Techfin Insight – Ada luka yang ingin segera kita buang, ada luka yang kita sembunyikan rapat-rapat, tetapi ada pula luka yang memilih tinggal dan menjadi bagian dari hidup. Novel Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka karya Setiawan Chogah menghadirkan pilihan ketiga itu: bagaimana bila luka tidak diusir, tetapi ditumbuhkan menjadi pohon yang teduh?
Novel ini tidak menawarkan kejutan yang gegap gempita, melainkan perjalanan perlahan. Raif, tokoh utama, adalah manusia biasa dengan rahasia yang tidak mudah ia bagi. Rangga, Dinda, Keira, Amar, Ayra—semuanya berputar di sekitarnya, membawa cerita masing-masing. Tidak ada yang hitam-putih; setiap tokoh membawa retak dan cara sendiri untuk menambalnya.
Pohon sebagai Bahasa
Uniknya, setiap bab tidak hanya membawa alur, tetapi juga satu flora yang menjadi metafora. Ficus virens hadir sebagai rumah bayangan—tempat orang kembali meski pernah pergi. Santalum album mewakili wangi yang tidak memaksa—kesetiaan yang tidak menuntut tepuk tangan. Nepenthes mirabilis mengajarkan kita tentang menampung rahasia, tetapi juga tahu kapan harus mengosongkan agar tidak busuk.
Pohon-pohon ini menjadi bahasa lain ketika kata manusia terlalu keras. Setiawan menganyam narasi dengan membiarkan daun, akar, dan bunga menjadi pengajar yang sabar.
Membaca novel ini sama seperti duduk di halaman: kita tidak diceramahi, hanya diajak menunduk, mendengar, dan merasakan.
Orang selalu bertanya, apakah pohon-pohon itu benar? Apa boleh menanam pohon di dalam dada? Apa tidak salah dicampur aduk—botani dan batin, tanah dan kalimat? Raif berpikir, manusia sebenarnya sudah lama melakukannya—hanya saja tidak menyebutnya demikian. Ada yang menanam duri dan menyebutnya kehati-hatian. Ada yang menanam bambu dan menyebutnya lentur. Ada yang menanam cemara dan menyebutnya kuat. Ada yang lupa menanam, lalu terkejut ketika tanah di dalamnya jadi kubangan.
Kutipan novel Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka
Jejak Penulis yang Menepi
Nama Setiawan Chogah bukan nama baru dalam dunia kepenulisan. Esai-esainya, penuh lirih dan jeda, pernah menghiasi berbagai media—menjadi teman mereka yang ingin merenung.
Ia sempat menulis tentang finansial dan pengembangan diri, sebelum kembali lagi ke ranah fiksi melalui novel ini.
Di luar dunia sastra, Setiawan kini menjabat sebagai Editor in Chief di Techfin Insight, sebuah kanal yang membahas teknologi finansial.

Di sela pekerjaannya merawat redaksi, ia tetap menyisakan ruang untuk refleksi. Tulisannya hadir rutin dalam rubrik #RuangDalam—sebuah ruang lirih di Techfin Insight, tempat pembaca diajak berhenti sejenak dari hiruk pikuk ekonomi digital untuk mengingat batin sendiri.
Novel Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka lahir justru di sela rehat itulah—ketika ia menyelipkan jeda di antara angka, laporan, dan deadline.
Dari ruang sunyi itu, tumbuhlah kisah Raif dan pohon-pohon yang menampung luka.
Misi: Membagikan Tanpa Biaya
Sejalan dengan misinya, untuk periode awal novel ini dibagikan gratis di Wattpad. Setiawan percaya cerita bisa menjadi rumah bersama, dan rumah sebaiknya tidak dipungut biaya.
Ia ingin orang-orang membaca pelan, menemukan jeda, tanpa harus terbebani dompet.
Namun ia juga menyiapkan versi cetak terbatas. Bukan untuk meniadakan akses gratis, melainkan memberi bentuk lain: agar pohon-pohon dalam novel ini bisa disimpan, disentuh, bahkan diwariskan.
Versi cetak akan menghadirkan aroma kertas, jeda halaman kosong, dan keintiman yang berbeda.
Membaca sebagai Ritual
Keistimewaan lain ada di bentuk digital Wattpad. Setiap bab dilengkapi ilustrasi yang lembut serta kidung pengantar.
Penulis bahkan menyarankan pembaca untuk memutar kidung itu sebelum masuk ke cerita—sebagai cara menyiapkan hati, seperti kita menyapu halaman sebelum duduk.
Membaca pun menjadi ritual kecil: lirih, hangat, dan penuh hormat.
Hening yang Ditanam
Di tengah riuh dunia, Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka mengajak kita untuk menanam hening.
Untuk menerima bahwa tidak semua luka harus disembuhkan dengan gegas, sebagian bisa diberi akar. Untuk percaya bahwa pulang bukan sekadar alamat, melainkan cara berjalan.
Novel ini tidak meminta kita kagum, hanya mengajak kita duduk. Jika setelah membacanya kita memilih menanam sesuatu—pohon, doa, kebiasaan baik—maka buku ini sudah menemukan alamatnya.
Dengan novel ini, Setiawan Chogah memberi kita hadiah kecil: sebuah taman di tengah halaman buku. Ia tidak menawarkan jawaban, tetapi ruang. Ia tidak menagih kesepakatan, hanya menemani. Dan mungkin, di situlah letak kekuatannya.
Membaca Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka bukan sekadar menekuni kisah Raif atau Rangga, melainkan berlatih memperlambat langkah. Dan di dunia yang tergesa, itu adalah anugerah.
Penulis: Ammar Fahri
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




