Techfin Insight – Pagi masih belia. Langit belum sepenuhnya biru, dan jalan di depan rumah masih lengket dengan sisa embun. Dari kejauhan terdengar kokok ayam tetangga, saling sahut, seperti saling menegur bahwa waktu Subuh telah lewat beberapa detik. Saya baru pulang dari masjid, sendirian, dengan jaket tipis dan sajadah kecil masih terlilit di leher.
Seperti biasa, saya langsung menuju dapur. Kebiasaan saya ini aneh, kadang saya bertanya ke diri sendiri, “Masa, tiap pagi harus Kapal Api Mix, sih?”
Tapi begitulah manusia. Kita semua butuh sesuatu yang tidak berubah di tengah dunia yang selalu berubah.
Sayangnya, pagi itu—entah kenapa—persediaan kopi saya habis. Saya mengacak-acak laci, membuka lemari gantung, bahkan mencoba membuka tutup toples yang sudah bertahun-tahun tidak saya sentuh. Tidak ada. Sunyi.
Sudah lebih dari sepuluh tahun saya memulai pagi dengan rasa kopi itu. Saya pernah mencoba kopi lain, bahkan dari kampung halaman saya sendiri—Rangkiang Kaum—yang rasanya khas dan membekas. Tapi tetap saja, hanya Kapal Api Mix yang mampu memberi saya rasa “siap untuk memulai”. Mungkin ini bukan sekadar tentang kopi semata, melainkan tentang rasa keteraturan dan kenangan.

Saya duduk di dekat jendela, membuka kaca lebar-lebar. Angin pagi menyapu wajah saya dengan lembut. Udara ini punya cara untuk membawa manusia kembali pada kesadaran awal: bahwa kita kecil, bahwa kita fana, bahwa ada sesuatu yang lebih besar yang sedang mengawasi semuanya.
Saya terdiam.
Dan di momen itulah, sebuah pertanyaan menghentak masuk—bukan seperti tamu yang mengetuk, tapi seperti kilat yang menyalak di langit jiwa:
“Siapa saya, siapa kita… sebelum semua ini?”
Pertanyaan itu… membuka pintu.
Sebelum Banjir, Sebelum Lupa
Saya menutup mata. Dan dalam diam itu, saya seperti ditarik mundur. Bukan sekadar mundur dalam hitungan tahun, tapi mundur dalam ingatan spiritual yang nyaris terlupakan.
Saya melihat daratan luas berkilau keemasan, penuh kuil dan kanal. Atlantis, pikir saya. Atau Lemuria? Atau mungkin ini hanya bayangan pikiran saya? Tapi perasaan itu terlalu nyata. Terlalu hangat untuk disebut ilusi.
Beberapa jiwa zaman dulu pernah hidup di sini. Mereka bukan manusia seperti kita—setidaknya bukan manusia modern. Mereka adalah keturunan para makhluk langit: disebut Anunnaki dalam teks Sumeria, Deva dalam Veda, Elohim dalam Tanakh. Bahkan dalam Qur’an pun ada makhluk bernama Malaikat yang diturunkan untuk membantu atau menguji manusia.
Lalu mereka—manusia—mulai bermain-main dengan kekuatan itu. Mereka membangun kota-kota canggih, menyatu dengan langit dan laut. Teknologi mereka bukan kabel dan sinyal, tapi suara dan cahaya. Energi diaktifkan lewat frekuensi dan mantra.
Tapi kebijaksanaan mereka runtuh. Keserakahan menyusup, seperti racun di mata air. Mereka mulai memodifikasi gen, menciptakan makhluk baru, merusak keseimbangan.
“Dan ketika para malaikat turun ke bumi dan melihat anak-anak perempuan manusia itu cantik, mereka mengambil istri dari antara mereka.” – (Kitab Henokh 6:1–2)
Maka Tuhan, atau Sumber, atau Kesadaran Tertinggi—memutuskan untuk menghapus semua itu. Dengan satu cara yang dikenal oleh hampir semua tradisi kuno: banjir besar.

Dalam Hindu, Manu diberi peringatan oleh seekor ikan suci (inkarnasi Wisnu) agar membangun perahu besar. Dalam tradisi Yahudi dan Islam, Nuh diperintahkan untuk membuat bahtera. Dalam mitos Sumeria, Ziusudra juga diselamatkan oleh dewa Enki. Di mitologi Nordik, banjir menghanyutkan dunia dan menyisakan hanya satu pasangan manusia.
Dalam Qur’an:
“Lalu Kami wahyukan kepadanya: ‘Buatlah bahtera di bawah pengawasan dan wahyu Kami.’” – (QS Hud: 37)
Manusia disaring. Pengetahuan diselamatkan. Bahtera itu bukan hanya kapal fisik, tapi simbol dari warisan jiwa yang harus bertahan dari kehancuran.
Saya membayangkan perahu itu melaju di atas laut tanpa tepi. Bintang-bintang menyaksikan dalam diam. Dan di dalamnya, seorang lelaki tua—Nuh, atau Manu, atau siapa pun namanya di tiap kebudayaan—menjaga gulungan rahasia, membawa benih manusia ke dunia baru.
Saya membuka mata. Kopi saya belum ada. Tapi sekarang ada sesuatu yang lebih hangat dari sekadar minuman pagi: kesadaran bahwa kita semua berasal dari satu cerita.




