Techfin Insight — Fenomena “healing” menjelma menjadi mantra baru dalam masyarakat kita. Tak hanya menjadi respons atas tekanan hidup, istilah ini kini menjelma menjadi identitas gaya hidup, bahkan komoditas.
Dari unggahan media sosial bertuliskan “healing dulu biar waras” hingga konten berbayar bertema inner child workshop atau trauma release class, istilah healing menjadi akrab, bahkan dianggap sebagai kebutuhan.
Dalam tataran psikologi sosial, ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan penanda gejala budaya yang sarat kontradiksi: pencarian pemulihan diri yang dibungkus dalam konsumsi paradoksal.
Healing tak lagi menjadi proses mendalam untuk sembuh, melainkan rehat instan dari penat, dilabeli “self-love”, namun kerap menjebak dalam bentuk pelarian baru yang tak kalah melelahkan.
Dari perspektif psikologi humanistik, semangat healing sejatinya dapat dimaknai sebagai usaha individu mencapai aktualisasi diri.
Carl Rogers, misalnya, menekankan pentingnya kondisi psikologis yang mendukung, seperti penerimaan tanpa syarat (unconditional positive regard), dalam proses penyembuhan batin.
Abraham Maslow pun menempatkan kebutuhan akan rasa aman dan harga diri sebagai landasan menuju puncak potensi manusia.
Maka, ketika individu merasa terjebak dalam tekanan, trauma, atau relasi disfungsional, dorongan untuk menyembuhkan diri menjadi langkah rasional. Pada titik ini, healing menjadi relevan dan layak diapresiasi.
Masalah muncul saat istilah ini mengalami perluasan dan banalitas makna. Healing tak lagi bermakna reflektif, melainkan berubah menjadi kata kunci pemasaran yang menjual kenyamanan tanpa menyentuh akar persoalan.
Psikologi sosial mengenali ini sebagai efek normatif dari dinamika kelompok: ketika suatu istilah menjadi norma budaya, perilaku individu pun diarahkan bukan oleh kebutuhan autentik, melainkan tekanan sosial untuk terlihat sedang melakukan hal yang benar.
Dalam konteks healing, banyak orang merasa harus tampil seolah sedang menyembuhkan diri, meski belum tentu memahami luka apa yang mereka bawa.
Ini berkaitan dengan teori representasi sosial dari Serge Moscovici, di mana konsep seperti healing diinterpretasikan secara kolektif dan didefinisikan ulang oleh masyarakat hingga menyimpang dari makna asalnya.
Di masyarakat digital, representasi healing mengalami pergeseran: dari proses menuju keseimbangan psikologis menjadi aktivitas-aktivitas ringan seperti staycation, journaling estetik, atau sekadar me-time di kafe mahal.
Aktivitas ini tentu tidak salah. Namun, ketika dilabeli sebagai “terapi” atau “penyembuhan”, muncullah disonansi makna yang patut dikritisi.

Perlu diingat: healing sejati adalah proses panjang, menyakitkan, dan tidak selalu menyenangkan. Di sinilah pentingnya peran psikoterapi: bukan sekadar menenangkan perasaan, tapi mengupas luka, memetakan trauma, dan menghadapi sisi gelap diri.
Proses ini sering kali membutuhkan pendampingan profesional seperti psikolog atau psikiater. Namun dalam narasi populer, healing justru dikaitkan dengan kenyamanan, ketenangan instan, dan rasa manis semu—jauh dari esensi pemulihan psikologis.
Dari kacamata sosiologi budaya, fenomena healing bisa dilihat sebagai respons terhadap modernitas yang serba cepat, produktif, dan kompetitif.
Masyarakat kita dilanda kelelahan struktural, yang oleh Byung-Chul Han disebut sebagai masyarakat kelelahan (The Burnout Society).
Dalam situasi ini, individu terjebak dalam tuntutan produktivitas dan performativitas hingga kehilangan koneksi autentik dengan diri dan sesama.
Maka tak heran bila healing menjadi bentuk perlawanan simbolik terhadap sistem yang menekan. Sayangnya, perlawanan ini kemudian dikooptasi oleh pasar.
Healing kini dijual sebagai gaya hidup, bukan proses pemulihan. Ini menjadi bentuk baru dari komodifikasi emosi: kesedihan, trauma, hingga kehilangan dijadikan narasi laku jual.
Jean Baudrillard, lewat teori simulacra, menyebut ini sebagai tahap ketika simbol tak lagi merujuk pada realitas, melainkan menciptakan realitasnya sendiri.
Dalam masyarakat digital, healing bukan lagi tentang sembuh, tetapi tentang tampak sembuh. Kita memotret kopi sore hari dengan caption “self-healing”, dan dunia menganggap kita baik-baik saja—padahal bisa jadi, di balik foto itu, luka masih menganga.
Fenomena ini mencerminkan perubahan relasi antara manusia dan dirinya sendiri. Dalam perspektif psikologi eksistensial, manusia modern kerap kehilangan keaslian diri karena hidup dalam tekanan ekspektasi sosial.
Healing sejati seharusnya mengajak kita berdamai dengan eksistensi yang absurd: menerima kegagalan, menatap luka tanpa membalutnya dengan estetika. Namun dunia digital mengajarkan kita bahwa luka pun harus ditampilkan dalam warna pastel dan pencahayaan hangat.
Tak dimungkiri, fenomena healing populer telah membuka ruang bagi kesadaran psikologis—terutama di kalangan muda.
Ini adalah kemajuan dibandingkan masa lalu yang penuh stigma. Namun jika tidak dikritisi secara akademik dan etik, healing hanya akan menjadi ilusi pemulihan yang dangkal: pelarian, bukan pemulihan; gaya hidup, bukan perjalanan batin.
Kita perlu kembali pada pertanyaan mendasar: untuk siapa kita menyembuhkan diri? Apakah untuk diri yang sejati, atau untuk citra yang ingin ditampilkan? Apakah kita sungguh memulihkan luka, atau hanya sedang berusaha melupakannya lewat narasi indah dan konten menarik?
Di sinilah tugas kita sebagai manusia berpikir: tidak hanya mengikuti arus populer, tetapi menyelam lebih dalam untuk mengupas makna di balik gejala sosial yang tampak manis, namun menyimpan ironi yang menyakitkan.
Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Setiawan Chogah
Kredit Visual: Ilustrasi dan foto pada artikel ini menggunakan sumber berlisensi bebas, aset AI, atau siaran pers resmi yang relevan dengan topik.



