Juga ketika saya juga hanyut dengan lembut bersama kisah Isra’ Mikraj—perjalanan beliau dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu naik ke langit, berbicara dengan Tuhan tanpa perantara—yang pada akhirnya saya mengimani bahwa ini bukan mitos. Ini metafora paling agung tentang manusia yang bersujud, lalu dijemput oleh langit.
Fisika Kuantum dan Sujud Pertama
Isra’ Mikraj bukan dongeng. Tapi jika kita membuka mata fisika, itu adalah perjalanan antardimensi. Dalam fisika kuantum, dikenal istilah non-locality dan entanglement—dua partikel yang bisa saling terhubung dalam ruang yang tak kasat mata.
Jika dalam dunia ini ada terowongan Einstein-Rosen (wormholes), maka Mi’raj adalah perjalanan yang melampaui kecepatan cahaya, menembus dimensi ruang-waktu.
Nabi Muhammad tidak naik ke langit sebagai tubuh biasa, tapi sebagai kesadaran cahaya yang melepaskan atribut dunia. Dia melewati sidratul muntaha—dimensi tempat logika terhenti, dan intuisi menjadi pemandu. Saat saya menyadari ini, saya tidak hanya kagum, saya bersujud. Saya tahu, bahwa shalat bukan hanya ritual, tapi latihan naik—Mi’raj kecil setiap hari.
Tapi semua teori Fisiki yang saya baca itu berhenti di sebuah batas: kesadaran.
Mengapa manusia bisa menangis saat berdoa? Mengapa ada jiwa yang bisa merasa Tuhan hadir, bahkan tanpa melihat-Nya?
Dan saat saya bersujud dalam shalat—membenamkan kening ke bumi, tubuh dalam posisi paling rendah—justru di situlah saya merasakan kesadaran saya melejit paling tinggi.
Saya mengerti: sujud adalah frekuensi tertinggi dari manusia kepada Tuhan. Sains boleh menjelaskan materi, tapi rupanya hanya iman yang bisa menjelaskan makna.
Islam Bukan Hanya Keyakinan, Tapi Cetak Biru Kehidupan
Islam tidak meminta saya membuang kekaguman pada nabi-nabi lain. Justru, ia mengajarkan untuk menyebut mereka semua dengan penuh hormat: Ibrahim, Musa, Isa, bahkan Idris dan Nuh.
Islam bukan kubus eksklusif. Ia adalah langit yang menaungi semua kisah sebelumnya, dan menyempurnakannya.
“Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” – (QS Al-Baqarah: 285)
Tapi yang membuat saya tinggal, bukan hanya kitabnya. Tapi jalan hidupnya. Dari tata cara tidur, makan, menyapa tetangga, menangisi dosa, bahkan mencintai sesama dalam adab dan akhlak. Islam bukan hanya agama. Ia adalah desain langit yang menuntun setiap gerak bumi.
Saya tidak harus menebak karma, tidak perlu menyelinap waktu untuk meditasi. Saya hanya perlu menyambung kabel yang sudah disiapkan Allah: lima waktu shalat, zakat, puasa, dzikir, dan akhlak. Dan, benar… cahaya itu pun menyala. Bukan di langit, tapi di dada.
Tidak Meninggalkan yang Lain, tapi Saya Menemukan Rumah yang Lengkap
Pada titik ini, tidak ada ruang bagi saya untuk menjelekkan ajaran lain. Saya menghormati semua guru cahaya yang pernah lahir ke bumi. Tapi di Islam, saya tidak hanya menemukan jawaban, saya menemukan rumah.
Perumpamaan diriku dengan para nabi sebelumnya adalah seperti bangunan yang hampir sempurna, hanya tersisa satu batu bata. Maka akulah batu bata itu.
(HR Bukhari dan Muslim)
Dan saya—adalah seorang peziarah yang akhirnya menemukan batu bata terakhir itu. Yang membuat bangunan keimanan saya lengkap. Yang membuat rumah jiwa saya berdiri dengan utuh.
Hayya ‘alal Falah: Seruan untuk Pulang
Dulu, kalimat itu hanya terdengar seperti gema biasa—lalu lalang suara dari pengeras masjid yang sayup lewat celah jendela. “Hayya ‘alal Falah…”
Kalimat itu melintas seperti angin yang tidak diminta, hadir tanpa jejak, pergi tanpa kesan. Seperti bunyi latar kehidupan yang tak pernah benar-benar saya dengarkan.
Namun, waktu mengubah pendengaran saya. Atau mungkin jiwa saya yang akhirnya mulai mendengar?
Kini, setiap kali adzan berkumandang, terutama saat kalimat itu menyeruak di tengah rutinitas—saat tubuh lelah menatap layar, saat kepala dipenuhi to-do list yang tak kunjung selesai, saat hati gamang menghadapi pertanyaan hidup yang makin rumit—saya berhenti. Dan saya diam.
“Hayya ‘alal Falah…”
Ada sesuatu yang mengetuk dada. Lembut, tapi pasti. Kalimat itu kini seperti air yang menyiram padang kering dalam diri saya. Ia bukan lagi hanya ajakan ke sajadah, tapi panggilan pulang—pulang ke hakikat, ke inti jiwa yang selama ini tenggelam dalam kesibukan dunia.
Falah. Kemenangan.
Bukan kemenangan yang digembar-gemborkan dunia. Bukan tentang target bulanan, bukan tentang pujian, bukan pula tentang siapa yang lebih dulu mencapai garis akhir. Ini tentang menang dari rasa takut. Tentang mengalahkan kecemasan yang diam-diam menggrogoti. Tentang meredakan suara-suara di kepala yang terus berkata: “Kamu tidak cukup.”
Ketika muadzin berseru, “Hayya ‘alal Falah,” rasanya seperti Allah sedang berkata: “Kemarilah, Aku tahu kamu lelah. Tapi kamu tak harus kalah. Bangkitlah. Menanglah. Datanglah kepada-Ku.”
Dan saya pun datang. Kadang dengan air mata. Kadang dengan senyum kecil. Tapi selalu dengan jiwa yang lebih ringan dari sebelumnya.
Saya menyukai kalimat itu sekarang. Bahkan, saya mencintainya. Ia adalah bisikan yang menuntun saya saat saya hampir hilang arah. Ia adalah kompas yang menunjuk ke langit ketika tanah terlalu berat untuk dipijak.
Saya ingin menang. Tapi bukan atas orang lain. Saya ingin falah—atas diri saya sendiri.
Demikianlah akhirnya saya bersimpuh sebagai seorang Muslim yang sadar. Saya sekarang tahu, mengapa saya harus shalat.
Bukan karena saya sempurna, bukan karena saya selalu kuat, tapi karena saya ingin menang—menang atas diri saya yang mudah rapuh, mudah takut, juga mudah lupa arah.
Seperti Arisu di Alice in Borderland, saya ingin menyelesaikan permainan ini dengan falah. Bukan dengan pelarian, tapi dengan pemahaman. Bukan dengan kemenangan atas dunia, tapi dengan kemenangan atas batin sendiri.
Seperti Gi-hun di Squid Game, saya mulai mengerti bahwa kematian bukan lagi sesuatu yang menakutkan. Justru di ujung itulah, pintu kepulangan dibuka. Bukan ke kekosongan, tapi ke pangkuan yang kekal.
Dan di antara panggilan langit yang tak pernah lelah, satu kalimat kini saya genggam erat-erat:
Hayya ‘alal Falah.
Mari menuju kemenangan. Mari pulang.
Langit yang Tak Pernah Benar-benar Jauh
Saya masih banyak salah. Masih sering lupa. Tapi setiap kali saya kembali ke sajadah, dan menyebut:
“Allahu Akbar…”
Akbar bukan dalam makna bombastis yang sering kita dengar di mimbar politik. Tapi sungguh Mahabesar: lebih besar dari konsep. Lebih besar dari bentuk. Lebih besar dari semua energi elektromagnetik yang pernah saya pelajari.
Tuhan yang saya temui bukan cahaya yang silau. Bukan juga suara dari langit. Tapi Ia kecerdasan tak terukur, tak terbatas, yang merancang segala dengan simetri dan kasih. Dia bukan personifikasi, bukan lelaki berjubah cahaya. Dia adalah Sang Kesadaran Murni. Dan saya, saya hanyalah gema dari keberadaan-Nya.
Langit terasa lebih dekat. Dada terasa lebih lapang. Dan hati saya… terasa utuh.
Karena kini saya tahu: mengapa saya memilih Islam.
Bukan karena paksaan. Bukan karena warisan. Tapi karena saya telah mencicipi semua cahaya… dan menemukan satu cahaya yang tak pernah padam.
Serang, 24 Juli 2025





