Berkelana Melewati Banyak Langit
2008, saya pindah ke Banten untuk kuliah, saya menemukan lebih banyak pilihan tempat pelarian yang tak terduga: toko buku bekas, perpustakaan, dan manusia yang lebih beragam.
Saya pernah mengagumi Yesus dalam lukisan-lukisan Renaissance. Ketika membaca kisahnya, saya menangis. Ia tampak seperti cahaya yang rela ditikam demi cinta.
Perpustakaan kota menjadi tempat pelarian kedua saya. Di antara cahaya sore yang menyelinap lewat jendela dan tumpukan buku yang berdebu, saya menemukan Bhagavad Gita. Saya tak mengerti bahasa Sanskrit, tapi saya menangkap sesuatu: tentang perang batin, tentang jiwa, tentang keabadian.
Saya juga membaca Injil dari tetangga saya yang Protestan. Saya pergi ke Vihara Avalokitesvara dan membawa pulang banyak buku tentang kehidupan Siddharta. Saya lahap semuanya—Karen Armstrong, Irshad Manji, pemikir-pemikir Muslim yang tak hanya bicara tentang tata cara shalat, tapi alasan filosofis dan spiritual mengapa manusia harus shalat. Saya tak pernah bisa menerima dogma begitu saja. Kepada saya, agama yang menyodorkan ancaman neraka hanya membuat saya ingin mundur.
Saya butuh logika. Saya butuh pelukan, bukan tudingan.
Saya membaca Weda dan menemukan keagungan semesta dalam bahasa yang seperti nyanyian surgawi. Saya juga pernah mencoba meditasi Buddhis dan merasakan keheningan yang bersih, sebersih danau di pagi hari.
Saya juga mencoba mengenal Zoroaster, Osiris, Orfeus, hingga Baldr yang akan kembali saat Ragnarok tiba. Saya mengkaji bagaimana tiap peradaban mencoba menjelaskan makna penderitaan dan keselamatan.
Semua kisah itu menyalakan sesuatu dalam diri saya. Tapi cahaya itu seperti pecahan kaca patri—indah, menyilaukan, tapi tidak pernah utuh. Ada yang tidak dijelaskan. Ada yang dirahasiakan. Ada yang membuat saya dipaksa berhenti bertanya, seolah kebenaran punya batas izin.
Saya tidak mencari siapa yang paling benar. Saya hanya mencari siapa yang mampu menjawab dengan utuh semua pertanyaan batin saya—tentang asal mula jiwa, makna penderitaan, arah pulang setelah mati, dan mengapa cinta kadang terasa seperti luka yang terus menganga.
Antara Atlantis dan Babel
Dalam pencarian itu, saya mulai menemukan pola. Bahwa manusia bukan hanya makhluk ekonomi atau sosial—kita makhluk spiritual yang mewarisi kisah besar.
Kisah tentang peradaban yang ditenggelamkan—Atlantis dan Lemuria, seperti yang dibisikkan dalam mitos dan kitab tua. Ada kisah tentang banjir besar: Nuh dalam Al-Qur’an, Manu dalam kitab Hindu. Lalu Menara Babel, saat manusia ingin menjangkau langit, tapi Tuhan memecah bahasa mereka.
Kisah itu seperti gema di dalam jiwa. Seolah saya sedang menapak ulang jalan-jalan kuno: dari para nabi terdahulu, dari Abraham dan Brahma, dari Mizrain yang mendirikan Mesir hingga Thao dari Timur Jauh. Lalu datanglah para avatar dan utusan: Krishna, Buddha, Musa, Yesus, hingga Muhammad. Masing-masing membawa serpihan cahaya, tapi tak semua manusia bisa melihat nyala itu.
Saya ingin tahu: siapa saya dalam mozaik besar ini? Apakah saya pewaris dari peradaban yang karam, atau seorang yang menunggu Ragnarok, akhir zaman?
Langit yang Membawa Saya ke Hong Kong
Januari 2023, saya terbang ke Hong Kong dalam tugas pekerjaan. Dua puluh enam hari yang saya kira akan penuh spreadsheet dan deadline, ternyata menjadi perhentian batin yang tidak pernah saya duga.
Saya tinggal di kawasan Causeway Bay, pusat etalase kemajuan dunia, dikelilingi mal, gedung tinggi, dan pejalan kaki yang sibuk seperti jarum jam.
Di itinerary pribadi saya, saya sudah menandai satu tempat: Big Buddha—patung perunggu besar Buddha Sakyamuni yang berdiri megah di atas bukit Ngong Ping, Pulau Lantau. Saya ingin ke sana, bukan untuk selfie, tapi untuk merasakan ketenangan dari mata Buddha yang terpejam. Saya membayangkan berdiri di depannya, mencoba menyerap damai dari sosok agung yang menatap dunia tanpa menghakimi.
Namun, hidup kadang memberi kejutan melalui arah yang tidak kita pilih.

Petang itu, saya berjalan kaki ke Wan Chai, dan entah bagaimana langkah saya berhenti di depan sebuah bangunan tinggi menjulang, bercat putih dengan aksen hijau di tengah hiruk kota. Saya masuk dengan langkah malu-malu. Tak ada yang mengenal saya. Tapi saat itu, saya merasa dikenal oleh sesuatu yang lebih dalam dari manusia.




