Saya tersungkur di lantainya. Ammar Mosque and Osman Ramju Sadick Islamic Centre. Bukan karena lelah, bukan karena tubuh yang rapuh. Tapi karena ada sesuatu dari dalam diri saya yang seperti dipecahkan. Seperti ada pintu yang selama ini tertutup rapat, akhirnya terbuka. Dan dari dalamnya, keluar cahaya.
Saya menggigil. Musim dingin Hong Kong membuat kulit saya mengelupas di sekitar kuku, tapi yang paling terasa adalah sejuknya jiwa saat mendengar adzan di negeri asing. Di tengah kota yang tidak tahu saya siapa, masjid itu memeluk saya seperti rumah.
Tak ada yang peduli apakah saya membaca qunut atau tidak? Tak ada yang bertanya, apakah saya Indonesia atau Pakistan?
Setelah hari itu, saya sering datang ke Wan Chai lima kali sehari. Bukan karena kewajiban, tapi karena rindu. Saya bahkan sempat menangis dan berkata pada tembok: “Terima kasih sudah menerima saya. Saya akan pulang, tapi saya akan pulang dengan jiwa yang berbeda.”
Al-Qur’an Bukan Sekadar Kitab, Tapi Peta Langit
Saya pulang ke Indonesia dengan kerinduan yang agung, saya kembali membuka Al-Qur’an setelah bertahun-tahun menjauh, saya tidak menemukan dogma. Saya menemukan jawaban yang mendahului pertanyaan. Ia seperti cahaya yang tidak menampar mata, tapi menembus tulang sumsum.
Al-Qur’an berbicara tentang Adam, para malaikat yang bersujud, iblis yang menolak, Nuh dan kapalnya, Mesir dan Musa, Maryam dan Isa, hingga taman abadi dan api yang tak padam. Tapi ia tidak hanya bercerita. Ia membuka simpul-simpul makna dalam hidup saya yang selama ini hanya saya gumamkan dalam sepi.
Setiap ayat seperti jendela yang dibuka dari dalam jiwa saya sendiri. Dan ia tidak meminta saya menanggalkan cinta saya pada yang terdahulu. Justru ia memeluk semua cahaya sebelumnya, seperti malam yang merangkum semua bintang.
Batu Bata Terakhir yang Menyempurnakan Segalanya
Ketika saya membaca tentang Nabi Muhammad, saya tidak sedang membaca seorang tokoh sejarah. Saya sedang mengintip cahaya yang hidup. Ia adalah manusia yang menangis kehilangan anak, merasakan lapar, dikhianati, bahkan diracun. Tapi ia tetap lembut. Ia tetap bersujud. Ia tetap menjadi cahaya dalam badai.
Ia bukan hanya nabi yang mulia—ia adalah anak manusia yang dilahirkan dalam sepi. Muhammad sudah yatim bahkan sebelum matanya sempat menatap wajah ayahnya, Abdullah. Belum sempat mendengar suara panggilan cinta dari sang ayah, ia sudah dipeluk sunyi.
Di awal hidupnya, ia disusui oleh Halimah Sa’diyah—di sebuah pedalaman yang jauh dari pelukan Aminah, ibunya. Ia tumbuh dalam dekapan orang lain, dalam udara padang yang keras, tapi justru di situlah kelembutannya ditempa.
Lalu, saat usianya baru enam tahun, pilu kembali menyapa. Ia menjadi piatu. Aminah wafat dalam perjalanan pulang dari Madinah. Muhammad kecil, dengan mata seluas padang, kini benar-benar sebatang kara di dunia.
Namun dari luka itulah tumbuh ketangguhan. Dari sunyi itulah tumbuh kedalaman. Ia bukan nabi dari istana, bukan raja bersenjata, bukan pemimpin yang dibesarkan di singgasana. Ia adalah anak manusia yang belajar bersandar hanya pada langit, karena dunia terlalu cepat merebut pangkuan darinya.
Dan mungkin karena itu, ia begitu memahami derita manusia. Ia tahu rasanya kehilangan. Ia tahu pahitnya sepi. Maka ketika umatnya mengkhianatinya, ia tidak membalas dengan pedang, tapi dengan doa. Ketika dilempari batu di Thaif, ia tidak meminta malaikat menghancurkan kota itu, tapi memohon agar kelak anak-anak mereka mengenal cahaya.
Ia tetap lembut. Ia tetap bersujud. Ia tetap menjadi cahaya dalam badai—karena sejak kecil, badai telah menjadi gurunya.




