Techfin Insight – Beberapa hari ini linimassa masih penuh dengan rekaman penjarahan. Wajah-wajah sumringah, langkah tergesa, tangan yang erat menggenggam barang-barang yang barangkali bahkan tak mereka butuhkan.
Di antara sorak dan kerumunan, saya justru merasa sepi. Ada sesuatu yang hampa ketika melihat bagaimana amarah bisa berubah menjadi pesta, meski pesta itu lahir dari reruntuhan moral.
Kita marah pada koruptor. Kita anggap mereka serakah, rakus, tak tahu diri. Kita kutuk mereka karena mengambil uang rakyat, menyisakan luka yang panjang.
Tetapi, apakah wajah yang berlari sambil membawa televisi atau sepeda listrik dari rumah yang dijarah sungguh berbeda? Atau jangan-jangan, kita hanya sedang bercermin pada versi kecil dari keburukan yang sama?
Penjarahan Bukan Perlawanan
Mari kita akui pelan-pelan: menjarah bukan perlawanan. Ia tidak pernah memperkuat pesan, malah merusaknya.
Seruan keadilan yang mulanya lantang berubah menjadi gemuruh palsu, tertutup oleh sorak tawa orang-orang yang berhasil mendapatkan sesuatu tanpa keringat, tanpa hak.
Perlawanan sejati selalu lahir dari pengorbanan, bukan dari perampasan. Sementara itu, penjarahan hanya mewariskan luka baru, menambah lapisan ketidakadilan.
Bukankah ini sama seperti korupsi yang kita benci? Bedanya hanya ruang dan panggung: satu di meja rapat berpendingin ruangan, satunya lagi di jalan penuh debu.
Cermin yang Retak
Kadang kita lupa, bahwa keburukan tidak pernah datang sekaligus dalam bentuk besar. Ia sering kali tumbuh kecil, dalam diri kita sendiri.
Saat kita merasa sah mengambil karena “mereka lebih bersalah”, di situlah retakan pertama terjadi. Retakan itu pelan-pelan meluas, hingga suatu hari mungkin kita sendiri akan terjebak di dalamnya.
Mungkin benar, kita ini koruptor yang belum menjabat. Kita hanya belum diberi panggung besar.
Tapi di hati, bibit itu sudah ada: membenarkan diri ketika mencuri kesempatan, merasa pantas ketika mengambil sesuatu yang bukan hak.

Wajah Sumringah, Wajah yang Membebani
Ada satu potret yang sulit hilang dari ingatan: wajah-wajah muda dengan senyum lebar, bangga membawa pulang hasil jarahan.
Sebuah kemenangan yang direkam kamera ponsel dan dipamerkan di linimassa, seolah itu sesuatu yang heroik.
Namun di baliknya, ada wajah lain: wajah rakyat kecil yang setiap hari jujur berjualan di pasar, wajah ibu yang menabung receh demi biaya sekolah anak, wajah bapak yang bekerja keras tanpa pernah berpikir mengambil hak orang lain.
Wajah-wajah itu kini ikut ternodai, karena sorak kemenangan penjarahan seakan mencabut martabat bersama.
Di titik itulah kita perlu berhenti: apakah benar kita sedang melawan? Atau justru mempermalukan diri sendiri?
Jejak dari Kisah Lama
Sejarah pernah mengajarkan bahwa bahkan di medan perang sekali pun, rampasan harus diatur dengan adil.
Nabi Muhammad menolak membiarkan pasukannya saling berebut, karena kerakusan hanya akan menghancurkan makna perjuangan itu sendiri.
Jika di medan perang saja ada aturan ketat untuk menahan nafsu, mengapa kita begitu mudah kehilangan kendali di masa damai?
Ada garis halus yang memisahkan amarah yang sah dengan tindakan yang tak lagi bermartabat. Ketika garis itu dilewati, yang tersisa hanyalah bayangan yang sama buramnya dengan yang kita lawan.
Di luar jendela, cahaya matahari menyingkap bayangan pohon yang jatuh ke jalan. Hidup tetap berjalan, meski linimassa riuh dengan berita penjarahan.
Dan barangkali, di momen inilah kita perlu mengambil jeda. Sebelum menunjuk orang lain sebagai sumber kebusukan, mari bertanya pada diri: apakah kita sungguh berbeda?
Jangan sampai kita hanya menunggu giliran, menunggu panggung, untuk menjadi koruptor dalam versi yang lebih berkelas.
Karena perlawanan tanpa moral akan selalu runtuh. Dan bangsa ini tidak butuh lebih banyak perampas, entah berseragam pejabat atau berseragam amarah.
Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk berkata: cukup, aku tidak akan mengambil yang bukan milikku.
Penulis: Keira Zareen
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




