Techfin Insight – Pada suatu pagi yang teduh di pinggiran Serang, Banten, Badi , membuka laptopnya sambil menyeruput kopi. Bukannya sedang cuti, Badi sedang bekerja penuh waktu sebagai software engineer di perusahaan fintech di Jakarta. Bedanya, ia tidak lagi terikat gedung kantor, jam lembur, atau drama jalanan Ibu Kota.
Dimas bukan satu-satunya. Ia bagian dari gelombang pekerja digital Indonesia yang memilih “Work from Anywhere” (WFA) bukan karena gaya, tapi karena sadar: hidup lebih dari sekadar kerja.
Dari Remote ke WFA: Perubahan Mindset Kerja
Di masa pandemi, remote working adalah solusi darurat. Tapi pasca-pandemi, ia berubah jadi strategi hidup — lahirnya era Work from Anywhere.
WFA bukan hanya soal pindah lokasi kerja. Ia adalah:
- Pilihan sadar untuk hidup lebih seimbang.
- Kebebasan geografis tanpa kehilangan produktivitas.
- Perencanaan gaya hidup berdasarkan kenyamanan, bukan tuntutan perusahaan.
Data Tren WFA di Indonesia
Menurut riset Glints dan Tech in Asia (2025):
- 54% pekerja digital usia 25–35 memilih tidak tinggal di kota besar.
- 42% responden mengaku pindah ke kota dengan biaya hidup lebih murah.
Uang Bukan Segalanya: Kenapa Banyak Pindah?
- Keseimbangan kerja-hidup lebih baik.
- Kerja tetap 8 jam, tapi bisa istirahat dengan tenang dan tanpa macet.
- Biaya hidup lebih rendah.
- Sewa kos di Jakarta Rp3 juta, di Jogja bisa dapat rumah kontrakan mini.
- Koneksi alam dan mental health.
- Banyak yang merasa lebih stabil secara emosional sejak WFA.
- Akses teknologi mencukupi.
- Internet cepat kini bukan monopoli kota besar.

Tools WFA Favorit Gen Z dan Milenial
| Kebutuhan | Aplikasi Favorit |
| Komunikasi tim | Slack, Microsoft Teams |
| Kolaborasi dokumen | Notion, Google Workspace |
| Manajemen tugas | Trello, Asana |
| Pengaturan jam kerja | Clockify, Toggl |
| Coworking space finder | GoWork, CoHive, Loopspace |
Tantangan yang Muncul
Tentu tidak semua manis. WFA juga punya konsekuensi:
- Kesepian digital. Tidak punya teman kantor fisik bisa bikin burnout sosial.
- Manajemen waktu personal. Tanpa struktur kantor, disiplin jadi tanggung jawab sendiri.
- Gangguan di rumah. Tidak semua rumah mendukung kenyamanan kerja.
Tapi bagi banyak pekerja, tantangan ini bukan penghalang. Justru menjadi peluang untuk menyusun ulang ritme hidup.
Dari Nomaden ke Strategis: Masa Depan WFA
Dulu, digital nomad identik dengan gaya hidup bohemian. Tapi kini, pekerja WFA punya perencanaan keuangan, manajemen waktu, bahkan rencana pensiun. Ini bukan gaya hidup impulsif — tapi strategi jangka panjang.
“Aku tahu aku tidak akan kaya dalam waktu dekat, tapi hidupku jauh lebih terkendali,” kata Dimas.
Tips Memulai Gaya Hidup WFA
- Pastikan pekerjaan mendukung sistem remote full.
- Pilih lokasi dengan internet stabil & lingkungan produktif.
- Buat rutinitas kerja yang konsisten.
- Bangun koneksi sosial di kota baru (komunitas, coworking, hobi).
- Gunakan aplikasi pendukung produktivitas & manajemen keuangan.
Gaya Hidup Baru, Harapan Baru
Work from Anywhere bukan sekadar tren. Ia adalah refleksi perubahan besar dalam cara generasi masa kini memandang hidup, uang, waktu, dan kebebasan.
Ketika pekerjaan tak lagi menuntut kehadiran fisik, kita dihadapkan pada pertanyaan yang lebih mendalam:
Di mana aku bisa menjadi versi terbaik dari diriku — sebagai pekerja dan sebagai manusia?
Penulis: Aris Subadi
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.



