Techfin Insight – Pagi masih belum sepenuhnya matang. Langit belum biru, tapi juga tak lagi gelap. Hamparan paving block sepanjang kompleks Sukawana Asri terasa lengang seperti dada yang baru selesai menangis.
Saya baru pulang dari masjid setelah shalat Subuh—sunyi, jernih, tanpa riuh di kepala. Di perjalanan pulang, langkah saya melambat, bukan karena lelah, tapi karena seperti ada sesuatu yang belum selesai—seperti ada cahaya yang menunggu untuk diajak bicara.
Sesampainya di rumah, saya menyeduh kopi. Bukan Kapal Api kali ini. Saya mencoba biji kopi dari Flores, hadiah seorang kawan. Aroma kayunya lembut dan getir, seperti tanah basah yang baru disentuh hujan pertama.
Dan entah mengapa, aroma itu membawa saya pulang… ke sebuah sore tua di perpustakaan kota, saat saya duduk diam membaca Bhagavad Gita, mencoba memahami semesta dari bait-bait purba.
Dan di sanalah, dari secangkir kopi pagi dan seberkas ingatan, muncul lagi pertanyaan yang tak pernah benar-benar mati:
“Dari semua keyakinan, dari semua kisah nabi, rsi, avatar, dan juru selamat… mengapa akhirnya saya memilih Islam?”
Menyulam Diri dari Retakan
Saya lahir pada 2 Desember, hari Jumat. Kata orangtua, itu hari kelahiran para nabi. Barangkali itulah sebabnya sejak kecil, hidup saya seperti dibayangi pertanyaan tentang cahaya dan jalan pulang.
Tapi saya lahir bukan dalam istana doa. Saya lahir dari rahim yang dikepung kegelisahan, dari rumah tangga yang akhirnya patah.
Saya lahir dari uang pinjaman di Klinik Bidan Uniang, Tanjung Emas, sekitar 15 kilometer dari rumah. Perjalanan itu tak hanya tentang jarak, tapi juga tentang perjuangan. Rumah kami di Nagari Atar, kampung yang dikepung bukit dan kebun karet—seolah Tuhan sendiri ingin menyembunyikannya dari dunia.
Sampai hari ini, saat saya rindu pulang kampung, jika ingin mengirim pesan, saya harus berdiri di titik tertentu, kadang mengangkat tangan seperti menjemput sinyal dari langit. Internet masih malu-malu masuk ke sana.
Menyebalkan? Tentu.
Dengan segala keterbatasan itu, saya merasa aneh kenapa saya justru tumbuh dengan pertanyaan yang besar—tentang eksistensi, tentang makna hidup, tentang Tuhan. Di tempat yang jauh dari seminar filsafat, saya merasa seperti diikat oleh pertanyaan yang tak kunjung reda: siapa saya? Untuk apa saya hidup? Dan mengapa dunia seperti ini?
Kami sering menyambung hidup dari uang pinjaman. Saya sudah lupa, berapa kali Ibu berbisik di telinga saya waktu SD, “Minta dulu gula seperempat di lopou, ya… Nanti dibayar.”
Tapi yang paling menyakitkan dari semua itu bukanlah kemiskinan, melainkan rasa yang tak punya tempat untuk bertanya. Maka hingga hari ini saya sering pergi ke tempat yang tidak pernah menolak siapa pun: ruang baca, perpustakaan, dan toko buku. Menepi di lorong-lorong sunyi, di bawah deretan rak.
Di Tepi Danau, Di Balik Jendela Asrama
Ya, saya dibesarkan dari keluarga yang retak. Ketika perpisahan kedua orangtua saya itu terjadi, saya belum sepenuhnya paham arti kehilangan.
Masa SMA saya habiskan di sekolah favorit di Sumatra Barat, sebuah asrama pendidikan di tepi Danau Maninjau. Tempat yang indah bagi banyak orang, tapi kadang begitu sunyi bagi anak yang tak pernah dijenguk siapa-siapa.
Teman-teman saya dibesuk orangtua tiap akhir pekan, mereka makan bersama di warung danau, tertawa, lalu kembali ke asrama membawa semangat.
Sementara saya… duduk di balik jendela, menatap kosong. Kadang saya menelan air mata tanpa suara, diliputi cemburu yang tak pernah bisa saya beri nama.
Masa kecil saya ditulis dengan sunyi yang tak banyak dimengerti anak-anak lain: sunyi tentang pertanyaan besar yang tak terjawab, dan dunia yang terasa terlalu dingin bagi jiwa kecil yang bertanya, “Mengapa semua ini terjadi?”
Tapi barangkali justru karena itu, saya belajar memahami kekosongan lebih awal dari anak-anak lain.




