan dari kelas Pelatihan Servis Motor dan Menjahit yang sedang menapaki jalan kemandirian.
Di hadapan mereka, Setiawan Chogah, Editor-in-Chief Techfin Insight, tak memulainya dengan teori rumit, melainkan sebuah kisah.
Kisah seorang anak desa dari pelosok Sumatea Barat yang kini berdiri di panggung, mengajak mereka menanam ‘kebun rezeki’ sendiri.
Chogah, seorang growth & finance storyteller, membuka presentasinya dengan “peta hidup” yang sederhana.
Ia bercerita tentang perjalanannya dari masa kecil yang serba terbatas hingga bekerja serabutan, termasuk menjadi badut dengan upah kecil.
Momen titik balik datang di usia 28 tahun ketika ia sadar, seberapa pun besar penghasilan, akan selalu habis jika tidak dikelola. Kesadaran inilah yang menjadi fondasi misi hidupnya.
“Uang itu seperti air,” ujar Chogah, “Jika dialirkan dengan benar, ia bisa menyuburkan kebun kita. Tapi jika tidak dikelola, bisa membuat banjir atau kekeringan.”
Melalui materi ‘Menanam Kebun Rezeki’, ia mengajak peserta untuk mengubah sudut pandang mereka, bahwa uang bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk merawat mimpi dan mencapai ketenangan hidup.
Ia mematahkan mitos-mitos lama tentang uang dan memperkenalkan konsep-konsep praktis yang relevan dengan profesi mereka.

Wajah-wajah optimis penerima manfaat Pelatihan Servis Motor dan Menjahit di Institut Kemandirian Dompet Dhuafa. Bersama-sama mereka belajar bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga bagaimana menanam kebun rezeki—mengelola uang layaknya air yang menyuburkan kehidupan.
Mengatasi Masalah Utama: Kendi Rezeki yang Bocor
Chogah menekankan bahwa akar masalah keuangan bukanlah pada seberapa banyak uang yang masuk, melainkan pada kebiasaan yang tidak tepat.
Ia menggunakan analogi “Kendi Rezeki yang Bocor” untuk menjelaskan mengapa banyak orang merasa sulit secara finansial meskipun punya penghasilan besar.
“Bayangkan Anda mengisi kendi yang bocor,” jelasnya. “Seberapa pun banyak air yang Anda tuang, kendi itu tidak akan pernah penuh. Kita sibuk mencari uang lebih, tapi tidak sadar uang yang sudah ada terus bocor.”
Solusinya, menurut Chogah, bukanlah mencari air lebih banyak, melainkan memperbaiki kendi yang bocor. Perbaikan itu dilakukan melalui dua kebiasaan dasar: membuat anggaran dan membangun kebiasaan surplus.
- Membuat Anggaran (Budgeting): Ini adalah fondasi utama. Chogah mengajarkan peserta untuk mengendalikan aliran uang mereka, bukan membiarkan uang yang mengendalikan. Membuat anggaran membantu membedakan antara kebutuhan (benih dan pupuk untuk kebun) dan keinginan (hiasan yang bisa menunggu).
- Membangun Kebiasaan Surplus: Ini adalah kunci untuk keluar dari siklus ‘gaji habis bulan ke bulan’. Chogah menjelaskan bahwa ketenangan finansial sejati datang dari sisa uang yang berhasil dikumpulkan, bukan dari jumlah yang dihabiskan. “Orang dengan penghasilan Rp2 juta yang punya sisa Rp200 ribu di akhir bulan lebih kaya dari orang berpenghasilan Rp5 juta yang tidak punya sisa sama sekali,” tegasnya.
Untuk melengkapi materi tersebut, Chogah juga memperkenalkan “Piramida Kebutuhan Finansial”.
Ia mengajak peserta untuk selalu bertanya pada diri sendiri sebelum membeli: “Apakah saya bisa menggunakan apa yang sudah saya punya? Apakah saya bisa pinjam, tukar, atau beli bekas? Apakah saya bisa membuatnya sendiri?” Membeli barang baru, menurutnya, hanyalah pilihan terakhir.
Menanam di Kebun Sendiri: Fondasi Manajemen Keuangan Bisnis
“Setelah kendi rezeki kita tidak lagi bocor,” lanjut Chogah, “saatnya kita fokus menanam di kebun sendiri.
Kebun ini adalah bisnis kita.” Ia menjelaskan bahwa fondasi bisnis yang kuat dimulai dari manajemen keuangan yang sehat, dengan aturan emas: pisahkan rekening pribadi dan bisnis.
Poin terpenting yang ia ajarkan adalah tentang dua “peta” sederhana yang wajib dikuasai oleh setiap wirausaha pemula: Laporan Laba Rugi dan Laporan Arus Kas.
- Laporan Laba Rugi: “Peta” ini digunakan untuk mengetahui apakah kebun kita subur atau tidak. “Ini seperti menghitung hasil panen bersih,” jelas Chogah. “Jika pendapatan (hasil panen) lebih besar dari beban (biaya perawatan), maka kebun Anda subur.”
- Laporan Arus Kas: “Peta” ini digunakan untuk memastikan aliran air (uang tunai) di kebun kita lancar. “Laba di atas kertas tidak sama dengan uang di dompet,” tegasnya. “Ada banyak bisnis yang untung, tapi bangkrut karena tidak punya uang tunai untuk bayar gaji atau cicilan. Laporan ini memastikan waduk air Anda tidak kering.”
Di akhir sesi yang digelar di Tangerang, Banten, mata para peserta tampak berbinar. Mereka tidak hanya pulang dengan catatan dan rumus, tapi juga dengan inspirasi dan harapan.
Bahwa di tengah keterbatasan, setiap orang punya kesempatan untuk menanam ‘kebun rezeki’ mereka sendiri, satu per satu, hingga akhirnya bisa memetik hasil dan berbagi kepada sesama.
“Mengendalikan keuangan bukanlah tujuan akhir, itu adalah alat untuk mencapai kehidupan yang kita impikan,” tutup Chogah, meninggalkan pesan mendalam yang akan terus tumbuh subur di benak setiap peserta.
Penulis: Aira Safeeya
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




