Techfin Insight — Ratusan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) diajak berhenti menjadi penonton dalam hidupnya sendiri.
Pesan tersebut disampaikan oleh Setiawan Chogah dalam kegiatan motivasi dan pengembangan diri di SMK Nur El Falah, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (31/1/2026).
Kegiatan yang diikuti siswa kelas X, XI, dan XII ini berlangsung hampir dua jam. Dalam sesi tersebut, Setiawan mengajak para siswa mengenali konsep diri, memahami passion secara realistis, serta menyadari peran mereka sebagai generasi vokasi di era digital.
Bukan Ceramah, Tapi Percakapan dengan Diri Sendiri
Berbeda dari seminar motivasi pada umumnya, sesi ini dirancang sebagai ruang percakapan reflektif. Sejak awal, Setiawan menegaskan bahwa ia tidak datang sebagai sosok yang paling berhasil, melainkan sebagai seseorang yang pernah berada di fase kebingungan yang sama.
“Masalah terbesar banyak orang bukan karena kalah, tapi karena tidak pernah benar-benar bermain,” ujarnya di hadapan para siswa.
Pendekatan ini membuat suasana kegiatan terasa lebih personal. Para siswa tidak hanya mendengar, tetapi diajak berpikir dan berdialog dengan dirinya sendiri.
Nilai Rapor Bukan Nilai Diri
Salah satu pesan yang mendapat perhatian besar adalah penegasan bahwa nilai rapor tidak selalu mencerminkan nilai diri seseorang. Menurut Setiawan, sekolah menilai hasil, sementara kehidupan menilai proses dan ketahanan dalam belajar.
Pesan ini menjadi relevan bagi siswa SMK yang kerap merasa tertekan oleh standar akademik. Melalui pendekatan reflektif, siswa diajak melihat potensi diri di luar angka dan label.
Menulis Surat untuk Masa Depan
Di akhir sesi, suasana berubah lebih hening dan emosional. Para siswa diminta menulis sebuah komitmen pribadi dalam bentuk surat untuk diri mereka di masa depan. Surat tersebut berisi hal-hal kecil dan realistis yang akan mereka lakukan setelah kegiatan ini.
Setiawan meminta para siswa menempelkan surat itu di kamar masing-masing sebagai pengingat. Menurutnya, dalam proses berubah menjadi lebih baik, manusia sering kali lupa pada janjinya sendiri.
“Surat ini bukan untuk dikumpulkan, tapi untuk dibaca ulang saat kalian lelah atau ragu,” ujarnya.
Beberapa siswa tampak terharu. Ada yang terdiam lama, ada pula yang tersenyum kecil setelah merasa lebih mengenal dirinya sendiri. Momen tersebut menjadi salah satu bagian paling berkesan dalam kegiatan ini.
Peta Diri untuk Anak Vokasi
Selain surat komitmen, para siswa juga diajak mengikuti permainan reflektif bertajuk Peta Diri 4A.
Melalui metode ini, siswa diminta memetakan empat hal utama dalam dirinya, mulai dari kekuatan yang mereka miliki, kelemahan yang kerap menghambat, peluang di sekitar yang bisa dimanfaatkan, hingga kebiasaan atau situasi yang perlu diwaspadai agar tidak menyimpang dari tujuan hidup.
Pendekatan ini sengaja dibuat sederhana dan membumi agar mudah dipahami siswa SMK. Alih-alih memberi label atau penilaian, Peta Diri 4A diposisikan sebagai alat bantu untuk mengenal diri secara jujur.
Setiawan menekankan bahwa peta ini bukan untuk menentukan benar atau salah, melainkan untuk membantu siswa memahami posisi mereka saat ini sebelum melangkah lebih jauh.
Dari hasil refleksi tersebut, siswa kemudian diajak menyusun langkah-langkah kecil yang realistis untuk enam bulan ke depan.
Pendekatan reflektif ini menjadi relevan karena SMK Nur El Falah merupakan bagian dari Pesantren Nur El Falah, salah satu pesantren tertua di Banten.
Tradisi pesantren yang menekankan muhasabah dan kesadaran diri selaras dengan tujuan latihan ini, yakni membantu siswa mengenal dirinya secara jujur sebelum menentukan arah masa depan.
Langkah ini diharapkan menjadi jembatan antara kesadaran diri dan tindakan nyata, sehingga siswa tidak hanya memahami potensinya, tetapi juga memiliki arah yang jelas dalam mengembangkan diri dan keterampilannya sebagai anak vokasi.
Apresiasi dari Pihak Sekolah
Kepala Sekolah Royhan Imamul Muttaqin menyampaikan bahwa pihak sekolah secara khusus kembali mengundang Setiawan Chogah karena melihat dampak positif dari kegiatan sebelumnya.
“Kami sengaja mengundang Setiawan karena beliau adalah sosok anak muda yang layak memberikan inspirasi kepada siswa, terutama terkait passion dan jalan karier di era digital,” ujar Royhan.
Menurutnya, latar belakang Setiawan sebagai praktisi ekonomi kreatif digital, penulis, dan storyteller sangat relevan dengan karakter siswa SMK vokasi yang dipersiapkan untuk dunia kerja dan industri kreatif.
Dari Penonton Menjadi Pemain
Menutup sesi, Setiawan mengingatkan siswa agar tidak membawa pulang semangat sesaat, melainkan keputusan kecil yang bisa dijaga setiap hari.
“Kamu di masa depan adalah kumpulan dari hal-hal kecil yang kamu lakukan hari ini, dan kamu ulangi besok,” tuturnya.
Sebagai informasi, Setiawan Chogah juga merupakan Editor-in-Chief Techfin Insight, media digital yang menyajikan berita, opini, dan analisis mendalam tentang inovasi teknologi, perkembangan bisnis, sains, keuangan, kultur, serta gaya hidup digital. Techfin Insight hadir sebagai sumber informasi yang inspiratif, mencerahkan, dan relevan bagi pembaca muda di era serba terkoneksi.
Melalui kegiatan ini, para siswa diharapkan tidak hanya termotivasi, tetapi juga berani mengambil peran aktif sebagai pemain dalam perjalanan hidup dan karier mereka.
Penulis: Keira Zareen
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.




